Sugiyono (politisi)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sugiyono
210px
Wakil Gubernur Papua
Masa jabatan
1983–1987
PresidenSoeharto
GubernurIzaac Hindom
PendahuluIzaac Hindom
PenggantiPoedjono Pranyoto
Wali Kota Malang ke-10
Masa jabatan
19 Juni 1973 – 1983
PresidenSoeharto
GubernurR.P. Mohammad Noer
Soenandar Prijosoedarmo
PendahuluIndra Soedarmadji
PenggantiSoeprapto
Informasi pribadi
Lahir(1928-08-28)28 Agustus 1928
Bendera Hindia Belanda Blitar, Jawa Timur, Indonesia
Meninggal dunia15 Agustus 2004(2004-08-15) (umur 75)
Bendera Indonesia Malang, Jawa Timur, Indonesia
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
Partai politikGolkarLogo.png Partai Golkar (1988-2004)
PasanganEgni Rumambi
HubunganAkad Martoatmodjo (ayah)
Ngadinah (ibu)
AnakEddy Rumpoko
Emmy Sugiarti
Jantje Rijanto
Emma Sugiastuti
Agus Sugiarto
ProfesiMiliter
Politikus

Brigjen TNI (Kehormatan) Sugiyono (lahir di Blitar, Jawa Timur, 28 Agustus 1928 – meninggal di Malang, Jawa Timur, 15 Agustus 2004 pada umur 75 tahun) atau yang lebih dikenal Ebes Sugiyono merupakan Wakil Gubernur Papua (dahulu bernama Irian Jaya) yang menjabat pada periode 1983-1987 dan Wali Kota Malang yang menjabat pada periode 1973-1983.

Sugiyono sendiri merupakan salah seorang perintis berdirinya PS Arema bersama Acub Zaenal (mantan Gubernur Irian Jaya periode 1973-1975 dan mantan pengurus PSSI periode 80-an). Bersama teman-temannya di masa-masa perjuangan pasca proklamasi Kemerdekaan RI, Ebes Sugiyono juga termasuk salah satu pendiri Batalyon Infanteri (Yonif) 507/Sikatan (sekarang Yonif Raider 500/Sikatan), yang merupakan pasukan pemukul Kodam V/Brawijaya. Jabatan terakhir Sugiyono saat di militer adalah Kepala Staf Korem 084/Bhaskara Jaya sebelum akhirnya dilantik sebagai Wali kota Malang.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Ia merupakan anak dari pasangan Akad Martoatmodjo dan Ngadinah. Ia menikah dengan Egni Rumambi pada 17 Oktober 1959 di Manado, dikarunai 5 anak. Kelima anak tersebut adalah: Eddy Rumpoko (Wali Kota Batu 2007-2017), Emmy Sugiarti, Jantje Rijanto, Emma Sugiastuti, dan Agus Sugiarto.

Penobatan sebagai Ebes Arek Malang[sunting | sunting sumber]

Sugiyono yang dinobatkan oleh warga Arema sebagai Ebes Arek Malang, tampaknya merupakan satu fenomena sosial yang agak unik dan nyeleneh. Unik karena belum pernah ada sebelumnya dan barangkali tidak akan pernah ada lagi bagi mantan Wali Kota Malang sesudahnya. Lagi pula dianggap sesuatu yang nyeleneh karena memang di luar kebiasaan.

Meskipun belum ada penelusuran lebih lanjut tentang fenomena ini, namun ada kecenderungan bahwa kehendak ini merupakan tuntutan arus bawah. Sebagai pengejawantahan rasa hormat mereka, kesetiaan mereka, dan penghargaan mereka yang tiada terbatas oleh dinding waktu kepada mantan pimpinannya yang telah berbuat yang terbaik bagi warganya.

Selama 10 tahun Sugiyono menjadi Wali kota Malang, ia memang diidolakan oleh masyarakat Kota Malang sebagai pemimpin yang sejati. Karena Sugiyono dianggap mampu menyelami watak dan perilaku warga Malang. Sugiyono dinilai mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap sinyal-sinyal yang tumbuh dalam masyarakatnya. Dan yang lebih penting lagi, Sugiyono mampu berperan sebagai "bapaknya"-Arema.

Rentang waktu yang disediakan oleh arek-arek Malang untuk menguji kesetiaan Sugiyono sebagai bapak, memang tidak terbatas baik ketika Sugiyono menjabat sebagai Wali kota Malang ataupun sesudahnya. Hal ini dapat dilihat baik melalui bidang olahraga, seni, dan lain sebagainya. Dan ternyata Sugiyono yang telah kembali menjadi masyarakat biasa masih tetap berdiri tegak sebagaimana Sugiyono sebagai Wali kota dahulu.

Militer[sunting | sunting sumber]

Tanda Pangkat[sunting | sunting sumber]

Karier Militer dan Jabatan di Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Di samping itu, pemerintah memberi kepercayaan kepadanya untuk menjalani tugas di luar negeri, antara lain:

  • Di Hamburg, Jerman Barat, dalam rangka mengikuti 23rd Word Congres of the International Union of Local Authorities, berlangsung 17-23 Agustus 1977.
  • Di Touyun, Taiwan, dalam rangka mengikuti The Twenty-Third Reguler Seasion Land-Reform Tranning Institue, berlangsung 4 November-23 Desember 1979. Dalam kesempatan ini, Sugiyono menyampaikan makalah berjudul "Memperindah Kota Sebagai Investasi di Masa yang Akan Datang".
  • Memenuhi undangan pemerintah Jepang.

Kenaikan pangkat Sugiyono yang begitu mempesona, bintang penghargaan dan tanda jasa, beberapa jabatan yang dipercayakan kepadanya, serta kepercayaan untuk mengikuti seminar internasional jelaslah bukan hanya pertimbangan pengabdian semata. Ada unsur lain sebenarnya, seperti akademik yang turut mendukung keberadaannya. Dari lembaga akademik ini semua personil telah dilihat tingkat daya pikir dan daya nalarnya, dan ternyata Sugiyono yang berperangai pendiam itu tergolong cukup berkualitas.

Penugasan Militer[sunting | sunting sumber]

Jabatan-Jabatan Lain[sunting | sunting sumber]

Tanda Jasa[sunting | sunting sumber]

Sebagai wujud terima kasih atas pengabdian Sugiyono dalam mengemban tugas, pemerintah pun tidak mau melirik sebelah mata. Keberhasilan Sugiyono di jawab dengan pemberian tanda jasa. Bintang dan tanda jasa yang telah diterimanya adalah:

Wafat[sunting | sunting sumber]

Sugiyono wafat di Malang pada 15 Agustus 2004. Beliau dimakamkan di TMP Suropati, Malang.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Baharun, H.M. 1998. Memoar Sugiyono, Ebes Arek Malang. Malang: Pustaka Bayan
Jabatan politik
Didahului oleh:
Izaac Hindom
Wakil Gubernur Papua
1983-1987
Diteruskan oleh:
Poedjono Pranyoto
Didahului oleh:
Indra Soedarmadji
Wali Kota Malang
1973-1983
Diteruskan oleh:
Soeprapto