Ketidaksetaraan sosial

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Peta dunia yang menunjukkan Indeks Pengembangan Manusia terkait Ketidaksetaraan 2014. Indeks tersebut menangkap Pengembangan Manusia dari rata-rata orang dalam masyarakat, yang kurang saat terdapat ketidakteraan dalam persebaran kesehatan, pendidikan dan pendapatan.

Ketidaksetaraan sosial terjadi saat sumber daya yang diberikan dalam masyarakat tak merata, biasanya melalui norma alokasi, yang meliputi susunan spesifik di sepanjang garis kategori sosial seseorang. Ini merupakan pembedaan preferensi dari akses barang-barang sosial di masyarakat yang dibawa oleh penguasa, agama, kekerabatan, prestise, ras, etnisitas, gender, usia dan kelas. Hak sosial meliputi pasar buruh, sumber pendapatan, perawatan kesehatan dan kebebasan berpendapat, pendidikan, perwakilan politik dan partisipasi.[1] Ketidaksetaraan sosial berkaitan dengan ketidaksetaraan ekonomi, yang biasanya dideskripsikan atas dasar distribusi pemasukan atau kekayaan yang tak merata, merupakan tipe studi lanjutan dari ketidaksetaraan sosial. Melalui disiplin-disiplin ekonomi dan sosiologi yang umumnya menggunakan teori berbeda untuk meneliti dan menjelaskan ketidaksetaraan ekonomi, kedua bidang tersebut aktif terlihat dalam penelitian ketidaksetaraan tersebut. Namun, sumber daya alam dan sosial selain sumber daya ekonomi murni juga tak tersebar dalam sebagian besar masyarakat dan berkontribusi pada status sosial. Norma-norma alokasi dapat berdampak pada distribusi hak dan kewajiban, kekuasaan sosial, akses pada barang-barang publik seperti pendidikan atau sistem yudisial, perumahan, transportasi, kredit dan jasa keuangan seperti perbankan dan barang dan jasa sosial lainnya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ WADE, R.H. (2014). The Piketty phenomenon and the future of inequality. Real-world economics review. hlmn. 2–17. 

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Abel, T (2008). "Cultural capital and social inequality in health". Journal of Epidemiology and Community Health. 62 (7): e13. doi:10.1136/jech.2007.066159. 
  • Acker, Joan (1990). "Hierarchies, jobs, bodies: a theory of gendered organizations". Gender and Society. 4: 139–58. doi:10.1177/089124390004002002. 
  • Bourdieu, Pierre. 1996.The State Nobility: Elite Schools in the Field of Power, translated by Lauretta C. Clough. Stanford: Stanford University Press.
  • Brennan, S (2009). "Feminist Ethics and Everyday Inequalities". Hypatia. 24 (1): 141–159. doi:10.1111/j.1527-2001.2009.00011.x. 
  • Brenner, N (2010). "Variegated neoliberalization: geographies, modalities, pathways". Global networks. 10 (2): 182–222. doi:10.1111/j.1471-0374.2009.00277.x. 
  • Coburn, D (2004). "Beyond the income inequality hypothesis: class, neo-liberalism, and health inequalities". Social Science & Medicine. 58 (1): 41–56. doi:10.1016/s0277-9536(03)00159-x. 
  • Esping-Andersen, Gosta. 1999. "The Three Worlds of Welfare Capitalism." In The Welfare State Reader edited by Christopher Pierson and Francis G. Castles. Polity Press.
  • Wilkinson, Richard; Pickett, Kate (2009). The Spirit Level: Why More Equal Societies Almost Always Do Better. Allen Lane. ISBN 978-1-84614-039-6. 
  • Frankfurt, H (1987). "Equality as a Moral Ideal". Ethics. 98 (1): 21–43. doi:10.1086/292913. 
  • Cruz, Adrienne and Sabine Klinger (2011). Gender-based violence in the world of work International Labour Organization
  • Goldthorpe, J. H. (2010). "Analysing Social Inequality: A Critique of Two Recent Contributions from Economics and Epidemiology". European Sociological Review. 26 (6): 731–744. doi:10.1093/esr/jcp046. 
  • Irving, D (2008). "Normalized transgressions: Legitimizing the transsexual body as productive". Radical History Review. 100: 38–59. doi:10.1215/01636545-2007-021. 
  • Jin, Y.; Li, H.; et al. (2011). "Income inequality, consumption, and social-status seeking". Journal of Comparative Economics. 39 (2): 191–204. doi:10.1016/j.jce.2010.12.004. 
  • Lazzarato, M (2009). "Neoliberalism in Action: Inequality, Insecurity and the Reconstitution of the Social". Theory, Culture & Society. 26 (6): 109–133. doi:10.1177/0263276409350283. 
  • Mandel, Hadas (2012). "Winners and Losers: The Consequences of Welfare State Policies for Gender Wage Inequality". European Sociological Review. 28: 241–262. doi:10.1093/esr/jcq061. 
  • Ortiz, Isabel & Matthew Cummins. 2011. Global Inequality: Beyond the Bottom Billion – A Rapid Review of Income Distribution in 141 Countries. United Nations Children's Fund (UNICEF), New York.
  • Pakulski, J.; Waters, M. (1996). "The Reshaping and Dissolution of Social Class in Advanced Society". Theory and Society. 25 (5): 667–691. doi:10.1007/bf00188101. 
  • Piketty, Thomas (2014). Capital in the 21st century. Belknap Press.
  • Sernau, Scott (2013). Social Inequality in a Global Age (4th edition). Thousand Oaks, CA: Sage.
  • Stanley, E. A. 2011. "Fugitive flesh: Gender self-determination, queer abolition, and trans resistance." In E. A. Stanley & N. Smith (Eds.), Captive genders: Trans embodiment and the prison industrial complex (pp. 1–14). Edinburgh, UK: AK Press.
  • Stiglitz, Joseph. 2012. The Price of Inequality. New York: Norton.
  • United Nations (UN) Inequality-adjusted Human Development Report (IHDR) 2013. United Nations Development Programme (UNDP).
  • Weber, Max. 1946. "Power." In Max Weber: Essays in Sociology. Translated and Edited by H.H. Gerth and C. Wright Mills. New York: Oxford University Press.
  • Weeden, K. A.; Grusky, D. B. (2012). "The Three Worlds of Inequality". American Journal of Sociology. 117 (6): 1723–1785. doi:10.1086/665035. 
  • Wright, E. O. (2000). "Working-Class Power, Capitalist-Class Interests, and Class Compromise". American Journal of Sociology. 105 (4): 957–1002. doi:10.1086/210397. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]