Sun Go Kong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini memuat teks berbahasa Tionghoa. Tanpa dukungan multibahasa, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, tanda kotak, atau simbol lain, selain karakter yang dimaksud.
Pawai Sun Go Kong dalam acara Grebeg Sudiro di Surakarta, Indonesia

Sun Go Kong (Hanzi tradisional: 孫悟空; (Tionghoa); Pinyin: Sūn Wùkōng; Wade-Giles: Sun Wu-k'ung ; bahasa Hokkian:Sun-gō·-khong / Sun-ngō·-khong) adalah tokoh utama dalam novel Perjalanan ke Barat. Dalam novel ini, ia menemani pendeta Tong dalam perjalanannya. Sun Go Kong dalam bahasa Vietnam adalah Ton Ngo Khong, dalam bahasa Jepang adalah Son Gokū, dan dalam bahasa Thai adalah Sun Ngokong.

Dalam buku Journey To The West versi terjemahan bahasa Inggris, dinyatakan bahwa:

"Sun Go Kong amat gagah, senang sekali mengangkat tongkat sakti Ruyi Jingu Bang yang beratnya 13.500 kati (8.100 kg). Sun Go Kong adalah seorang pejuang mahir yang mampu melawan panglima-panglima hebat di kayangan. Dia juga menghafal berbagai mantra untuk menghembuskan angin, membelah air, menyulap lingkaran lindungan dari ancaman setan."[1]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Kelahiran dan kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Sun Go Kong

Sun Wukong lahir di Huāguǒ-shān (Hanzi: 花果山;lit. Gunung Bunga-bunga dan Buah-buahan) dari sebuah batu mitos yang menerima saripati (qi) matahari dan bulan selama ribuan tahun. Ia tinggal bersama kawanan monyet kemudian dihormati setelah menemukan Shuǐlián-dòng (Hanzi: 水帘洞; lit. Gua Tabir Air) di belakang sebuah air terjun raksasa. Monyet-monyet mengangkatnya sebagai raja mereka kemudian Sun Wukong menggelari dirinya sendiri sebagai Měi Hóuwáng (Raja Monyet Gagah). Ia menyadari bahwa dirinya masih akan mengalami kematian meskipun ia berkuasa atas monyet-monyet yang lain, maka Wukong berniat untuk mencapai keabadian. Ia berkelana dengan rakit ke wilayah-wilayah beradab lalu menemui dan menjadi pengikut Bodhi, salah satu guru Buddhisme/Taoisme. Oleh karena itu, Wukong mempelajari seni bertutur-kata dan budi pekerti manusia.[1]

Pada mulanya, Bodhi enggan menerima Wukong sebagai pengikutnya karena Wukong bukanlah manusia. Namun, karena kegigihan dan ketabahan Wukong, Bodhi menjadi tertarik kepada monyet itu dan memberinya nama resmi Sun Wukong ("Sun" menunjukkan asal-usulnya sebagai monyet dan "Wukong" membawa pengertian sadar akan kekosongan). Tidak lama kemudian, minat dan kecerdasan Wukong menjadikannya salah satu pengikut kesayangan Bodhi. Bodhi membimbing dan melatihnya berbagai ilmu sakti dan Wukong menguasai ilmu perubahan bentuk yang dikenal sebagai "72 perubahan". Ilmu itu membuat yang menguasainya dapat berubah wujud dalam berbagai bentuk yang memungkinkan, termasuk manusia dan barang. Wukong juga belajar perjalanan awan, termasuk teknik Jīndǒuyún (bersalto di atas awan) yang dapat mencapai 108,000 li (54,000 km). Ia juga dapat mengubah setiap bulunya yang berjumlah 84000 menjadi barang dan makhluk, atau mengklonkan dirinya. Wukong menjadi terlalu angkuh karena kemampuannya dan mulai berbicara angkuh dengan murid-muridnya yang lain. Hal itu membuat Bodhi tidak senang kemudian mengusirnya dari kuil. Sebelum mereka berpisah, Bodhi mengarahkan Wukong supaya berjanji tidak akan memberitahu siapapun tentang bagaimana dia mendapatkan ilmu tersebut.[1]

Di Huāguǒ-shān, Wukong memantapkan kedudukannya sebagai salah satu siluman yang paling berkuasa dan berpengaruh di dunia. Untuk mencari senjata yang sesuai, ia menjelajah lautan dan memperoleh tongkat Ruyi Jingu Bang. Tongkat itu dapat berubah ukuran dan menduplikasikan diri, juga bergerak sesuai kehendak hati pemiliknya. Mulanya tongkat itu digunakan oleh Yu Agung untuk mengukur kedalaman lautan, kemudian menjadi "Tiang yang Menenangkan Lautan" serta harta karun Ao Guang, "Raja Naga Laut Timur". Berat tongkat itu adalah 13,500 kati (8.1 tan). Saat Wukong mendekatinya, tiang itu bersinar, menandakan bahwa ia telah menjumpai pemiliknya yang benar. Tongkat itu membolehkan Wukong menggunakannya sebagai senjata serta menyimpannya di dalam telinga sebagai jarum jahit. Hal tersebut menyebabkan para makhluk sakti laut ketakutan serta mengakibatkan huru-hara di laut karena tidak benda lain yang mengawal pasang surut lautan. Selain merampas tongkat sakti itu, Wukong juga menewaskan naga-naga empat laut dalam pertempuran dan memaksa mereka memberikannya baju zirah (鎖子黃金甲), topi berbulu Fenghuang (鳳翅紫金冠 Fèngchìzǐjinguān), serta sepatu bot yang membuatnya dapat berjalan di atas awan (藕絲步雲履 Ǒusībùyúnlǚ). Saat petugas Neraka datang untuk mencabut nyawanya yang sudah habis, ia berubah wujud menjadi makhluk lain sehingga mereka terkecoh. Ia akhirnya turun ke dunia akhirat kemudian menghapuskan namanya bersama-sama nama semua monyet yang dikenalinya dari "Buku Hidup dan Mati". Raja-raja Naga dan Akhirat memutuskan untuk mengadukannya kepada Kaisar Giok di Surga.[1]

Huru-hara di Alam Surga[sunting | sunting sumber]

Aktor memerankan Sun Wukong dalam adegan opera Beijing.

Kaisar Giok berharap dengan memberikan Wukong jabatan di kalangan dewa akan membuatnya lebih mudah diawasi. Wukong mengira ia akan diangkat sebagai salah satu dewa, tetapi ia hanya dijadikan pengurus kandang kuda surga untuk menjaga kuda. Setelah mengetahui hal itu, ia memberontak dan mengangkat dirinya sebagai "Bikkhu Agung, Berpangkat Setara dengan Surga" dan bersekutu dengan para siluman yang paling berkuasa di dunia. Percobaan awal Surga untuk menguasai Raja Monyet tidak berhasil. Selanjutnya, para dewa terpaksa mengakui gelar Wukong tersebut serta mencoba menawarinya kedudukan sebagai "Pelindung Taman Surga". Saat Wukong mendapati dirinya tidak diundang untuk menghadiri sebuah jamuan kerajaan oleh Xi Wangmu, sementara dewa dan dewi lain dijemput, ia menjadi marah. Setelah mencuri "persik keabadian" Xi Wangmu, pil lanjut usia Lao Tzu, serta minuman anggur Kaisar Giok, Wukong melarikan diri kembali ke kerajaannya untuk menyusun pemberontakan.

Wukong kemudian menewaskan Tentara Surga yang terdiri atas 100,000 pahlawan samawi dan membuktikan dirinya menjadi lawan tanding Er Lang Shen, jenderal Surga yang terunggul. Namun, ia akhirnya berhasil ditangkap atas kuasa Taoisme dan Buddhisme, serta usaha para setengah dewa. Beberapa percobaan hukuman mati untuknya gagal, sehingga Wukong akhirnya dikurung dalam sebuah tungku bagua Lao Tzu untuk disuling menjadi pil obat dengan cara dibakar menggunakan api meditasi yang paling panas. Namun, tungku tersebut meledak setelah 49 hari dan Wukong melompat ke luar, bahkan menjadi lebih kuat daripada yang dahulu. Wukong kemudian berbuat berbagai kejahatan melalui huǒyǎn-jīnjīng (火眼金睛) ("renungan keemasan mata bernyala-nyala"), suatu keadaan dimana mata tahan terhadap asap.

Setelah semua cara gagal dilakukan, Kaisar Giok memohon Buddha yang tinggal di kuilnya di Barat. Buddha bertaruh dengan Wukong bahwa Wukong tidak akan dapat melarikan diri daripada tapak tangannya. Wukong yang dapat menempuh 108,000 li dalam satu kali lompatan, dengan angkuhnya, setuju dengan taruhan tersebut. Ia kemudian melompat bahkan dengan berkali-kali salto dan mendarat pada suatu tempat yang hanya terdapat lima batang tiang. Ia mengira telah mencapai ujung dunia. Sebagai penanda bahwa dirinya telah sampai di tempat itu, ia menulis pada tiang-tiang itu kalimat "Bikkhu Agung yang Sama Kedudukannya dengan Syurga", kemudian mengencinginya. Ia kemudian melompat kembali ke telapak tangan Buddha, dimana ia ditunjukkan bahwa kelima tiang tersebut adalah kelima jari tangan Buddha. Wukong segera berusaha melarikan diri, tetapi Buddha menindihnya dengan telapak tangan yang berubah menjadi gunung. Gunung tersebut disegel dengan mantra Om Mani Padme Hum dalam huruf emas. Wukong terkurung di sana selama lima abad.[1]

Mengikut kepada Xuanzang[sunting | sunting sumber]

Lima abad kemudian, Bodhisatva Guanyin sedang mencari-cari pengikut untuk melindungi Xuanzang, seorang penziarah Dinasti Tang, yang ingin membuat perjalanan ke India untuk memperoleh sutra agama Buddha. Pada saat Wukong terdengar hal itu, dia menawarkan diri untuk ditukar dengan kebebasannya. Guanyin memahami bahwa monyet itu tidak benar-benar berniat untuk mengawal dan oleh karena itu, memberi Xuanzang sebuah cekak rambut (bandana) ajaib, hadiah dari Buddha. Sekali saja Wukong ditipu untuk memakainya, cekak itu tidak dapat dilepaskan lagi. Dengan mantera khusus, cekak itu dapat diketatkan dan mengakibatkan kesakitan yang tidak tertahankan pada kepala Wukong. Atas keadilan, Guanyin juga memberi Wukong tiga bulu yang istimewa yang boleh digunakan dalam keadaan yang mendesak. Di bawah pengawasan Xuanzang, Wukong diperbolehkan melakukan perjalanan ke Barat.

Pada sepanjang epik Perjalanan ke Barat, Wukong membantu Xuanzang dengan setia dalam perjalanannya ke India. Mereka disertai oleh "Pigsy" (猪八戒 Zhu Bajie) dan "Sandy" (沙悟浄 Sha Wujing) yang menawarkan diri untuk menemani sami itu bagi menebus dosa mereka. Kuda sami sebenarnya ialah putra naga. Keselamatan Xuanzang sentiasa terancam oleh setan-setan serta makhluk-makhluk gaib yang lain yang mempercayai bahwa daging Xuanzang, apabila dimakan, dapat menambah umur. Wukong sentiasa bertindak sebagai pengawal pribadi Xuanzang dan dikaruniai kuasa Surga untuk memerangi ancaman-ancaman tersebut. Pada akhirnya, kelompok itu menghadapi 81 kesengsaraan sebelum mencapai misi mereka dan kembali ke China. Wukong kemudian dikurniai dengan Kebuddhaan atas dedikasi kesetiaan dan kekuatannya.[1]

Antara Sun Go Kong dan Hanoman[sunting | sunting sumber]

Muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman.[2] Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul "Gu Yue Du Jing", ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang Bikkhu yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng.[2]

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en.[2]

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Journey to the West, Wu Cheng'en (1500-1582), Translated by Foreign Languages Press, Beijing 1993.
  2. ^ a b c Sun Go Kong dan Hanoman