Perang Dingin II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Perang Dingin II,[1] juga disebut Perang Dingin Kedua, Perang Dingin Baru,[2] Perang Dingin Redux,[3] Perang Dingin 2.0,[4] dan Perang Sangat Dingin ,[5] adalah istilah yang mengacu pada ketegangan, kekerasan, dan persaingan politik yang meningkat pada tahun 2014 antara Federasi Rusia di satu pihak dan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan beberapa negara lain di pihak yang lain.[6] Ketegangan memuncak pada tahun 2010 setelah Rusia menganeksasi Krimea dan melakukan intervensi militer di Ukraina.

Perang Dingin yang pertama merupakan persaingan geopolitik antara dunia Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan dunia Komunis yang dipimpin USSR. Perang tersebut berlangsung sejak pertengahan 1940-an sampai 1991. Istilah "Perang Dunia II" mengacu pada kelanjutan persaingan antara NATO dan Rusia, pengganti Uni Soviet yang diakui secara internasional. Meski tokoh-tokoh terkenal seperti Mikhail Gorbachev memberi peringatan pada tahun 2014, perihal konfrontasi politik Rusia–Barat atas krisis Ukraina,[7] bahwa dunia berada di ambang Perang Dingin Baru atau bahkan sedang mengalaminya,[8] tokoh lainnya berpendapat bahwa istilah tersebut tidak bisa dipakai untuk menjelaskan hubungan Rusia dengan Barat.[9] Walaupun ketegangan baru antara Rusia dan Barat mirip sekali dengan ketegangan era Perang Dingin sebenarnya, misalnya perebutan pengaruh di Eropa, ada pula sejumlah perbedaan besar seperti eratnya hubungan ekonomi Rusia saat ini dengan dunia luar yang mengekang tindakan Rusia[10] namun membuka jalan bagi Rusia untuk memengaruhi negara lain.[11] Konfrontasi baru ini melibatkan Jerman sebagai pemain geopolitik utama di Eropa[12][13] untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II berakhir.[14][15]

Ketegangan di kawasan lain[sunting | sunting sumber]

Selain di Eropa, Rusia dan Barat juga berebut pengaruh di kawasan lain, termasuk Timur Tengah Raya dan Asia Tengah. Berbeda dengan Amerika Serikat, Rusia merupakan pendukung Bashar al-Assad pada Perang Saudara Suriah.[16] Rusia juag menentang tindakan Barat di Libya dan Irak.[17] Barat dan Rusia (serta Tiongkok) juga berebut pengaruh di lima negara Asia Tengah pasca-Soviet dalam ajang "Permainan Besar Baru."[18][19][20] Namun demikian, baik Rusia maupun Barat mendukung upaya-upaya membendung militan Islam di Asia Tengah.[21] Rusia juga berusaha memproyeksikan pengaruh militer dan ekonominya di Amerika Latin, kawasan yang memiliki hubungan ekonomi dan politik erat dengan Amerika Serikat.[22][23] Rusia dan anggota NATO juga sama-sama mengklaim wilayah di Arktik.[24] Norwegia memberitahu NATO untuk bersiap-siap menghadapi ketegangan di kawasan tersebut.[25] Pesawat tempur NORAD telah dikerahkan untuk menanggapi keberadaan pesawat Rusia di dekat ruang udara Kanada di Arktik.[26]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dmitri Trenin (March 4, 2014). "Welcome to Cold War II". Foreign Policy. Graham Holdings. Diakses tanggal 4 February 2015. 
  2. ^ Simon Tisdall (November 19, 2014). "The new cold war: are we going back to the bad old days?". The Guardian. Guardian News and Media Limited. Diakses tanggal 4 February 2015. 
  3. ^ Laudicina, Paul (15 May 2014). "Ukraine: Cold War Redux Or New Global Challenge?". Forbes. Diakses tanggal 9 January 2015. 
  4. ^ Eve Conant (September 12, 2014). "Is the Cold War Back?". National Geographic. National Geographic Society. Diakses tanggal 4 February 2015. 
  5. ^ Mauldin, John (29 October 2014). "The Colder War Has Begun". Forbes. Diakses tanggal 22 December 2014. 
  6. ^ "Welcome to Cold War II". Foreign Policy. March 4, 2014. Diakses tanggal 10 November 2014. 
  7. ^ Conant, Eve (12 September 2014). "Is the Cold War Back?". National Geographic. Diakses tanggal 19 December 2014. 
  8. ^ Kendall, Bridget (12 November 2014). "Rhetoric hardens as fears mount of new Cold War". BBC News. Diakses tanggal 20 December 2014. 
  9. ^ Bremmer, Ian (29 May 2014). "This Isn’t A Cold War. And That’s Not Necessarily Good". Time. Diakses tanggal 19 December 2014. 
  10. ^ Stewart, James (7 March 2014). "Why Russia Can’t Afford Another Cold War". New York Times. Diakses tanggal 3 January 2015. 
  11. ^ "Putin's 'Last and Best Weapon' Against Europe: Gas". 2014-09-24. Diakses tanggal 2015-01-03. 
  12. ^ Czuczka, Tony; Parkin, Brian (21 November 2014). "Merkel Bids to Stall Putin Influence at EU’s Balkan Edge". Bloomberg L.P. Diakses tanggal 21 December 2014. 
  13. ^ "Putin's Reach: Merkel Concerned about Russian Influence in the Balkans". Spiegel. 17 November 2014. Diakses tanggal 6 January 2015. 
  14. ^ George Friedman. A More Assertive German Foreign Policy
  15. ^ Orenstein, Mitchell (9 March 2014). "Get Ready for a Russo-German Europe". Foreign Affairs. Diakses tanggal 8 January 2014. 
  16. ^ Tisdall, Simon (19 November 2014). "The new cold war: are we going back to the bad old days?". The Guardian. Diakses tanggal 22 December 2014. 
  17. ^ Levgold, Robert (July–August 2014). "Managing the New Cold War". Foreign Affairs. Diakses tanggal 21 December 2014. 
  18. ^ Rashid, Ahmed (15 August 2013). "Why, and What, You Should Know About Central Asia". The New York Review of Books. Diakses tanggal 23 December 2014. 
  19. ^ "Going, going…". The Economist. 7 December 2013. Diakses tanggal 21 December 2014. 
  20. ^ "Nations without a cause". The Economist. 24 September 2009. Diakses tanggal 23 December 2014. 
  21. ^ Dyomkin, Dennis (10 December 2014). "Uzbek president asks Putin to help fight radical Islam in Central Asia". Reuters. Diakses tanggal 23 December 2014. 
  22. ^ Wong, Kristina (21 March 2014). "Putin’s quiet Latin America play". The Hill. Diakses tanggal 25 December 2014. 
  23. ^ Trenin, Dmitri (15 July 2014). "Putin's Latin America trip aims to show Russia is more than just regional power". The Guardian. Diakses tanggal 25 December 2014. 
  24. ^ Koren, Marina (27 March 2014). "Is Vladimir Putin Coming for the North Pole Next?". National Journal. Diakses tanggal 21 January 2015. 
  25. ^ Rosen, Armin (25 June 2014). "Norway Wants NATO To Prepare For An Arctic Showdown". Business Insider. Diakses tanggal 21 January 2015. 
  26. ^ "Canadian jets intercepted Russian planes over Arctic". The Star. 19 September 2014. Diakses tanggal 21 January 2015.