Pengaringan, Pejagoan, Kebumen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pengaringan
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Kebumen
Kecamatan Pejagoan
Kodepos 54361
Luas 951 Ha

Pengaringan adalah desa di kecamatan Pejagoan, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia.

Batas-batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

  1. Utara : Desa Watulawang dan Desa Peniron
  2. Timur: Desa Peniron
  3. Selatan :Desa Kebagoran
  4. Barat : Kecamatan Sruweng

Pembagian Wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa Pengaringan terdiri dari 2 Rukun Warga/(RW) dan 6 Rukun Tetangga/(RT). Rukun Warga(RW) 1 terletak diwilayah sebelah barat sehingga sering disebut dengan Blok Kulo. Sebaliknya, Rukun Warga(RW) 2 yang berada diwilayah sebelah timur sering disebut dengan nama Blok Wetan. Rukun Warga(RW) 1 terdiri dari 3 Rukun Tetangga/(RT) yakni RT 1, RT 2, dan RT 3. Rukun Warga(RW) 2 terdiri dari 3 Rukun Tetangga/(RT) yakni RT 4, RT 5, dan RT 6. Tiap RT rata-rata dihuni oleh belasan Kepala Keluarga.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Desa Pengaringan berada diatas Perbukitan yang masih merupakan bagian rangkaian Perbukitan Krewed-Condong-Tutukan dengan ketinggian dataran antara 100-400 meter diatas permukaan air laut (Mdpl).

Aksesbilitas[sunting | sunting sumber]

Desa Pengaringan terletak di sebelah utara Kota Kebumen. Jarak dari pusat Kabupaten Kebumen sekitar 20 km. Sekitar 25-40 menit ditempuh dengan mobil pribadi atau motor. Sedangkan jika ditempuh dengan angkutan kota sekitar 1 jam. Jalur transportasi melalui Jembatan Tembana ke utara melewati jalur Kota Kebumen-Peniron lalu turun di Dukuh Curug, Desa Peniron maupun dari pusat Desa Peniron. Dari kedua titik tersebut kemudian bisa ditempuh dengan jalan kaki, motor, atau mobil melalui jalur jalan non-aspal (cor/beton).

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Desa Pengaringan tidak banyak karena wilayahnya yang cukup kecil dibandingkan desa-desa di sekitarnya. Dihuni oleh sekitar 100-an keluarga. Para pemuda desa banyak yang merantau dan berhasil meningkatkan taraf kehidupannya. PEWARING merupakan wadah silaturahmi warga Pengaringan di perantuan yang rutin mengadakan kegiatan di desanya, terutama saat mudik Idul Fitri. Pengaringan berada di daerah pegunungan dengan pemandangan desa yang asri. Sawah ladang masih mendominasi wilayah desa. Penduduk Pengaringan mayoritas sebagai petani.

Agama & Bahasa[sunting | sunting sumber]

Warga yang mayoritas beragama Islam dan sebagian Kristen hidup berdampingan dengan damai. Mereka hidup rukun, saling bantu-membantu, dan bekerjasama dalam kehidupan sehari-hari sebagai "keluarga" warga desa. Perbedaan agam tidak menjadi penghalang untuk hidup bersama di masyarakat. Bahkan, banyak di antara warga yang keluarga besarnya beda agama (Islam dan Kristen). Dalam kesehariannya, warga Pengaringan berkomunikasi dengan bahasa Jawa dialek (logat) Banyumasan yang identik dengan aksen "a" dalam vokal dan "k" di akhir kata. Seperti kata "sego" (nasi) dalam dialek Bandhek (Solo-Jogja) diucapkan "sega" dalam dialek Banyumasan. Kata "bapak" diucapkan "bapa'" (huruf "k" tidak ditekan keras) dalam dialek Bandhek, diucapkan "bapak" (dengan huruf "k" diucapkan ditekan keras ("medhok") dalam dialek Banyumasan.

Sosial & Budaya[sunting | sunting sumber]

Desa Pengaringan memiliki lokasi utama yang ramai dan bisa disebut sebagai "ibukota" desa, yaitu daerah Gang. Gang asalnya adalah pasar desa yang dulunya buka setiap Senin dan Kamis. Sekarang di daerah gang terdapat kios yang menetap. Gang merupakan pusat desa dimana terdapat Balaidesa, Masjid Nurul Huda, Pasar (Gang), Gardu Desa, dan SDN 1 Pengaringan. Wilayah Gang ini berada di RT 4. Di Gang ini terdapat pohon Ketapang yang sangat besar dan rimbun (berdiameter sekitar 3 meter) yang telah berumur ratusan tahun. Selain pohon Ketapang yang masih hidup dan dipelihata sampai sekarang, terdapat pula pohon Saman yang usia dan besarnya hampir sama dengan pohon Ketapang, namun sekarang sudah ditebang karena sudah lapuk. Konsep "kekeluargaan" masih menjadi pedoman dalam kehidupan warga Pengaringan. Gotong royong menjadi tradisi dalam menggarap sawah, ladang, membangun rumah, jalan, bangunan desa, hajatan (pernikahan, sunatan, kematian). Upacara dan kegiatan tradisi juga masih dilakukan seperti Becek (Memasak gulai kambing untuk dimakan bersama warga satu desa), kenduri sedekah bumi, kenduri saat Idul Fitri. Kesenian Ebeg (kuda lumping) juga dimiliki oleh warga Pengaringan dan masih eksis.

Sarana & Prasarana[sunting | sunting sumber]

1. Sekolah

Terdapat SD Negeri 1 Pengaringan yang menjadi tempat menuntut ilmu anak-anak desa Pengaringan dan desa di sekitarnya seperti anak-anak Dukuh Curug, Desa Peniron, Dukuh Klantang dan Cawangan Desa Kebagoran dan Desa Condongcampur. SD Negeri 1 Pengaringan sekarang dikepalai oleh "Putra Pengaringan" yaitu Bp. Warno.

2. Tempat Ibadah

Selain Masjid Nurul Huda, di Pengaringan terdapat Gereja Kristen Jawa (GKJ) di RT 1.

3. Pemakaman Umum

Pemakaman di desa Pengaringan ada 2, pertama yaitu makam di perbatasan RT 1 dan RT 4 yang berada di atas bukit (mayoritas makam warga Muslim) dan kedua makam di daerah Telar (RT 1) yang mayoritas makam warga Kristen).

Potensi[sunting | sunting sumber]

Wilayah desa Pengaringan yang berada di pegunungan memiliki panoram alam yang indah seperti dapat dilihat dari Bukit Gligir di wilayah Gang RT 4 serta dari Bukit Tegal Wetan (RT 4 dan RT 6). Dan yang paling terkenal adalah panorama Gunung Pranji di sebelah utara desa (di RT 1 dan 2). Gunung Pranji memiliki hidung dan mulut tampak seperti kepala menengadah jika dilihat dari kejauhan. Gunung Pranji merupakan salah satu keunikan dan pesona desa Pengaringan yang biasanya dikunjungi anak-anak muda untuk camping atau sekadar panjat gunung. Selain bukit dan gunung, desa pengaringan memiliki danau alami yang disebut Ceblungan (di RT 4) dan bendungan buatan (DAM) atau sering disebut Cekdam (di RT 2) yang cukup luas. Air Cekdam ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air warga Pengaringan dan desa sekitarnya, selain digunakan untuk memelihara ikan. Areal persawahan berada di Watu Barut (RT 4), Ceblungan dan Buda (RT 4), Cekdam dan Telar (RT 1 dan RT 2).