Uposatha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Hari Uposatha (bahasa Sanskerta: Upavasatha) merupakan hari dimana umat Buddha melakukan perenungan dan pengamatan yang sudah dilakukan sejak masa kehidupan Buddha Gautama dan masih dipraktekkan hingga hari ini.[1][2] Buddha mengajarkan bahwa hari Uposatha diperuntukkan "membersihkan pikiran dari hal-hal kotor," yang menyebabkan ketenangan batin dan kebahagiaan.[3] Pada hari ini, umat awam (upasaka/upasika) dan para biksu/biksuni secara intensif akan berlatih ajaran Buddha dan memperdalam pengetahuan mereka.

Hari Pengamatan[sunting | sunting sumber]

Tergantung dengan budaya dan tanggalnya, hari uposatha biasa dilakukan dari tanggal 2 sampai dengan 6 setiap bulannya.

Negara-negara beraliran Theravada[sunting | sunting sumber]

Secara umum, Uposatha dilakukan sekali dalam seminggu di negara-negara Theravada, sesuai dengan empat fase bulan: bulan baru, bulan purnama, dan dua kali bulan separuh. Di beberapa komunitas, seperti di Sri Lanka, hanya bulan baru dan bulan purnama para umat melakukan perenungan hari Uposatha. Pada masa sebelum penjajahan, hari Uposatha merupakan hari libur di Myanmar. Akan tetapi sejak masa penjajahan, hari Minggu telah menggantikan peranan hari Uposatha. Selama hari Uposatha, para biksu dan biksuni akan berkumpul dan mengulangi Patimokkha (sebuah kumpulan Vinaya).

Negara-negara beraliran Mahayana[sunting | sunting sumber]

Di beberapa negara-negara Mahayana yang menggunakan penanggalan Cina, hari Uposatha dilakukan enam kali dalam sebulan, yaitu pada tanggal 8, 14, 15, 23, dan dua hari terakhir pada setiap bulannya. Di Jepang, enam hari ini dikenal dengan sebutan roku sainichi (六斎日 Enam Hari Puasa?).

Nama-nama bulan purnama di Hari Uposatha[sunting | sunting sumber]

Nama-nama Pali untuk hari Uposatha berdasarkan bahasa Sansekerta nakśatra (Pali: nakkhatta).[4]

Full Moon Uposatha Day Names
Bulan Pali Sanskrit Burmese Sinhala Thai
Januari Phussa Puṣya Pyatho Duruthu Pusaya (ปุศยะ)
Februari Māgha Maghā Tabodwe Navam Makha (มาฆะ)
Maret Phagguṇa Phalgunī Tabaung Medin (Maedhin) Pholkuni (ผลคุณี)
April Citta Chitrā Tagu Bak Chittra (จิตรา)
Mei Visākhā Viśākhā Kason Vesak Visakha (วิสาขา)
Juni Jeṭṭhā Jyeṣṭha Nayon Poson Chetta (เชษฐา)
Juli Āsāḷhā Aṣāḍhā Waso Esala (Aesala) Asarnha (อาสาฬหะ)
Agustus Sāvana Śrāvaṇa Wagaung Nikini Savana (สาวนะ)
September Poṭṭhapāda Bhādrapadā Tawthalin Binara Phattarapratha (ภัทรปทา)
Oktober Assayuja Aśvinī Thadingyut Vap Assavani (อัศวนี)
November Kattikā Kṛttikā Tazaungmon Il Krittika (กฤติกา)
Desember Māgasira Mṛgaśiras Natdaw Unduvap Maruekasira (มฤคศิระ)

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kata "uposatha" berasal dari bahasa Sansekerta "upavasatha," yang mengacu pada hari puasa Vedic. Pada masa kehidupan Buddha Gautama, beberapa pertapa menggunakan bulan baru dan bulan purnama sebagai kesempatan untuk mengajarkan ajaran. Hari Uposatha kemudian ditetapkan oleh Buddha Gautama atas permohonan Raja Bimbisara, dan Buddha menginstruksikan kepada para biksu dan biksuni untuk memberikan ajaran (ceramah) kepada para penduduk di hari tersebut. Buddha juga menginstruksikan kepada murid-muridnya untuk mengulangi Patimokkha.[5]

Hari Uposatha Spesial[sunting | sunting sumber]

Secara umum terdapat empat hari uposatha spesial bagi kalangan umat Buddha, yaitu hari Uposatha di bulan Magha, Waisak, Asadha dan Kathina.


Lihat Juga[sunting | sunting sumber]

Notes[sunting | sunting sumber]

  1. ^ For a description of the contemporary practice of the Uposatha in Thailand, see Khantipalo (1982a), which is also excerpted in this article below. Kariyawasam (1995), ch. 3, also underlines the continuity of the ancient uposatha practice in Sri Lanka: "The poya [Sinhala for uposatha] observance, which is as old as Buddhism itself, has been followed by the Sinhala Buddhists up to the present day, even after the Christian calendar came to be used for secular matters. Owing to its significance in the religious life of the local Buddhists, all the full-moon days have been declared public holidays by the government."
  2. ^ The uposatha day is sometimes likened to the Judeo-Christian notion of the Sabbath. Pali English dictionaries that define "Uposatha" as "Sabbath," are Buddhadatta (2002), p. 63, and, and PED(Rhys-Davids & Stede,1921-25), p. 151. For an example of the Uposatha being equated with Sabbath by a modern Buddhist master, see Mahasi (undated), p. 2, where he writes: "For lay people, these rules [of discipline] comprise the eight precepts which Buddhist devotees observe on the Sabbath days (uposatha) and during periods of meditation." Harvey (1990), p. 192, also refers to the uposatha as "sabbath-like."
  3. ^ Thanissaro (1997b); Anguttara Nikaya 3.70: Muluposatha Sutta.
  4. ^ See Nakshatra, Hindu calendar, Sanskrit English Dictionary by Monier Williams, s.v. 'nakśatra'.
  5. ^ Rhys Davids & Oldenberg (1881), pp. 240-41. Also see Khantipalo (1982a) and Pali English Dictionary(Rhys Davids & Stede, 1921-25, p. 152).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Harvey, Peter (1990). An introduction to Buddhism: Teachings, history and practices. Cambridge: Cambridge University. ISBN 0-521-31333-3.

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Templat:LayTheravadaPractices2 Templat:Buddhism topics