Pemasaran tradisional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pemasaran
Konsep inti

Bauran pemasaran • Produk • Harga
Distribusi • Jasa • Ritel
Manajemen merek
Pemasaran berbasis akuntan
Etika pemasaran
Efektivitas pemasaran
Riset pasar
Segmentasi pasar
Strategi pemasaran
Manajemen pemasaran
Dominasi pasar
Sistem Informasi Pemasaran

Konten Promosi

Iklan • Merek • Underwriting
Pemasaran langsung • Penjualan
Penempatan produk • Publikasi
Promosi penjualan • Pemasaran loyalis •
Premium • Hadiah Kanvasing

Media promosi

Percetakan • Publikasi
Penyiaran • Out-of-home
Pemasaran Internet • Point of sale
Barang promosi
Pemasaran Digital • In-game
Demo produk
Pemasaran dari mulut ke mulut
Duta merek • Drip Marketing

Pemasaran tradisional adalah suatu strategi pemasaran bisnis yang menggunakan alat dan sarana yang mempunyai rupa fisik seperti pemasangan papan reklame di jalan, brosur yang ditempelkan di tembok, komunikasi atau interaksi secara tatap muka, dan sebagainya. Berdasarkan penelitian bersama yang dilakukan oleh Supriyandi, dapat diketahui jika metode ini jarang mengalami kerugian, meskipun revolusi digital terus berkembang pesat. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah mahalnya biaya pemasaran melalui melalui radio dan televisi. Sebaliknya, penggunaan papan reklame dan selebaran tidak hanya ramah anggaran, tetapi juga efektif dalam menjangkau para konsumen.

Faktor[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar orang telah menyadari bahwa tren pemasaran saat ini telah berubah dengan cepat. Beberapa pemasar telah beralih ke platform digital untuk mempromosikan brand melalui situs perdagangan elektronik, iklan Google, dan toko daring dikarenakan platform tersebut dapat menarik jumlah konsumen yang banyak. Namun, terdapat sebagian masyarakat yang belum memahami, bahkan tidak mengetahui cara menggunakan internet. Hal inilah yang menyebabkan pemasaran tradisional pada era digital belum sepenuhnya hilang.

Menurut penelitian bersama yang dilakukan oleh Supriyandi, pemasaran tradisional jarang mengalami kerugian, meskipun revolusi digital terus berkembang pesat. ... menambahkan jika sebagian pemasar mengenali teknik pemasaran tradisional mempunyai relevansi apabila dikombinasikan dengan strategi pemasaran daring.[1] Salah satu faktor yang menyebabkan metode pemasaran tradisional masih berjalan kuat dan menguasai dunia perdagangan adalah mahalnya biaya pemasaran melalui radio dan televisi. Sebaliknya, penggunaan papan reklame dan selebaran tidak hanya ramah anggaran, tetapi juga efektif dalam menjangkau para konsumen.

Sarana[sunting | sunting sumber]

Penelitian bersama yang dilakukan oleh Supriyandi menguraikan bahwa setidaknya terdapat tiga sarana yang digunakan dalam pemasaran tradisional, yaitu:

Papan Reklame[sunting | sunting sumber]

Papan reklame atau baliho merupakan sarana umum yang digunakan dalam pemasaran tradisional. Media tersebut menggunakan gambar cetak atau lukisan tangan di atas kanvas. Mode pemasaran tradisional ini menggunakan lebih sedikit teks dan lebih banyak gambar karena sebuah gambar memiliki ribuan makna. Gambar yang menarik sangat bagus untuk meningkatkan brand awareness. Hal ini menjadikan papan reklame sebagai metode yang mudah untuk dikenal karena sebuah papan besar di jalan raya tidak akan pernah bisa untuk diabaikan oleh seluruh pengguna jalan.

Selebaran dan Brosur[sunting | sunting sumber]

Sejumlah tempat usaha seperti penjual barang elektronik dan pasar modern di pinggir jalan atau di dalam mal masih menggunakan metode menyebarkan selebaran dan brosur. Metode ini masih sering digunakan, terutama untuk memberikan informasi seputar diskon dan penawaran khusus. Pemasaran tradisional yang dilakukan dengan bertatap muka menjadi jauh lebih terhubung dan interaktif. Jangan meremehkan kekuatan hand-out untuk menghadirkan peluang pertumbuhan baru bagi bisnis Anda. Sarana untuk menyebarkan pesan seperti ini membangkitkan tanggapan yang kuat dan jangkauan yang lebih luas bagi pemasar.

Televisi[sunting | sunting sumber]

Saat ini, televisi masih menjadi pilihan bagi pemasar untuk bisa mengenalkan brand-nya ke masyarakat luas. Walaupun ketertarikan masyarakat terhadap televisi mulai berkurang, ternyata masih banyak orang dari kalangan tertentu yang setia menonton tayangan di televisi. Dengan menempatkan dan mengatur waktu tayang iklan di televisi, seorang pemasar dapat mempromosikan produknya ke target konsumen yang lebih tersegmentasi.

Traditional marketing adalah tentang bagaimana Anda dapat menjangkau khalayak umum yang lebih luas yang dapat dihitung dengan angka. Makin banyak orang melihat iklan Anda, makin banyak prospek yang dapat dihasilkan. Hal ini dapat membuktikan bahwa pemasaran tradisional lebih efektif dalam menciptakan brand awareness sehingga tidak hanya mengundang konsumen baru, tetapi juga membuat mereka untuk terus membeli produk Anda yang berujung pada loyalitas konsumen.

Traditional marketing lebih membutuhkan banyak usaha dan sumber daya untuk bisa berhasil dalam memasarkan suatu produk. Satu hal yang perlu diperhatikan bagi pemasar saat menggunakan metode ini adalah dalam beberapa kasus, traditional marketing juga bisa digabungkan dengan digital marketing, sesuai dengan kebutuhan. Berikut adalah keuntungan dan kekurangan memakai strategi traditional marketing:

Keuntungan[sunting | sunting sumber]

Jika Anda ingin menjangkau segmen demografis yang lebih tua, pemasaran tradisional bisa sangat efektif. Menurut GlobeNewswire, penonton berusia 50 tahun ke atas menghabiskan waktu hampir dua kali lebih banyak untuk membaca koran dan menonton TV dibandingkan dengan mereka yang berusia 21-34 tahun.

Jenis strategi pemasaran ini ditujukan untuk dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Bisnis yang lebih kecil biasanya memasarkan produknya melalui papan reklame dan selebaran. Iklan di TV atau radio dapat diputar beberapa kali saat acara sedang berlangsung untuk mengingatkan orang tentang kehadiran brand tersebut, sementara iklan online dapat dilewati atau diblokir (misalnya, mengklik "Saya tidak ingin melihat ini" di sebuah iklan media sosial, atau dengan menge-klik skip).

Kekurangan[sunting | sunting sumber]

Mencetak brosur dan selebaran dalam jumlah banyak membutuhkan biaya yang mahal dan tidak ada jaminan bahwa penerima brosur dapat tertarik dengan produk atau layanan yang Anda tawarkan.

Metode pemasaran tradisional membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil dan data mengenai keberhasilan pemasaran. Anda tidak tahu apakah seseorang telah membaca iklan yang terpampang di surat kabar kecuali mereka memutuskan untuk menindaklanjutinya dengan melakukan pembelian.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wibowo, Patrick Trusto Jati (23 September 2020). "Membedah Perbedaan Traditional Marketing dan Digital Marketing". Warta Ekonomi. Diakses tanggal 1 Desember 2021. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]