Paticcasamuppada
| Bagian dari serial Agama Buddha |
|
|
Konsep ajaran agama Buddha |
|
|
Ajaran inti |
|
|
Tokoh penting |
|
|
Tingkat-tingkat Pencerahan |
|
|
Wilayah agama Buddha |
|
|
Sekte-sekte agama Buddha |
|
Paticca samuppada (bahasa Pali: paticcasamuppāda; bahasa Sanskerta: प्रतीत्यसमुत्पाद (pratītyasamutpāda); Hanyu: 緣起) berarti Hukum Sebab-Musabab yang saling bergantungan merupakan salah satu ajaran terpenting dalam agama Buddha.
Ajaran ini menyatakan adanya sebab-musabab yang terjadi dalam kehidupan semua mahluk, khususnya manusia. Dengan menganalisa dan merenungkan Paticca Samuppada inilah, Siddhartha Gautama (yang pada saat itu masih menjadi Petapa) akhirnya mencapai Penerangan Sempurna menjadi Buddha.[1]
| “ | Ia yang melihat Paticcasamuppada, juga melihat Dhamma. Ia yang melihat Dhamma, jug amelihat Paticcasamuppada.
|
” |
|
—Maha-hatthipadopama Sutta: Majjhima Nikaya 28 |
||
Daftar isi |
Pengertian dasar [sunting]
Pemahaman akan Paticcasamuppada yang sederhana adalah:
| “ | Dengan adanya ini, maka terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu. Dengan terhentinya ini, maka terhentilah itu.
|
” |
|
—Assutava Sutta: Uninstructed (SN 12.61)[2] |
||
Penerapan [sunting]
Penerapan akan Paticcasamuppada terdiri dari dua bagian, satu bagian mengenai pengertian akan Dukkha, dan bagian lain mengenai kelahiran kembali.
Pengertian akan Dukkha [sunting]
Pengertian paticcasamuppada mengenai penderitaan Dukkha dikenal dengan sebutan Empat Kesunyataan Mulia:
- Dukkha: Pengertian akan penderitaan (Dukkha).
- Samudaya: Asal-muasal penderitaan (Dukkha).
- Nirodha: Lenyapnya penderitaan (Dukkha).
- Magga: Jalan menuju lenyapnya penderitaan (Dukkha) atau yang disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Dua belas Nidana [sunting]
12 (dua belas) Sebab-musabab (Nidana) yang ada dalam setiap mahluk, khususnya manusia dapat dikategorikan sebagai berikut:
|
Kehidupan lampau
|
Kehidupan sekarang
|
Kehidupan yang akan datang
|
| “ | ..... Demikianlah penyebab dari seluruh kesusahan dan penderitaan. | ” |
|
—Paticca-samuppada-vibhanga Sutta; Samyutta Nikaya 12.2 (S 2.1) |
||
Referensi [sunting]
|
||||||||||||||||||||||||||||||||
