Petungkriono, Pekalongan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Petungkriono
Kecamatan
Locator Kecamatan Petungkriyana ing Kabupaten Pekalongan.png
Peta lokasi Kecamatan Petungkriono
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenPekalongan
Pemerintahan
 • CamatAgus Purwanto, S.STP
Luas7.358,523 Ha km²
Kepadatan- jiwa/km²
Desa/kelurahan9

Petungkriono atau juga disebut Petungkriyono (bahasa Jawa: ꦥꦼꦠꦸꦁꦏꦿꦶꦪꦤ, translit. Petungkriyana) adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Luas wilayah Kecamatan Petungkriyono 73,59 km2 atau 8,80 % dari luas Wilayah Kabupaten Pekalongan. Secara administratif terbagi atas 9 desa, 37 dusun, 39 RW dan 90 RT. Jarak antara Ibu kota Kecamatan Petungkriono dengan Ibu kota Kabupaten Pekalongan sekitar 34 km. Pusat pemerintahan Kecamatan Petungkriono berada di Desa Yosorejo.

Batas-batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Curugmuncar
  2. Gumelem
  3. Kasimpar
  4. Kayupuring
  5. Simego
  6. Songgodadi
  7. Tlogohendro
  8. Tlogopakis
  9. Yosorejo

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Petungkriaono merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter di atas permukaan air laut (Mdpl) dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi Pegunungan Serayu Utara. Sebelah selatan merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan rangkaian gunung seperti Gunung Rogojembangan. Selain itu terdapat Gunung Kendalisodo, Gunung Sikeru, Gunung Perbata, Gunung Geni, dan Gunung Kukusan. Kecamatan Petungkriono menjadi hulu tiga sungai besar antara lain Sungai Wola, Kali Sengkarang, dan Sungai Kupang (Kali Pekalongan). Kecamatan Petungkriono yang beriklim tropis dengan dua musim dalam satu tahunnya yaitu musim kemarau dan penghujan, dengan suhu udara pada siang hari berkisar antara 19 - 28 derajat Celcius. Pada bulan Juli sampai Agustus turun menjadi 10 derajat celcius .

Penggunaan Lahan[sunting | sunting sumber]

Luas wilayah Kecamatan Petungkriono seluas 7.358,523 Ha yang sebagian besar adalah hutan Negara seluas 5.189,507 Ha. Luas pemukiman hanyalah 119,652 Ha (16 %) dari luas wilayah. Luas areal lahan sawah di Kecamatan Petungkriyono pada tahun 2006 adalah 234,450 ha dan jenis pengairan yang digunakan adalah sawah berpengairan sederhana 234,45 ha.Sedangkan luas areal lahan bukan sawah pada tahun 2006 adalah 7.124,073 ha yang terdiri dari bangunan pekarangan seluas 119,652 ha, tegal/kebun seluas 1.379,702 ha, ladang/huma seluas 63,616 ha, padang rumput seluas 2,025 ha, kolam/tebat/empang seluas 6,310 ha, hutan rakyat 340,836 ha, hutan negara 5.189,507 ha dan lain-lain 22,425 ha. Luas areal lahan kritis berdasarkan tingkat kekritisan pada tahun 2006 adalah 1.165,000 ha yang terdiri dari lahan kritis seluas 160,000 ha, agak kritis seluas 719,000 ha dan potensial kritis 286,000 ha.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk 12.312 jiwa terdiri dari Laki-laki 6.229 Jiwa dan 6.083 jiwa. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian Pertanian dan Perkebunan seta peternakan.

Pariwisata[1][sunting | sunting sumber]

1. Curug Bajing

Letaknya di dusun Kambangan, Desa Tlogopakis. Curug Bajing menyuguhkan pemandangan yang sungguh eksotis. Lokasi Curug Bajing ini berada di ketinggian 1.300 Mdpl, sehingga wajar jika mempunyai hawa dingin nan sejuk. Ditambah panorama air terjun yang elok dihiasi aliran air bertingkat dengan batu besar yang membentuk perosotan air, dijamin akan tambah memanjakan mata kamu..

2. Curug Muncar

Curug Muncar terletak di Desa Curugmuncar. Curug ini berada pada ketinggian 1.249 Mdpl dan dikelilingi oleh pemandangan yang menawan lereng Gunung Rogojembangan. Letaknya tidak begitu jauh dari Curug Bajing, jadi bisa langsung berkunjung ke Curug Muncar. Siapkan stamina jika ingin mengunjungi Curug Muncar karena jalan setapak menuju Curug ini cukup menguras tenaga.

3. Curug Lawe

Curug Lawe berada di tengah hutan Gunung Perbata yang masih terjaga ke alamiannyawe, tepatnya berada di Desa Kasimpar. Menuju ke Curug Lawe memang cukup melelahkan yaitu membutuhkan waktu sekitar 40 – 60 menit berjalan kaki dari basecamp. Di awal perjalanan akan menelusuri hutan pinus yang indah, terdapat beberapa air terjun kecil disepanjang jalan sebelum kamu memasuki kawasan hutan kopi. Jika kamu beruntung, kamu dapat menjumpai kawanan Lutung Hitam dan Owa Jawa yang termasuk habitat asli dari hutan ini.

4. Kebun Strawberry Petungkriono

Kebun Strawberry ini terletak di Desa Yosorejo. Di Kebun Strawberry Petungkriyono, pengunjung dapat petik langsung di kebun untuk selanjutnya ditimbang dan dinikmati dilokasi atau dibawa pulang. Tersedia tempat berteduh yang cukup luas dan menyediakan beberapa hidangan makanan ringan dan minuman hangat. Kebun milik salah seorang warga ini juga menanam berbagai jenis buah maupun sayur lainnya.

5. Gunung Kendalisodo

Memiliki ketinggian hingga 1.695 mdpl, Gunung Kendalisodo terletak di Tlogohendro. Puncak gunung ini terkenal dengan sebutan Puncak Hanamon, butuh waktu sekitar 1 jam bagi yang ingin mendaki sampai ke Puncak Hanamon. Puncak Hanoman menjadi tempat yang sangat bagus bagi wisatawan atau pendaki untuk menikmati keindahan pemandangan di sekitarnya.

6. Gunung Rogojembangan

Selain Gunung Kedalisodo yang bisa buat mendaki, juga ada Gunung Rogojembangan yang bisa anda jadikan tempat untuk mendaki. Lokasinya berada di perbatasan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Banjarnegara. Akses pendakian bisa melalui Simego dan Gumelem.

7. River Tubing Sungai Welo

Lokasinya berada di Desa Kayupuring. Destinasi wisata ini tergolong masih baru, tapi sudah terkenal hingga ke telinga turis-turis mancanegara. Sungai Welo memang di anugrahi Tuhan dengan panaroma alamnya yang sangat indah, airnya jernih kehijauan bak air sungai surga yang mempesona. Batu-batu besar yang kokoh serta tebing yang gagah menjulang menambah semakin eksotisnya pesona alam ini.

Referensi[sunting | sunting sumber]