Pekalongan, Winong, Pati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pekalongan
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Pati
Kecamatan Winong
Pemerintahan
 • Kepala desa

Ukhwatur Roi, S.Pd.I.

Ukhwatur Roi, S.Pd.I.
Kodepos 59181
Luas 198,970 Ha
Jumlah penduduk 2.854 jiwa (2014)

Desa Pekalongan merupakan salah satu dari 30 desa di Kecamatan Winong Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah, yang berlokasi di sebelah tenggara dari pusat Kota Kabupaten Pati dengan jarak tempuh kurang lebih 17 Km.

Desa Pekalongan tidak ada hubungannya dengan Kabupaten Pekalongan atau Kota Pekalongan. Secara kebetulan saja namanya sama, namun mempunyai sejarah yang berbeda.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut cerita yang turun-temurun, orang pertama yang membuka Desa Pekalongan adalah Ki Ageng Rante Kencono Wulung, yang biasa disebut Mbah Rante. Semua tokoh di desa ini sepakat mengenai peranan Mbah Rante tersebut sehingga ia dijuluki waliyyul qoryah (walinya desa). Karena itu, nama Mbah Rante selalu disebut oleh warga desa ini saat memanjatkan doa hajatan (selamatan). Dan, haulnya selalu diperingati setiap tahun. Salah satu kegiatan haul yang sering dilaksanakan adalah kirab budaya Jawa.[1]

Makam Ki Ageng Rante Kencono Wulung.

Hanya saja, para tokoh desa tidak satu suara mengenai pertanyaan, apakah Mbah Rante mempunyai keturunan. Sebagian berpendapat bahwa nenek moyang warga desa ini adalah Mbah Rante, sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa Mbah Rante tidak mempunyai keturunan.

Bagi yang berpendapat mempunyai keturunan, diyakini Mbah Rante mempunyai 4 (empat) anak, yaitu Lambu, Sastro Leksono, Sayyidin dan Sakidin. Keempat orang inilah yang menurunkan generasi hingga sekarang.[2] Sedangkan bagi yang berpendapat tidak mempunyai keturunan, maka ayah dari Lambu, Sastro Leksono, Sayyidin dan Sakidin bukan Mbah Rante, tetapi orang lain. Namun sampai saat ini belum ada penelitian yang menemukan siapa orang lain itu.

Masih menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut, bahwa dulu Mbah Rante selalu menggunakan kalung. Karena kalung itu, wilayah tempat tinggalnya dinamakan Desa Pekalongan.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Desa Pekalongan terletak di posisi yang sangat strategis, yaitu di jantung Kecamatan Winong. Letaknya berdekatan dengan pusat Pemerintahan Kecamatan Winong, berdekatan dengan pusat bisnis di Kecamatan Winong, dan berada di titik penghubung 4 (empat) kecamatan, yaitu Kecamatan Winong, Kecamatan Gabus, Kecamatan Pucakwangi dan Kecamatan Jakenan.

Desa-desa yang berbatasan dengan Desa Pekalongan adalah sebagai berikut:

Luas wilayah 198,970 Ha yang dimiliki Desa Pekalongan, terbagi menjagi kawasan hunian seluas 61,340 Ha, lahan pertanian 134,630 Ha, lapangan olah raga 1 Ha, kuburan 1 Ha, dan lahan lainnya 3 Ha.[3]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Di atas telah disebutkan, bahwa 4 (empat) orang yang menjadi leluhur atau sesepuh dari warga Desa Pekalongan adalah Lambu, Sastro Leksono, Sayyidin dan Sakidin. Hampir semua warga Desa Pekalongan keturunan dari empat bersaudara itu. Sejarawan Desa Pekalongan, H. Sjahruman Djauhar, telah menulis silsilah warga desa ini dalam buku berjudul “Buku Keluarga Yunus Brawidjaja Desa Pekalongan Winong Pati Tahun 1835-2002”. Berikut ini kutipan garis besarnya:

Generasi I Generasi II Generasi III
Lambu Setronyono Ruminah
- - Kaminten
- - Sakinah
- - Khotijah
- Zainal Abidin Sulaiman
- - Ismail
- - Siyam
- - Radimah
- Hasan Mujarrod Syamsuri
- - Marzuki
- - Yusuf
- - Shofwan
- - Sarisih
- - Rupiah
- - Maryam
- - Bajuri
- Musthofa Rusban
- - Rabiyah
- - Mualip
- - Maimunah
- Tawi Sarkam
- - Sujak
- - Amini
- - Wainah
- - Painah
- - Khotijah
Sastro Leksono Dunak Ali
- - Sukirah
- Dunuk Asral
- - Aspari
- - Asrun
- - Asy’ari
- Umar Legiman
- - Suwalip
- - Senen
- Tahir Idris
- Asih Muhammad
- - Ja’far
- - Umar
- - Suhari
- Esri Aspiyah
- - Jupri
- - Jami
- - Asminah
- - Ridwan
- - Asmirah
- Ismail Rukmi
- - Sukeni
- - Sudirman
- - Rukawi
- - Ruslin
- - Pinah
Sayyidin Tirto Senawi Pidarni
- Ngapiyah Janamin
- - Ruminah
- - Sukar Paini
- - Asnawi
- - Siti Imamah
Sakidin Aspiyah Raminah
- - Sarinah
- - Nurwi
- - Zarkasyi
- - Kalimah
- Yahya Asro
- - Rasiyah
- - Aminah
- - Indasah
- Sukimah Suirman
- - Juremi
- - Juminah

Selain keturunan empat bersaudara itu, masih ada keluarga besar lainnya yang tinggal di Desa Pekalongan. Antara lain, keluarga Yahya yang berasal dari Dukuh Panggang Desa Kepohkencono Kecamatan Pucakwangi. Berikut ini silsilahnya:

Generasi I Generasi II Generasi III
Yahya Idris -
- Siraj Sumi
- - Syafi’i
- - Dimyati
- - Rochmatullah
- Hasan Irsyad Munasih
- - Barinten
- - Hasan Muhadi
- - Sirat
- - Kuminah
- - Darsih
- Madamin Sukarni
- - Sumi
- - Shofwan
- - Imam Masatip
- - Asih
- - Sarbani

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Tidak diketahui secara tepat kapan pemerintahan Desa Pekalongan mulai beroperasi. Yang diketahui, bahwa Desa Pekalongan sudah mempunyai 6 (enam) kepala desa. Secara berurutan adalah Sapawi (Abdul Wahab), Abu Thoyib, Samari, Madpur, Ahmad Fahroni dan Ukhwatur Roi, S.Pd.I. Adapun aparat Desa Pekalongan saat ini adalah sebagai berikut:

Jabatan Pejabat
Kepala Desa Ukhwatur Roi, S.Pd.I.
Sekretaris Purnomo, B.A.
Kaur Keuangan Sudiyono
Kaur Umum Japar
Kaur Pembantu Umum Moh. Jamil
Kasi Kesejahteraan Rakyat Ah. Basith
Kasi Pemerintahan Imam Muttaqin, S.H.
Kasi Pembangunan Sabari

Sementara itu, yang duduk sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) adalah berikut ini:

No. Nama
1. Drs. Ah. Thoha
2. Abdul Kohar
3. Wahono Al Muis
4. Jundan Humaidillah, S.Ag.
5. Gunarto, S.Pd.
6. Moh. Subhan Aly, S.H.
7. Jauhar Hilal, S.Pd.I.
8. Miftahurrohim, S.Pd.
9. Sri Hidayati, S.Pd. SD.

Sedangkan yang menjadi pemimpin di level Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) adalah:

Ketua RT / RW Nama
Ketua RW 01 Sutrimo
Ketua RT 01 RW 01 Jatmiko
Ketua RT 02 RW 01 H. Dhofir Maqoshid, S.Ag., M.Pd.I.
Ketua RT 03 RW 01 H. Soehud
Ketua RT 04 RW 01 Ali Subhan
Ketua RT 05 RW 01 Zaini Dakiman
Ketua RT 06 RW 01 Nur Mukhsin, S.Ag.
Ketua RT 07 RW 01 Sufaat
Ketua RW 02 H. Ali Zuhdi
Ketua RT 01 RW 02 Rustam
Ketua RT 02 RW 02 Budi Santoso, S.Ag.
Ketua RT 03 RW 02 H. Ali Syafa, S.H.
Ketua RT 04 RW 02 Nurul Huda
Ketua RT 05 RW 02 Asyhari Amin, S.Pd.I., M.Pd.I.
Ketua RT 06 RW 02 H. Sunardi
Ketua RT 07 RW 02 Sawiyo

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Menurut data statistik tahun 2014, jumlah penduduk Desa Pekalongan mencapai 2.854 jiwa. Yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 1.442 jiwa (50,53 %) dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 1.412 jiwa (49,47 %).[4]

Berikut ini data berdasarkan mata pencarian:[5]

No Jenis Mata Pencaharian Jumlah Prosentase
1 Belum/Tidak Bekerja 645 22,60
2 Pelajar/Mahasiswa 536 18,78
3 Wiraswasta 398 13,95
4 Karyawan Swasta 99 3,47
5 Petani/Pekebun 260 9,11
6 Mengurus Rumah Tangga 265 9,29
7 Guru 69 2,42
8 PNS 67 2,35
9 Buruh Tani 81 2,84
10 Buruh Harian Lepas 88 3,08
11 Pedagang 148 5,19
12 Lain-lain 198 6,92
Total 2.854 100

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Desa Pekalongan terkenal dengan warganya yang terpelajar. Walaupun untuk hidup sehari-hari saja warganya masih ada yang serba kekurangan, namun untuk pendidikan tidak boleh berkurang. Kalau perlu, utang pun dilakukan. Hampir sulit mencari pemuda-pemudi desa ini yang tidak melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tidak heran bila pernah berdiri organisasi bernama Forum Komunikasi Mahasiswa dan Pelajar Pekalongan (FKMPP) tahun 1992 yang diketuai pertama kali oleh Drs. KH. Abdul Kafi, M.Ag.

Semangat belajar di desa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor:

  • Kuatnya pengaruh yang ditanamkan para pendahulu untuk selalu belajar

Secara formal, pada tahun 1930 telah berdiri lembaga pendidikan di Desa Pekalongan, yaitu Matholi’ul Falah (di kemudian hari berubah nama menjadi Tarbiyatul Banin) yang didirikan oleh KH. Munji dan KH. Mahfudz Salam (ayahanda KH. Sahal Mahfudz) dari Kajen. Pada masa awal, banyak guru dari Kajen dikirim untuk mengajar di Desa Pekalongan, seperti KH. Sanaji dan KH. Ahmad Fahrurrozi.[6] Guru-guru itulah yang menanamkan semangat belajar kepada para pemuda kala itu, sehingga menular ke generasi sekarang.

  • Adanya lembaga pendidikan yang jumlahnya cukup banyak untuk skala desa

Ada 2 sekolah tingkat dasar, 2 sekolah tingkat menengah pertama dan 3 sekolah menengah tingkat atas. Tidak ada alasan bagi anak-anak Desa Pekalongan untuk tidak belajar, karena sekolah ada di depan mata. Sekurang-kurangnya mereka bisa menikmati pendidikan sampai tingkat SLTA.

Walaupun sekolah yang ada di Desa Pekalongan kebanyakan sekolah agama, namun dalam kenyataannya para pemuda-pemudi tidak sedikit yang melanjutkan ke jenjang pendidikan umum, seperti Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Muria Kudus, Universitas Negeri Semarang, Universitas Airlangga dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Yang membanggakan lagi, banyak dari mereka mendapatkan beasiswa selama pendidikan.

Hingga saat ini, sudah ada 3 (tiga) putra kelahiran Desa Pekalongan yang meraih gelar tertinggi di bidang akademik, yaitu doktor (S-3). Bahkan satu dari tiga itu juga meraih professor. Mereka adalah Prof. DR. Imam Asrori, M.Pd. (guru besar Universitas Negeri Malang), DR. Munjahid, M.Ag. (dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan DR. A. Zaenurrosyid, MA. (dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah Kajen).

Keagamaan[sunting | sunting sumber]

Selain layak dijuluki “Desa Pendidikan”, Desa Pekalongan ini juga layak menyandang predikat “Desa Agamis”. Hal itu, karena kultur yang terbentuk menunjukkan semangat keberagamaannya yang kental. Misalnya, dari pagi anak-anak berangkat ke sekolah, lalu sore hari mereka berangkat ke Taman Pendidikan Al-Qur'an dan malam hari berangkat ke mushola untuk belajar mengaji lagi. Tidak hanya anak-anak. Bapak-bapak biasanya mengadakan pengajian tersendiri. Demikian pula ibu-ibu juga mengadakan pertemuan rutin bulanan.

Banyak kyai (ahli ilmu agama) yang tinggal di Desa Pekalongan. Antara lain K. Ahmad Fadlil, KH. Masyhuri Marzuki, K. Hasyim Syukur, K. Abu Thoyib, KH. Syahri Ismail, KH. Jabir Hasan, KH. Zaini Surahman, KH. Habib Hasan, KH. Nur Yahya K. Lahuri, K. Sujono Kholil dan K. Alwan Sahlan.

Banyak pula ditemukan penghafal Al-Quran di Desa Pekalongan. Mereka adalah K. Hamid Manan, Drs. KH. Abdul Kafi, M.Ag. (sekarang kepala KUA Kecamatan Winong), DR. Munjahid, M.Ag. (sekarang pindah ke Yogyakarta), Hanifah Rofi’i, Khadrowi, Ahmad Muslih, Musta’in Yasir, Hendri Marwan Anas, Amirotus Saidah, Sikhoh Nur Mukhsin, Mahmudah Arfat, Fariha Izzulmuna Hamid, Lutfiana dan Yun Nafe’.

Kepemudaan[sunting | sunting sumber]

Para pemuda Desa Pekalongan tergolong sangat aktif berorganisasi. Sejak tahun 1985, mereka telah mengenal organisasi karang taruna yang untuk pertama kalinya dipimpin oleh Zamahsari. Organisasi kepemudaan lainnya bernama Ikatan Remaja Masjid Darussalam (IRMADA) yang didirikan tahun 1987 dan ketua pertamanya adalah Ir. Purnomo.

Begitu aktifnya berorganisasi, beberapa anggota IRMADA pernah terpilih untuk mengikuti pertukaran pemuda ke provinsi lain. Tahun 1996, Amirul Arifin, Nur Halim, Sholeh dan Supaat berangkat ke Ambon dan tinggal di sana selama 6 bulan. Tahun berikutnya, 1997, Ibnu Salim Muslih dan Wahono Al-Muis berangkat ke Banjarmasin. Kegiatan itu bertujuan untuk mengenalkan budaya masyarakat dan sumber daya alam di wilayah provinsi lain, sehingga pemuda di satu provinsi juga mengetahui kondisi di tempat lain, yang sama-sama wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Olah Raga[sunting | sunting sumber]

Olah raga yang diidolakan warga Desa Pekalongan adalah sepak bola. Hampir setiap sore para pemuda desa ini bermain sepakbola. Tidak hanya untuk menghadapi kejuaraan. Mereka memang biasa bermain di lapangan. Karena selain untuk menjaga kesehatan, bermain sepakbola juga ajang refreshing dan mempererat hubungan sesama warga desa.

Kebiasaan bermain sepakbola itu memudahkan Tim sepakbola Desa Pekalongan yang bernama Putra Kencana untuk mencari bibit-bibit unggul. Dari generasi ke generasi selalu ditemukan pemain-pemain handal. Berulang kali Putra Kencana menorehkan sejarah sebagai juara turnamen di tingkat Kecamatan Winong. Di antara pemain legendarisnya adalah Halimi, Imas, Dwi, Tiyo, Abdullah, Anshori, Sugiyono, Sugiarto, Budi Hartono, Umang, Sanusi, Suhari Jajuk dan Jundan Humaidillah.

Selain sepakbola, olah raga lainnya yang dibanggakan di Desa Pekalongan adalah bola voli. Salah satu pemain andalannya adalah Putut. Pukulan smash-nya membuat penonton berdecak kagum.

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Kesenian termasuk bidang yang mendapat perhatian warga Desa Pekalongan. Tercatat pernah terbentuk beberapa grup seni budaya di desa ini, baik yang sampai sekarang masih aktif maupun telah bubar. Di antaranya sebagai berikut:

  • Tarian Rodat

Tarian tradisional yang dimainkan oleh para remaja ini mencapai puncak kejayaannya pada tahun 80-an. Biasa diundang untuk mengisi acara hajatan dari rumah ke rumah warga desa.

  • Pencak Silat (bahasa Jawa: Pencik)

Pencik merupakan hiburan rakyat yang menarik. Di antara tokohnya adalah Kyai Ma'sum, Surat, Zamzam, Pahing, Sungit, Asbin, Sarbin dan Juhari.

  • Orkes Kencana Ria

Pemain grup musik ini antara lain Sali (kendang), Salamun (melodi), Wage (icik icik) dan Bajuri (seruling).

  • Kalam Kencana Darussalam (KaKaDe)

Grup teater ini dikomandani oleh Ali Arwan dan beranggotakan Taufik M Nur, Nur Huda, Amirul Arifin dan Rafi.

  • Grup Rebana Al-Hidayah

Grup ini seluruh pemainnya perempuan yang dipimpin oleh Shoimah. Biasa tampil di acara pengajian atau pertunjukan di dalam maupun luar desa.

  • Grup Sholawatan Qolbun Salim

Grup sholawatan ini paling akhir lahirnya dan masih aktif hingga saat ini. Pernah tampil di Masjid Agung An-Nur Pati dan beberapa kali tampil di luar kota. Bahkan pernah diminta tampil di kediaman Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf di Kota Surakarta.

Sarana dan Prasarana[sunting | sunting sumber]

Lembaga Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana disinggung di atas, bahwa di Desa Pekalongan ditemukan banyak lembaga pendidikan. Yaitu sebagai berikut:

  • Pendidikan Anak Usia Dini dan Raudhatul Athfal Tarbiyatul Banin
  • Madrasah Ibtidaiyyah Tarbiyatul Banin
  • Sekolah Dasar Negeri Pekalongan
  • Madrasah Tsanawiyyah Negeri 1 Pati

Sekolah yang awalnya bernama MTs Negeri Winong ini berdiri tahun 1980.[7] Guru-gurunya untuk pertama kali banyak yang berasal dari luar kota. Lalu mereka menikah dengan penduduk setempat dan menetap di sini.

Sekolah ini pada tanggal 27 November 2016 yang lalu mendapat sorotan positif di pentas nasional. Pasalnya, pada peringatan Hari Guru Nasional di Bogor itu, Drs. KH. Ahmad Adib Al Arif, M.Ag. sebagai kepala sekolah menerima penghargaan Satya Lencana Pendidikan yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.[8]

Selain lembaga formal, di Desa Pekalongan terdapat lembaga non-formal berupa Taman Pendidikan Al-Qur'an Assalam yang berdiri tahun 1991 dengan ketua pertamanya Drs. H. Abdul Salam.

Lembaga-lembaga pendidikan di atas tidak hanya diisi oleh warga Desa Pekalongan. Banyak putra-putri desa-desa lain berbondong-bondong datang untuk menuntut ilmu di sini. Bahkan tidak sedikit di antara mereka memilih untuk “mondok” (tinggal di sekitar sekolah).

Tempat Ibadah[sunting | sunting sumber]

Di Desa Pekalongan terdapat masjid dan mushola di tiap-tiap RT.

  • Masjid Darussalam
Suasana shalat Idul Fitri di Masjid Darussalam tahun 2015.

Masjid Darussalam dibangun di atas tanah wakaf H. Siraj. Didirikan oleh KH. Munji dari Kajen tahun 1935 atau selang 5 tahun setelah berdirinya Madrasah Tarbiyatul Banin. Masjid ini tergolong masjid pertama di Kecamatan Winong. Saat ini kepengurusan takmir masjid diketuai oleh H. Ali Syafa', S.H. (mantan Kepala KUA Kecamatan Winong).

  • Mushola

Selain masjid, di Desa Pekalongan juga terdapat mushola (bahasa Jawa: langgar) di tiap-tiap RT. Berikut ini daftar nama mushola:

Lokasi Nama Mushola Nama Pengasuh
RT 01 RW 01 Nurul Hikmah KH. Zaini Surahman
RT 02 RW 01 Baitul Muttaqin H. Dhofir Maqoshid, S.Ag., M.Pd.I.
RT 03 RW 01 Al-Husna H. Soehoed
- Darul Ma'la H. Parso
RT 04 RW 01 Al-Masyhur Roekan
RT 05 RW 01 Hidayatun Nasirin Arfaturrohman
RT 06 RW 01 Al-Ali H. Sutarwi
- Al-Karomah H. Shofwan
- Miftahul Huda K. Hamid Manan
RT 07 RW 01 Al-Hasan H. Supaat
RT 01 RW 02 Al-Amin Madpur
RT 02 RW 02 Baitur Ridho KH. Ali Zuhdi
- Al-Furqon H. Halimi
RT 03 RW 02 Al-Hikmah I Drs. KH. Ahmad Adib Al Arif, M.Ag.
- Al-Hikmah II Sholihul Fuad, S.Pd.
- Al-Hilal Wahib
RT 04 RW 02 Jamiatul Awwam H. Subakir
RT 05 RW 02 An-Nur KH. Nur Yahya
- Al-Alawiy K. Alwan
RT 06 RW 02 Al-Amin K. Syamroni
- An-Nurdin H. Hamdan
- Al-Muluk H. Sahli
RT 07 RW 02 Nurul Hidayah H. Zarkasyi

Perbelanjaan[sunting | sunting sumber]

Di Desa Pekalongan terdapat banyak sekali tempat-tempat perbelanjaan. Antara lain:

  1. Toko Baruna
  2. Toko Dua Dara
  3. Toko Kenzuze

Makam[sunting | sunting sumber]

Desa Pekalongan mempunyai 2 (dua) kuburan atau makam, yaitu Makam Toro dan Makam Muris. Selain Mbah Rante, warga Desa Pekalongan yang dimakamkan di Makam Toro adalah H. Hasan Mujarrot, KH. Masyhuri Marzuki dan K. Lahuri. Sedangkan warga Desa yang dimakamkan di Makam Muris adalah K. Umar, H. Ismail dan K. Abu Thoyib.

Fasilitas Tingkat Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Selain fasilitas umum yang disebutkan di atas, di Desa Pekalongan juga dijumpai fasilitas umum tingkat kecamatan:

  1. Kantor Urusan Agama Kecamatan Winong
  2. Kantor Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul 'Ulama Kecamatan Winong
  3. Kantor Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Winong
  4. Pasar Winong

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ pasfmpati.com, 18 September 2015, diakses pada 28 Januari 2017
  2. ^ H. Sjahruman Djauhar, “Buku Keluarga Yunus Brawidjaja Desa Pekalongan Winong Pati Tahun 1835-2002”, tidak diterbitkan, 2003
  3. ^ Pemerintah Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati, “Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Tahun 2015”, tidak diterbitkan, 2015
  4. ^ Pemerintah Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati, “Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Tahun 2015”, tidak diterbitkan, 2015
  5. ^ Pemerintah Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati, “Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Tahun 2015”, tidak diterbitkan, 2015
  6. ^ H. Sjahruman Djauhar, “Mengenal, Mengenang dan Memproduksikan Madrasah Tarbiyatul Banin”, tidak diterbitkan, 2001
  7. ^ jateng.kemenag.go.id, 15 Maret 2016, diakses pada 28 Januari 2017
  8. ^ murianews.com, 1 Desember 2016, diakses pada 28 Januari 2017