Dutasterid

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Dutasterid
Nama sistematis (IUPAC)
(1S,3aS,3bS,5aR,9aR,9bS,11aS)-N-[2,5-bis(trifluoromethyl)phenyl]-9a,11a-dimethyl-7-oxo-1,2,3,3a,3b,4,5,5a,6,9b,10,11-dodecahydroindeno[5,4-f]quinoline-1-carboxamide
Data klinis
Nama dagang Avodart, dll.; Combodart, Duodart (bersama tamsulosin)
AHFS/Drugs.com monograph
MedlinePlus a603001
Kat. kehamilan X(US) Tidak untuk digunakan saat hamil
Status hukum POM (UK) -only (US)
Rute Oral
Data farmakokinetik
Bioavailabilitas 60%[1]
Ikatan protein 99%[1]
Metabolisme Hati (CYP3A4)[1]
Waktu paruh 4–5 minggu[2][3]
Ekskresi Feses: 40% (metabolit)[1]
Urin: 5% (tidak berubah)[1]
Pengenal
Nomor CAS 164656-23-9 YaY
Kode ATC G04CB02
PubChem CID 6918296
Ligan IUPHAR 7457
DrugBank DB01126
ChemSpider 5293502 YaY
UNII O0J6XJN02I YaY
KEGG D03820 YaY
ChEBI CHEBI:521033 YaY
ChEMBL CHEMBL1200969 YaY
Sinonim GG-745; GI-198745; GI-198745X; N-[2,5-Bis(trifluorometil)fenil]-3-okso-4-aza-5α-androst-1-ana-17β-karboksamida
Data kimia
Rumus C27H30F6N2O2 

Dutasterid[4] atau dutasterida, dikenal pula dengan nama dagang seperti Avodart, adalah sebuah obat yang utamanya digunakan untuk menangani gejala-gejala pembesaran prostat.[5][6] Penggunaan dutasterid dapat memakan waktu beberapa bulan sebelum gejala mereda.[6] Dutasterid juga digunakan dalam pengobatan kebotakan akibat androgen serta pada terapi hormon pada wanita transgender.[7][8] Dutasterid dikonsumi dengan cara diminum.[5][9]

Efek samping dari dutasterid di antaranya adalah disfungsi seksual serta nyeri pada dan pertumbuhan payudara.[5] Efek samping lainnya adalah meningkatnya risiko beberapa jenis kanker prostat, depresi, dan angioedema.[5][6] Penggunaan obat ini saat hamil, termasuk oleh pasangan, dapat membahayakan kehamilan dan nyawa.[5][6] Dutasterid adalah sebuah inhibitor 5α-reduktase sehingga merupakan sebuah jenis antiandrogen.[3] Dutasterid bekerja dengan cara mengurangi produksi hormon dihidrotestosteron dalam tubuh.[5][10]

Dutasterid dipatenkan pada tahun 1993 oleh GlaxoSmithKline dan disetujui untuk digunakan secara medis pada tahun 2001.[5][11] Obat ini juga telah tersedia sebagai obat generik.[6]

Kegunaan medis[sunting | sunting sumber]

Pembesaran prostat[sunting | sunting sumber]

Dutasterid digunakan dalam menangani pembesaran atau hiperplasia prostat jinak (benign prostatic hyperplasia, BPH).[9][12] Indikasi ini merupakan indikasi yang disetujui oleh Food and Drug Administration Amerika Serikat (FDA) dalam penggunaannya di Amerika Serikat.[13]

Kanker prostat[sunting | sunting sumber]

Sebuah ulasan tahun 2010 oleh Cochrane menemukan pengurangan risiko perkembangan kanker prostat sebesar 25–26% menggunakan kemoprofilaksis inhibitor 5α-reduktase.[14] Akan tetapi, terdapat pula penelitian inhibitor 5α-reduktase juga ditemukan dapat meningkatkan risiko perkembangan beberapa jenis kanker prostat yang langka dan ganas sebesar 27% meskipun terdapat pula penelitan yang membantah hal tersebut.[15] Belum ada data yang cukup untuk menentukan apakah penggunaan dutasterid berpengaruh terhadap keseluruhan risiko kematian akibat kanker prostat.[15]

Kebotakan[sunting | sunting sumber]

Dutasterid diindikasikan untuk pengobatan alopesia androgenik di Korea Selaatan dan Jepang pada dosis 0,5 mg per hari.[7][16] Beberapa penelitian telah menemukan efek dutasterid yang lebih cepat dalam memperbaiki kebotakan pada pria dibandingkan finasterid 2,5 mg per hari.[7] Dutasterid juga telah digunakan secara off-label dalam pengobatan kebotakan pada wanita.[17]

Hirsutisme[sunting | sunting sumber]

Mesikpun belum ada penelitian yang spesifik membahas penggunaan dutasterid dalam penanganan hirsutisme,[3][18] inhibitor 5α-reduktase lainnya seperti finasterid telah ditemukan efektif dalam menangani hirsutisme pada wanita.[3] Dutasterid dapat lebih efektif dalam penggunaan seperti itu karena efek inhibisinya yang lebih menyeluruh dibandingkan finsterid.[1]

Terapi hormon transgender[sunting | sunting sumber]

Dutasterid terkadang juga digunakan dalam terapi hormon feminin bagi wanita transgender dalam kombinasi dengan estrogen dan/atau antiandrogen lainnya seperti spironolakton.[8] Dutasterid dapat bermanfaat dalam mengurangi kebotakan bagi orang yang tidak cocok dengan spironolakton.[8]

Kontraindikasi[sunting | sunting sumber]

Wanita yang berencana atau sedang hamil tidak diperbolehkan menggunakan obat ini. Dutasterid dapat menyebabkan kelainan terutama genitalia ambigu atau maskulinisasi yang rendah pada janin laki-laki.[13][19] Hal ini disebabkan karena efek antiandrogenik yang ada pada dutasterid yang dapat menyebabkan kekurangan 5α-reduktase.[19] Orang yang sedang menggunakan dutasterid juga sebaiknya tidak mendonorkan darahnya untuk mencegah kecacatan janin jika resipien darahnya adalah wanita hamil. Setelah berhenti menggunakan dutasterid, orang tersebut perlu menunggu paling tidak 6 bulan sebelum dapat mendonorkan darah karena waktu paruh biologis dari dutasterid yang panjang. Orang yang diketahui memiliki hipersensitivitas terhadap dutasterid sebaiknya tidak memakai obat ini.[13]

Efek samping[sunting | sunting sumber]

Penelitia menunjukkan bahwa dutasterid memiliki efek samping minimal baik pada pria maupun wanita.[15] Efek samping yang ada di antaranya adalah sakit kepala dan gangguan pencernaan.[15] Terdapat pula beberapa kasus yang melaporkan perubahan pada haid, jerawat, dan rasa pusing.[15] Terdapat risiko kecil munculnya ginekomastia (perkembangan payudara) apada pria.[15] Risiko ginekomastia dari inhibitor 5α-reduktase secara umum adalah sekitar 2,8%.[20]

FDA telah mengeluarkan peringatan mengenai peningkatan risiko kanker prostat ganas dari penggunaan dutasterida.[21] Meskipun belum terdapat penelitian konklusif mengenai hal tersebut, efek dutasterida yang dapat mengurangi tumor prostat jinak juga dapat menutupi deteksi dini terhadap kanker prostat. Hal ini menjadi sulit bagi pasien yang mengambil dutasterid karena ia memiliki hiperplasia prostat karena dapat menunda diagnosis jika ia ditemukan juga memiliki kanker prostat.[22]

Disfungsi seksual seperti disfungsi ereksi, menurunnya libido serta jumlah semen yang rendah terjadi pada sekitar 3,4 hingga 15,8% pria yang menggunakan finasterid atau dutasterid.[15][23][24] Hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup yang pada gilirannya dapat mengganggu kesehatan jiwa serta hubungan sosial.[25] Penelitian lainnya menemukan bahwa efek disfungsi seksual tersebut dapat tetap ada ketika pasien telah berhenti menggunakan finasterid dan dutasterid.[26]

Beberapa penelitian kecil menemukan adanya hubungan inhibitor 5α-reduktase dengan depresi. Kebanyakan penelitian lain tidak menemukan hubungan tersebut.[15] Teradapat pula penelitian yang melaporkan depresi yang masih berlanjut lama setelah pemakaian dutasterid dihentikan.[15][26]

Overdosis[sunting | sunting sumber]

Tidak ada antidot spesifik untuk overdosis dutasterid. Dutasterid telah digunakan dalam studi klinis pada dosis higga 40 mg per hari selama seminggu dan 5 mg per hari selama 6 bulan tanpa memunculkan kekhawatiran serius atau efek samping lainnya.[13]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Lemke, Thomas L.; Williams, David A. (2008). Foye's Principles of Medicinal Chemistry. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 1286–1287. ISBN 978-0-7817-6879-5. 
  2. ^ Burchum, Jacqueline; Rosenthal, Laura (2014). Lehne's Pharmacology for Nursing Care. Elsevier Health Sciences. hlm. 803–. ISBN 978-0-323-34026-7. 
  3. ^ a b c d Blume-Peytavi, Ulrike; Whiting, David A.; Trüeb, Ralph M. (2008). Hair Growth and Disorders. Springer Science & Business Media. hlm. 182, 369. ISBN 978-3-540-46911-7. 
  4. ^ Badan Pengawas Obat dan Makanan. "Dutasterid". Pusat Informasi Obat Nasional. Diakses tanggal 2019-07-04. 
  5. ^ a b c d e f g "Dutasteride Monograph for Professionals". Drugs.com. American Society of Health-System Pharmacists. Diakses tanggal 2019-03-18. 
  6. ^ a b c d e British national formulary : BNF 76 (edisi ke-76). Pharmaceutical Press. 2018. hlm. 769. ISBN 9780857113382. 
  7. ^ a b c Shapiro, Jerry; Otberg, Nina (2015-04-17). Hair Loss and Restoration, Second Edition. CRC Press. hlm. 39–. ISBN 978-1-4822-3199-1. 
  8. ^ a b c Wesp LM, Deutsch MB (2017). "Hormonal and Surgical Treatment Options for Transgender Women and Transfeminine Spectrum Persons". Psychiatr. Clin. North Am. 40 (1): 99–111. doi:10.1016/j.psc.2016.10.006. PMID 28159148. 
  9. ^ a b Wu C, Kapoor A (2013). "Dutasteride for the treatment of benign prostatic hyperplasia". Expert Opin Pharmacother. 14 (10): 1399–408. doi:10.1517/14656566.2013.797965. PMID 23750593. 
  10. ^ Aggarwal S, Thareja S, Verma A, Bhardwaj TR, Kumar M (2010). "An overview on 5alpha-reductase inhibitors". Steroids. 75 (2): 109–53. doi:10.1016/j.steroids.2009.10.005. PMID 19879888. 
  11. ^ Fischer, Jnos; Ganellin, C. Robin (2006). Analogue-based Drug Discovery. John Wiley & Sons. hlm. 483. ISBN 9783527607495. 
  12. ^ Slater, S; Dumas, C; Bubley, G (March 2012). "Dutasteride for the treatment of prostate-related conditions". Expert Opinion on Drug Safety. 11 (2): 325–30. doi:10.1517/14740338.2012.658040. PMID 22316171. 
  13. ^ a b c d "AVODART (dutasteride) Soft Gelatin Capsules" (PDF). Drugs@FDA: FDA Approved Drug Products. 2013-04-30. 
  14. ^ Wilt TJ, Macdonald R, Hagerty K, Schellhammer P, Tacklind J, Somerfield MR, Kramer BS (2010). "5-α-Reductase inhibitors for prostate cancer chemoprevention: an updated Cochrane systematic review". BJU Int. 106 (10): 1444–51. doi:10.1111/j.1464-410X.2010.09714.x. PMID 20977593. 
  15. ^ a b c d e f g h i Hirshburg JM, Kelsey PA, Therrien CA, Gavino AC, Reichenberg JS (2016). "Adverse Effects and Safety of 5-alpha Reductase Inhibitors (Finasteride, Dutasteride): A Systematic Review". J Clin Aesthet Dermatol. 9 (7): 56–62. PMC 5023004alt=Dapat diakses gratis. PMID 27672412. 
  16. ^ Choi GS, Kim JH, Oh SY, Park JM, Hong JS, Lee YS, Lee WS (2016). "Safety and Tolerability of the Dual 5-Alpha Reductase Inhibitor Dutasteride in the Treatment of Androgenetic Alopecia". Ann Dermatol. 28 (4): 444–50. doi:10.5021/ad.2016.28.4.444. PMC 4969473alt=Dapat diakses gratis. PMID 27489426. 
  17. ^ Nusbaum AG, Rose PT, Nusbaum BP (2013). "Nonsurgical therapy for hair loss". Facial Plast Surg Clin North Am. 21 (3): 335–42. doi:10.1016/j.fsc.2013.04.003. PMID 24017975. 
  18. ^ Mark G. Lebwohl; Warren R. Heymann; John Berth-Jones; Ian Coulson (19 September 2013). Treatment of Skin Disease: Comprehensive Therapeutic Strategies. Elsevier Health Sciences. hlm. 327–. ISBN 978-0-7020-5236-1. 
  19. ^ a b McVary, Kevin T.; Welliver, Charles (2016-08-12). Treatment of Lower Urinary Tract Symptoms and Benign Prostatic Hyperplasia: Current methods, outcomes, and controversies, An Issue of Urologic Clinics of North America, E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 396–. ISBN 978-0-323-45994-5. 
  20. ^ Trost L, Saitz TR, Hellstrom WJ (2013). "Side Effects of 5-Alpha Reductase Inhibitors: A Comprehensive Review". Sex Med Rev. 1 (1): 24–41. doi:10.1002/smrj.3. PMID 27784557. 
  21. ^ "5-alpha reductase inhibitors (5-ARIs): Label Change - Increased Risk of Prostate Cancer - U.S. Department of Health & Human Services". 
  22. ^ Walsh, PC (2010-04-01). "Chemoprevention of prostate cancer". The New England Journal of Medicine. 362 (13): 1237–8. doi:10.1056/NEJMe1001045. PMID 20357287. 
  23. ^ Liu, L; Zhao, S; Li, F; Li, E; Kang, R; Luo, L; Luo, J; Wan, S; Zhao, Z (September 2016). "Effect of 5α-Reductase Inhibitors on Sexual Function: A Meta-Analysis and Systematic Review of Randomized Controlled Trials". The Journal of Sexual Medicine. 13 (9): 1297–310. doi:10.1016/j.jsxm.2016.07.006. PMID 27475241. 
  24. ^ Drobnis, Erma Z.; Nangia, Ajay K. (2017). Impacts of Medications on Male Fertility. Advances in Experimental Medicine and Biology. 1034. hlm. 59–61. doi:10.1007/978-3-319-69535-8_7. ISBN 978-3-319-69534-1. ISSN 0065-2598. PMID 29256127. 
  25. ^ Gur, S; Kadowitz, PJ; Hellstrom, WJ (January 2013). "Effects of 5-alpha reductase inhibitors on erectile function, sexual desire and ejaculation". Expert Opinion on Drug Safety. 12 (1): 81–90. doi:10.1517/14740338.2013.742885. PMID 23173718. 
  26. ^ a b Traish, AM; Hassani, J; Guay, AT; Zitzmann, M; Hansen, ML (March 2011). "Adverse side effects of 5α-reductase inhibitors therapy: persistent diminished libido and erectile dysfunction and depression in a subset of patients". The Journal of Sexual Medicine. 8 (3): 872–84. doi:10.1111/j.1743-6109.2010.02157.x. PMID 21176115. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]