Krisis paruh baya politik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Krisis paruh baya politik adalah titik balik atau masa-masa yang menentukan nasib sebuah lembaga politik seperti kekaisaran, bangsa, faksi, partai politik, atau aliansi internasional. Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh pemikir asal Arab, Ibnu Khaldun (1332–1406). Ia membandingkan kelesuan seseorang setelah menginjak usia 40 tahun dengan kelesuan sebuah dinasti kerajaan.[1] Ilmuwan politik Joshua S. Goldstein menggunakan konsep ini dalam bukunya, Long Cycles: Prosperity and War in the Modern Age (1988).

Krisis paruh baya politik terjadi setelah masa keemasan yang penuh optimisme, kemajuan ekonomi, penaklukan, atau prestasi lain. Biasanya krisis ini melibatkan serangan atau ancaman terhadap negara pesaingnya. Serangan ini dibalas dengan keras dan berakhir seri/buntu atau kalah.

Istilah "krisis paruh baya politik" didasarkan pada konsep "krisis paruh baya", krisis identitas dan kepercayaan diri seorang paruh baya yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang membuatnya sadar dengan usia, kefanaan, dan kekurangan hidupnya. Konsep krisis paruh baya politik menggunakan konsep umum ini untuk menjelaskan "organisme sosial" dan "politik tubuh" yang memandang masyarakat sebagai organisme super tunggal.

Sejarah konsep[sunting | sunting sumber]

Dalam Muqaddimah (1377), Ibnu Khaldun memaparkan teori umum tentang kebangkitan dan kejatuhan rezim. Seorang penakluk berani dengan "kepribadian gurun" mendirikan dinasti baru. Selama beberapa tahun berikutnya, petinggi kerajaan dan asabiyyah (kerekatan masyarakat) memungkinkan adanya "kemajuan sampai titik puncak". Layaknya manusia, dinasti ini mencapai titik balik. Menurut Ibnu Khaldun, ketika seseorang menginjak usia 40 tahun, ia akan berhenti tumbuh secara alamiah, lalu mengalami kelesuan. Hal ini juga dialami oleh budaya masyarakat yang tidak berubah (sedenter).[1] Budaya sedenter dinasti ini mengutamakan kemewahan dan kemanjaan. Rakyat dibebankan pajak tinggi dan mulai "terbiasa patuh".[2] Para penguasa mempermainkan hak kepemilikan/properti dan mulai lemah, tidak jujur, dan terpecah. Akhirnya, setelah tiga generasi—setara dengan rentang usia manusia—dinasti ini mulai "pikun dan keras".[3] Biasanya setelah ini ada "pertunjukan kekuasaan besar-besaran" untuk terakhir kalinya.[4] Namun, kejatuhan dinasti ini tidak bisa dihindari lagi. Dinasti baru akan menggantikannya dan siklus ini terus berputar. Ibnu Khaldun berkata, "Kepikunan ini penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan karena sejatinya memang seperti itu."[5]

Pada tahun 1988, Joshua Goldstein memaparkan konsep krisis paruh baya politik dalam sebuah buku tentang "teori siklus panjang", Long Cycles: Prosperity and War in the Modern Age.[6][halaman dibutuhkan] Ia memberikan empat contoh proses ini:

Usai serangan 11 September 2001 oleh Al Qaeda dan perang di Afghanistan (2001–sekarang) dan Irak (2003–2011) yang dilancarkan oleh Presiden Amerika Serikat George W. Bush, Gary Weaver bersama Adam Mendelson menganalisis survei yang dilakukan 109 sejarawan pada tahun 2008 (99% di antaranya mencap Bush presiden "gagal", 2/3 di antaranya menyebut Bush presiden "terburuk sepanjang masa"). Mereka menulis bahwa Amerika Serikat masih "kanak-kanak" sebelum 1898, lalu menginjak "remaja" pada tahun 1898–1945, kemudian "dewasa muda" tahun 1945–1991, dan akhirnya "dewasa" tahun 1991–2001. Mereka mengantisipasi bahwa trauma akibat kepresidenan Bush akan "memberikan kekuatan baru, kebijaksanaan, dan kedewasaan [bagi Amerika Serikat]" sehingga negara ini bisa sembuh dari krisis paruh baya politiknya.[7][halaman dibutuhkan]

Krisis utang Eropa (2009–sekarang) disebut sebagai krisis paruh baya politik Uni Eropa oleh Gideon Rachman,[8] Roland Benedikter,[9][tepercaya?] dan Natalie Nougayrede.[10]

Contoh lain[sunting | sunting sumber]

Dalam novel Perang dan Perdamaian, Leo Tolstoy bertanya tentang invasi Prancis ke Rusia tahun 1812: "Apa sebabnya tentara Prancis jauh-jauh bergerak dari Paris ke Moskwa dan balik lagi ke Paris? Sebuah sistem, sebuah dorongan dingin yang misterius ... kerumunan manusia yang tidak sadar." Keputusan Prancis untuk menyerbu Rusia tahun 1812 bertujuan memperkuat persekutuan Prancis-Rusia yang akan menaklukkan India, tetapi berakhir buruk sehingga Napoleon Bonaparte diasingkan. Stanley Michalak menulis, "Pada tahun 1812, Napoleon gagal menghadapi tantangan utama politik kekuasaan, yaitu tahu kapan harus berhenti."[11][butuh perbaikan sumber]

Pembantaian Amritsar di India tahun 1919, titik balik Kemaharajaan Britania, dihujat oleh dunia internasional dan memperkuat perjuangan kemerdekaan India.[12] Sama halnya, pembantaian Sharpeville di Afrika Selatan era apartheid tahun 1960 memicu keadaan darurat dan memaksa Kongres Nasional Afrika bergerak di bawah tanah dan mengangkat senjata.[13][14]

Kekalahan Mesir melawan Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967 adalah titik balik politik bagi Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, dan perjuangan Arab. Nasser segera mengundurkan diri dan meninggal dunia tiga tahun kemudian. Perjuangan nasionalisme Arab tidak pernah berapi-api kembali seperti dulu.[15] Mark Katz menyebut peristiwa ini sebagai "krisis kepercayaan yang melemahkan [Mesir] sampai sekarang".[16]

Economist adalah salah satu media pertama yang memahami sifat kelesuan kredit tahun 2007–08.[17] Beáta Farkas memandang krisis Euro sebagai titik balik sektor keuangan.[18]

Negara berisiko[sunting | sunting sumber]

The Economist menulis bahwa "persoalannya adalah kapan, bukan apakah, masalah besar akan menerpa Tiongkok".[19] Negara ini mulai mendekati batas potensi kekuasaan dan pertumbuhannya. Tahun 2010, Tiongkok mencapai titik balik Lewis yang menentukan kelangkaan tenaga kerja.[20]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Ibn Khaldun, Muqaddimah, Routledge and Kegan Paul, 1978, p. 285.
  2. ^ Ibn Khaldun, Muqaddimah, Routledge and Kegan Paul, 1978, p. 248.
  3. ^ Ibn Khaldun, Muqaddimah, Routledge and Kegan Paul, 1978, pp. 245, 255.
  4. ^ Ibn Khaldun, Muqaddimah, Routledge and Kegan Paul, 1978, p. 246.
  5. ^ Ibn Khaldun, Muqaddimah, Routledge and Kegan Paul, 1978, p. 245.
  6. ^ a b Goldstein, Joshua (1988), Long Cycles: Prosperity and War in the Modern Age, Yale University Press 
  7. ^ Weaver, Gary; Mendelson, Adam (2008). America's Midlife Crisis: The Future of a Troubled Superpower. Intercultural Press. ISBN 9781931930079. 
  8. ^ Rachman, Gideon (21 July 2010), "Europe Is Having a Midlife Crisis", Financial Times  (perlu berlangganan)
  9. ^ Benedikter, Roland (20 May 2014), "Europe's Midlife Crisis", interaffairs.ru 
  10. ^ Nougayrede, Natalie (1 April 2017), "Europe in crisis? Despite everything, its citizens have never had it so good", The Guardian 
  11. ^ Stanley Michalak, A Primer in Power Politics, SR Books, 2001, p. 6.
  12. ^ Dalrymple, William (23 February 2013), "Apologising for Amritsar Is Pointless", The Guardian 
  13. ^ [overcomingapartheid.msu.edu;]
  14. ^ Michelle Miller, "Sharpeville Massacre Marked Turning Point in SA History", [cbsnews.com], 18 December 2013.
  15. ^ Anonymous, "Six-day War Marked Political Turning Point in the Arab World", 2 June 2017.
  16. ^ Mark Katz, Revolutions and Revolutionary Waves, St Martin's Press, 1997, p 83
  17. ^ "The Turning Point", The Economist, 20 September 2017, diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-12-24 
  18. ^ Farkas, Beáta (2013). "The Crisis as a Turning Point in the European Convergence Model". Dalam Farkas, Beáta. The Aftermath of the Crisis in the European Union. Cambridge Scholars Publishing. hlm. 134–151. ISBN 9781443858038. 
  19. ^ Economist, "The Coming Debt Bust", The Economist, 7/5/2016.
  20. ^ Dammon Loyalka, Michelle. "Chinese Labor, Cheap No More". The New York Times. Diakses tanggal 16 January 2015.