Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Lambang Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah atau disingkat Tapak Suci, adalah sebuah aliran, perguruan, dan organisasi pencak silat yang merupakan anggota IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Tapak Suci termasuk dalam 10 Perguruan Historis IPSI, yaitu perguruan yang menunjang tumbuh dan berkembangnya IPSI sebagai organisasi. Tapak Suci berasas Islam, bersumber pada Al Qur'an dan As-Sunnah, berjiwa persaudaraan, berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi otonom yang ke-11. Tapak Suci berdiri pada tanggal 10 Rabiul Awal 1383 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta. Tapak Suci memiliki motto "Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah". Organisasi Tapak Suci berkiprah sebagai organisasi pencak silat, berinduk kepada Ikatan Pencak Silat Indonesia, dan dalam bidang dakwah pergerakan Tapak Suci merupakan pencetak kader Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah berkedudukan di Kauman, Yogyakarta, dan memiliki kantor perwakilan di ibukota negara.

Tapak suci mempunyai ketua umum (purn) Mayjen Inf. Afnan Zamhari priode (2013-2018)

Arti lambang[sunting | sunting sumber]

Lambang tapak suci sarat akan simbol dan makna, yaitu:

  • Bentuk bulat memiliki makna tekad bulat.
  • Warna dasar biru memiliki arti keagungan.
  • Warna tepi hitam memiliki arti kekal dan abadi melambangkan sifat Allah SWT.
  • Gambar bunga mawar memiliki makna keharuman.
  • Warna merah memiliki arti keberanian.
  • Daun kelopak hijau memiliki makna kesempurnaan
  • Bunga melati putih memiliki arti kesucian.
  • Jumlah sebelas menyimbolkan rukun Islam dan rukun Iman.
  • Tangan kanan putih memiliki makna keutamaan.
  • Terbuka memiliki makna kejujuran.
  • Berjari rapat menyimbolkan keeratan.
  • Ibu jari tertekuk menyimbolkan kerendahan Hati.
  • Sinar matahari kuning memiliki makna Putera Muhammadiyah.
Arti logo ts.jpg

Keseluruhan lambang tersimpul dengan nama Tapak Suci, yang mengandung arti:

  • Bertekad bulat mengagungkan asma Allah Subhanahuwata’ala, kekal dan abadi.
  • Dengan keberanian menyerbakkan keharuman dengan sempurna.
  • Dengan Kesucian menunaikan Rukun Islam dan Rukun Iman.
  • Mengutamakan keeratan dan kejujuran dengan rendah hati.

Aliran Tapak Suci[sunting | sunting sumber]

Aliran Tapak Suci adalah keilmuan pencak silat yang berlandaskan Al Islam, bersih dari syirik dan menyesatkan, dengan sikap mental dan gerak langkah yang merupakan tindak tanduk kesucian dan mengutamakan Iman dan Akhlak, serta berakar pada aliran Banjaran-Kauman, yang kemudian dikembangkan dengan metodis dan dinamis.

Perguruan Tapak Suci[sunting | sunting sumber]

Perguruan Tapak Suci adalah perguruan yang merupakan peleburan sekaligus kelanjutan dari tiga paguron yang pernah ada sebelumnya, yaitu: Kasegu, Seranoman (baca : Sironoman), dan Kauman, berlandaskan Al Islam dan berjiwa ajaran KH. Ahmad Dahlan, membina pencak silat yang berwatak serta berkepribadian Indonesia, melestarikan budaya bangsa yang luhur dan bermoral, serta mengabdikan perguruan untuk perjuangan agama, bangsa, dan negara.

Sejarah Tapak Suci[sunting | sunting sumber]

Sebelum kelahiran Tapak Suci[sunting | sunting sumber]

Tahun 1872, di Banjarnegara lahir seorang putera dari KH. Syuhada, yang kemudian diberi nama Ibrahim. Ibrahim kecil memiliki karakter yang berani dan tangguh sehingga disegani oleh kawan-kawannya. Ibrahim belajar pencak dan kelak menginjak usia remaja telah menunjukkan ketangkasan pencak silat. Setelah menjadi buronan Belanda, Ibrahim berkelana hingga sampai ke Betawi, dan selanjutnya ke Tanah Suci. Sekembalinya dari Tanah Suci, menikah dengan puteri KH. Ali. Ibrahim kemudian mendirikan Pondok Pesantren Binorong di Banjarnegara. Sepulang dari ibadah haji, Ibrahim masih menjadi buronan Belanda, sehingga kemudian berganti nama menjadi KH.Busyro Syuhada. Pondok Pesantren Binorong, berkembang pesat, di antara santri-santrinya antara lain Achyat adik misan Ibrahim, M. Yasin (adik kandung), dan Soedirman, yang kelak menjadi Jenderal Besar.

Tahun 1921 dalam konferensi Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta, KH. Busyro bertemu pertama kali dengan dua kakak beradik; A.Dimyati dan M.Wahib. Diawali dengan adu kaweruh antara M.Wahib dengan Achyat (kelak berganti nama menjadi H. Burhan), selanjutnya kedua kakak beradik ini mengangkat KH. Busyro sebagai Guru.

KH. Busyro Syuhada kemudian pindah dan menetap di Yogyakarta sehingga aliran Pencak Silat Banjaran, yang pada awalnya dikembangkan melalui Pondok Pesantren Binorong kemudian dikembangkan di Kauman, Yogyakarta. Atas restu Pendekar Besar KH. Busyro, A. Dimyati dan M.Wahib diizinkan untuk membuka perguruan dan menerima murid. Tahun 1925 dibukalah Perguruan Pencak Silat di Kauman, terkenal dengan nama Cikauman. Perguruan Cikauman, dipimpin langsung oleh Pendekar Besar M. Wahib dan Pendekar Besar A. Dimyati.

Tersebutlah M. Syamsuddin, murid Cikauman yang dinyatakan berhasil dan lulus, diizinkan untuk menerima murid dan mendirikan Perguruan Seranoman. Perguruan Seranoman berletak di kauman sebelah utara, melahirkan seorang Pendekar Muda M. Zahid yang mempunyai seorang murid andalan bernama Moh. Barrie Irsyad.

Pendekar Moh. Barrie Irsyad, sebagai murid angkatan ke-6 yang telah dinyatakan lulus dalam menjalani penggemblengan oleh Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati. Kemudian mendirikan Perguruan KASEGU. Kasegu, merupakan senjata khas yang berlafal Muhammad yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barrie Irsyad.

Kelahiran Tapak Suci[sunting | sunting sumber]

Atas desakan murid-murid Perguruan Kasegu kepada Pendekar Moh. Barrie Irsyad untuk mendirikan satu perguruan yang mengabungkan perguruan yang sejalur (Cikauman, Seranoman dan Kesegu). Perguruan Tapak Suci berdiri pada tanggal 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta. Ketua Umum pertama Tapak Suci adalah Djarnawi Hadikusumo.

Setelah berdiri Tapak Suci menerima permintaan untuk membuka cabang di daerah-daerah. Secara otomatis TAPAK SUCI menjadi wadah silaturahmi para pendekar yang berada di lingkungan Muhammadiyah. Pada tahun 1964, ketika itu Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH Ahmad Badawi, Tapak Suci diterima menjadi organisasi otonom Muhammadiyah. Nama perguruan menjadi Tapak Suci Putera Muhammadiyah, disingkat Tapak Suci.

Keluarga I Tapak Suci berdiri di Jawa Timur, lalu disusul di Sumatera Selatan, Jakarta, dan Sumatra Barat. Kini Tapak Suci telah menyebar ke Singapura, Belanda, Jerman, Austria, dan Mesir.

Kisah Pendekar Harimau[sunting | sunting sumber]

Pendekar Besar Chusnan David Jurus harimau perguruan Tapak Suci diciptakan oleh pendekar besar Chusnan David. Pada tahun 1992 sebagai amanah dari pendekar Besar Barie Irsjad. 

Pendekar Besar Chusnan David lahir di Surabaya pada tahun 1945. Beliau sebelum masuk menjadi anggota Tapak Suci. Beliau adalah anggota perguruan Silat Lembaga Seni dan Budaya Indonesia pada tahun 1965, yang kini lebih dikenal menjadi perguruan silat Perisai Putih. Pendekar Chusnan David juga pernah belajar di Perguruan SH Terate. Namun dengan alasan akidah beliau tidak melanjutkan bergabung dengan SH Terate. Selain belajar Silat Pendekar Silat Pendekar Chusnan David juga pernah belajar Judo dan Jujitsu.

Pada periode 1960-an Muhamaddiyah Surabaya membutuhkan Latihan Beladiri. Karena kebutuhan akan ilmu bela diri sangatlah diperlukan dalam rangka menghadapi teror-teror yang senantiasa dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), beserta antek-anteknya terhadap umat Islam. Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara dengan KOKAM-nya (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) yang merupakan salah satu unsur dari sebuah generasi yang bertanggungjawab terhadap tetap tegaknya agama Islam di bumi Indonesia, merasa terpanggil untuk berjuang melawan teror-teror yang dilaksanakan secara keji oleh PKI dan antek-anteknya.

Salah seorang yang mendapat kepercayaan untuk melatih Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara adalah Agus Tcik. Pembinaan dan latihan bela diri dilaksanakan pada akhir tahun 1961, bertempat di Madrasah al Mufidah (Masjid Taqwa), Jl. Kampung Baru Nur Anwar Gang I (sekarang Jl. Kalimas Udik), Surabaya. Sangatlah disayangkan kemudian, karena latihan dan pembinaan yang baru berjalan seumur jagung tersebut tidak dilanjutkan, karena Agus Tcik – sehubungan dengan tugasnya – pindah ke Sulawesi. Namun demikian, Agus Tcik telah berhasil menanamkan dasar-dasar bela diri kepada para anggota Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara. Dengan pindahnya Agus Tcik, segala kegiatan bela diri dalam lingkungan Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara menjadi sama sekali berhenti, yang tersisa adalah semangat untuk tetap mempertahankan Agama Islam dan segala macam upaya untuk melawan rongrongan yang senantiasa dilancarkan oleh PKI.

Pada awal tahun 1963, Madrasah Al-Mufidah mendapatkan seorang ustadz alumni dari Muallimin Yogyakarta – yang juga merupakan seorang pelatih bela diri – nama beliau adalah M. Yazid. Melihat kenyataan bahwa kegiatan Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara yang sedang lesu, padahal semangat Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara untuk berlatih bela diri sangat besar, maka dengan dasar berupa naluri bela diri yang didukung oleh wawasan berorganisasi yang cukup luas, beliau merasa terpanggil untuk menggalang kembali latihan bela diri dalam sebuah wadah organisasi. Atas dukungan ikhlas dari K.H. Ainur Rofiq Mansyur, maka dibentuklah sebuah Organisasi Bela Diri Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara dengan nama: TUNAS MELATI.

Pada awal tahun 1966, Pemuda Muhammadiyah Surabaya menyelenggarakan Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI). Salah satu cabang olah raga yang diperlombakan adalah Pencak Silat. Dalam memakmurkan cabang olah raga ini, ternyata Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara tidak mempunyai atlet/pesilat yang bisa diandalkan untuk meraih juara. Atas usul dari salah seorang aktivis Tunas Melati yang juga merupakan paman dari PendekarChusnan David, perwakilan dari Pemuda Muhammadiyah Surabaya Utara dalam cabang Pencak Silat akhirnya dipercayakan kepada Seorang Pemuda bernama Chusnan David yang saat itu masih berusia 19 tahun. Kepercayaan tersebut dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab,Chusnan David memilih sendiri partner Silatnya. Dari beberapa calon pesilat diuji fisik, kecepatan, serta ketrampilan pencak silatnya. Namun banyak yang gugur tidak memenuhi kualifikasinya.  Ditengah hampir keputusasaannya akhirnya muncul pemuda bernama Alimun ( pesilat dari pencak Tradisional jawa). Alimun diuji dan lulus memenuhi kualifikasi menjadi partner Silat Chusnan David.


Dalam ajang PORSENI pasangan Chusnan David dan Alimun berhasil meraih predikat sebagai Juara I untuk semua jenis kategori lomba Pencak Silat, “Kembangan Tangan Kosong dan bersenjata”, juga Juara I berpasangan dengan Alimun  untuk jenis “Berpasangan Tangan Kosong”.

Karena Kesibukan M. Yazid  telah memaksa beliau untuk mengundurkan diri sebagai pelatih Tunas Melati. Sehingga sangat disayangkan upaya-upaya yang telah dirintis oleh M. Yazid untuk membentuk sebuah organisasi yang lebih berkembang, ternyata tidak bisa diikuti oleh beliau. 

Pada pertengahan tahun 1966 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Surabaya menunjukChusnan David menjadi pelatih Beladiri untuk Pemuda Muhammadiyah menggantikan M. Yazid. Hati Chusnan David merasa trenyuh dan tergugah saat itu karena merasa dihormati oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah. Tidak pernah terfikir sebelumnya bagaimana pantas beliau hanya seorang pemuda melatih beladiri orang orang yang lebih tua dan berat badannya juga lebih berat dari beliau. Namun atas niatan yang kuat dan atas Rahmat Allah pelatihan beladiri Tunas Melati saat itu berjalan lancar dan berkembang dalam masyarakat dan Pemuda Muhammadiyah. Dan orientasi latihan beladiri saat itu adalah murni untuk pertahanan diri melawan PKI. Yang mana saat itu banyak sekali pembunuhan terhadap umat Islam oleh PKI.


Pada pertengahan tahun 1966, Tapak Suci Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Pagelaran Pencak Silat bertempat di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Jl. Bubutan, Surabaya. Rupanya pagelaran tersebut telah menggugah para aktivis Tunas Melati untuk berubah menjadi Tapak Suci. Berbekal dari keberhasilan pada PORSENI Pemuda Muhammadiyah, serta didorong oleh semangat kuat untuk mendirikan sebuah organisasi bela diri yang bersifat metodis dan dinamis, maka pengurus dan anggota Tunas Melati telah bertekad bulat untuk mendirikan Tapak Suci di Surabaya.


Persiapan dalam rangka terbentuknya Tapak Suci Surabaya kemudian diselenggarakan dengan penuh rasa tanggung jawab, serta tidak jarang disertai dengan adanya rapat yang dibayangi oleh todongan senjata api dari oknum-oknum pada saat itu yang merupakan antek PKI.


Untuk keseragaman keilmuan Tapak Suci dalammewujudkan hal ini, Pendekar Chusnan David tidak segan-segan setiap hari Sabtu hingga Ahad datang secara langsung untuk berlatih ke pusat Perguruan Tapak Suci di Yogyakarta, tidak jarang latihan tersebut berlangsung ba’da jama’ah Isya’ hingga menjelang jama’ah Shubuh. 


Hingga pada akhirnya beliau diberikan amanat oleh Pendekar Besar Barie Irsjad untuk melengkapi kurikulum keilmuan di Tapak Suci. Pendekar Chusnan David menciptakan Jurus Harimau. Dalam kurun waktu 1 - 2 bulan Jurus Harimau 1 dan 2 tersusun. Jurus Harimau karya dari Pendekar Chusnan David bersifat agresif dan mematikan. Tidak memberikan kesempatan lawan untuk menyerang kembali. Gerakan Jurus Harimau banyak diadopsi dari gerakan Judo dan Jujitsu sehingga Jurus Harimau tersaji dengan kombinasi yang menarik antara Ilmu Silat, Judo dan Jujitsu di dalamnya.


Menurut pendekar Chusnan David, manusia berlatih ilmu beladiri bertujuan untuk mencapai ketajaman reflex action dan reflex automatic action dalam mempertahankan diri. Karena pada dasarnya manusia sudah memiliki insting (naluri) dan intuisi membeladiri sejak lahir ketika manusia mendapatkan suatu ancaman. Manusia memiliki 4 “in” yang harus dipahami ; Inisiatif, intuisi, insting, inspirasi. Ukuran kemampuan beladiri seseorang tidak bisa diukur dari berapa lamanya latihan. Tapi yang menjadi ukuran adalah seberapa intensif seseorang itu berlatih.

Pesan dari pendekar Chusnan David. “Berlatihlah untuk mencari ilmu dan beramalah dengan ikhlas tidak untuk mencari jabatan. Karena Semakin tinggi ilmu yang kita miliki akan menjadikan kita  merasa semakin tidak banyak ilmu yang kita ketahui.... Gelar Pendekar tidak perlu dikejarkarena gelar pendekar adalah anugrah. Sejatinya pendekar adalah orang yang telah berjasa pada masyarakat".

Ismail Navianto, Dosen FH UB yang Juga Pendekar Silat Nasional[sunting | sunting sumber]

Ismail Navianto bukanlah orang sembarangan. Selain bergelar doktor Ilmu Hukum, dosen FH UB (Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) ini juga pendekar silat nasional yang juga pencipta jurus merpati di perguruan silat tapak suci.

Sosok Ismail Navianto terlihat gagah meski umurnya sudah 61 tahun. Gerak tubuhnya juga lincah. Itu terlihat saat dia berbincang gayeng dengan Jawa Pos Radar Malang di ruang dosen FH UB, Senin (3/10). Kondisi itu pas dengan statusnya sebagai pendekar silat.

Sejurus kemudian, perbincangan kami mulai mengarah ke tema utama yaitu soal persilatan yang selama ini digeluti Ismail.  Dia mengatakan, sebelum belajar bela diri pencak silat,  terlebih dahulu menggeluti olahraga judo dan  kungfu pada tahun 60-an. Yaitu ketika dia berumur 7 tahun hingga masuk SMP.

Setelah masuk SMP pada 1969 silam, Ismail pindah ke olahraga bela diri tapak suci. Karena di sekolahnya ada ekstrakurikuler silat tapak suci.

Sejak masuk tapak suci, dia rutin berlatih di Gedung KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) di Jl Kawi. ”Sejak masuk tapak suci, selama 10 tahun saya tidak pernah berhenti latihan di gedung KNPI,” kenang suami Handayani Asriningpuri tersebut.

Untuk mendalami ilmu silat tapak suci, Ismail juga berlatih ke sejumlah pendekar di Jawa Timur. Dia sowan ke rumah para pendekar tapak suci di Jember. Di sana, dia belajar  kepada Pendekar Besar Nizam Firdaus, Pendekar Besar (alm) Hadji Syeh, dan Pendekar Besar (alm) Buchori Achmad (pencipta jurus lembu).

Selain berguru ke Jember, dia juga belajar kepada Pendekar Besar Hamid di Mojokerto dan Pendekar Besar Kusnan David di Surabaya, pencipta jurus harimau. ”Dari belajar ke sejumlah pendekar besar itu,  saya dipercaya menjadi pelatih tapak suci pertama di Malang pada 1979,” kata pria yang menempuh program Magister Hukum di Unair (Universitas Airlangga) Surabaya itu.

Sepak terjang Ismail pada tahun 70-an rupanya terlihat PP (Pimpinan Pusat) Tapak Suci. Maka pada 1980, dia ditugaskan menciptakan jurus merpati. ”Tiba-tiba ada kabar dari PP yang meminta saya menciptakan jurus merpati. Mungkin karena ada pengamatan, kira-kira gerak (kuda-kuda) saya dianggap cocok untuk mengambil alih jurus ini. Sebelum itu memang saya aktif di sarasehan Pendekar Nasional yang diselenggarakan setiap  tahun,” jelas pendekar yang kini tinggal di Perum Griya Shanta Blok A 107 ini.

Maka, pada tahun itu juga dia mulai menciptakan jurus merpati. Dalam jurus itu, Ismail menggabungkan gerakan di judo, kungfu, serta tapak suci yang pernah dipelajari. Selain itu, dia juga mengamati gerakan burung merpati.

Dari situlah kemudian lahir jurus merpati yang kini resmi menjadi jurus di tapak suci secara nasional. Menurut dia, di tapak suci ada 8 jurus yang diperagakan. Yaitu jurus katak, naga, mawar, ikan terbang, rajawali, lembu, harimau, dan merpati. ”Dari semua jurus itu, jurus merpatilah yang paling sulit,” kata pria kelahiran 12 Februari 1955 ini.

Alasannya, jurus ini membutuhkan keleturan gerak tubuh dan kekuatan kuda-kuda. Itu merupakan gerakan untuk memperkokoh atau memperkuat  posisi berdiri di saat melakukan penyerangan maupun tangkisan terhadap lawan. Kesulitan jurus merpati terdapat pada kelincahan gerak dan menghindari serangan sambil membalas menyerang (egosan). Sebagaimana burung merpati yang cenderung menghindar dan mengurangi benturan. Dengan filosofi burung merpati, jurus ini cocok digunakan perempuan sebagaimana penggunaan kipas (lincah). ”Ya jinak-jinak merpati seperti itu,” tutur pria yang juga menjadi Dewan Guru Tapak Suci Nasional ini.

Sementara itu, untuk prestasi di pencak silat, bapak tiga anak ini sudah tidak ingat jumlahnya karena cukup banyak. Sejak 1970-an, dia sudah menjuarai pertandingan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Jatim. Lalu di event Tapak Suci Nasional, dia juga langganan juara. Selain itu, Ismail juga berhasil mengantarkan Kontingen Malang menjadi juara umum pada 1978 silam dalam event nasional Tapak Suci di Jakarta.

Sebagai guru besar, sudah banyak siswa dan kader tapak suci berguru kepada pendekar merpati ini. Di antara murid di perguruannya, ada yang menyabet medali perunggu dalam PON (Pekan Olahraga Nasional) 2016, cabang olahraga pencak silat kelas E putra, namanya Agung Soebarkah. ”Dia anak Malang, tapi jadi wakil Sumatera Selatan,” kata dosen Hukum Pidana UB tersebut.

Seiring berjalannya waktu, muridnya di tapak suci, lanjut dia, sudah banyak dimintai melatih di luar negeri. Belgia, Jerman, dan Mesir sudah mempunyai sekretariat pencak silat itu.

Sebagai pencetak pesilat hingga pendekar, Ismail masih terus mengikuti perkembangan. Bahkan, dia sempat membuat private laboratorium untuk mengembangkan ilmu silat tapak suci. ”Saya terus menganalisis setiap gerakan dalam pencak silat,” ujar alumni program doktor Hukum UB ini.

Meski sejak 1984, Ismail telah menjadi dosen FH UB, dia tak pernah sekalipun meninggalkan pencak silat. Memang tak banyak pesilat atau bahkan pendekar yang sampai melanjutkan pendidikan formalnya ke jenjang paling tinggi. Namun baginya, pendidikan merupakan tugas utama untuk mencerdaskan masyarakat.

Sementara itu, ditanya hubungan ilmu hukum dan pencak silat, dia mengatakan, pelajaran yang sama yaitu membangun disiplin dan moral, kehidupan, dan juga bela negara. ”Kalau jurus merpati tidak ada kaitannya, tapi kalau bela diri itu sangat erat dengan hukum dan undang-undang,” katanya.

Untuk itu,  dia terus berjuang dalam dunia pendidikan.  Dia tidak ingin siswa tapak suci meninggalkan pendidikannya untuk sekadar latihan pencak silat.

Selain itu, hingga saat ini meski sibuk sebagai dosen, dia terus mengikuti pertemuan tiga bulanan Dewan Pendekar IPSI Jatim. Melalui program tersebut, dia bisa melihat perkembangan pencak silat tanah air. ”Melalui dewan guru, semua pendekar terus mencoba dan mencari kurikulum yang diterapkan pada anak-anak,” jelas Ismail.

Saat ini Ismail menjadi pembina Tapak Suci Malang Raya. Selain itu, dia menjabat ketua Dewan Guru Tapak Suci Pusat. Dialah salah satu sumber keilmuan Tapak Suci Malang Raya yang hingga saat ini terus aktif memerhatikan kurikulum nasional dan kurikulum lokal pencak silat.

Selain di internal tapak suci,  dia juga pernah menjabat Majelis Pakar IPSI Jatim. ”Sekarang saya juga menjadi ketua V Pengurus Besar IPSI Pusat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari kebudayaan, pencak silat,  kata dia, harus dilestarikan. Kota Malang sebagai salah satu sumber pencak silat yang menjadi jujukan para siswa pencak silat ikut berlatih di Kota Bunga ini. Tak ayal, atlet binaannya sudah sering kali menjuarai event bela diri pencak silat. ”Bahkan, ada siswa kami bernama Suci Kurnia yang meraih juara 3 dalam Pencak Silat World Championship di Malaysia pada 1997 lalu,” katanya

Kategori Tingkatan[sunting | sunting sumber]

Terdapat tiga kategori tingkatan, yaitu siswa, kader, dan pendekar.

Siswa[sunting | sunting sumber]

  1. Siswa Dasar ( Sabuk Kuning)
  2. Siswa Satu ( Sabuk Kuning Melati Satu)
  3. Siswa Dua ( Sabuk Kuning Melati Dua)
  4. Siswa Tiga ( Sabuk Kuning Melati Tiga)
  5. Siswa Empat ( Sabu Kuning Melati Empat)

Kader[sunting | sunting sumber]

  1. Kader dasar(Biru Polos)
  2. Kader Muda (Biru Melati Merah Satu)
  3. Kader Madya(Biru Melati Merah Dua)
  4. Kader Kepala(Biru Melati Merah Tiga)
  5. Kader Utama(Biru Melati Merah Empat)

Pendekar[sunting | sunting sumber]

  1. Pendekar Muda(Hitam Melati Merah Satu)
  2. Pendekar Madya(Hitam Melati Merah Dua)
  3. Pendekar Kepala(Hitam Melatih Merah Tiga)
  4. Pendekar Utama(Hitam Melati Merah Empat)
  5. Pendekar Besar(Hitam Melati Merah Lima)

Jurus[sunting | sunting sumber]

Sebelum resmi berdiri, jurus-jurus khas Tapak Suci pada awalnya diberi nama dengan nomor, seperti Jurus 1, 2, dst. Setelah TAPAK SUCI dideklarasikan pada tahun 1963, jurus-jurus itu diberi nama dengan nama-nama flora dan fauna. Dasar penamaan ini agar senantiasa mengingat kebesaran Allah yang berkuasa menciptakan segala mahluk. Selain itu hal ini mengandung arti bahwa jurus TAPAK SUCI yang kosong akan sama halnya dengan tumbuhan dan hewan, yang hanya memiliki naluri dan hawa nafsu, tanpa memiliki akal dan budi pekerti, tanpa memiliki Iman dan Akhlak.

Terdapat 8 (delapan) jurus khas di dalam Tapak Suci, yaitu:

  1. Jurus Mawar
  2. Jurus Katak
  3. Jurus Naga
  4. Jurus Ikan Terbang
  5. Jurus Lembu
  6. Jurus Rajawali
  7. Jurus Merpati
  8. Jurus Harimau

Kedelapan Jurus ini diaplikasikan untuk Permainan Tangan Kosong maupun Bersenjata, baik untuk kegunaan olahraga, seni, maupun beladiri. Setiap Jurus ini memiliki Sikap Awal, yaitu sikap awal pesilat yang mendahului setiap permainan jurus.

Jurus Pertandingan Tapak Suci[sunting | sunting sumber]

Serangan Tangan

  1. Katak Melempar Tubuh
  2. Naga Terbang
  3. Rajawali Mengibas Sayap
  4. Tandukan Lembu Jantan
  5. Pagutan Merpati
  6. Merpati Mengibas Sayap
  7. Merpati Mengibas Ekor

Serangan Kaki

  1. Ikan Terbang Menjulang ke Angkasa
  2. Ikan Terbang Menggoyang Sirip
  3. Sabetan Ikan Terbang
  4. Harimau Membuka Jalan
  5. Harimau Menutup Jalan
  6. Benturan Harimau
  7. Kibasan Harimau

Serangan Jatuhan

  1. Terkaman Harimau Lapar

Tangkisan

  1. Bungan Mawar Mekar
  2. Bunga Mawar Layu
  3. Naga Terbang
  4. Katak Melempar Tubuh
  5. Rajawali Mengibas Sayap
  6. Merpati Mengibas Sayap
  7. Merpati Mengibas Ekor
  8. Ikan Terbang Menerjang Sarang
  9. Benturan Harimau
  10. Kibasan Harimau

Pola Langkah

  1. Langkah Paku-Paku
  2. Langkah Segi Tiga
  3. Langkah Segi Empat

Senjata[sunting | sunting sumber]

Senjata khas Tapak Suci adalah Senjata Segu (Serba Guna)[1], yang diciptakan oleh Pendekar M. Barie Irsjad, belafaz "Muhammad". Sebagai perguruan yang melestarikan seni budaya bangsa yang luhur, Tapak Suci merupakan perguruan pencak silat yang juga melestarikan seni beladiri bersenjata. Teknik permainan senjata ini dilestarikan dan dikembangangkan masing-masing oleh para anggota Tapak Suci di pusat maupun di daerah.

Karya Tulis[sunting | sunting sumber]

Dalam setiap evaluasi akhir anggota berupa Ujian Kenaikan Tingkat, Tapak Suci menerapkan aturan tentang Karya Tulis. Ini berlaku mulai dari tingkat Kader sampai dengan Pendekar. Karya Tulis menjadi syarat yang wajib dipenuhi oleh anggota yang akan menempuh evaluasi akhir tiap tingkat. Tradisi karya tulis ini sendiri sudah dimulai sejak Tapak Suci berdiri pada tahun 1963, dan tetap dipertahankan sampai sekarang. Dengan Karya Tulis ini Tapak Suci mendorong para kadernya untuk menggali dan menampilkan seni beladiri sebagai sebuah ilmu pengetahuan, yang rasional, dan ilmiah. Selain bentuk karya tulis, para anggota juga dituntut memiliki Karya Nyata. Dari ilmu pengetahuan dihasilkanlah keterampilan. Dari keterampilan itu diwujudkanlah seni. Dengan seni itulah, diharapkan orang menjadi terampil dalam beramal.

Seni Beladiri[sunting | sunting sumber]

Digariskan oleh para pendahulu Tapak Suci bahwa corak khas Tapak Suci adalah sama kuat antara beladiri dan seni. Tapak Suci menampilkan bobot beladiri dalam sebuah bentuk seni pencak silat. Selain itu sebagai pelestari budaya bangsa, Tapak Suci mendorong anggotanya untuk melestarikan seni dan budaya nasional yang berjiwa luhur, jauh dari syirik dan menyesatkan yang akan menodai ajaran luhur itu sendiri.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]