Klinting, Somagede, Banyumas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Klinting
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenBanyumas
KecamatanSomagede
Kodepos
53193
Kode Kemendagri33.02.09.2004 Edit the value on Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Klinting adalah desa di kecamatan Somagede, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia.

Nama desa itu sendiri diambil dari salah satu dusun tempat balai desa tersebut berada. Desa Klinting terdiri dari 20 RT dan 2 RW. Desa Klinting sebenarnya terbagi dalam empat dusun secara administratif, yakni Dusun Klinting, Dusun Karangpucung, Dusun Jumbul dan Dusun Wanasara. Tetapi secara kultural terbagi dalam empat belas grumbul, antara lain:

1. Grumbul Klinting (Ibu kota Desa)

2. Grumbul Wanasara Wetan

3. Grumbul Wanasara Kulon

4. Grumbul Karangpucung Kidul

5. Grumbul Karangpucung Lor

6. Grumbul Tugu

7. Grumbul Jenggot Mersi

8. Grumbul Gandasuli Wetan

9. Grumbul Gandasuli Kulon

10. Grumbul Cangkring

11. Grumbul Jumbul Lor (Depok)

12. Grumbul Jumbul Wetan

13. Grumbul Jumbul Kulon

14. Grumbul Lemah Tumpeng

Desa Klinting berbatasan dengan Desa Kemawi di sebelah timur, Desa Karanggintung dan Desa Karangsalam di sebelah selatan, Desa Tanggeran di sebelah barat dan Desa Somagede di sebelah utara.

Politik dan Pemerintahan

Secara politik Desa Klinting merupakan bagian dari Kawedanan Banyumas sehingga baru diadakan pemilihan umum ketika pemerintahan administratif terbentuk di Kecamatan Somagede pada tahun 1989. Pemilihan umum yang dimaksud adalah Pilkades. Masing-masing Cakades menampilkan gambar tanaman pada kertas surat suara. Biasanya yang ditampilkan adalah tanaman pokok seperti Padi, Ketela Pohon, Kedelai dan Jagung.

Adapun Riwayat Kepala Desa Klinting yang tercatat dalam sejarah yaitu:

1. Ki Cemplong

2. Ki Cagati

3. Ki Anggadipa

4. Ki Dipaangga

5. Ki Bangsawijaya

6. Ki Karyadipa

7. Ki Dage

8. Ki Jayakwikrama

9. Ki Sawijaya (1949-1989)

11. Bapak Sukarso (2001-2007)

12. Bapak Mardi SH (2007-2011)

13. Bapak Sudir Sumedi (2011-...)

Program-program pembangunan yang sudah berjalan sejak pasca kemerdekaan yakni mulai dari Inpres Sekolah Dasar, Balai Desa dan Penataan RT/RW. Kemudian pengadaan Listrik, Jalan Aspal, Pura Umat Hindu, Masjid dan perbaikan sarana vital desa. Di era kontemporer sekarang dampak pembangunan yang terasa adalah Penyaluran program bantuan, beasiswa, bantuan rakyat miskin, jaminan sosial dan Layanan Kesehatan. Ada juga pengecoran jalan setapak, pengadaan Air Sanitasi Air, Lapangan Giri Tumpeng Jaya, kemudian yang terbaru adalah Rumah Posyandu, Balai Desa Baru dan Lapangan Voli Gandasuli.

Geografis

Desa Klinting berada di lereng rangkaian Pegunungan Kendheng yang merupakan daerah perbukitan di selatan cekungan Sungai Serayu bagian tengah. Morfologi tanah di Desa Klinting secara umum merupakan lahan subur yang cocok ditanami berbagai tanaman Palawija dan bermacam Perdu serta Kayu sehingga banyak warga desa memanfaatkan lahannya sebagi pertanian Tumpangsari. Desa ini di bagian selatan merupakan punggung bukit memanjang seperti Leter U. Bagian tengah ke utara merupakan lereng curam dengan dialiri sungai-sungai kecil hingga dataran rendah di perbatasan utara. Desa Klinting dengan lanskep lereng perbukitan dan tanah yang gembur seperti ini merupakan daerah yang rawan Tanah Longsor.

Ekonomi

Mayoritas penduduk bermata pencarian dengan menjadi petani nira kelapa (Ndheres) yang menghasilkan produk Gula Jawa (Indhel). Daerah yang banyak menghasilkan Gula Jawa adalah Karangpucung, Wanasara dan Jumbul. Sementara daerah Gandasuli dan Cangkring banyak bergantung pada sawah terasering. Kemudian warga desa juga sebagian merantau ke kota-kota besar.Sebagian yang lain berprofesi macam-macam mulai dari Pegawai Negeri, Karyawan Swasta hingga Wiraswasta.

Selain itu, di desa ini tepatnya di Grumbul Klinting terdapat industri kecil Rambut Palsu yang merupakan cabang pabrik Rambut Palsu di Kecamatan Banyumas. Di Grumbul Wanasara Wetan terdapat industri rumahan konveksi pakaian yang memperkerjakan sekitar sepuluh orang. Di Grumbul Karangpucung Lor dikembangkan perkebunan Jambu Biji sebagai rintisan Agrowisata. Dan di Gandasuli Wetan terdapat petani penyadap Karet.

Pertanian

Desa Klinting mayoritas merupakan lahan pertanian multifungsi dan majemuk. Setidaknya ada tiga garis besar jenis lahan di Di Desa ini, yakni Lahan perkebunan Tumpangsari dan Palawija, Lahan Persawahan dan Hutan Garapan. Pertama, di daerah Jumbul, Wanasara hingga Karangpucung terdapat pepohonan Sengon (Mirah), Cengkih dan Kelapa yang sangat signifikan ditanam. Kelapa menjadi tanaman utama karena menghasilkan Nira yang kemudian diproses menjadi Gula Jawa. Cengkih merupakan tanaman musiman sehingga ketika panen raya warga desa berbondong-bondong memetiknya sebagai penghasilan sekunder. Sementara pohon sengon menjadi semacam tabungan yang akan ditebang ketika ada keperluan finansial yang mendesak dan urgen.

Tanaman Palawija seperti Petai, Jengkol, Melinjo, Rempah-rempah, Singkong, Pisang hingga Nanas juga secara gencar ditanam. Khusus Nanas menjadi semacam tumbuhan pembatas yang ditempatkan pada tepian terasering ataupun tegalan lahan. Untuk mencegah longsor juga biasanya ditanami pepohonan kokoh seperti Jambe ( Pinang), Mahoni, Jati dan Nangka. Belakangan juga warga desa utamanya di daerah Jumbul dan Wanasara muncul tren menanam Durian. Tren ini ditengarai pengaruh dari adanya kompleks Petani Durian di Desa Alasmalang dan Desa Tanggeran serta Pedagang Durian di sepanjang Jalan Raya alternatif Sokawera-Kemranjen. Kompleks dan Jalan Raya tersebut berjarak sekitar dua kilometer ke arah barat dari Desa Klinting.

Kedua, Desa Klinting di daerah Gandasuli merupakan lahan pertanian padi. Lahan padi tersebut berupa sawah terasering yang dialiri sungai-sungai kecil. Sebenarnya tipikal sawah di sini adalah Sawah Tadah Hujan, tetapi ketika musim kering tiba biasanya ditanami tumbuhan yang lebih resisten terhadap cuaca seperti Kedelai, Kacang Ijo dan Jagung. Di sekitaran sawah khususnya di Grumbul Cangkring terdapat budidaya Ikan seperti Ikan Nila, Munjair, Gurameh dan Lele.

Ketiga, di Desa Klinting terdapat hutan yang merupakan tanah garapan maupun swadaya. Seperti Daerah Karangpucung hingga Gandasuli Kulon dan Jumbul Kulon terdapat hutan Alas Tuo. biasanya warga desa selain membudidayakan tanaman, hutan tersebut dimanfaatkan untuk mencari Kayu Bakar (Suluh) dan Pakan Ternak (Ramban). Begitupun di Hutan Lembah Curuggadung. Hutan ini terletak di sebelah selatan daerah Jumbul dan Wanasara. Sementara di sisi timur daerah Gandasuli dan Jumbul terdapat hutan Seprih. Hutan ini berupa hutan swadaya seperti dua hutan sebelumnya dan juga garapan pohon Homogen Karet.

Agama

Mayoritas Agama di Desa Klinting adalah Agama Islam dengan menempatkan Masjid Al Furqon di Grumbul Jumbul Wetan sebagai masjid terbesar di desa ini. Kerap kali pula di Masjid ini diadakan kegiatan keagamaan seperti Hari Raya Kurban, Pengajian rutin Ibu-ibu, Peringatan Maulid Nabi hingga Taman Pendidikan Al-Quran. Islam yang berkembang di Desa Klinting erat kaitannya sengan Organisasi Masyarakat Nahdatul Ulama. Sementara itu di Daerah Wanasara mayoritas beragama Hindu. Keberadaan agama ini ditegaskan lewat berdirinya tempat peribadatan berupa pura yang bernama Pura Giri Kendheng. Di tempat ini pula diadakan acara keagamaan seperti Galungan, Kuningan, Pujawali dan Nyepi. Pura ini juga menjadi sentral kegiatan Agama Hindu di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Selain kedua agama tersebut, terdapat kepercayaan spiritual Kejawen. Tetapi, data terkini belum ditemukan karena jumlahnya sangat sedikit dan kemungkinan sudah berasimilasi dengan agama resmi. Namun, jejak kepercayaannya masih tampak seperti Dupa dan Sesajen di tempat Keramat, Kuburan ataupun di Acara Pernikahan.

Seni dan Budaya

Tradisi yang berkembang tak jauh berbeda dengan Budaya Jawa pada umumnya. Budaya yang terpengaruh Islam dan Warisan Kerajaam Hindu-Budha. Adapun sejumlah kebudayaan di Desa Klinting yaitu:

1. Ebeg Banyumasan

Kesenian ini adalah tarian Kuda Lumping yang diiringi musik tabuhan Gamelan (Gending) Banyumasan.Biasanya juga diiringi lagu dari penyanyi wanita yang disebut sindhen. Daya tarik kesenian ini ada pada saat sang penari kesurupan (mendhem).

2. Lengger Banyumasan

Kesenian Lengger adalah tarian gemulai dan lembut oleh perempuan dan biasanya diiringi dengan Calung Banyunasan.

3. Wayang Kulit Gagrag Banyumasan

Wayang kulit ini merupakan wayang kulit yang mempunyai ciri khas tersendiri dibanding wilayah lainnya seperti Mataraman, Cirebonan maupun Kasurakartan.

4. Kepungan, Tahlilan dan Slametan

Budaya ini adalah berupa perkempulan sekelompok kepala keluarga biasanya per-RT yang memanjatkan doa-soa dan ayat suci dalam Agam Islam. Pemanjatan doa ini dipimpin Pemuka Agama (Kayim) atau tetua desa dan diiringi jamuan makanan si empunya rumah. Perbedaanya dari ketiga budaya tersebut pada maksud doanya. Kepungan biasanya untuk memperingati ulang tahun, peristiwa tertentu maupun hari-hari penting tertentu. Sementara Tahlilan biasanya dikhususkan untuk anggoya keluarga yang meninggal. Misal saat 7 hari berturut-turut setelah kepergian Almarhum, 40 hari, 100 hari, 400 hari dan 1000 hari. Dan Slametan biasanya diadakan ketika mendapat rezeki berlimpah, Panen Raya, Wisuda Anak maupun Bangun Rumah.

5. Gotong - royong

Gotong - royong di Desa Klinting berusaha bertahan di tengah gerusan zaman. Sejumlah Gotong-royong masih tampak seperti Ronda Malam, Kerja Bakti, Sambatan Membangun Rumah dan Musyawarah Warga.

6. Begalan

Begalan adalah tradisi berupa peragaan sandiwara antara perampok dan pedagang yang banyak mengupas makna pesan kehidupan.Biasanya begalan diadakan berbarengan saat adanya pernikahan.

Pariwisata

Pariwisata di Desa Klinting belum terkelola dengan baik terbukti dengan minimnya sarana rekreasi. Tetapi dengan keadaan ini justru menampilkan adanya potensi pariwisata utamanya wisata alam yang menarik. Adapun potensi pariwisata di desa ini yaitu:

1. Watu Lintang Point

Potensi pariwisata ini terdapat di daerah Karangpucung. Terdapat batu besar dan pemandangan indah menghadap Kota Purwokerto, Sungai Serayu dan Gunung Slamet di arah utara.

2. Giri Kendheng Culture Park

Potensi pariwisata ini bisa dikembangkan di Grumbul Wanasara Wetan. Mengingat adanya Pura Giri Kendheng sebagai wisata religi dan di dekatnya terdapat Lapangan Giri Tumpeng Jaya yang bisa dimanfaatkan sebagai pertunjukan Ebeg, Lengger, maupun Wayang Kulit.

3. Gatotkaca Redland Pass

Potensi pariwisata ini juga hampir sama dengan Watu Lintang yang menyuguhkan panorama Kota Purwokerto. Ciri khas yang membedakan adalah tanah warna merah darah yang diibaratkan seperti genangan darah Gatotkaca yang terkena panahnya Kumbakarna. Keberadaan Gardu Pandang dan polesan perkebunan disekitarnya dengan ditanami jenis buah yang menggiurkan akan menjadi wisata yang menjanjikan.

4. Cangkring Terrace Gazebo

Potensi Pariwasata ini terdapat di Grumbul Jumbul Lor. Dengan panorama sawah yang berundak-undak dan penambahan gubuk untuk tongkrongan diyakini bakal tidak kalah keren dengan sawah terasering di Bali maupun Vietnam.

5. Wisata Kebun Bunga

Potensi pariwisata ini bisa dikembangkan dengan penanaman bunga yang cocok di perbukitan seperti Taman Bunga Matahari di Lembang, Kebun Bunga Amaryllis di Gunungkidul dan Bunga Celosia di Aceh Jaya.

Semua potensi tersebut dapat dikembangkan baik dengan konsep Wisata Alam, Agrowisata, Wisata Edukasi maupun Wisata Religi dan Budaya. Hal terpenting adalah adanya dukungan maksimal pemerintah, peran aktif warga desa itu sendiri dan ketertarikan para investor untuk mempromosikan wisata di Desa Klinting. Bisa juga den menggandeng desa sekitarnya seperti Desa Kemawi yang memiliki potensi wiaata Alam Curug gemawang, Telaga Tapak Bima dan Hutan Pinus Kentheng serta Desa Tanggeran yang memiliki potensi Agrowisata Buah Durian. Dengan kematangan konsep dan keterlibatan semua pihak maka pariwisata di pedesaan perbukitan kendheng ini bisa menjadi semacam landmark wisata baru di Kabupaten Banyumas. Nama baru bisa disematkan untuk mendongkrak pemasaran kompleks pedesaan ini seperti misalnya Wisata Bukit Bawor. Alasan frasa Bawor merujuk pada Varietas unggulan Durian dan Ikon Kabupaten Banyumas.

Flora dan Fauna

Desa Klinting mempunyai flora langka bernama Suweg dan Bungai Bangkai meskipun jumlahnya sudah sangat jarang. Desa ini juga mempunyai jamur endemik, yakni Jamur Bulan yang biasanya terdapat di Bawah pohon sengon dan Jamur So yang biasanya terdapat di bawah pohon Melinjo. Selain itu, terdapat pula kacang Benguk dan Brantawali.

Desa ini juga memiliki fauna khas sebagai hewan ternak. Hewan ternak tersebut yakni Kambing (wedhus) bervarietas Kacang. Kambing ini dibudidayakan oleh sebagian besar penduduknya dengan cara swadaya penempatan di kandang yang letaknya biasanya di pekarangan rumah. Warga desa juga biasanya beternak unggas seperti Ayam Kampung, Enthog, Merpati (Dara) hingga Angsa. Selain hewan ternak, terdapat juga hewan peliharaan yakni Anjing. Hewan ini secara signifikan terdapat di Grumbul Wanasara. Hewan ini dipelihara dengan bebas berkeliaran di tengah pemukiman penduduk.

Di sungai-sungai kecil dan kedhung - kedhung terdapat Udang Batu, Ikan Betik, Ikan Wader(Lunjar) Ikan Gabus (Bogo) dan Pelus. Di hutan-hutan tak jarang juga terdapat hewan endemik seperti Ular Sanca Kembang (Ula Weling) Burung Kepodang, Burung Kutilang, Burung Emprit Gantil, Burung Elang Jawa (Gaok), Semut Kroto, Burung Hantu (Buwek), Luwak (Nggarangan) dan Tupai. Sayangnya, banyak perburuan liar menyebabkan hewan-hewan endemik tersebut berkurang populasinya. Bahkan hewan-hewan yang sudah punah seperti Lutung Jawa (Kethek), Babi Hutan (Celeng), Kucing Liar (Mblacan) dan Macan Kumbang (Gogor) di Desa Klinting ini habis ditengarai karena aktivitas perburuan tersebut.

Olahraga

Di Desa Klinting terdapat dua lapangan, yakni Lapangan Multiguna Giri Tumpeng Jaya di Grumbul Wanasara Wetan dan Lapangan Voli Karetan di Grumbul Gandasuli Kulon. Maka olahraga yang sering dimainkan yaitu Bola Voli dan Sepakbola. Terkhusus di sepakbola rutin diadakan turnamen antar Grumbul se-desa Klinting pada bulan Agustus. Adapun tim-tim yang biasanya ikut serta antara lain: 1. Galitan (Grumbul Gandasuli Wetan)

2. Sincan (Grumbul Wanasara Wetan)

3. Lintang (Grumbul Karangpucung)

4. Depok (Grumbul Jumbul Lor)

5. Jumbul (Grumbul Jumbul Wetan dan Grumbul Jumbul Kulon)

6. Wanasara Kulon (Grumbul Wanasara Kulon)

7. Garuda Muda (Grumbul Klinting)

8. Wanasara Wetan ( Grumbul Wanasara Wetan)

Lembaga Desa

Desa Klinting selain terdapat Pemrintahan Desa yang notabene lembaga administratif dibawah naungan negara langsung terdepat pula lembaga masyarakat yang dikelola secara swadaya maupun semi otonom yang bersinggungan dengan pemerintah desa secara langsung dan tidak langsung, lembaga tersebut antara lain:

1. SD Negeri 1 Klinting, berkedudukan di Jumbul Kulon

2. SD Negeri 2 Klinting, berkedudukan di Wanasara Kulon

3. Takmir Masjid Al Furqon, bernaung di Masjid Al Furqon

4. Karang Taruna, lembaga di bawah Pemerintahan Desa yang mengurusi problem kepemudaan. Aktif saat peringatan HUT RI.

5. PKK, berupa arisan rutin maupun pemberdayaan wanita lainnya.

6. Genjringan, berupa Kelompok Sholawat dan Musik Hadroh Ibu Rumah Tangga.

7. Klinting Putra, yakni tim sepakbola Desa Klinting. Tak jarang mengadakan laga eksebisi dengan desa lain.

8. Paguyuban Ebeg, Kelompok Pelestarian Kesenian Banyumasan.

Fasilitas Publik

Fasilitas di Desa Klinting merupakan sarana milik umum yang bisa diakses oleh siapapun bagi yang berkepentingan.

1. Jalan Sokawera-Sumpiyuh.

2. Jalan Somagede-Bangsawijaya

3. Jalan Somagede-Wanasara

4. Jembatan Curug Gong

5. Masjid Al-Furqon

6. Pura Giri Kendeng

7. Balai Desa Klinting

8. Watu Lintang

9. Dermaga Udara Lemah Abang

10. Lapangan Giri Tumpeng Jaya

11. Pusat Layanan Terpadu Desa Klinting

12. Siluk Perbatasan Desa Klinting dan Kemawi

12. Hutan Seprih

12. Hutan Lembah Curuggadung

13. Hutan alas Tuo

14. Batur Balai Desa Cangkring

15. Batur Lapangan Voli Gandasuli Kulon.