Tridharma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini mengenai konsep Tridharma dalam budaya Tionghoa. Untuk semboyan dari Raden Mas Said, silakan melihat: Tridarma
Tempat Ibadah Tridharma Kelenteng Sam Po Kong saat perayaan 600 tahun Muhibah Cheng Ho

Tridharma (Hanzi: 三教, hanyu pinyin: sanjiao) adalah sebuah kepercayaan yang dapat digolongkan ke dalam agama Buddha. Tridharma disebut Samkau dalam dialek Hokkian, berarti harfiah tiga ajaran. Tiga ajaran yang dimaksud adalah Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme.

Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu.

Definisi dan etimologi[sunting | sunting sumber]

Tridharma (Pinyin: San Jiao; Fujian/Hokkian: Sam Kauw) memiliki pengertian Tiga Ajaran. Istilah ini merujuk pada tiga ajaran yang menjadi dasar ajaran Tridharma, yaitu Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme.

Tridharma berasal dari kata Tri dan Dharma. Tri berarti "tiga" dan Dharma berarti "ajaran kebenaran". Jadi secara harafiah, Tridharma berarti "tiga ajaran kebenaran", yaitu ajaran Sakyamuni Buddha, ajaran Nabi Khong Hu Cu, dan ajaran Nabi Lo Cu. Tridharma merupakan Agama yang penghayatannya menyatu dalam ajaran Buddha, Khong Hu cu, dan Lo Cu. Ketiga ajaran tersebut sama tidak dicampur-aduk dan tetap berpegang pada kitab suci masing-masing.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

San Jiao di China[sunting | sunting sumber]

Istilah Tridharma (San Jiao) muncul pada masa Dinasti Donghan (sekitar Abad I) setelah agama Buddha masuk ke Negeri China. Sebenarnya Buddhisme merupakan ajaran pertama yang berbentuk lembaga keagamaan yang pertama kali hadir di China, setelah itu barulah Taoisme (Dao Jiao) dan Konfusianisme (Ru Jiao). Namun pada zaman itu, urutan kronologis San Jiao ditetapkan oleh kaisar sebagai agama Ru, Dao, dan Buddha.[2]

Semenjak awal mula masuknya Buddhisme ke China, berbagai usaha untuk menyatukan ketiga ajaran tersebut sudah diusahakan. Sepanjang sejarah China, hubungan antara ketiga ajaran tersebut memang tidak selalu mulus, tetapi hal itu umumnya diakibatkan ulah para penguasa yang menjadikannya sebagai komoditas politik. Cerita si kera sakti Sun Go Kong yang cukup terkenal di Indonesia sangat kental bernuansa Taoisme (ilmu gaib, roh dan siluman, berbagai simbol Taoisme), tetapi kisahnya menceritakan perjalanan Bhiksu Tang Xuanzang (Fujian/Hokkian: Tong Sam Cong]] ke India untuk mengambil Kitab Suci Buddhis. Sedangkan penulisnya sendiri, Wu Cheng'en, adalah seorang sastrawan Konfusianis. Pengaruh ketiga ajaran sudah bercampur sedemikian rupa sehingga sebelum Tahun 1949, setiap kegiatan masyarakat China daratan berpedoman rambu-rambu San Jiao. Akibatnya, orang Barat sampai berpendapat: orang Tionghoa itu dibesarkan dalam pendidikan Konfusianis, saat dewasa menjadi Buddhis, dan setelah lanjut usia tertarik pada ajaran Laozi.[2]

Setelah paham Komunis memasuki China, pengaruh San Jiao di China daratan memudar, tetapi tetap eksis di Taiwan, Hong Kong, Macau, Singapura, Indonesia, dan negara-negara lain dimana banyak bermukim masyarakat China perantauan. Kini di Indonesia, San Jiao (Sam Kauw) resmi disebut Tridharma, sedangkan klenteng diakui sebagai badan keagamaan yang disebut sebagai Tempat Ibadah Tri Dharma (disingkat TITD). Penetapan tersebut diberlakukan oleh Menteri Agama R.I. pada tanggal 19 November 1979.[2]

Tridharma di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Tridharma di Indonesia kembali bangkit berkat usaha yang dirintis oleh Kwee Tek Hoay yang dikenal sebagai Bapak Triddharma Indonesia. Ia memprakarsai berdirinya Sam Kauw Hwee atau "Perkumpulan Tiga Agama" di Jakarta pada tahun 1920-an, serta mendirikan "Penerbitan & Percetakan Moestika" yang menerbitkan Majalah Moestika Dharma yang banyak mengupas ajaran Buddha, Khong Hu Cu, Lo Cu, bahkan ajaran agama lain. Sam Kauw Hwee bersifat Indonesia-sentris, yaitu dibangun dan diciptakan di Indonesia meskipun ketiga ajarannya berasal dari luar Indonesia.[1]

Pemujaan[sunting | sunting sumber]

Tradisi orang Tionghoa semenjak zaman purbakala sampai kini adalah memuja Roh (Bai Shen). Roh-roh yang dipuja itu pada mulanya adalah arwah para leluhur (Di), Roh Tanah (She), Roh Padi-Padian (Ji), Roh Langit (Tian), Roh Bumi (Di), hingga meluas ke Roh seisi alam semesta. Mereka percaya bahwa-Roh-Roh itu bisa membantu keberadaan manusia apabila dihormati. Itulah kepercayaan Animisme dan Dinamisme yang umum dijumpai pada semua masyarakat purba di muka bumi. Meskipun kepercayaan semacam itu sebagian besar sudah luntur di masa modern ini, tetapi pada Bangsa Tionghoa masih tetap bertahan dan berkembang. Bahkan masuknya agama Buddha dan lahirnya agama Tao di serta Konghucu China makin menambah banyaknya Roh-Roh pujaan. Roh Pujaan itu disebut Shen Ming (Roh Suci). Untuk lebih memusatkan perhatian pada pemujaan, dibuatlah patung sebagai lambang dari Roh tersebut.[2]

Dalam pengertian umum, memuja biasanya dilakukan oleh pihak yang lebih rendah kepada pihak yang lebih tinggi derajatnya. Namun bagi orang Tionghoa, memuja roh berarti: "upaya untuk mengormati keberadaan roh, dan untuk berhubungan dengannya". Oleh karena itu, tujuan pemujaan di Klenteng menjadi beraneka rupa.[2]

  • Untuk refleksi diri atau menyelaraskan rohani dengan alam semesta.
  • Untuk menghormati para Roh Suci yang telah berjasa. Misalnya kepada Laozi, Kong Hu Cu, dan Buddha Sakyamuni yang merupakan guru-guru besar ketiga ajaran.
  • Untuk berterima kasih atas anugerah dalam hidup.
  • Untuk memohon restu, nasihat, atau bantuan. Misalnya kepada Kwan Im dan Chen Fu Zhen Ren.
  • Untuk memohon kesaksian Shen Ming. Misalnya berikrar di hadapan Gong Zu Guan Gong di Klenteng Tuban.
  • Untuk menunjukkan rasa bakti atau kasih. Misalnya kepada arwah leluhur, keluarga, dan sahabat dalam Festival Qingming.
  • Untuk membantu arwah leluhur dan arwah semua makhluk hidup yang sedang berada di alam menderita. Menurut kepercayaan, arwah para penjahat atau yang tidak ikhlas pada kematiannya akan tersesat dan bergentayangan. Arwah-arwah seperti ini perlu dibantu dengan doa-doa dan persembahan, misalnya dalam ritual Cioko atau Ulambana.

Hari-hari sembahyang yang penting[sunting | sunting sumber]

Upacara keagamaan yang diadakan di Klenteng sebenarnya berkaitan erat dengan tradisi perayaan di kalangan rakyat. Secara garis besar, ritual-ritual tersebut terbagi menjadi tiga bagian.[2]

Upacara pergantian musim[sunting | sunting sumber]

  • Festival Chun Jie (Xin Jia) atau Tahun Baru Imlek.
  • Festival Yuan Xiao Jie (Cap Go Meh) sebagai penutupan Tahun Baru Imlek. Tanggal 15 bulan 1 Imlek.
  • Festival Duan Wu (menyambut Musim Panas) yang dimeriahkan lomba Perahu Naga. Imlek tanggal 5 bulan 5.
  • Festival Zhong Qiu Jie (Tiong Ciu). Festival Musim Gugur atau Festival Kue Bulan. Imlek tanggal 15 bulan 8.
  • Festival Qixi (Perayaan Malam Tujuh). Festival pertemuan antara Niu Lang (Gembala Kerbau) dengan Zhi Nu (Gadis Penenun). Imlek tanggal 7 bulan 7.
  • Festival Chong Yang (Tiong Yang) yang dirayakan tanggal 9 bulan 9 Imlek. Masyarakat Tionghoa menggangap angka ganjil (1,3,5,7,9) bersifat Yang (positif, maskulin). Angka 9 merupakan angka ganjil tertua (titik balik dari kelimpahan (8) menuju kekurangan (0)). Tanggal 9 bulan 9 dianggap tanggal sangat jelek sehingga diadakan ritual untuk menangkalnya.
  • Festival Dongzhi (Tang Cek; Hari Wedang Ronde) untuk merayakan titik balik matahari saat musim dingin, dirayakan sekitar tanggal 22 Desember.
  • Festival Chu Xi atau malam Ji Kau Meh. Malam di hari terakhir tahun Imlek.

Upacara penghormatan leluhur[sunting | sunting sumber]

  • Festival Qingming atau Cheng Beng. Setiap tanggal 5 April.
  • Festival Zhong Yuan, Cioko (Sembahyang Rebutan), atau Ulambana. Bulan 7 Imlek.
  • Festival Jiang Tian Gong (Kheng Thi Kong) untuk berterima kasih kepada Thian (Tuhan) atas keselamatan dari pembantaian yang dilakukan pasukan Manzu.

Upacara peringatan hari suci Shen Ming (Roh Suci)[sunting | sunting sumber]

  • Festival La Ji untuk menghormati Shennong (Dewa Pertanian) yang dibantu kucing dan harimau mengamankan lahan pertanian. Imlek bulan 12.
  • Festival Wei Ya (Bwee Ge), mengungkapkan syukur kepada Tu Di Gong (Dewa Bumi). Imlek tanggal 16 bulan 12.
  • Festival La Ba Jie (Lap Pat). Peringatan Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan. Imlek tanggal 8 bulan 12.
  • Festival Ji Si Siang Ang (Song Wang), mengantar Dewa Dapur Zao Jun ke langit menghadap Thian. Imlek tanggal 24 bulan 12.
  • Ulang Tahun Tian Shang Sheng Mu. Imlek tanggal 23 bulan 3.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b D.S. Marga Singgih. April 2011. TRIDHARMA, Selayang Pandang", Cetakan ketujuh. Jakarta: Yayasan BAKTI.
  2. ^ a b c d e f Bidang Litbang PTITD/Matrisia Jawa Tengah. 2007. Pengetahuan Umum tentang Tridharma, hal. 11. Semarang: Penerbit Benih Bersemi.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]