Ritual Tiban

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Salah satu gambaran ritual Tiban

Ritual Tiban atau tari Tiban berasal dari kata dasar “tiba” bahasa Jawa yang berarti “jatuh”. Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Dalam konteksnya dengan peristiwa tersebut, maka tiban di sini menunjuk kepada hujan yang jatuh dengan mendadak terjatuh dari langit. yang dalam percakapan sehari-hari disebut udan tiban, udan = hujan [1].

Tiban merupakan tari atau ritual rakyat yang turun temurun menjadi bagian kebudayaan masyarakat Jawa Timur, terutama pada daerah Trenggalek, Blitar, Kediri dan Tulungagung. Tari Tiban selalu dipertujukkan saat musim kemarau. Tarian tiban adalah sebuah permintaan permohonan kepada yang maha kuasa berharap untuk diturunkanya hujan. Ada makna dalam dibalik ritual tarian tiban yaitu sebuah harapan sebuah pesan yang luhur demi lestarinya alam. Bukanlah kekerasan yang ditonjolkan melainkan nilai-nilai luhur atau sebuah pesan untuk menjaga keseimbangan alam.

Sejarah kemunculan[sunting | sunting sumber]

Sejarah kemunculan tiban dimulai masa kerajaan Kediri, berkuasa seorang raja yang otoriter, sang raja ingin disebut dewa. Demikian gambaran raja Kediri yang menyebutnya Kertajaya. Sehingga rakyat menurut perintahnya bukan karena patuh melainkan karena takut. Wilayah kerajaan Kediri termasuk kademangan Ngimbang (sekarang Ngadiluwih) mempunyai 4 kademangan yaitu:

  1. Kademangan Ngimbang
  2. Megalamat
  3. Jimbun
  4. Ceker

Meskipun diperintah oleh sang raja yang otoriter namun keadaan masyarakat makmur, segala masalah diselesaikan secara gotong royong. Masyarakat yang lebih dahulu panen membagi kepada tetangga, namun sayang kepribadian yang demikian tidak dapat perhatian oleh rajanya, bahkan Brahmana pun diminta untuk menyembah dan mendewakan dia. “Matahari berputar, siang berganti malam, sedangkan malam dapat berganti siang”, kata para Brahmana. Artinya keadaan di dunia tidak kekal adanya yang semula kaya dapat juga menjadi miskin, yang gagah perkasa dapat menjadi lemah tak berdaya. Begitu pula gambaran kerajaan Kediri yang semula dalam keadaan makmur, lumbung-lumbung desa penuh padi berangsur-angsur menipis cenderung habis. Hal ini terjadi karana kemarau berlangsung sangat panjang. Para petani menganggur karena sawahnya tak dapat diolah, sungai-sungai mengering. Musim kemarau seakan-akan tidak ada selesainya. Segala upaya sudah diusahakan untuk mendapatkan air, namun belum dapat memenuhi kebutuhan pengairan, yang didapat hanya sebatas kebutuhan minum dan kebutuhan dapur.

Kemarau yang berlangsung panjang tersebut merupakan kutukan kepada manusia atas ketidak percayaan dan ketidaktakwaan terhadap kekuatan yang lebih tinggi. Untuk itu para demang bermusyawarah dengan para Pinisepuh, beberapa usul, saran dan pendapat, untuk menebus kutukan tersebut. Rakyat Ngimbang dengan sisa hartanya sedikit diberikan untuk digunakan sebagai syarat pelaksanaan Upacara Adat, bagi yang masih mempunyai padi dimohon memberikan seikat, dan bagi yang memiliki lembu membawa pecutnya sebagai lambang kekayaanya.

Setelah semua siap kemudian rakyat berkomunikasi dengan kekuatan supranatural. Memohon pengampun kepada kekuatan yang lebih tinggi, supranatural tersebut. Selanjutnya sebagai ritualnya masyarakat menyiksa diri dan berjemur dipanas terik. Sarana ini dirasa belum dapat berkomunikasi dengan kekuatan super natural, maka penyiksaan diri tersebut lebih dipertajam dengan menggunakan pecut yang terbuat dari Sodo Aren (lidi dari tumbuhan berbuah kolang-kaling/pohonnya menghasilkan ijuk). Prosesi ritualnya di antara para peserta upacara tradisi ini saling mencambuk secara bergiliran. Sudah barang tentu dalam permainan ini banyak cucuran darah, karena kekhusukannya maka segala yang diderita tidak terasa [2].

Dalam suasana religi inilah kemudian turun hujan yang tidak pada musimnya. Hujan yang semacam inilah yang disebut Hujan Tiban. kegembiraan rakyat Ngimbang beserta Pinisepuh tidak dapat digambarkan, bersyukurlah mereka atas Rahmat-Nya. Demikian kejadian itu yang kemudian upacara tersebut dinamakan Tiban, dan diteruskan oleh masyarakat setempat secara turun temurun, penyelenggaraannya dilaksanakan pada setiap musim kemarau dan diselenggarakan di tengah persawahan sewaktu sawah dalam keadaan kering. Tujuan penyelenggaraan upacara Tiban dengan harapan turunnya hujan. Sampai saat ini upacara ini terus berlangsung meskipun telah beralih fungsi yang semula sebagai media religi berubah menjadi suatu permainan rakyat sekaligus sebagai tontonan, sesuai perkembangan, prosesi upacaranyapun sekarang disesuaikan semacam pertandingan ada kalah dan menangnya, dan tempat penyelenggaraannya tidak di sawah lagi, bisa di panggung atau arena buatan semacam di alun-alun dan lainnya, untuk waktu penyelenggaraannya oleh Pemerintah Kabupaten Kediri ditentukan 1 Suro. Karena kesenian tradisi Tiban dikenalkan setahun sekali dalam rangka menyonsong tahun baru jawa (1 Suro).

Peserta dan pelaksana[sunting | sunting sumber]

Peserta Tiban beserta kelengkapannya

Tari Tiban terbagi menjadi 2 kelompok, masing-masing dipimpin 1 orang wasit atau biasa disebut Landang atau Plandang. Dalam ritual ini selalu diiringi dengan alunan musik layaknya gamelan lengkap yang terdiri dari kendang, kentongan, dan gambang laras [3].

Peserta tiban hanya mengenakan celana dan tidak diizinkan mengenakan baju atas. Mereka memakai pecut(sebagai alat pemukul) yang dibuat dari ranting pohon aren, dan yang menarik mereka bisa membuat pecut yang akan dipakai sendiri untuk bertanding. Jumlah peserta dalam permainan tiban tidak tetap. Sebab dilakukan secara berpasang-pasangan, paling sedikit dua orang tetapi hal demikian tidak pernah terjadi. Biasanya puluhan orang yang datang. Maka singkat atau lamanya permainan bergantung pada kecil atau besarnya jumlah peserta. Semuapeserta adalah orang laki-laki dewasa antara 20 — 40 tahun. Di samping itu masih ada seorang wasit yang memimpin jalannya permainan, dan dua orang pelandang sebagai pembantunya. Katiganya termasuk sebagai tetua tiban maka usianya pun rata- rata lebih dari 40 tahun dan menguasai benar-benar seluk beluk permainan “tiban” secara mendetail. Karenannya kewibawaan mereka pun cukup besar. Hal ini diperlukan untuk memelihara sportifitas dalam permainan.

Selain orang-orang yang tampil di depan layar tersebut, masih terdapat kelompok lain yang bekerja di belakang layar yaitu penabuh gamelan, biasanya 4 orang seorang penggendang, seorang penggambang, dan dua orang pemain thongthongan. Karena tiban pada hakikatnya permainan upacara minta hujan, yang erat hubungannya dengan dunia pertanian, maka persertanya adalah petani, dengan segala tradisi kepercayaan dan struktur kehidupan masyarakat yang komunal. Maka karakter yang menonjol pada permainan tiban ialah sifat-sifat nya yang loyal, guyub, rukun, toleran dan sportif. Sifat komunal ini tidak saja dibawakan antara sesama warga satu desa saja, melainkan meluas antara warga desa yang satu dengan yang lainnya, bahkan sampai-sampai keluar melibatkan daerah yang lebih besar lagi di antaranya daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Blitar, bertemu di satu arena permainan.

Tempat dan Perlengkapannya[sunting | sunting sumber]

Tempat[sunting | sunting sumber]

Untuk tempat pelaksanaan tiban, diperlukan adanya sebuah arena, dapat berupa tanah lapangan atau halaman, atau sebuah panggung terbuka. Pada awal mulanya memang digunakan tanah lapangan atau halaman yang luas. Untuk arenanya sendiri cukup dengan ukuran 5×5 meter persegi, atau tepatnya sebuah lingkaran dengan radius 3 meter, selebihnya untuk penonton. Karena sifatnya yang komunal dan tiban pada dasarnya bukan suatu tontonan, maka batas antara penonton dan pemain sebenarnya tidak ada. Arena dibuat sendiri oleh penonton yang berdiri atau berjongkok paling depan yang membentuk sebuah lingkaran. Kalau diperlukan sebuah panggung maka panggung itu dibuat setinggi 1,25 meter, dan ukuran luasnya 5×5 meter persegi seperti tersebut di atas.

Perlengkapan[sunting | sunting sumber]

Alat permainan yang pokok ialah cambuk, atau istilah setempat pecut, terbuat dari sada aren. Bahan ini mudah didapat karena daerahnya memang kaya akan pohon aren atau enau ini. Proses pembuatannya seikat lidi aren terdiri atas ±15 batang lidi yang terpilin menjadi satu. Dibeberapa bagian diberikan suli, yaitu pengikat terbuat dari anyaman kulit pelepah aren itu sendiri,atau dari kulit bambu yang teranyam halus. Untuk satu cambuk diperlukan 3 ikat yang dipilin lagi menjadi satu, sehingga mendapatkan sebuah cambuk yang kuat, lentur, dilengkungkan tidak akan patah, dan dapat dilecutkan secepat kilat dengan mudah. Dari tengah sampai ujungnya dipasang simpul-simpul kecil dari potongan lidi sehingga cambuk itu pada bagian ujung tampak seperti kawat uri. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diharapkan, cambuk dicapkan oleh panitia. Tidak diizinkan pemain membawa cambuknya. Mengenai busana sebenarnya tidak ada ketentuan yang mengikat, terserah kepada selera masing-masing peserta, tetapi badan bagian atas harus telanjang. Namun terdapat kelompok tiban yang dalam upacara ritualnya semua mengenakan baju dan celana komprang berwarna hitam, dengan kain panjang batik yang dililitkan sebagai ikat pinggang -sebagai simpulnya di muka dan kedua ujungnya menjulur ke bawah. Sebagai tutup kepala mereka mengenakan udheng ikat kepala bukan dhesthar blangkon. Kalau permainan dimulai, maka mereka baru membuka bajunya masing-masing.

Iringan /tetabuhan[sunting | sunting sumber]

Instrumen yang digunakan untuk mengiringi permainan “tiban” berupa sebuah gambang, sebuah kendhang besar, dan sebuah thongthongan (terkadang ada dua jenis yaitu besar dan kecil). Gambang adalah sejenis alat gamelan, terbuat dari bahan kayu, berupa bilahan sebanyak 18 buah, tersusun berurutan dari nada yang rendah sampai nada yang tinggi. Nada rendah ditandai dengan bilah tipis panjang, nada tinggi dengan bilah tebal pendek. Di antaranya terdapat nuansa-nuansa nada-nada yang tersusun berurutan mulai yang rendah sebelah kiri (bilah tipis panjang) ke kanan semakin meninggi (bilah semakin tebel memendek). Bilah-bilah tersebut tersusun berjajar bertopang pada kotak resonansi, yang bentuknya memanjang sesuai dengan ukuran bilah-bilanya. Sepasang alat penabuhnya terbuat dari bahan kayu atau tanduk, berbentuk bundar pipih bergaris tengah ± 6 sentimeter, pada pinggirnya dililitkan kain atau benang lawe. Akhirnya diberi bertangkai sepanjang +-30 sentimeter.

Dalam permainan tiban, peranan gambang membawakan sebaris lagu yang pendek, yang selalu diulang-ulang, dengan tehnik pukulan yang improvisataris. Peranan gendhang memberikan jiwa pada gerakan-gerakan tertentu yang dibawakan oleh setiap pemain. Tetapi karena kendhangnya semacam kendhang ghede, (yang biasa digunakan untuk mengiringi gendhing-gendhing gedhe di Jawa Tengah), maka suaranya tidak selantang kendhang yang berukuran lebih kecil. Hal ini memang sengaja dibuat demikian, karena iringan tetabuhan adalah sekunder. Perhatian penonton harus dipusatkan kepada permainan Tibannya, bukan pada iringannya.

Suatu instrumen lagi ialah thongthongan, terbuat dari seruas bambu yang diberi garis lubang di satu sisinya. Ketika memainkannya, thongthongan dipukul secara ritmis, dan tangan yang mahir mampu membuat suara yang cukup bervariasi. Lebih lagi kalau menggunakan dua thongthongan, yang karena ukurannya berbeda mengeluarkan nada bunyi yang berbeda pula, maka variasi tersebut dapat diperkaya. Ketiga jenis instrumen, yang sayup-sayup membawakan alunan musik yang sederhana melatarbelakangi permainan tiban demikian itu ternyata mampu menimbulkan bermacam-ragam perasaan yang menyatu: sendu, gembira, dan ngeri, namun sekaligus menarik.

Jalan Permainan[sunting | sunting sumber]

Saat berlaga para pemain harus mengikuti peraturan yang dibuat. Misalnya, pemain harus bergantian mencambuk menggunakan lidi yang di ambil dari pohon aren. Sasaran cambukan juga tidak sembarangan karena mereka dilarang mencambuk kaki dan kepala lawannya. Para pemain juga harus mengikuti bunyi gamelan yang mengiringi acara. Meski mengalami banyak luka cambukan tapi para peserta seolah tidak merasakan sakit. Mereka tetap bergembira dan mengikuti acara hingga selesai. Di akhir laga, wasit meminta para pemain untuk berjabat tangan agar tidak ada dendam ataupun rasa permusuhan [4].

Jika demikian akan dimulai, maka iringan tetabuhan pun segera berbunyi. Sementara itu tampil dua orang pelandang, masing- masing, menempati sisi yang berhadapan. Mereka memanggil jago masing-masing sedang seorang lainnya membantu mencatat nama dan daerah tempat tinggal, (zaman dulu pencatatan demikian tidak dilakukan). Kedua jago tampil, saling bersalaman, dan wasit menyerahkan sebuah cambuk seorang, tiap jago memilih sendiri sekian cambuk yang disiap kan, kemudian dipertimbangkan berapa kali lecutan dilakukan ber¬dasarkan kedudukan ranking (junior atau senior) serta kondisi pisik kedua jago masing-masing. Sekalipun sudah ada peraturan permainan yang sudah sama-sama di ketahui, namun masih juga diperingat¬kan oleh wasit bagian-bagian badan mana yang boleh dilecut, mana yang tidak. Sasaran lecut ialah punggung dan badan bagian depan di atas pusar. Daerah larangan ialah bagian pusar ke bawah, dan kepala. Setelah dilakukan “sut”, yaitu mengundi dengan mengadu jari untuk menentukan siapa yang melecut dulu, maka mulailah permainan.

Paling menarik jika yang bertanding senior lawan senior yang masing-masing telah memiliki tehnik menyerang dan bertahan yang sempurna, sehingga terkadang lama untuk menunggu kesempatan melecutkan cambuknya tepat mengenai sasaran. Setiap lecutan yang jatuh, kena atau tidak, pihak menyerang lalu meneriakkan “jailaaak!” sebagai isyarat pergantian giliran, pihak penyerang kini menjadi pihak yang bertahan. Istilah jailaak tidak diketahui lagi apa artinya dan dari mana asalnya.

Meskipun permainan tiban dilihat dari lahiriahnya bersifat “sadistis”, namun tidak seorangpun dari peserta yang menampilkan diri sebagai seorang sadis penuh dendam amarah. Semua metampakkan wajah yang cerah, bersenyum sekalipun lecutan mengena menimbulkan rasa nyeri. Memang adakalanya wajahnya bersungguh-sungguh, yaitu pihak penyerang, tetapi kesungguh-sungguhannya itu untuk konsentrasi pikiran mencari sasaran dan saat yang tepat. Sebaliknya pihak lawannya siap menerima lecutan dengan senyum mengejek, dan wiraga gaya gerakan yang menggoda. Tetapi begitu lecutan jatuh, begitu pula wajah yang bersungguh-.sungguh berubah menjadi cerah, sedang yang terkena lecutan, meski-pun kena tepat, masih berjogedan, seolah-olah ingin menyatakan,”aku tidak merasakan apa-apa”. Dengan ulah demikian, kesan sadisme seolah-olah tertawarkan (neutralized), lebih lagi kalau kedua pelandang yang sudah lanjutusia itu pun ikut berjcgedan mengikuti irama gamelan dengan gaya yang kocak, maka suasana menjadi lebih meriah.

Demikian seterusnya sampai batas berapa lecutan yang ditentukan selesai. Maka jago-jago yang habis bertarung saling bersalaman lagi dan mundur digantikan oleh pasangan yang lain berikutnya. Dan permainan berulang lagi. Setiap akhir penampilan, kedua, pelandang dan wasit secara bersama mengadakan penilaian untuk menentukan siapa pemenang-nya. Mereka yang lebih banyak terkena lecutan, yang tampak jelas dari bekas-bekasnya dinyatakan kalah. Namun pernyataan kalah menang ini tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang bersifat lomba. Tiban adalah permainan, bahkan permainan yang mengarah kepada upacara ritual. Jadi tidak dilombakan untuk memperebutkan hadiah misalnya. Landasan prinsipnya ialah rasa kebanggaan. Kebanggaan karena menjadi tumbal demi kesejahteraan bersama. Boleh dikatakan semacam kebanggaan seorang martir.

Peranan Sekarang[sunting | sunting sumber]

Saat ini zaman semakin maju dan banyak mengubah struktur kehidupan di segala bidang. Selera manusia berubah. Kebutuhan manusia pun dengan sendirinya ikut berubah juga. Ilmu pengetahuan dan menyingkirkan kepercayaan yang dianggap tak temunalar (ira- sionil). Namun demikian upacara ala tiban minta hujan tetap dipelihara kaum petani di pedesaan di daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan Blitar. Hanya untuk tidak ketinggalan zaman, kelompok kelompok tiban sekarang sering bermain untuk mengisi acara-acara tertentu, misalnya untuk suguhan tamu negara, untuk pariwisata, peringatan hari-hari nasional dan upacara lainnya seperti yang diuraikan di bagian awal tulisan ini. Jelasnya, di samping peranannya yang lama sebagai inti upacara minta hujan yang sudah klasik itu, masih berperan lagi sebagai sarana hiburan, dalam hal ini tiban benar-benar berfungsi sebagai permainan yang sesungguhnya dalam arti kata yang murni.

Nilai yang dapat diambil[sunting | sunting sumber]

Tradisi tiban ini apabila ditinjau dari segi karya seni, dapat diketahui bahwa tiban ini merupakan karya seni yang mengagumkan. Mengagumkan karena pada setiap jenjang peradaban manusia selalu muncul karya seni yang menampilkan sebuah pengorbanan (bukan kekerasan). Sedangkan jika karya seni ini ditinjau dari segi mistik maka tradisi tiban ini dapat pula dikatakan mengagumkan juga karena pada setiap tempat di muka bumi ini selalu mempunyai ucapan “Ilahi” (mantra) yang selalu dipercaya mampu mengatasi masalah dengan jalan pikiran yang kurang rasional. Dalam hasanah perkembangan ilmu gaib saat ini seperti yang dilakukan dalam tradisi tiban ini termasuk dalak aliran kejawen. Namun tidak murni kejawen karena sudah adanya campuran dengan tradisi Islam [5].

Mantra yang dilakukan ketika tradisi ini dilaksanakan biasanya diawali dengan bacaan Bismillah kemudian dilanjutkan dengan mantra berbahasa Jawa. Dan biasanya diakhiri dengan dua kalimat Syahadad. Aliran seperti ini tumbuh subur di desa-desa yang kental dengan kegiatan keagamaan. Awal mula aliran ini adalah budaya masyarakat Jawa sebelum Islam datang yang memang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan hal mistik dan melakukan hal spiritual untuk mendapatkan kekuatan supranatural.

Tradisi ini juga memberi pelajaran perilaku manusia yang akan menimbulkan bekas pada jiwa maupun badan seseorang. Perilaku-perilaku tertentu yang khas akan menimbulkan bekas yang dahsyat sehingga seseorang itu bisa melakukan sesuatu yang bisa melebihi kemampuan manusia biasanya. Perilaku tersebut disebut tirakat, ritual atau olah rohani. Tirakat itu dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan melakukan hal-hal sebagai syarat seperti puasa, wirid maupun melakukan doa-doa. Hingga saat ini tradisi seperti ini masih sering dilakukan terutama pada desa-desa atau daerah yang merupakan kawasan pesantren. Karena biasanya orang yang tinggal seperti di daerah ini masih kental akan ajaran yang diterima sebelumnya.

Tiban ini bisa disebut bahwa dalam pelaksanaan ritual ini menggunakan ilmu permainan (atraksi). Karena ilmu yang digunakan hanya bisa pada saat pertunjukkan ini berlangsung. Sepintas ilmu ini mirip dengan ilmu kanuragan karena bisa memperlihatkan kekebalan tubuh terhadap benda-benda berbahaya yang pada tradisi ini yaitu cambuk. Namun ilmu ini tidak dapat digunakan dalam konteks bertarung yang sesungguhnya. Masyarakat Jawa umumnya masih mempercayai hal-hal yang dianggap berpengaruh terhadap kehidupan. Segala sesuatunya pun juga selalu memiliki filosofi yang pada akhirnya membuat masyarakat itu sendiri semakin kuat terhadap apa yang dipercayainya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala[sunting | sunting sumber]