Gunung Purei, Barito Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Gunung Purei
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten Barito Utara
Pemerintahan
 • Camat B.P.GIRSANG, SP
Luas - km²
Jumlah penduduk 3.362 jiwa (31 Desember 2012)
Kepadatan 2 jiwa/km²
Desa/kelurahan 11 Desa/-

Kecamatan Gunung Purei atau yang biasa disingkat dengan nama (kec.GP) merupakan sebuah kecamatan yang terletak di hulu Sungai Teweh. Ibukota Kecamatan Gunung Purei adalah Desa Lampeong II , jarak antara Ibukota Kecamatan Gunung Purei menuju Ibukota Kabupaten Barito Utara ±118 Km(melalui jalur 2, simpang km 30 Mtw-Kandui)

Sejarah[sunting | sunting sumber]

(Tahap pencarian data)

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Gunung Purei berbatasan dengan:

Utara Kecamatan Teweh timur dan Provinsi Kalimantan Timur
Selatan Provinsi Kalimantan Selatan
Barat Kecamatan Teweh Timur dan Kabupaten Barito Selatan
Timur Provinsi Kalimantan Timur

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Gunung purei terdiri atas 11 desa, antara lain:
Desa

  1. Baok
  2. Berong
  3. Lampeong I
  4. Lampeong II
  5. Lawarang
  6. Linon Besi I
  7. Linon Besi II
  8. Muara Mea
  9. Payang
  10. Tambaba
  11. Tanjung Harapan

Unsur Tripika[sunting | sunting sumber]

Tiga Tokoh unsur yang mempunyai peranan penting di Kecamatan Gunung Purei, yakni :
1. Camat :B.P. Girsang, SP
2. Komando Rayon Militer :----
3. Kepala Kepolisian Sector :----

Selain itu juga terdapat unsur lain yang juga berperan penting di Kecamatan ini, antara lain :
1. Kepala KUA :----
2. Kepala Adat :----
3. Kepala Puskesmas :----

Camat[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar nama-nama Camat yang pernah bertugas di Kecamatan Gunung Purei, yaitu:

Daftar Camat Gunung Purei
No Nama Awal masa jabatan Akhir masa jabatan Keterangan
1 Matseman 1965 1970 Camat Gunung Lumut, sekarang disebut Gunung Purei
2 ---- ----- ----- -
3 ---- ----- ----- -
4 ---- ----- ----- -
5 ---- ----- ----- -
6 ---- ----- ----- -
7 ---- ----- ----- -
8 ---- ----- ----- -
9 Bp. Girsang S.P 2012 sampai sekarang -

Kondisi dan Sumber Daya Alam[sunting | sunting sumber]

Kondisi Alam[sunting | sunting sumber]

Bagian Timur dan Utara terdiri dari Pegunungan Muller Swachner dan bagian Barat dan Selatan dataran tinggi berupa perbukitan. Berbatasan dengan dua Provinsi Indonesia, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, serta kabupaten Barito Selatan dan Kecamatan Teweh Timur. Wilayah ini beriklim tropis.

Sumber Daya Alam[sunting | sunting sumber]

Hutan mendominasi wilayah ini ±92%. Hutan primer tersisa sekitar ±60% dari luas wilayah. Lahan yang luas saat ini mulai didominasi kebun Kelapa Sawit yang direncanakan mencapai 200 ha (2014). Perkebunan karet dan rotan rakyat masih tersebar hampir diseluruh desa. Kecamatan ini juga memiliki 1 jenis hasil alam musiman yang khas dan sangat langka ditemukan, yakni "Madu Asli" yang biasa disebut oleh masyarakat setempat dengan sebutan "Wanyi / Danum Banyi". Bagi sebagian masyarakat Kecamatan Gunung Purei Madu merupakan penghasilan musiman yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Madu Asli ini biasanya dijual perliter dengan harga RP.150.000;00(untuk di luar wilayah Kec.G.Purei).

Sosial Kemasyarakatan[sunting | sunting sumber]

Suku Bangsa[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa dominan di Kecamatan Gunung Purei yaitu Suku Dayak Taboyan. Suku Dayak Taboyan menjadi mayoritas di semua desa di Kecamatan Gunung Purei, terkecuali di 2 desa, yakni: di Desa Lampeong II dan Desa Linon Besi II yang penduduknya mayoritas berasal dari Suku Dayak Bakumpai. Suku lainnya yang terdapat di Kecamatan Gunung Purei yaitu suku jawa, suku Banjar, suku Dayak Maanyan dan kelompok etnis asal Nusa Tenggara Timur. Kedatangan Suku Dayak Bakumpai ( yang merupakan suku dominan di Desa Lampeong) terkait dengan adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Suku Dayak Bakumpai sekitar pertengahan abad ke-18 M yang lalu.[1]

Komposisi etnis di Kecamatan Gunung Purei berdasarkan sensus tahun 2000 terdiri dari Suku Taboyan (tahap pencarian data%), Suku Bakumpai (Tahap pencarian data%), Jawa (tahap pencarian data%), Banjar (tahap pencarian data%), Suku Maanyan (tahap pencarian data%), Etnis Nusa Tenggara Timur (tahap pencarian data%).[2] Jika digabungkan jumlah Suku Dayak di Gunung Purei (Taboyan, Bakumpai,Maanyan) mencapai (tahap pencarian data)%.

Komposisi Suku Bangsa di Gunung Purei berdasarkan Sensus 2000, yaitu:[3]

Nomor Suku Bangsa Jumlah Konsentrasi
1 Suku Dayak tahap pencarian data tahap pencarian data%
2 Suku Banjar tahap pencarian data tahap pencarian data%
3 Suku Jawa tahap pencarian data tahap pencarian data%
4 Etnis Nusa Tenggara Timur tahap pencarian data tahap pencarian data%
Total tahap pencarian data tahap pencarian data%

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Pada dasarnya bahasa yang digunakan secara luas di Gunung Purei adalah Bahasa Taboyan, Bahasa Bakumpai dan Bahasa Indonesia adapun Bahasa Banjar sebagai bahasa minoritas. Persebaran secara luas Bahasa Taboyan di Gunung Purei dikarenakan bahasanya merupakan bahasa suku dominan di kecamatan ini. Adapun Bahasa Bakumpai di kecamatan ini umumnya digunakan sebagai bahasa komunikasi oleh suku bakumpai itu sendiri dan sebagai bahasa komunikasi antara Suku Taboyan dengan Suku Bakumpai. Pada umumnya Bahasa Bakumpai hampir dipahami oleh seluruh penduduk di Kecamatan Gunung Purei.[4] Masyarakat Suku lainnya di wilayah Gunung Purei umumnya menuturkan Bahasanya sendiri sebagai bahasa sehari-hari.

Bahasa Dayak yang dominan digunakan oleh Suku Dayak di Gunung Purei, diantaranya Bahasa Taboyan yang digunakan di Desa Baok, Desa Berong, Desa Lampeong I, Desa Linon Besi I, Desa Lawarang, Desa Muara Mea, Desa Payang, Desa Tambaba, dan Desa Tanjung Harapan. Bahasa Bakumpai dituturkan oleh penduduk di Desa Lampeong II, dan Desa Linon Besi II.

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama yang dipeluk masyarakat Gunung Purei, yaitu :[5]

NO. Agama Desa pemeluk Suku Bangsa Keterangan
1. Kristen (Protestan dan Katolik) Berdasarkan desa, agama Kristen (Protestan dan Katholik) dipeluk oleh sebagian besar penduduk di Desa Lampeong I diperkirakan (>60%)*, Desa Payang(±99,98%), Desa Berong(±99,99%), Desa Tambaba(±98,95%) dan di Desa Baok(<50%) Dipeluk oleh sebagian Suku Dayak Taboyan, sebagian Suku Jawa, Suku Dayak Maanyan, serta kelompok etnis yang berasal dari Nusa Tenggara Timur Kristen Protestan merupakan agama mayoritas dan Kristen Katholik merupakan agama terbanyak ke-4 di Kecamatan Gunung Purei. Pada umumnya tesebar di bagian Timur Desa Lampeong.

(Untuk Kolom "Desa Pemeluk", Bila tidak terdapat tanda * berarti dalam persenan tidak terdapat agama Katholik)

2. Hindu Kaharingan Berdasarkan desa, agama Hindu Kaharingan dipeluk oleh sebagian besar penduduk di Desa Baok diperkirakan (±55%>), Desa Muara Mea (99%), Desa Lawarang(98%), Desa Linon Besi I(100%), dan Desa Tanjung Harapan (--%) Dipeluk oleh sebagian Suku Dayak Taboyan Kaharingan adalah kepercayaan penduduk asli Kalimantan Tengah yang digabungkan dalam agama Hindu. Penganut Agama Hindu Kaharingan di Kecamatan Gunung Purei pada umumnya tersebar di wilayah bagian Barat Desa Lampeong, dan merupakan agama terbanyak ke-2 di kecamatan tersebut.

[6]

3. Islam Berdasarkan desa, dipeluk oleh sebagian besar penduduk di Desa Lampeong II(100%) dan Linon Besi II(100%) Dipeluk oleh Suku Dayak Bakumpai, Suku Banjar, sebagian Suku Jawa, serta sebagian kecil Suku Dayak Taboyan Agama Islam di Kecamatan Gunung Purei pada umumnya tersebar di wilayah Desa Lampeong dan sebagian di Desa Linon Besi. Islam merupakan agama terbanyak ke-3 di kecamatan Gunung Purei.

Fasilitas Umum[sunting | sunting sumber]

Rumah Ibadah[sunting | sunting sumber]

Di Kecamatan Gunung Purei terdapat 25 buah rumah ibadah, berikut rinciannya:

1). 10 buah Gereja Protestan,

2). 1 buah Gereja Katholik,

3). 8 buah Balai Basarah (Hindu Kaharingan),

4). 3 buah Masjid,

5). 3 buah Langgar.

Penginapan[sunting | sunting sumber]

Di Kecamatan Gunung Purei juga memiliki fasilistas untuk beristirahat berupa penginapan, yaitu:
1. Penginapan "Hamsah", Jln. Negara Lintas Kal-Tim Lampeong II;
2. Penginapan "Sumber Rezeki", Lampeong II;
3. Penginapan "Itah", Jln. Pasar Lampeong II.

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Di Kecamatan Gunung Purei terdapat 9 buah sarana kesehatan, yakni:
1 buah Puskesmas di Desa Lampeong II,
8 buah Puskesmas pembantu, antara lain:
Di Desa

1. Baok,
2. Berong,
3. Lawarang,
4. Linon Besi I,
5. Linon Besi II,
6. Muara Mea,
7. Payang,
8. Tambaba.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sekolah
Berikut ini daftar sekolahan di Kecamatan Gunung Purei:
SMA sederajat
1. SMKN-1 Gunung Purei

SMP sederajat
1. SMPN-1 Gunung Purei

SD sederajat

1. SDN-1 Baok
2. SDN-1 Berong
3. SDN-1 Lampeong II
4. SDN-2 Lampeong II
5. SDN-1 Lawarang
6. SDN-1 Linon Besi I
7. SDN-1 Muara Mea
8. SDN-1 Payang
9. SDN-1 Tambaba

TK
(Tahap Pencarian Data)

komunikasi[sunting | sunting sumber]

Di Kecamatan Gunung Purei hanya terdapat 1 buah tower Telkomsel. Mengingat letak kecamatan ini yang sangat strategis(berada di jalan lintas Kal-Tim - Kal-Teng) Kecamatan ini sangat membutuhkan Tower Indosat sebagi sebagai pemancar signal bagi pengguna kartu indosat. Untuk saat ini (Th 2014) kekuatan signal telkomsel di Kecamatan ini berkisar antara GSM - EDGE dan bila musim hujan terkadang signal bisa hilang.

PLN[sunting | sunting sumber]

Untuk Tahun 2014, PLN di Kecamatan Gunung Purei bersifat PLN perdesa. Untuk PLN di Desa Lampeong yang merupakan Ibukota Kecamatan Gunung Purei pada saat ini hanya hidup mulai Pukul 17:00-21:00, khusus untuk Desa Lampeong I setelah PLN mati penerangan disambung dengan tenaga surya. Sarana penerangan untuk wilayah kecamatan ini memang terkesan kurang. Mengingat dari semua Ibukota Kecamatan Se-Kabupaten Barito Utara, semuanya memiliki PLN aktif (hidup Full 1 malam) terkecuali PLN di Kecamatan ini yang hanya merupakan PLN rintisan.

PDAM[sunting | sunting sumber]

Pada Tahun 2013 PDAM dibangun di Desa Lampeong. PDAM ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air bersih di 4 desa, yakni:
Di Desa
1. Lampeong I,
2. Lampeong II,
3. Muara Mea,
4. Payang.
Untuk saat ini PDAM di Desa Lampeong sudah berjalan dengan lancar.

Akses Jalan Menuju Kecamatan Gunung Purei[sunting | sunting sumber]

Untuk menuju Kecamatan Gunung Purei dapat ditempuh melalui 2 jalur, antara lain:

Jalur Pertama[sunting | sunting sumber]

yakni melalui Jalan Negara Lintas Kal-Tim (simpang Desa Jambu). Keadaan jalan ini cukup baik dibandingkan dengan jalur 2 akan tetapi jarak tempuh jalan ini dari Mtw-Lampeong lebih jauh dibandingkan dengan jalur 2.

Jalur kedua[sunting | sunting sumber]

yakni melalui Jalan simpang km 30 Mtw-Kandui. Bila dibandingkan dengan jalur 1, memang jalur 2 ini keadaan jalannya kurang baik. Dikarenakan banyak badan jalan yang tidak ada pengerasan. Akan tetapi jarak tempuh antara Mtw-Lampeong melalui jalur ini lebih dekat dibandingkan dengan jalur 1. Jarak antara Ibukota Kecamatan Gunung Purei dengan Kota Muara Teweh sejauh ±118 Km melalui jalan simpang km 30 Mtw-Kandui ini.

Untuk menuju kecamatan ini dapat ditempuh menggunakan sepeda motor maupun mobil. Bila musim penghujan diharapkan kepada pengguna mobil Avanza dan sejenisnya (tidak double gardan) agar tidak melalui jalur 2 ini,karena risiko kecelakaan akibat jalan licin sangat tinggi.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://eprints.dayak.ac.id/1273/10/History-of_ Dajak_Bekoempaiers_Bab3.pdf
  2. ^ Muhammad Gion Alberto, Fitriyah Al-hesya (25 Desember). "Mencari Indonesia :demografi-politik pasca Soeharto" (PDF). Indonesian Institute of Sciences. 
  3. ^ "Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape" (PDF). Institute of Southeast Asian Studies. 2000. 
  4. ^ Soto Mangalir hampai Kejau... - KOMPAS.com. Diakses 23 November 2014.
  5. ^ "Sensus Penduduk 2010 - Penduduk Menurut Desa, Suku Bangsa dan Agama Yang Dianut - Kecamatan Gunung Purei". Diakses tanggal 2014-01-28. 
  6. ^ (Perancis)Sevin, Olivier (1983). Les Dayak du centre Kalimantan: étude géographique du Pays Taboyan, de la Lampeong à la Teweh. IRD Editions. ISBN 9782709907002.  Hapus pranala luar di parameter |title= (bantuan)ISBN 2-7099-0700-3