Ratu Bagawan dari Kotawaringin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ratu Kota Waringin)
Lompat ke: navigasi, cari
Ratu Bagawan (ke-1)[1]
Masa kekuasaan 1637-1657
Dinobatkan 1637 (Raja Kotawaringin)
1652 (Mangkubumi Sultan Saidullah)
Nama asli Pangeran Dipati Anta-Kasuma
Pemakaman Komplek Makam Sultan Suriansyah
Pasangan

1. Andin Juluk binti Dipati Ngganding
2. Nyai Tapu binti Mantri Kahayan
3. Putri Bekorong

4. Dayang Ruai binti Kyai Gede
Anak

1. ♂ Pangeran Dipati Kasuma Mandura (anak Nyai Tapu)
2. ♀ Dayang Gilang (anak Andin Juluk)
3. ♂ Raden Pamadi (anak Andin Juluk)
4. ♂ Raden Pati (anak Andin Juluk)
5. ♂ Raden Nating (anak Andin Juluk)
6. ♂ Raden Tuan (anak Andin Juluk)
7. ♂ Raden Mataram
8. ♀ Gusti Tanya
9. ♀ Puteri Lanting

10. ♂ Ratu Amas (Raja Kotawaringin II)
Wangsa Dinasti Kotawaringin
Ayah Sultan Mustain Billah
Ibu Ratu Agung binti Pangeran Demang
Agama Islam


Ratu Bagawan (ke-1), nama sebelumnya Ratu Kota Waringin, nama sebelumnya lagi Pangeran Dipati Anta-Kasuma adalah raja pertama kerajaan Kotawaringin antara tahun 1637-1657.[2] Ia menggantikan posisi mertuanya Dipati Ngganding yang menjadi adipati Kotawaringin. Pada masa tuanya Ratu Bagawan (ke-1) menyerahkan tahta Kotawaringin kepada puteranya Ratu Amas, kemudian ia pulang ke Banjarmasin dan selanjutnya menjabat sebagai mangkubumi (Patih Hamangkubhumi/Mahapatih) Sultan Saidullah/Ratu Anom di pusat kesultanan Banjar. Ratu Bagawan merupakan gelarnya setelah pulang ke Banjarmasin dan dilantik sebagai mangkubumi. Ia meninggal dan dimakamkan di Banjarmasin.[3]

Ratu Bagawan, nama aslinya tidak diketahui, tetapi dikenal dengan nama Pangeran Dipati Anta-Kasuma ketika pertama kali dinobatkan menjadi raja Kotawaringin pada masa pemerintahan ayahandanya Sultan Mustain Billah (raja Banjar IV).

Ia keturunan berdarah biru dari kedua orangtuanya. Nama kasuma berarti ningrat murni dalam bahasa Banjar, yang berasal dari kata wijaya kusuma (bunga) merupakan logat Banjar untuk kesuma (Melayu) atau kasuma (Kedayan-Brunei) atau kusuma (Jawa) atau kusumah (Sunda).

Raja Banjar V, Sultan Inayatullah/Ratu Agung/Ratu Lama/Pangeran Dipati Tuha (ke-1), abangnya memberinya gelar Ratu Kota Waringin. Dan kemudian raja Banjar ke-VI, Sultan Saidullah (Ratu Anom), anak kemenakannya memberinya gelar Ratu Bagawan (artinya raja maha pandita).

Dalam menjalankan pemerintahan Ratu Bagawan dibantu oleh empat menteri yaitu Kiai Ngabehi Jiwaraga, Kiai Ngabehi Saradula, Kiai Putrajaya, dan Kiai Nayaputra[1]

Informasi pribadi[sunting | sunting sumber]

  • Ayah: Sultan Mustain Billah/Marhum Panembahan/Raja Maruhum (nama lahir Raden Senapati).
  • Ibun: Ratu Agung (Putri Juluk) binti Pangeran Demang bin Sultan Rahmatullah. Pangeran Demang menjadi Dipati pada masa kekuasaan Sultan Hidayatullah (ke-1).[1]
  • Permaisuri :
  1. Andin Juluk binti Dipati Ngganding
  2. Nyai Tapu binti Mantri Kahayan
  • Ananda :
  1. Raden Kasuma Taruna anak Nyai Tapu. Kasuma Taruna dilantik sebagai Dipati oleh Sultan Inayatullah/Ratu Agung/Ratu Lama dengan gelar Pangeran Dipati Kasuma Mandura. Pangeran Dipati merupakan gelar/pangkat satu level di bawah gelar Panembahan.
  2. Puteri Gelang/Dayang Gilang anak Andin Juluk
  3. Raden Pamadi anak Andin Juluk
  4. Raden Pati anak Andin Juluk
  5. Raden Nating anak Andin Juluk
  6. Raden Tuan anak Andin Juluk
  7. Gusti Tanya anak Selir
  8. Raden Mataram anak Selir
  9. Puteri Lanting anak Selir
  10. Ratu Amas, menjadi Raja Kotawaringin II. Suami dari Putri Galuh Hasanah (Putri Samut) binti Pangeran Adipati Tapasana[[4]

Ratu Bagawan (ke-1) merupakan keturunan ke-10 dari Lambung Mangkurat dan juga keturunan ke-10 dari pasangan Puteri Junjung Buih dan Maharaja Suryanata. Maharaja Suryanata (nama lahir Raden Putra) dijemput dari Majapahit sebagai jodoh Puteri Junjung Buih (saudara angkat Lambung Mangkurat).[1]

Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan :

Tanjung Sambar[sunting | sunting sumber]

Provinsi Borneo saat masa awal kemerdekaan, tahun 1945.

Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah negara kerajaan induk: Borneo (Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan Banjarmasin (Bumi Kencana). Tanjung Dato adalah perbatasan wilayah mandala Borneo (Brunei) dengan wilayah mandala Sukadana (Tanjungpura), sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah mandala Sukadana/Tanjungpura dengan wilayah mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin).[5][6] Daerah aliran Sungai Jelai, di Kotawaringin di bawah kekuasaan Banjarmasin, sedangkan sungai Kendawangan di bawah kekuasaan Sukadana.[7] Perbatasan di pedalaman, perhuluan daerah aliran sungai Pinoh (Lawai) termasuk dalam wilayah Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin)[8]

Keadipatian Kotawaringin (1530)[sunting | sunting sumber]

Sebelum berdirinya Kerajaan Kotawaringin, Raja-raja Banjar sebagai penguasa sepanjang pantai selatan dan timur pulau Kalimantan telah mengirim menteri-menteri untuk mengutip upeti kepada penduduk Kotawaringin. Nenek moyang suku Dayak yang tinggal di hulu-hulu sungai Arut telah memberikan kepada Sultan Banjarmasin debu emas sebanyak yang diperlukan untuk membuat sebuah kursi emas. Selepas itu dua orang menteri dari Banjarmasin bernama Majan Laut dan Tongara Mandi telah datang dari Tabanio ke Kumai dan tinggal di situ. Kedua bersaudara inilah yang mula-mula membawa Islam ke wilayah Kotawaringin. Majan Laut kemudian terlibat perseteruan dengan saudaranya dan selanjutnya ia pindah dari Kumai ke Belitung dan tinggal di sana. Tongara Mandi kemudian pindah dari Kumai ke daerah kuala Kotawaringin di mana dia sebagai pendiri Kotawaringin Lama di pinggir sungai Lamandau. Dia kemudian meninggalkan tempat ini karena diganggu oleh lanun/perompak dan membuka sebuah kampung baru, lebih jauh ke hulu, di sungai Basarah, salah satu anak sungai di sebelah kiri. Dalam Hikayat Banjar tokoh yang mendapat perintah dari Marhum Panembahan [sultan Banjar IV yang memerintah 1595-1642] untuk menjabat adipati Kotawaringin bernama Dipati Ngganding (Kiai Gede) yang merupakan mertua dari Pangeran Dipati Anta-Kasuma karena menikahi Andin Juluk, puteri dari Dipati Ngganding.

Lebih kurang 15 tahun kemudian, Kiai Gede putera dari Majan Laut datang dari Belitung dan tinggal dengan pamannya, Tongara Mandi. Kiai Gede membujuk pamannya untuk mengkaji keadaan negeri tersebut dan memilih suatu tempat yang lebih sesuai sebagai ibukota. Untuk tujuan ini mereka mula-berjalan menghulu sungai Arut dan tempat tinggal mereka saat itu dekat Pandau. Kemudian mereka membuat perjalanan menghulu sungai Lamandau, hingga ke anak sungai Bulik. Kemudian mereka bermimpi bahwa mereka mestilah menetapkan lokasi yang terpilih pada tempat di mana perahu mereka melanggar sebuah batang pohon pisang, kemudian mereka juga berlayar menuju hilir. Sesuai mimpi tersebut mereka menemukan suatu lokasi yang tepat yang kemudian menjadi lokasi di mana terletak Kotawaringin tersebut. Tetapi lokasi tersebut sudah terdapat suatu kampung Dayak yang besar yang disebut Pangkalan Batu. Penduduk kampung tersebut enggan membenarkan para pendatang ini tinggal di sana. Oleh sebab itu mereka menghalau orang Dayak dari situ dan merampas dari mereka beberapa pucuk cantau (senapang) Cina dan dua buah belanga (tempayan Cina). Orang Dayak yang kalah tersebut berpindah ke arah barat yaitu tasik Balida di sungai Jelai dan menyebut diri mereka Orang Darat atau Orang Ruku. Oleh karena dia sudah tua, Tongara Mandi kemudian menyerahkan pemerintahan kepada Kiai Gede. Perlahan-lahan Kiai Gede meluaskan kuasanya kepada suku-suku Dayak dan tetap tergantung pada Kesultanan Banjarmasin.

Kerajamudaan Kotawaringin (1637)[sunting | sunting sumber]

Kurang lebih 35 tahun selepas pemerintahan Kiai Gede, tibalah di Kotawaringin Pangeran Dipati Anta-Kasuma putera dari Marhum Panembahan (Sultan Banjar IV). Kedatangannya disertai Putri Gilang anaknya. Sebelumnya mereka bersemayam di Kahayan, Mendawai dan Sampit. Kemudian mereka berangkat ke Sembuluh dan Pembuang, di tempat terakhir inilah Pangeran Dipati Anta-Kasuma sempat tertarik dan ingin bersemayam pada lokasi tersebut tetapi dilarang oleh para menterinya. Ia bersumpah bahwa semenjak saat itu tempat tersebut dinamakan Pembuang artinya tempat yang terbuang atau tidak jadi digunakan. Dari sana kemudian Pangeran berangkat ke sungai Arut. Disini dia tinggal beberapa lama di kampung Pandau dan membuat perjanjian persahabatan dengan orang-orang Dayak yang menjanjikan taat setia mereka.[9] Perjanjian ini dibuat pada sebuah batu yang dinamakan Batu Patahan, tempat dikorbankannya dua orang, di mana seorang Banjar yang menghadap ke laut sebagai arah kedatangan orang Banjar dan seorang Dayak yang menghadap ke darat sebagai arah kedatangan orang Dayak, kedua disembelih darahnya disatukan berkorban sebagai materai perjanjian tersebut.[10] Kemudian Pangeran Dipati Anta-Kasuma berangkat ke Kotawaringin di mana Kiai Gede mengiktirafkan Pangeran sebagai raja dan Kiai Gede sendiri menjabat sebagai mangkubumi.

Kutipan Hikayat Banjar dan Kotawaringin:

Kerajaan Kotawaringin merupakan pecahan kesultanan Banjar pada masa Sultan Banjar IV Mustainbillah yang diberikan kepada puteranya Pangeran Dipati Anta-Kasuma. Sebelumnya Kotawaringin merupakan sebuah kadipaten, yang semula ditugaskan oleh Sultan Mustainbillah sebagai kepala pemerintahan di Kotawaringin adalah Dipati Ngganding (1615). Oleh Dipati Ngganding kemudian diserahkan kepada menantunya Pangeran Dipati Anta-Kasuma. Menurut Hikayat Banjar, wilayah Kotawaringin adalah semua desa-desa di sebelah barat Banjar (sungai Banjar = sungai Barito) hingga sungai Jelai.[1]

Sultan Banjar V, Inayatullah (= Pangeran Dipati Tuha 1/Ratu Agung), abangnya Pangeran Dipati Anta-Kasuma menganugerahkan gelar Ratu Kota Waringin kepada Pangeran Dipati Anta-Kasuma, kemudian menyerahkan desa-desa di sebelah barat Banjar (= sungai Barito) hingga ke Jelai. Ratu Kota-Waringin kemudian kembali ke Kotawaringin sambil membawa serta Raden Buyut Kasuma Matan.[1] Ratu Kota Waringin sebenarnya tidak bersemayam di dalem (istana) tetapi di atas sebuah rakit besar (= lanting) yang ditambatkan di sana. Ratu Kota-Waringin memperoleh seorang puteri lagi yang dinamai Puteri Lanting, dengan seorang wanita yang dikawininya di sini.[11] Baginda berangkat ke sungai Jelai dan membuka sebuah kampung di pertemuan sungai Bilah dengan sungai Jelai. Daerah ini dinamakan Sukamara karena ada suka dan ada mara (= maju menuju ke depan dari arah kedatangannya dari negeri Banjar).[1]

Kutipan Hikayat Banjar dan Kotawaringin:

Kutipan Hikayat Banjar dan Kotawaringin:

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k (Melayu) Johannes Jacobus Ras, Hikayat Banjar diterjemahkan dalam Bahasa Malaysia oleh Siti Hawa Salleh, Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia 1990.
  2. ^ Wikipedia Polandia
  3. ^ http://kabarbanjarmasin.com/posting/menelusuri-jejak-sejarah-kota-banjarmasin.html
  4. ^ Silsilah Raja-Raja Kotawaringin ( MENURUT PENELITIAN BEBERAPA SUMBER )
  5. ^ (Inggris) Smedley, Edward (1845). Encyclopædia metropolitana; or, Universal dictionary of knowledge. p. 713. 
  6. ^ (Inggris)Malayan miscellanies (1820). Malayan miscellanies. p. 7. 
  7. ^ (Belanda) Hoëvell, Wolter Robert (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch Indië 52. Ter Lands-drukkerij. p. 220. 
  8. ^ (Belanda) Perhimpunan Ilmu Alam Indonesia, Madjalah ilmu alam untuk Indonesia (1856). Indonesian journal for natural science. 10-11. p. 286. 
  9. ^ J. Pijnappel Gzn; Beschrijving van het Westeli jike gedeelte van de Zuid-en Ooster-afdeeling van Borneo (disimpul daripada empat laporan oleh Von Gaffron,1953,BK 17 (1860) hlm 267 ff.
  10. ^ Kotawaringin Lama, Wisata Budaya yang Terlupakan
  11. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Pijnappel
Didahului oleh:
Panembahan di Darat
Mangkubumi
1652-1657
Diteruskan oleh:
Pangeran Dipati Mangkubumi