Lemak trans

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Lemak trans adalah salah satu jenis lemak tak jenuh yang umum ditemukan di alam namun bisa disintesis secara buatan. Hidrokarbon adalah atom karbon dengan atom hidrogen yang saling tersambung dengan ikatan tunggal maupun rangkap. Ikatan rangkap dapat berupa ikatan trans maupun cis. Dalam dunia tumbuhan dan hewan, asam lemak umumnya membentuk ikatan cis dan tidak jenuh.[1] Dalam produksi makanan, lemak cis tak jenuh seperti minyak nabati merupakan input dari proses hidrogenasi untuk menciptakan lemak jenuh seluruhnya atau parsial yang mampu meleleh pada temperatur yang diinginkan, umumnya 30-40°C. Lemak trans adalah zat pengotor yang muncul dari isomerisasi pada hidrogenasi parsial.

Lemak tak jenuh adalah molekul lemak yang mengandung ikatan ganda antara atom karbon. Karena karbon berikatan ganda, maka atom karbon yang terhubung dengan hidrogen lebih sedikit. Cis dan trans adalah istilah yang mengacu pada susunan dua kelompok substituen antara kedua ikatan. Pada susunan cis, kelompok substituen antara kedua ikatan pada sisi yang sama berikatan rangkap dua. Pada susunan trans kelompok substituen antara kedua ikatan pada sisi yang berlawanan berikatan rangkap dua. Ikatan rangkap tidak dapat dirotasi pada kondisi biasa, namun katalis seperti nickel mampu memecah ikatan rangkap dan ikatan tunggal yang tersisa dapat berotasi.

Meski lemak trans dapat dimakan, namun konsumsi lemak trans meningkatkan risiko penyakit jantung koroner[2][3] dengan meningkatkan kadar lipoprotein berdensitas rendah (LDL) dan menurunkan lipoprotein berdensitas tinggi (HDL).[4] Lemak trans juga terdapat di alam pada jumlah yang terbatas, seperti asam vaccenic dan asam linoleat terkonjugasi yang terdapat secara alami pada daging dan produk susu dari ruminansia. Lemak trans alami dan sintetik berbeda secara kimiawi, namun memiliki efek yang sama bagi kesehatan. Dua penelitian yang dilakukan di Kanada menunjukan bahwa lemak trans alami, asam vaccenic, yang ditemukan pada susu dan daging, dapat memiliki manfaat bagi kesehatan dibandingkan asma vaccenic yang ditemukan di lemak babi.[5][6][7][8][9] Berlawanan dengan hal tersebut, sebuah studi yang dilakukan oleh USDA menunjukan bahwa asam vaccenic menunjukan efek yang merusak terhadap LDL dan HDL seperti halnya lemak trans industri.[10] Karena kurangnya bukti dan kesepakatan ilmiah, lembaga berwenang yang mengawasi nutrisi masyarakat mempertimbangkan semua lemak trans tidak baik bagi kesehatan[11][12][13] dan merekomendasikan konsumsi lemak trans dikurangi hingga pada kadar yang tidak terdeteksi.[14][15]

FDA telah menerbitkan ketentuan awal bahwa lemak yang terhidrogenasi secara parsial (yang mungkin mengandung lemak trans) tidak dikategorikan aman yang memicu pelarangan produksi lemak trans secara industri.[16] Di negara lain, terdapat batasan mengenai kadar lemak trans. Kadar lemak trans dapat dikurangi atau dihilangkan secara kimiawi. Alternatif penggunaan lemak trans seperti lemak babi, minyak sawit, lemak interesterifikasi, lemak yang terhidrogenasi sepenuhnya, atau kombinasi dari semuanya dapat menggantikan konsumsi lemak trans. Lemak terhidrogenasi tidak bersinonim dengan lemak trans. Hidrogenasi sempurna menghilangkan semua lemak tak jenuh, baik lemak cis maupun lemak trans.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ PMID 17625687 (PubMed)
    Citation will be completed automatically in a few minutes. Jump the queue or expand by hand
  2. ^ Food and nutrition board, institute of medicine of the national academies (2005). Dietary reference intakes for energy, carbohydrate, fiber, fat, fatty acids, cholesterol, protein, and amino acids (macronutrients). National Academies Press. hlm. 423. 
  3. ^ Food and nutrition board, institute of medicine of the national academies (2005). Dietary reference intakes for energy, carbohydrate, fiber, fat, fatty acids, cholesterol, protein, and amino acids (macronutrients). National Academies Press. hlm. 504. 
  4. ^ "Trans fat: Avoid this cholesterol double whammy". Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER). Diakses 2007-12-10. 
  5. ^ Trans Fats From Ruminant Animals May Be Beneficial – Health News. redOrbit (2011-09-08). Diakses 2013-01-22.
  6. ^ Bassett, C. M. C.; Edel, A. L.; Patenaude, A. F.; McCullough, R. S.; Blackwood, D. P.; Chouinard, P. Y.; Paquin, P.; Lamarche, B. et al. (Jan 2010). "Dietary Vaccenic Acid Has Antiatherogenic Effects in LDLr-/- Mice". The Journal of Nutrition 140 (1): 18–24. doi:10.3945/jn.109.105163. PMID 19923390. 
  7. ^ University of Alberta (2008-04-02). Natural trans fats have health benefits, University of Alberta study shows. Siaran pers.
  8. ^ Wang Y, Jacome-Sosa MM, Vine DF, Proctor SD (May 20, 2010). "Beneficial effects of vaccenic acid on postprandial lipid metabolism and dyslipidemia: Impact of natural trans-fats to improve CVD risk". Lipid Technology 22 (5): 103–106. doi:10.1002/lite.201000016. 
  9. ^ Bassett C, Edel A L, Patenaude AF, McCullough RS, Blackwood DP, Chouinard PY, Paquin P, Lamarche B, Pierce GN (2010). "Dietary Vaccenic Acid Has Antiatherogenic Effects in LDLr−/− Mice". The Journal of Nutrition 140 (1): 18–24. doi:10.3945/jn.109.105163. PMID 19923390. 
  10. ^ http://web.archive.org/web/20130208183218/http://wds2010.com/delegates/presentations/10wed/06-Session0_2-David%20Baer.pdf
  11. ^ EFSA Panel on Dietetic Products, Nutrition, and Allergies (NDA) (2010). "Scientific opinion on dietary reference values for fats". EFSA Journal 8 (3): 1461. doi:10.2903/j.efsa.2010.1461. 
  12. ^ UK Scientific Advisory Committee on Nutrition (2007). "Update on trans fatty acids and health, Position Statement". Diarsipkan dari aslinya tanggal 2011-01-16. 
  13. ^ Brouwer IA, Wanders AJ, Katan MB (2010). "Effect of animal and industrial trans fatty acids on HDL and LDL cholesterol levels in humans – a quantitative review". PLoS ONE 5 (3): e9434. doi:10.1371/journal.pone.0009434. PMC 2830458. PMID 20209147. 
  14. ^ "Trans fat". It's your health. Health Canada. Dec 2007. 
  15. ^ European Food Safety Authority (2010-03-26). EFSA sets European dietary reference values for nutrient intakes. Siaran pers.
  16. ^ United States Federal Register: Vol. 78, No. 217, Friday, November 8, 2013, pp. 67169-67175; https://federalregister.gov/a/2013-26854.

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]