Lawang Sewu (film)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak
Lawang1000DendamKuntilanak2007.jpg
SutradaraArie Azis
ProduserDhamoo Punjabi
Manoj Punjabi
SkenarioAviv Elham
PemeranThalita Latief
Marcell Darwin
Melvin Giovanie
Tsania Marwa
Salvita Decorte
Ronald Gustav
Bunga Jelitha Ibrani
Renny Djajoesman
Nuri Maulida
Yati Pesek
MusikAndi Rianto
SinematografiTurpin Sihombing
PenyuntingWaluyo Ichwandiardono
Perusahaan
produksi
DistributorMD Pictures
Tanggal rilis
16 September 2007
Durasi
112 menit
NegaraIndonesia
BahasaBahasa Indonesia

Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 2007. Film yang disutradarai oleh Arie Azis ini dibintangi oleh Thalita Latief, Marcell Darwin, Melvin Giovanie, Tsania Marwa, Salvita Decorte, Ronald Gustav, Bunga Jelitha Ibrani, Renny Djajoesman, Nuri Maulida dan Yati Pesek.

Plot[sunting | sunting sumber]

Tujuh remaja dari Jakarta, Diska (Thalita Latief), Yugo (Marcell Darwin), Armen (Melvin Giovanie), Dinda (Tsania Marwa), Naya (Salvita Decorte), Onil (Ronald Gustav) dan Cika (Bunga Jelitha), berada di Semarang untuk merayakan kelulusan mereka selepas SMA. Semua remaja itu, kecuali Diska, mabuk setelah pergi ke klub malam. Dalam perjalanan pulang ke rumah nenek Naya, Mbah Darmi (Renny Djajoesman), Armen, Onil dan Yugo meminta Diska menepi agar mereka dapat buang air sehingga mereka akhirnya berhenti di Lawang Sewu, lalu mereka buang air kecil ke dalam bangunan dari luar pagar. Cika, yang juga harus buang air kecil, tidak merasa nyaman bersama para lelaki sehingga ia pergi ke dalam bangunan.

Setelah bertanya-tanya mengapa Cika tidak kembali, mereka berenam masuk ke dalam bangunan untuk mencarinya. Hantu-hantu bermunculan dan marah karena mereka tidak menghargai bangunan tersebut, kemudian para hantu mulai menakuti mereka. Pertama datang adalah hantu wanita Belanda, Noni van Ellen, yang merasuki Dinda dan membuatnya berteriak memarahi teman-temannya sendiri. Setelah Dinda kembali normal, Diska memberitahunya bahwa Cika telah melanggar kesucian bangunan dengan masuk ke dalam saat sedang menstruasi. Onil diminta membawa Dinda ke luar, tetapi sebelum mereka dapat meninggalkan bangunan, mereka diteror oleh kuntilanak dengan bola dan rantai yang melilit di kakinya sehingga Onil yang sangat ketakutan mengompoli celananya, lalu Onil dan Dinda saling berpelukan saat hantu mendekati mereka.

Sementara itu, Diska, Yugo, Armen dan Naya terkejut menemukan Cika yang sudah tidak bernyawa. Ketika mereka bersama-sama membawa Cika keluar dari gedung, kuntilanak datang dan mengejar mereka. Diska telah keluar dari gedung, tetapi Armen, Yugo dan Naya dikejar ke ruang bawah tanah di mana kuntilanak meneror mereka. Diska pergi untuk meminta bantuan Mbah Darmi. Ketika mereka kembali, mereka berusaha mengusir hantu dengan melakukan pengusiran setan, lalu hantu-hantu bangkit dan langsung menyerang Mbah Darmi hingga tewas, lalu hantu-hantu itu mengejar Diska ke ruang bawah tanah.

Di ruang bawah tanah, Diska bertemu Armen, Yugo dan Naya. Armen memberitahu kepada mereka yang tersisa bahwa ia mengetahui sosok kuntilanak itu adalah mantan kekasihnya, Ratih (Nuri Maulida). Armen tidak sengaja menghamili Ratih sehingga Ratih diusir dari Jakarta oleh Armen dan teman-temannya dan Diska, yang waktu itu ingin membantunya, dihadang oleh Naya dan Cika. Setibanya di kota kelahirannya di Semarang, Ratih tidak diakui oleh ayahnya (August Melasz) sehingga ia dengan putus asa bunuh diri dengan melemparkan dirinya ke sumur di Lawang Sewu.

Setelah mempelajari kebenaran tersebut, Diska berlari ke sumur untuk menutupnya. Segera setelah itu, sosok kuntilanak telah membunuh Naya dan Armen. Saat kuntilanak bersiap untuk membunuh Yugo, Diska berhasil menutup sumur dan menghentikan sosok kuntilanak. Pada akhirnya, Diska dan Yugo pulang bersama ke rumah masing-masing dan melanjutkan kehidupan mereka.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

Produksi[sunting | sunting sumber]

Praproduksi[sunting | sunting sumber]

Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak diproduksi oleh MD Pictures yang sebelumnya memproduksi Kala (2007) dan Suster Ngesot (2007). Film ini disutradarai oleh Arie Azis dan ditulis oleh Aviv Elham berdasarkan kisah-kisah tentang Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah, sebuah bangunan kolonial yang konon angker.

Praproduksi dimulai pada pertengahan tahun 2007 dengan berita yang muncul pada awal bulan Juni 2007 bahwa sutradara Arie Azis sedang dalam pembicaraan untuk menyutradarai film ini, yang kemudian dikonfirmasi oleh MD Pictures. Pada bulan Juni 2007, Thalita Latief dan Marcell Darwin diberitakan akan membintangi film ini. Di bulan yang sama, Melvin Giovanie, Tsania Marwa, Salvita Decorte, Ronald Gustav dan Bunga Jelitha juga dikonfirmasi untuk berperan di film ini. Dalam persiapan peran mereka, para aktor dan aktris melakukan perjalanan ke Semarang untuk membiasakan diri sebelum syuting.

Syuting[sunting | sunting sumber]

Pengambilan gambar film Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak dimulai pada akhir bulan Juli 2007. Berlangsung selama lebih dari 30 hari, syuting berlangsung di lokasi Lawang Sewu serta lokasi lain di sekitar Semarang, Jawa Tengah. Syuting juga berlangsung di beberapa tempat di Jakarta. Ketika melakukan adegan di mana Dinda dirasuki oleh hantu Noni van Ellen, Tsania Marwa dilaporkan mulai berbicara bahasa Belanda yang fasih, bahasa yang belum pernah ia pelajari sebelumnya.

Tema[sunting | sunting sumber]

Manoj Punjabi, produser film, menyatakan bahwa ia percaya film Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak membawa pesan penting, bahwa manusia sebagai makhluk sosial harus selalu mengikuti norma sosial dan sadar akan lingkungannya, jika tidak, rahasia lingkungan tersebut akan terungkap.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]