Sejarah dinasti Ming

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sebuah guci porselen Ming dengan adegan pasukan kavaleri sedang bertarung, dari masa pemerintahan Kaisar Jiajing (1522-1566), Musée Guimet, Paris
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Tiongkok
ZAMAN KUNO
Neolitikum ±8500 – ±2070 SM
Tiga Maharaja dan Lima Kaisar
±6000 – ±4000 SM
Dinasti Xia ±2070 – ±1600 SM
Dinasti Shang ±1600 – ±1046 SM
Dinasti Zhou ±1046 – 256 SM
 Zhou Barat ±1046 – 771 SM
 Zhou Timur 770 - 256 SM
   Zaman Musim Semi dan Gugur 770 - 476 SM
   Periode Negara Perang 476 - 221 SM
ZAMAN KEKAISARAN
Dinasti Qin 221–206 SM
Dinasti Han 206 SM – 220 M
  Han Barat 206 SM – 8 M
  Dinasti Xin 8-23
  Han Timur 23-220
Tiga Negara 220–280
  Wei, Shu, dan Wu
Dinasti Jin (晉) 265–420
  Jin Barat (西晋)
265-316
  Jin Timur (东晋)
317-420
Enam Belas Negara
304-439
Dinasti Selatan dan Utara
420–589
Dinasti Sui 581–618
Dinasti Tang 618–907
  (Dinasti Zhou Kedua 690–705)
Lima Dinasti dan
Sepuluh Negara

907–960
Dinasti Liao
907–1125
Dinasti Song
960–1279
  Song Utara
960-1127
Xia Barat
1038-1227
  Song Selatan
1127-1279
Jin (金)
1115-1234
Dinasti Yuan 1271–1368
Dinasti Ming 1368–1644
Dinasti Qing 1644–1911
ZAMAN MODERN
Republik Tiongkok
1912–1949 di Tiongkok Daratan
Republik Rakyat
Tiongkok

1949–kini
Republik
Tiongkok di Taiwan

1949–kini di Taiwan

Dinasti Ming (23 Januari 1368 – 25 April 1644), yang secara resmi disebut Ming Besar, didirikan oleh pemimpin pemberontak petani Zhu Yuanzhang (dikenal secara anumerta dengan sebutan Kaisar Taizu), adalah sebuah dinasti kekaisaran Tiongkok. Dinasti tersebut merupakan penerus dari dinasti Yuan dan pendahulu dinasti Shun yang berumur pendek, yang kemudian digantikan oleh dinasti Qing. Pada puncak kejayaannya, dinasti Ming memiliki populasi sejumlah 160 juta orang,[1] meskipun beberapa pakar menyatakan bahwa populasinya sebetulnya berjumlah sebesar 200 juta.[2]

Pemerintahan Ming meliputi pembangunan angkatan laut dan angkatan darat sejumlah 1,000,000 pasukan.[3] Meskipun misi tribut resmi dan perdagangan maritim swasta dari Tiongkok telah ada pada dinasti-dinasti sebelumnya, ukuran armada tributer di bawah kepemimpinan laksamana Muslim Cheng Ho pada abad ke-15 mengejutkan banyak pihak. Terdapat sejumlah proyek pembangunan, termasuk restorasi Terusan Besar restorasi Tembok Raksasa seperti yang sekarang terlihat, dan pendirian Kota Terlarang di Beijing pada perempat pertama abad ke-15. Untuk beberapa alasan, dinasti Ming umumnya dikenal sebagai masa pemerintahan yang efektif stabil. Dinasti tersebutdipandang sebagai wangsa pemerintahan paling aman dan tak tertandingi yang Tiongkok ketahui sampai saat ini. Lembaga-lembaganya umumnya dipersembahkan oleh dinasti Qing pada masa berikutnya. Pelayanan sipil mendominasi pemerintahan untuk tingkat tak preseden pada masa ini.[4] Pada masa Dinasti Ming, kawasan Tiongkok sangat meluas (dalam beberapa kasus juga terlepas). Pada sebagian besar zaman dinasti Ming, utara Vietnam masuk dalam kawasan dinasti Ming.[5] Pengembangan penting lainnya meliputi perpindahan ibu kota dari Nanjing ke Beijing.[6]

Di luar kawasan metropolitan, Tiongkok Ming terbagi dalam tiga belas provinsi untuk keperluan administratif. Provinsi-provinsi tersebut terbagi menurut tradisi dan juga batas alam. Provinsi-provinsi tersebut meliputi Zhejiang, Jiangxi, Huguang, Fujian, Guangdong, Guangxi, Shandong, Henan, Shanxi, Shaanxi, Sichuan, Yunnan dan Guizhou.[7] Provinsi-provinsi tersebut memiliki wilayah yang luas, masing-masing memiliki luas hampir sebesar Inggris.[8] Masa pemerintahan Ming terpanjang adalah pada masa pemerintahan Kaisar Wanli, yang memerintah selama empat puluh delapan tahun. (1572-1620). Masa pemerintahan terpendek adalah masa pemerintahan putranya, Kaisar Taichang, yang hanya memerintah selama sebulan (pada 1620).[9]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Fairbank, 128.
  2. ^ Ebrey, Cambridge Illustrated History of China, 197.
  3. ^ Ebrey et al., East Asia, 271.
  4. ^ Denis C Twitchett, Frederick W. Mote (The Cambridge History of China, Volume 8: The Ming Dynasty, 1368-1644, Part 2 (Cambridge University Press, Cambridge, UK: 1998) pg. 9
  5. ^ Denis C Twitchett, Frederick W. Mote (The Cambridge History of China, Volume 8: The Ming Dynasty, 1368-1644, Part 2 (Cambridge University Press, Cambridge, UK: 1998) pg. 10
  6. ^ Denis C Twitchett, Frederick W. Mote (The Cambridge History of China, Volume 8: The Ming Dynasty, 1368-1644, Part 2 (Cambridge University Press, Cambridge, UK: 1998) pg. 11
  7. ^ Denis C Twitchett, Frederick W. Mote (The Cambridge History of China, Volume 8: The Ming Dynasty, 1368-1644, Part 2 (Cambridge University Press, Cambridge, UK: 1998) pg. 12
  8. ^ Denis C Twitchett, Frederick W. Mote (The Cambridge History of China, Volume 8: The Ming Dynasty, 1368-1644, Part 2 (Cambridge University Press, Cambridge, UK: 1998) pg. 14
  9. ^ Denis C Twitchett, Frederick W. Mote (The Cambridge History of China, Volume 8: The Ming Dynasty, 1368-1644, Part 2 (Cambridge University Press, Cambridge, UK: 1998) pg. 16

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]