Cyperus papyrus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Cyperus papyrus Edit the value on Wikidata
Cyperus papyrus6.jpg
Edit the value on Wikidata
Tumbuhan
Jenis buahkacang pohon Edit the value on Wikidata
Status konservasi
Status iucn3.1 LC.svg
Risiko rendah
IUCN164158 Edit the value on Wikidata
Taksonomi
DivisiTracheophyta
UpadivisiSpermatophytina
KladAngiospermae
Kladmonocots
Kladcommelinids
OrdoPoales
FamiliCyperaceae
UpafamiliCyperoideae
TribusCypereae
GenusCyperus
SpesiesCyperus papyrus Edit the value on Wikidata
Linnaeus, 1753

Cyperus papyrus adalah sebuah spesies tumbuhan berbunga akuatik yang masuk keluarga Cyperaceae. Tumbuhan tersebut berasal dari Afrika. Papirus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah Sungai Nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papirus. Mereka pada saat itu membuat kertas dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus papirus, sebelum kertas (seperti yang kita kenal sekarang) ditemukan.

Ciri-ciri fisik dan kegunaan[sunting | sunting sumber]

Secara fisik, daun pohon ini mirip rambut terjurai. Tangkainya tumbuh setinggi 3-5 meter, berbentuk segitiga secara bersilangan. Di sekeliling dasar tangkai tersebut tumbuh dedaunan berserabut pendek.

Karakter pohon papirus sangat halus, tanpa bonggol-bonggol dan duri-duri yang menuju pada kelompok bunga besar, nyaman, dan berbentuk rumbai. Konon karena perubahan geografis di daerah sungai Nil dan berkembangnya pemakaian kulit binatang sebagai media untuk menulis, papirus di Mesir tidak lagi berkembang biak dengan suburnya. Penanaman menjadi sukar dan populasi papirus menurun dengan drastis. Namun demikian, sekarang papirus banyak tumbuh di tepi-tepi danau kecil dan sungai-sungai di Afrika.

Menurut Dr. Kamaluddin al-Batanuni, guru besar ekologi, tumbuhan papirus tumbuh di daerah lembap dan basah. Daun-daunnya panjang, tinggi, dan seperti kulit. Panjangnya mencapai satu setengah meter dan daun-daun tumbuhan ini banyak digunakan untuk membuat tikar.

Di wilayah jazirah Arab, pada masa Nabi Muhammad SAW, tanaman ini selain dimanfaatkan untuk tikar, juga digunakan untuk menulis Al Qur'an serta bahan obat-obatan tradisional. Sebagai bahan untuk menulis, papirus diolah sedemikian rupa hingga menyerupai kertas, lazimnya berukuran 10×20 cm hingga 10×30 cm atau bahkan lebih dari 10×50 cm. Namun, ada kepingan yang dicantumkan atau dijahit hingga menghasilkan lembar papirus yang panjangnya 12 sampai 30 meter.

Papirus dalam agama Islam[sunting | sunting sumber]

Papirus dikenal sebagai sebuah obat; dalam agama Islam dicatat dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, berdasarkan informasi dari Abu Hazm bahwa dia mendengar Sahl bin Sa'd As Sa'idi menanyakan tentang obat yang digunakan untuk mengobati luka Nabi Muhammad SAW pada waktu Perang Uhud. Maka ia berkata: "Wajah dia terluka, gigi serinya pecah dan helm di kepala dia hancur. Fatimah az-Zahra membersihkan darah, dan Ali bin Abi Thalib menuangkan padanya air dengan perisai. Ketika Fatimah melihat bahwa air tidak menahan darah kecuali semakin banyak, maka dia mengambil sepotong tikar, lalu membakarnya hingga menjadi abu, dan lalu melekatkannya pada luka itu, maka berhentilah darah yang mengalir".

Al Kahal bin Tharkan menjelaskan hadits ini. Menurutnya, tikar yang dimaksudkan di dalam hadits tersebut adalah tikar yang terbuat dari papirus. Pada masa itu tikar banyak terbuat dari tumbuhan ini. Abu yang berasal dari papirus mempunyai pengaruh yang bagus dalam menahan darah karena ia mengandung zat pengering yang kuat dan kurang menyengat. Abu ini, jika ditiupkan sendiri atau bersama cuka ke dalam hidung orang yang mimisan, akan menghentikan mimisan.

Di samping itu, seperti dituturkan Abdul Mun'im Q dalam bukunya At-Tadawy bil Qur'an (Pengobatan dalam Al-Qur'an), di dalam tumbuhan ini terkandung garam mineral dengan kadar yang besar; zat inilah yang akan menjadi abu setelah daun-daunnya dibakar. Abu ini sangat halus butir-butirannya hingga mencapai derajat yang besar dan ukuran butir-butirannya dapat mencapai ukuran tepung perekat yang mampu menahan pendarahan berkelanjutan. Inilah yang menambah keluasan permukaannya. Di antara khasiat terpenting dari permukaan ini adalah sifatnya yang mudah menyerap. Artinya, ia mengumpulkan pada permukaannya unsur-unsur lain dari kondisi yang ada padanya. Karena itu, membakar tumbuhan ini akan menghasilkan abu yang steril serta mempunyai khasiat untuk membantu membersihkan luka dan menghentikan pendarahan juga akan membentuk penutup dan pembalut yang mencegah menyusupnya mikrob dan jasad-jasad renik lainnya.

Karakteristik media papirus ini memang dikenal oleh banyak bangsa. Di India, misalnya, minyak mentah yang terbuat dari papirus banyak digunakan untuk memperlancar air seni. Lebih dari itu, kulit bunganya dimanfaatkan sebagai pembalut luka dan obat bagi jaringan yang hidup.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Boar, R. R., D. M. Harper and C. S. Adams. 1999. Biomass Allocation in Cyperus papyrus in a Tropical Wetland, Lake Naivasha, Kenya. 1999. Biotropica 3: 411.
  • Chapman, L.J., C.A. Chapman, R. Ogutu-Ohwayo, M. Chandler, L. Kaufman and A.E. Keiter. 1996. Refugia for endangered fishes from an introduced predator in Lake Nabugabo, Uganda. Conservation Biology 10: 554-561.
  • Chapman, L.J., C.A. Chapman, P.J. Schofield, J.P. Olowo, L. Kaufman, O. Seehausen and R. Ogutu-Ohwayo. 2003. Fish faunal resurgence in Lake Nabugabo, East Africa. Conservation Biology 17: 500-511.
  • Gaudet, John. 1975. Mineral concentrations in papyrus in various African swamps. Journal of Ecology 63: 483-491.
  • Gaudet, John. 1976. Nutrient relationships in the detritus of a tropical swamp.Archiv für Hydrobiologie 78: 213-239.
  • Gaudet, John. 1977. Natural drawdown on Lake Naivasha, Kenya and the formation of papyrus swamps. Aquatic Botany 3: 1-47.
  • Gaudet, John. 1977. Uptake and loss of mineral nutrients by papyrus in tropical swamps. Ecology 58: 415-422.
  • Gaudet, John. 1978. Effect of a tropical swamp on water quality. Verh. Internat. Ver. Limnol. 20: 2202-2206.
  • Gaudet, John. 1978. Seasonal changes in nutrients in a tropical swamp. Journal of Ecology 67: 953-981.
  • Gaudet, John. 1980. Papyrus and the ecology of Lake Naivasha. National Geographic Society Research Reports. 12: 267-272.
  • Gaudet, J. and J. Melack. 1981. Major ion chemistry in a tropical African lake basin. Freshwater Biology 11: 309-333.
  • Gaudet, J. and C. Howard-Williams. 1985. “The structure and functioning of African swamps.” In (ed. Denny) The Ecology and Management of African Wetland Vegetation. Dr.w.Junk, Pub., Dordrecht (pp. 154–175).
  • Gaudet, John. 1991. Structure and function of African floodplains. Journal of the East African Natural Historical Society. 82(199): 1-32.
  • Harper, D.M., K.M. Mavuti and S. M. Muchiri. 1990: Ecology and management of Lake Naivasha, Kenya, in relation to climatic change, alien species introductions and agricultural development. Environmental Conservation 17: 328–336.
  • Harper, D. 1992. The ecological relationships of aquatic plants at Lake Naivasha, Kenya. Hydrobiologia. 232: 65-71.
  • Howard-Williams, C. and K. Thompson. 1985. The conservation and management of African wetlands. In (ed. Denny) The Ecology and Management of African Wetland Vegetation. Dr.w.Junk, Pub., Dordrecht (pp. 203–230).
  • Jones, M.B. and T. R. Milburn. 1978. Photosynthesis in Papyrus (Cyperus papyrus L.), Photosynthetica. 12: 197 - 199.
  • Jones, M. B. and F. M. Muthuri. 1997. Standing biomass and carbon distribution in a papyrus (Cyperus Papyrus L) swamp on Lake Naivasha, Kenya. Journal of Tropical Ecology. 13: 347–356.
  • Jones M.B. and S. W. Humphries. 2002. Impacts of the C4 sedge Cyperus papyrus L. on carbon and water fluxes in an African wetland. Hydrobiologia, Volume 488, pp. 107–113.
  • Maclean, I.M.D. 2004. An ecological and socio-economic analysis of biodiversity conservation in East African wetlands. Unpublished PhD thesis, University of East Anglia, Norwich.
  • Maclean, I.M.D., M. Hassall, M. R. Boar and I. Lake. 2006. Effects of disturbance and habitat loss on papyrus-dwelling passerines. Biological Conservation., 131: 349-358.
  • Maclean, I.M.D., M. Hassall, R. Boar, R. and O. Nasirwa. 2003a. Effects of habitat degradation on avian guilds in East African papyrus Cyperus papyrus L. swamps. Bird Conservation International, 13: 283-297.
  • Maclean, I.M.D., R. Tinch, M. Hassall and R.R. Boar, R.R. 2003b. Social and economic use of wetland resources: a case study from Lake Bunyonyi, Uganda. Environmental Change and Management Working Paper No. 2003-09, Centre for Social and Economic Research into the Global Environment, University of East Anglia, Norwich.
  • Maclean, I.M.D., R. Tinch, M. Hassall and R.R. Boar. 2003c. Towards optimal use of tropical wetlands: an economic evaluation of goods derived from papyrus swamps in southwest Uganda. Environmental Change and Management Working Paper No. 2003-10, Centre for Social and Economic Research into the Global Environment, University of East Anglia, Norwich.
  • Messenger Dally. 1908 How papyrus defeated South Sydney and assisted in making Eastern Suburbs great
  • Muthuri, F. M., M. B. Jones, and S.K. Imbamba. 1989. Primary productivity of papyrus (Cyperus papyrus) in a tropical swamp - Lake Naivasha, Kenya, Biomass, 18: 1 - 14.
  • Muthuri, F. M. and M. B. Jones. 1997. Nutrient distribution in a papyrus swamp: Lake Naivasha, Kenya. Aquatic Botany, 56: 35–50.
  • Owino, A. O. and P. G. Ryan. 2006. Habitat associations of papyrus specialist birds at three papyrus swamps in western Kenya. African Journal of Ecology 44: 438-443.
  • Thompson, K. 1976. Swamp development in the head waters of the White Nile. In (ed.J. Rzoska) ‘‘The Nile. Biology of an Ancient River.’’Monographiae Biologicae, 29. Dr.W. Junk b.v., The Hague.
  • Thompson, K., P.R. Shewry & H.W. Woolhouse. 1979. Papyrus swamp development in the Upemba Basin, Zaire: Studies of population structure in Cyperus papyrus stands. Botanical Journal of the Linn. Soc. 78: 299-316.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]