Henti jantung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Bedakan dengan Serangan jantung dan Gagal jantung yang merupakan keadaan medis yang sama sekali berbeda
Henti jantung
US Navy 040421-N-8090G-001 Hospital Corpsman 3rd Class Flowers administers chest compressions to a simulated cardiac arrest victim.jpg
RJP dilakukan pada simulasi henti jantung.
Klasifikasi dan rujukan luar
ICD-10 I46.
ICD-9-CM 427.5
DiseasesDB 2095
MeSH D006323

Henti jantung, yang juga dikenal sebagai henti kardiopulmonar atau henti sirkulasi, merupakan keadaan terhentinya sirkulasi normal dari darah akibat kegagalan jantung dalam berkontraksi secara efektif.[1].

Henti jantung berbeda dengan (namun dapat disebabkan oleh) infark miokard akut atau serangan jantung, di mana terdapat hambatan aliran darah ke jantung.[2]

Sirkulasi darah yang terhenti mencegah transportasi oksigen dan glukosa ke seluruh tubuh. Penurunan oksigen dan glukosa ke otak menyebabkan penurunan kesadaran, yang kemudian menyebabkan henti napas. Cedera otak sangat mungkin terjadi jika henti jantung tidak teratasi hingga lebih dari lima menit.[3][4][5]

Henti jantung merupakan kegawatdaruratan medis yang mana pada situasi tertentu dapat berpotensi reversibel bila ditangani secara cepat.[1] Tatalaksana henti jantung merupakan defibrilasi segera jika ditemukan ritme yang dapat di-defibrilasi, dan resusitasi jantung paru (RJP) digunakan untuk mendukung sirkulasi dan atau menginduksi ritme yang dapat di-defibrilasi.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Klinisi mengklasifikasi henti jantung ke dalam "shockable" dan "non–shockable", yang ditunjukkan oleh ritme EKG. Hal ini sesuai dengan tatalaksana yang akan diberikan apakah dapat ditatalaksana dengan defibrilasi.[6] Dua ritme yang dapat di-defibrilasi adalah fibrilasi ventrikel dan takikardi ventrikel dengan hipopulsasi, sementara dua ritme yang tidak dapat di-defibrilasi adalah asistol dan hipopulsasi aktivitas elektrik [7]

Tanda dan Gejala[sunting | sunting sumber]

Henti jantung dibuktikan dengan pulsasi nadi yang tidak teraba.[8] Tetapi, akibat dari tidak adekuatnya sirkulasi otak, pasien dapat mengalami penurunan kesadaran dan dapat mengalami henti napas. Kriteria diagnostik utama untuk mendiagnosis henti jantung (yang berlawanan dengan henti napas yang mana memiliki tanda dan gejala yang mirip) adalah kekurangan sirkulasi yang dapat dibuktikan dengan beberapa cara.[9]

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Penyakit arteri koroner merupakan penyebab utama dari henti jantung yang tiba-tiba. Kebanyakan kondisi jantung dan non jantung lainnya juga dapat meningkatkan risiko henti jantung.

Diagnosis[sunting | sunting sumber]

Henti jantung biasanya didiagnosis secara klinis dengan tidak terabanya nadi. Pada beberapa kasus perabaan arteri karotis untuk mendeteksi pulsasi nadi merupakan standar emas untuk mendiagnosis henti jantung, namun kurangnya pulsasi (terutama pada nadi perifera) dapat disebabkan oleh kondisi lainnya (misalnya syok sirkulasi), atau sekadar kesalahan penolong. Penelitian menunjukkan bahwa penolong sering kali melakukan kesalahan ketika akan mendeteksi pulsasi karotis pada saat gawat darurat, baik itu tenaga profesional kesehatan[10] maupun orang pada umumnya.[11]

Konsil Resusitasi di Inggris[12] mengusulkan teknik yang dapat digunakan oleh petugas kesehatan profesional dengan pelatihan dan keahlian bersama dengan indikator seperti pernapasan agonal.[6]

Penatalaksanaan[sunting | sunting sumber]

Henti jantung yang tiba-tiba dapat ditatalaksana dengan percobaan resusitasi. Hal ini biasanya dilaksanakan berdasarkan Bantuan Hidup Dasar / advanced cardiac life support (ACLS),[12] pediatric advanced life support (PALS)[13] atau neonatal resuscitation program (NRP).

Prognosis[sunting | sunting sumber]

Angka keselamatan pasien yang menerima tatalaksana gawat darurat di ambulans hanya mencapai 2%.[14] Tetapi, dengan dilakukannya defibrilasi dalam 3–5 menit pertama, angka keselamatan meningkat hingga 30%.[15][16]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Jameson, J. N. St C.; Dennis L. Kasper; Harrison, Tinsley Randolph; Braunwald, Eugene; Fauci, Anthony S.; Hauser, Stephen L; Longo, Dan L. (2005). Harrison's principles of internal medicine. New York: McGraw-Hill Medical Publishing Division. ISBN 0-07-140235-7. 
  2. ^ Mallinson, T (2010). "Myocardial Infarction". Focus on First Aid (15): 15. Diakses tanggal 2010-06-08. 
  3. ^ Safar P (December 1986). "Cerebral resuscitation after cardiac arrest: a review". Circulation. 74 (6 Pt 2): IV138–53. PMID 3536160. 
  4. ^ Holzer M, Behringer W (April 2005). "Therapeutic hypothermia after cardiac arrest". Current Opinion in Anesthesiology. 18 (2): 163–8. doi:10.1097/01.aco.0000162835.33474.a9. PMID 16534333. 
  5. ^ Safar P, Xiao F, Radovsky A; et al. (January 1996). "Improved cerebral resuscitation from cardiac arrest in dogs with mild hypothermia plus blood flow promotion". Stroke. 27 (1): 105–13. doi:10.1161/01.STR.27.1.105. PMID 8553385. 
  6. ^ a b "Resuscitation Council (UK) Guidelines 2005". 
  7. ^ Jasmeet Soar, Gavin D. Perkins, Jerry Nolan., ed. (2012). ABC of resuscitation (edisi ke-6th ed.). Chichester, West Sussex: Wiley-Blackwell. hlm. 43. ISBN 9781118474853. 
  8. ^ "Mount Sinai - Cardiac arrest". 
  9. ^ Parnia, S (August 2007). "Near death experiences, cognitive function and psychological outcomes of surviving cardiac arrest". Resuscitation. 74 (2): 215–21. doi:10.1016/j.resuscitation.2007.01.020. PMID 17416449. 
  10. ^ Ochoa FJ, Ramalle-Gómara E, Carpintero JM, García A, Saralegui I (June 1998). "Competence of health professionals to check the carotid pulse". Resuscitation. 37 (3): 173–5. doi:10.1016/S0300-9572(98)00055-0. PMID 9715777. 
  11. ^ Bahr J, Klingler H, Panzer W, Rode H, Kettler D (August 1997). "Skills of lay people in checking the carotid pulse". Resuscitation. 35 (1): 23–6. doi:10.1016/S0300-9572(96)01092-1. PMID 9259056. 
  12. ^ a b ECC Committee, Subcommittees and Task Forces of the American Heart Association (December 2005). "2005 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care". Circulation. 112 (24 Suppl): IV1–203. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.105.166550. PMID 16314375. 
  13. ^ American Heart, Association (May 2006). "2005 American Heart Association (AHA) guidelines for cardiopulmonary resuscitation (CPR) and emergency cardiovascular care (ECC) of pediatric and neonatal patients: pediatric advanced life support". Pediatrics. 117 (5): e1005–28. doi:10.1542/peds.2006-0346. PMID 16651281. 
  14. ^ "Resuscitation Council Comment on CPR study". Resuscitation Council UK. April 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-06-12. Diakses tanggal 2007-06-14. 
  15. ^ "CPR statistics". American Heart Association. Diakses tanggal 2007-06-14. 
  16. ^ Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) Statistics

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

.