Sejarah Kesultanan Utsmaniyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sejarah Kesultanan Utsmaniyah—Kerajaan Bani Abbas di Baghdad runtuh. Bangsa Mongol dan Tartar naik. Pada saat itu, boleh dikatakan bahwa tidak ada lagi kerajaan Islam yang besar. Negeri-negeri Islam berpecah belah. Namun, dengan munculnya Daulah Utsmaniyah, dapatlah Islam kembali menyambung usaha dan kemegahan yang lama.

Negeri-negeri Islam, seperti Mesir, Hijaz (Mekah - Madinah), Yaman, Irak, Palestina, Tunisia, Maroko, Aljazair dan Tripoli, semua itu dahulu adalah wilayah dari Kerajaan Turki Utsmani. Begitu juga negeri-negeri Eropa Timur (Balkan). Kekuasaannya meluas di bekas kekuasaan Kerajaan Byzantium (Konstantinopel) setelah negeri itu ditaklukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih pada 1453. Pernah pula, Sulaiman al-Qanuni dua kali menyerang Vienna, pusat Kerajaan Austria. Sampai sekarang, masih terdapat kaum Muslimin di negeri-negeri Bulgaria, Yugoslavia, Chekoslowakia dan Polandia, keturunan-keturunan pahlawan Islam Turki Usmani yang pernah menancapkan bendera Bulan Bintang di negeri itu.

Raja-raja Islam di Indonesia pada abad ke-17, seperti Aceh dan Banten, pernah utus-mengutus dengan Kerajaan Turki Utsmani dan pernah meminta pengakuan gelar sultan dari Istambul. Pada beberapa istana raja-raja Indonesia itu pun masih dapat dilihat, peninggalan hadiah Turki Usmani yang dijadikan lambang kebesaran.

Ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Syekh Nawawi di Banten, Syekh Dawud Fatani, dan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, belajar mendalami agama Islam di Mekah. Saat itu, Mekah ada di bawah Kerajaan Turki Usmani. Kesan-kesan kebudayaan Islam Turki juga masuk ke tanah air kita. Di kampung-kampung Palembang, Bugis, Minangkabau, terutama Aceh, kadang-kadang masih kita lihat tergantung di dinding, gambar sultan-sultan dan pahlawan Turki Usmani, misalnya Anwar Pasya dan Ibrahim Pasya. Sebelum Kemal at-Taturk menghapuskan jabatan khalifah dan memakzulkan Sultan Abdul Majid Khan dari takhta kerajaan pada 1924, masihlah terdengar nama-nama sultan itu didoakan di dalam khutbah Jum'at. Pada khutbah bagian kedua (na'at) di masjid di kampung-kampung itu, kadang masih tersimpan doa bagi Khalifah Turki itu.

Setelah Kerajaan Turki Usmani jatuh karena kalah perang pada 1914 - 1918, tanah Turki dan bagian imperium Utsmani telah dibagi-bagi oleh para musuhnya. Setelah itu, muncullah al-Ghazi Mustafa Kemal Pasya (Kemal at-Taturk) yang mendirikan kembali Turki baru di atas reruntuhan Turki lama.

Arthogrol : Melarikan diri dari serangan Tartar, menjadi bagian Saljuq Rumi[sunting | sunting sumber]

Nama Kerajaan Utsmaniyah diambil dari nama Sultan Utsmani Ibnu Sauji Ibnu Arthogol Ibnu Sulaiman Syah Ibnu Kia Alp, kepala kabilah Kab di Asia Tengah. Abad ke 13-M, ketika bangsa Tartar menyerbu Dunia Islam, Sulaiman Syah melihat ancaman itu bagi negerinya di Mahan. Ia pun bermusyawarah dengan petinggi sukunya. Diputuskanlah bahwa mereka akan pindah ke negeri lain yang lebih aman, di Tanah Anatolia, Asia Kecil. Mereka akhirnya berangkat, dengan pasukan sekitar 1000 orang berkuda. Mereka berhenti sementara di negeri Akhlat. Namun, tentara Tartar pun telah dekat pula di negeri itu. Dengan segera, mereka pindah ke Azerbaijan.

Kemudian, terdengarlah kabar bahwa pasukan Tartar tidak jadi memasuki Mahan. Sulaiman Syah berniat untuk pulang kembali. Mereka berhenti di Benteng Ja'bar di Orga, lalu melanjutkan perjalanan pulang dengan menyeberangi Sungai Eufrat. Tiba-tiba, ketika sedang menyeberang, air menjadi besar. Sulaiman Syah, kepala kabilah itu tenggelam dan tak tertolong. Jenazahnya dikebumikan di dekat benteng Ja'bar.

Ia meninggalkan empat orang putra, yakni Sankurtakin, Kun Togdai, Arthogrol dan Dandan. Anak yang pertama ingin pulang kembali ke kampung. Sementara itu, Arthogrol dan Dandan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Anatolia untuk mencari daerah yang subur. Mereka berdua berhasil menguasai Tanah Erzerum. Arthogrol diangkat oleh rakyatnya menjadi kepala kabilah. Sementara itu, yang pulang kembali ke negerinya, tidaklah terdengar lagi kabar beritanya dalam sejarah.

Arthogrol mengutus putranya, Sauji, untuk menghadap Sultan Alauddin Kaiqubaz, Sultan Saljuq Rumi, memohon agar Sultan mengizinkan kabilahnya untuk berdiam dalam wilayah kekuasaannya dan juga mohon diberi tanah untuk bercocok tanam dan mengembalakan ternak mereka. Permohonan itu dikabulkan oleh Sultan. Dalam perjalanan pulang hendak menyampaikan berita ini, Sauji meninggal.

Setelah mereka selesai menguburkan jenazah Sauji, dalam keadaan girang karena mendapat tanah dan sedih karena kematian, mereka pun meneruskan perjalanan menuju tanah yang telah dihadiahkan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba mereka melihat dua pasukan tentara bertempur hebat. Satu pihak besar jumlahnya, sedangkan pihak lawannya berjumlah kecil.

Timbullah semangat keadilan pada pihak Arthogrol sehingga dengan segera ia menyerukan anak buahnya agar membela pihak yang lemah. Semangat mereka semakin berkobar setelah mengetahui bahwa pasukan besar itu adalah tentara Mongol, sedangkan pihak yang lemah adalah tentara Sultan Alauddin Saljuq yang mempertahankan negerinya dari serangan bangsa Mongol. Sultan itulah yang telah memberikan hadiah tanah kepada mereka. Tentara Mongol berhasil dikalahkan.

Sultan Alauddin sangat gembira ketika mendengar berita tersebut. Arthogrol diundang ke istana, diterimanya dengan serba kehormatan, diberinya pakaian kebesaran, diberinya pula tanah dan wilayah kekuasaan yang jauh lebih luas daripada yang dijanjikan kepada putranya, Sauji. Sejak saat itu, Arthogrol biasa membantu Sultan secara militer. Setiap kali menang, sultan memberinya tambahan hadiah tanah dan harta benda. Tentara Arthogrol diberi gelar oleh sultan : "Muqadimah Sultan" (tentara pelopor baginda). Karena, biasanya, tentara Arthogrol selalu ada di barisan depan.

Pada tahun 1288 M, meninggallah Arthogrol. Sultan Alauddin menunjuk cucunya yang sulung, Utsman, putra Sauji.

Utsman I : Saljuq Rumi berakhir, Utsmani mulai[sunting | sunting sumber]

Utsman terus setia sebagai kepala perang tentara Sultan Alauddin Kaiqubaz. Sultan memberinya gelar Bey. Diberi pula daerah merdeka yang lebih luas, diberi izin memakai mata uang sendiri, dan boleh pula memakai nama sendiri dalam khutbah Jum'at.

Pada tahun 699 H (1300 M), tiba-tiba datanglah serangan hebat bangsa Tartar ke Asia Kecil. Dengan gagah perkasa, Utsman mempertahankan wilayahnya dan wilayah Sultan Alauddin. Serangan bangsa Tartar dapat digagalkan. Namun, beberapa lama setelah perang selesai, tiba-tiba meninggallah Sultan Alauddin pada 700 H. Keturunannya sendiri tidaklah ada yang pantas menjadi raja. Akhirnya, putuslah kerajaan Saljuq Rumi.

Terbukalah jalan bagi Utsman untuk naik lebih tinggi. Ia mulai memakai gelar Padi Syah al-Utsman (raja besar keluarga Utsman). Dipilihnya Iskisyihar menjadi pusat kerajaan. Setelah itu, dikirimnya surat kepada raja-raja kecil yang belum memeluk Islam, yang memerintah di negeri-negeri Asia Kecil, memberi tahu bahwa ia adalah raja yang terbesar sekarang. Raja-raja itu diberi beberapa pilihan : masuk Islam, membayar jizyah, atau perang.

Setelah menerima surat itu, sebagian ada yang masuk Islam dan menggabungkan diri dengan Utsman. Sebagian lainnya sudi membayar jizyah. Ada pula yang meminta bantuan kepada bangsa Tartar untuk melawan Utsman. Putra Utsman, Urkhan, diangkat menjadi pimpinan perang untuk melawan bangsa Tartar. Serangan Tartar pun berhasil dikalahkan. Setelah itu, dia mengepung Kota Bursa pada 717 H (1317 M). Ia berhasil memasuki kota itu setelah menaklukkan benteng yang ada di sekelilingnya satu per satu.

Urkhan I : Mulai berperang dengan Eropa[sunting | sunting sumber]

Utsman meninggal pada tahun 726 H (1326 M). Putranya naik tahta, Sultan Urkhan I. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Iskisyihar ke Brossa. Kemudian, ia mengangkat adiknya Alauddin menjadi perdana menteri (wazir besar). Sejak itulah kerajaan Utsmani mulai menggunakan istilah Shadr A'zam untuk menyebut wazir besar. Sejak waktu itu, ia melantik tentara baru yang lebih teratur yang bernama Jikicari (tentara baru). Kemudian, tentara ini lebih dikenal dengan sebutan Inkisyariah.

Pada tahun 728 H, Sultan menakulukkan Kota Izmid (Nicomidia). Pada 731 H (1330 M), baginda menaklukkan Nikia, kota terbesar kedua setelah Konstantinopel. Dengan demikian, seluruh Pantai Marmora telah jatuh di bawah kekuasaannya. Sejak saat inilah, Utsmaniyah mulai berperang melawan Byzantium. Pada 1356 M, mulailah tentara Turki di bawah pimpinan Sulaiman, putra Urkhan, menyeberang dan menaklukkan Kalipoli. Itulah pertama kalinya tentara Turki menginjak pantai Eropa dari Asia Kecil. Sampai sekarang, Kalipoli menjadi benteng pertahanan yang strategis bagi bangsa Turki.

Sulaiman meninggal terjatuh dari atas kudanya ketika pergi berburu pada tahun 1358. Ayahnya, Urkhan, meninggal setahun kemudian pada 1359.

Murad I : Pertempuran besar dengan Eropa[sunting | sunting sumber]

Urkhan digantikan oleh putranya, Murad. Ia juga merupakan seorang kepala perang, seperti ayah (Urkhan) dan kakeknya (Utsman). Ketika naik takhta, yang pertama kali dilakukannya adalah menaklukkan kota Ankara. Pada tahun 1361, ditaklukanlah Kota Adrianopel (Aderne) dengan sedikit perlawanan. Murad mengerti bagaimana pentingnya Kota Adrianopel, baik dari segi politik maupun segi militer. Oleh sebab itu, dia memindahkan pusat pemerintahan ke sana. Setelah itu, ditaklukannnya pula Kota Philopopolis. Dengan takluknya kota ini, kerajaan Utsmani dapat memegang kunci yang menghubungkan kerajaan-kerajaan Byzantium, Servia dan Bulgaria, sehingga Kaisar Byzantium tidak lagi berbuat apa-apa.

Dengan usaha Sultan Murad, Kerajaan Turki lima kali bertambah luas dari semula. Kerajaan Byzantium tidaklah dapat melawan lagi kekuasaan Utsmani. Bahkan, Kaisar Byzantium mengaku bersahabat dan kalau perlu meminta bantuan kepada Utsmani. Sementara itu, kerajaan-kerajaan di Balkan, yaitu Servia, Bulgaria, Hongaria dan Montenegro tidaklah secepat itu takluk. Dimana ada kesempatan, mereka melawan. Kerajaan-kerajaan kristen Balkan dengan segera meminta bantuan Paus Urban V agar dapat mengajak raja-raja Eropa Barat untuk bersama-sama membendung perluasan Kerajaan Turki dan segera bersama-sama mengusir kaum Muslimin dari daratan Eropa.

Dengan segera, Paus Urban mengirim surat kepada seluruh raja-raja Eropa Barat agar bersiap berperang. Namun, Ourok V, Raja Servia, tidak sabar menunggu bantuan yang diharapkan. Ia bermusyawarah dengan raja-raja Bosnia dan Falakh, juga dibantu pasukan bangsa Maghyar, untuk bersama-sama menyerang Andrianopel. Tentara Turki menyambut kedatangan pasukan itu di pantai Laut Maritza. Tahun 1363, tengah malam, gelap gulita, tentara Turki menyerang tentara Balkan. Tentara Balkan mendapat kekalahan yang amat besar. Akibat kemenangan ini, wilayah pegunungan Balkan masuk dalam wilayah kekuasaan Utsmani.

Pada tahun 1369, Kaisar Konstantinopel pergi menghadap Paus di Roma, memohon agar Paus sudi menyelesaikan masalah ini. Padahal, ketika itu terjadi perpecahan antara Gereja Roma Katolik dan Gereja Ortodox Byzantium. Namun demikian, usaha Kaisar ini gagal. Ketika pulang, kaisar dimurkai rakyat, karena sikapnya yang terlalu merendah kepada Paus, ia pun mendapat kecaman dari Turki.

Murad melanjutkan perluasan kekuasaannya ke Eropa Timur. Ia berhasil menguasai Samakov, Sofia, Monatsir, Nice, Serys, Saloniki. Raja-raja Servia dan Bulgaria membayar upeti kepada Utsmani. Beliau juga melakukan perluasan di Asia Kecil, seperti Raja Karmian dan Raja Karman (bekas pecahan Kerajaan Saljuq).

Raja-raja Lazar dari Servia, beserta Sisman, Raja Bulgaria, berserikat memerangi Turki. Mereka dibantu pula oleh raja-raja Bosnia, Falakh, Albania, Herzegoina. Mereka juga dibantu oleh tentara kiriman Raja Maghyar dan Polandia. Untuk melawan pasukan tersebut, Sultan Murad sendiri yang memimpin pasukan dari kubu Utsmani. Pertempuran ini terjadi pada 1389, dimenangkan oleh pasukan Sultan Murad.

Musuh kocar-kacir, mayat bergelimpangan. Untuk melihat bekas pertempuran dan memeriksa pasukannya yang meninggal dan yang luka, Sultan Murad dan stafnya berkeliling di medan perang yang telah usai, mendengar pekik rintih orang yang luka, yang akan ditolong. Tiba-tiba, dari antara mayat yang bergelimpangan itu, bangun seorang serdadu bangsa Servia dan berdiri. Sebilah jembia telah ada di dalam tangannya. Ditikamkannya ke lambung Sultan. Baginda jatuh terhempas dan meninggal saat itu juga.

Bayazid : Pertempuran besar dengan Eropa dan Timurlank[sunting | sunting sumber]

Murad digantikan oleh putranya, Bayazid. Ia diberi gelar Yaldrum (berarti "kilat"), karena ia menyerang negeri lawannya secepat kilat. Gelar Yaldrum (begitupun gelar Al Ghazi) kemudian diberikan kepada prajurit Turki yang berjasa besar dalam peperangan besar. Sebagai contoh, Kemal at-Taturk mendapat kedua gelar kehormatan tersebut. Gelar Al Ghazi diberikan kepadanya oleh sultan pada Perang Ana Fartha, sedangkan gelar Yaldrum diberikan oleh Republik Turki setelah Perang Sakaria.

Bayazid melanjutkan perluasan daerah yang dimulai oleh ayahnya. Prince Stephen, putra Lazar, diakuinya sebagai raja di Servia, dengan tetap mempertahankan adat istiadat dan agama mereka sendiri, dengan syarat membayar jizyah kepada Sultan Turki dan ikut serta membantu Turki dalam pertempuran. Prince Stephen menerima syarat itu dan mematuhinya dengan setia.

Pada tahun 1391, Bayazid menaklukkan Benteng Philadelfia, sisa terakhir dari kota-kota Roma di Asia Kecil yang belum ditaklukkan. Di Asia Kecil, ditaklukkan pula Eiden, Sharukhan, Muntasya, sehingga raja-raja di tempat itu melarikan diri dan berlindung kepada Kastamoni di sebelah utara. Baginda juga berhasil menggabungkan Kerajaan Qurman ke dalam pemerintahan Turki pada 1392. Antara tahun 1393 - 1394, baginda menaklukkan Samsun, Kisariyah, Siwas dan Tukat, hingga ke Kastamoni. Dengan demikian, habislah sisa-sisa pecahan kerajaan Saljuq yang masih tertinggal. Amir-amir yang melarikan diri akhirnya semua pergi meminta perlindungan diri ke Timurlank. Dengan jatuhnya kerajaan-kerajaan kecil di Asia Kecil, bulatlah kekuasaan Kerajaan Turki, kecuali kerajaan Thabzon di utara dan Azmir di barat daya, yang dikuasai oleh ridder di Pulau Rhodes.

Pada 1395, Raja Sigmund dari Maghyar (Hongaria) meminta dengan sungguh-sungguh kepada Paus agar ia segera menggunakan pengaruhnya untuk membangkitkan semangat seluruh Eropa agar bersatu menghancurkan kekuatan Bayazid. Paus Bonifacius sangat menaruh perhatian pada masalah ini. Ia menyampaikan seruan kepada seluruh bangsa dan raja Eropa agar menyatakan Perang Salib sekali lagi kepada Turki. Ia akan menganugerahkan ampunan besar bagi siapa saja yang turut dalam peperangan, mulai dari raja-raja sampai ke rakyat.

Mendengar seruan Paus itu, seluruh Eropa pun bangkit. Para ahli perang, ridder-ridder, dan orang ternama berkumpul di Maghyar. Mereka berduyun duyun datang dari Prancis, Inggris, Skotlandia, Jerman, Vlanderen, Lombardia, Savoy, Genua, Transolvania, Moldavia, Bosmia, Rhodes, Falakh, Venesia, dan pulau-pulau di sekitar Italia. Armada akan menyerang dari laut dan darat secara bersamaan. Kalau Turki sudah berhasil dikalahkan, mereka akan terus menyerbu ke Palestina, untuk merebut tanah suci.

Di Nikopoli, September 1396, bertemulah kedua tentara besar itu dan terjadilah suatu pertempuran yang besar dan dahsyat. Bayazid menang. Banyak orang besar Eropa tertawan. Sigmund, Raja Maghyar, melarikan diri bersama puluhan ridder ke Pulau Rhodes. Sampai di Laut Hitam, mereka naik ke kapal armada Nasrani dan terus lari. Karena perbuatannya itu, lama sekali ia menjadi buah mulut dan tertawaan orang di Eropa. (cont)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. Prof.Dr. Hamka (2016) "Sejarah Umat Islam : Pra-kenabian hingga Islam di Nusantara" Jakarta : Gema Insani