Karamah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Karamah (bahasa Arab: كرامة‎) adalah karunia yang diberikan oleh Allah melalui para wali-Nya berupa mukjizat, seperti ilmu, kekuasaan dan lainnya. Karamah yang dimaksud antara lain makanan yang Allah berikan kepada Maryam binti ‘Imran,[1] naungan yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada ‘Usaid bin Hudhair ketika membaca Al-Qur-an[2] serta berita-berita mengenai para pemuka dari ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi’in dan generasi berikutnya dari ummat Islam. Karamah tersebut akan tetap ada pada umat ini sampai datangnya hari Kiamat.

Syarat diberikannya Karamah[sunting | sunting sumber]

Syarat diberikannya karamah yaitu orang yang diberi karamah tersebut istiqamah dalam iman dan mengikuti syari’at. Jika tidak demikian, maka yang berlaku padanya adalah keluarbiasaan wali-wali syaithan.[3]

Adapun karamah itu pada hakekatnya memberikan faedah tiga hal yaitu:

  1. Yang paling besar, menunjukkan tentang kesempurnaan Allah Azza wa Jalla dan kehendak-Nya, sebagaimana Allah Azza wa Jalla mempunyai Sunnah-Sunnah dan sebab-sebab yang menentukan musabab yang diletakkan-Nya secara syari’at dan qadar.
  2. Bahwa terjadinya karamah untuk para wali ini pada hakekatnya adalah mukjizat untuk para Nabi Alaihimussallam, karena karamah-karamah itu tidak akan diperoleh mereka, melainkan dengan sebab keberkahan mengikuti Nabi mereka, yang telah memperoleh kebaikan yang banyak.
  3. Bahwa karamah yang diperoleh para wali adalah kabar gembira yang disegerakan oleh Allah dalam kehidupan dunia, sebagai-mana firman-Nya:

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehi-dupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

— QS.Yunus:62-64

Dalam ayat ini bahwa yang dikatakan wali Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan bertaqwa. Dalam ayat ini juga disebutkan tentang kabar gembira, menurut pendapat sebagian Ahli Tafsir yaitu yang menunjukkan kepada kewalian mereka dan akibat yang baik bagi mereka, di antaranya adalah karamah.[4]

Terkadang karamah itu juga sebagai cobaan, di mana satu kaum akan berbahagia dan celaka dengannya. Adapun orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang binasa itu adalah orang-orang yang ‘ujub (berbangga diri) dan tidak istiqamah.[5]

Imam ath-Thahawi rahimahullah mengatakan: “Orang-orang mukmin semuanya adalah wali-wali Allah dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang paling bertaqwa.”[6] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.”

— QS.Muhammad:11

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”

— QS.At-Taubah: 71

Wali Allah adalah orang mukmin yang paling taat kepada Allah, mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah dan bertaqwa kepada Allah, merekalah orang yang paling mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

— QS.Al-Hujurat: 13

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ QS. Ali ‘Imran: 37-40
  2. ^ Lihat (HR. Muslim no. 796),
  3. ^ lihat [At-Tanbiihaatul Lathiifah (hal. 98)].
  4. ^ Diringkas dari kitab at-Tanbiihaatul Lathiifah ‘ala Mahtawat ‘alaihil ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal. 99-100).
  5. ^ Ibid, hal. 99
  6. ^ Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 357-362) tahqiq Syaikh al-Albani

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Karamah para Wali