Din

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Din atau dien, دين (Bahasa Arab), דין (Bahasa Ibrani) adalah sebuah kata dalam yang umumnya terkait dengan Islam, tetapi juga digunakan dalam Yudaisme dan Kekristenan Arab. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai "agama", meskipun dalam bahasa Arab tidak memiliki arti yang pasti.

Makna secara istilah[sunting | sunting sumber]

Dalam Alkitab Ibrani[sunting | sunting sumber]

Kata Dīn (Bahasa Ibrani: דִּין) disebutkan sebanyak 24 kali dalam Alkitab Ibrani, yang berarti –untuk mengadili, atau –melakukan penghakiman, atau –untuk menghakimi. The intransitive usage of the verb loosely means –to be obedient, submissive. The transitive verb usage denotes requite, compensate, rule, govern, obedience, abasement, recompense, requiter, governor.

Dalam Al Quran[sunting | sunting sumber]

Kata Din muncul dalam sebanyak 79 ayat dalam Al-Qur'an, tetapi karena tidak ada definisi terjemahan yang tepat, istilah tersebut menjadi subyek kesalahpahaman dan perbedaan pendapat. Misalnya, istilah ini sering diterjemahkan dalam bagian Al-Qur'an sebagai "agama". Namun, dalam Al Qur'an itu sendiri, tindakan penyerahan kepada Tuhan selalu disebut sebagai Din, bukan sebagai "mazhab" ( مذهب) yang merupakan kata dalam bahasa Arab untuk "agama".

istilah Dīn juga banyak digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an dalam arti yang lain. Yang paling terkenal dalam al-Fatihah. istilah ini diterjemahkan di hampir semua terjemahan sebagai "penghakiman":


Dalam sudut pandang Islam[sunting | sunting sumber]

Secara istilah khusus, din Islam dapat didefinisikan sebagai peraturan Allah yang membawa orang-orang berakal ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat, yang mencakup masalah aqidah dan amal. Ia adalah suatu sistem yang mencakup peraturan-peraturan yang menyeluruh, serta merupakan "undang-undang" yang lengkap dalam semua urusan hidup manusia untuk kita terima dan mengamalkannya secara total.

Segala yang ada di alam semesta juga ber-agama, yaitu agama Allah, sesuai dengan ayat dalam Al-Quran:

3:83: Maka apakah mereka mencari ‘agama’ yang lain dari ‘agama’ Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah saja mereka dikembalikan.

Mengacu kepada terjemahan yang kita lihat di atas, maka ‘diinillah’ diartikan sebagai ‘agama Allah’.

Agama Allah diturunkan dari langit (agama samawi) melalui para utusan-Nya, seperti nabi Adam, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad (shollallahu 'alaihi wa sallam), agama yang diturunkan adalah agama yang sama, hanya saja syariat-nya yang berbeda-beda.

Maka untuk mencari referensi apa itu ad diin kita lihat dari ayat-ayat lain mengenai ad diin:

24:2: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah (diinullah), jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
12:76: Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja (dinul malik), kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.

Apa yang diperjuangkan para Nabi dan Rasul sejak zaman Adam, Nuh, Ibrahim, Musa , Isa hingga Muhammad adalah penegakkan Dien yaitu Dien yang berlaku di alam semesta yang disebut dengan Islam, yaitu berserah diri kepada ketentuan Allah sebagai Rabb (Pencipta, Pemelihara, Penghancur).

Penegakkan Dien Allah dari masa ke masa

Karena yang diperjuangkan adalah sistem atau aturan yang tidak menghendaki pencampuran dengan aturan selain Din Allah, sehingga mayoritas para Rasul yang diutus selalu berlawanan dengan kekuasaan yang berlaku saat itu, mari kita lihat contohnya

Adam      X  Iblis 
Nuh       X  Kanaan 
Ibrahim   X  Nimrod 
Musa      X  Firaun (Ramses II)
Isa       X  Herodes 
Muhammad  X  Musyrik/Kafir/Munafik 

Perjuangan Para Rasul Dilaksanakan Tanpa Menggunakan Kekerasan

Bertujuan mengubah paradigma masyarakat yang menggunakan hukum/isme selain dari Allah agar kembali menggunakan hukum/isme/aturan Allah. Ini dilaksanakan sebagaimana halnya Musa (alaihissalam) berdakwah di Mesir, perjuangan da'wah Isa/Yesus (alaihissalam) dan dua belas murid di Palestina serta da'wah Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) di Makkah.

Adapun peperangan terjadi ketika suatu negara yang dipimpin Rasul diserang oleh kekuatan yang berniat menghancurkan Din yang sudah diimplementasikan dalam bentuk kedaulatan / negara.

Agama Adalah Produk Sejarah

Agama yang berkembang saat ini adalah produk sejarah yang berasal dari pertentangan politik (schism) di antara pengikut-pengikutnya sesuai dengan Al-Baqarah:213

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Setelah terjadi perselisihan kemudian Allah mengirimkan para rasul (utusan) untuk memperbaiki keadaan perpecahan tersebut (untuk kembali kepada DIN yang benar: DIN Islam). Secara konsep ,islam sudah sempurna akan tetapi kesempurnan islam akan terpenuhi jika secara konsep dan secara aktual terwujudkan yaitu adanya Daulah yang menggunakan hukum Allah sebagai landasannya bukan hukum produk buatan manusia dan adanya kholifah atau pemimpin daulah sebagi wakil Allah di muka bumi serta adanya umat yang taat pada hukum atau UU Allah maka itulah ciri-ciri DIN Allah.