Kisah Para Rasul 5

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
pasal 4       Kisah Para Rasul 5       pasal 6
Uncial 0189, 200 CE

Kisah Para Rasul 5:12-21 pada naskah Uncial 0189 yang dibuat pada sekitar tahun 200 M.
Kitab: Kisah Para Rasul
Bagian Alkitab: Perjanjian Baru
Kitab ke- 5
Kategori: Sejarah gereja

Kisah Para Rasul 5 (disingkat Kis 5) adalah pasal kelima Kitab Kisah Para Rasul, dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen, yang ditulis oleh Lukas, seorang Kristen dan teman seperjalanan Rasul Paulus.[1] Pasal ini berisi kisah perkembangan gereja mula-mula yang menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam (Ananias dan Safira), maupun dari luar (Mahkamah Agama Yahudi).[2]

Teks[sunting | sunting sumber]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Terjemahan Baru (TB) membagi pasal ini:

Ayat 1-11[sunting | sunting sumber]

Ananias dan Safira adalah dua orang dalam gereja mula-mula yang berkomplot untuk berdusta. Harta hasil penjualan tanahnya tidak diberikan seluruhnya sebagai persembahan di dekat kaki Rasul-rasul, termasuk Petrus. Namun, atas kuasa Roh Kudus, perbuatan mereka diketahui dan mereka dikatakan mendustai Roh Kudus karena dikuasai Iblis. Lalu keduanya mati, yang pertama Ananias, lalu tiga jam kemudian Safira, yang bersaksi sama (dusta) dengan suaminya.[3]

Ayat 15[sunting | sunting sumber]

bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka. (TB)[4]

Ayat 16[sunting | sunting sumber]

Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan. (TB)[5]

Para rasul melakukan apa yang dilakukan oleh Tuhan sendiri; mereka menyembuhkan orang yang dirasuk setan (lihat Markus 1:34) dan kenyataan ini menjadi tanda yang terpenting bahwa kerajaan Allah telah datang dengan kuasa di antara manusia.[6] Tidak pernah salah untuk berdoa supaya melalui Roh Kudus orang dapat melakukan hal-hal yang baik dan menyembuhkan mereka yang sakit dan dikuasai setan (Kisah Para Rasul 4:30).[6]

Ayat 29[sunting | sunting sumber]

Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ”Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” (TB)[7]

Petrus menempatkan otoritas Allah (dalam wujud perintah Yesus di pasal 1 ayat 8 di atas otoritas imam-imam yang melarang mereka bersaksi di pasal 5 ayat 28 (dengan demikian bertentangan dengan perintah Yesus). Pertanyaan yang harus senantiasa ditanyakan oleh orang percaya ialah, "Apa yang berkenan di hadapan Allah?" dan bukan, "Apakah hal itu bijaksana, aman, menyenangkan dan disukai orang lain?" (bandingkan Galatia 1:10).[6]

Ayat 34[sunting | sunting sumber]

Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar. (TB)[8]

Pada Kisah Para Rasul 4:1 dan Kisah Para Rasul 5:7 disebutkan bahwa ada suatu kelompok Saduki yang berpengaruh di dalam Sanhedrin, karenanya pada ayat ini secara khusus dinyatakan bahwa Gamaliel adalah seorang Farisi.[9] Tidak diragukan bahwa hal ini saja sudah membuatnya cenderung menentang pendapat anggota kelompok Saduki, dan lebih-lebih jika doktrin "Kebangkitan Orang Mati" dipertanyakan (lihat Kisah Para Rasul 23:6-8), apalagi Gamaliel yang disebut di sini juga sama dengan dalam Kisah Para Rasul 22:3, di mana pada kakinya rasul Paulus dibesarkan di Yerusalem, dan dikenal dalam Talmud sebagai "Rabban Gamaliel yang Tua" (untuk membedakan dengan cucunya yang bernama sama, dengan tambahan julukan "Yang Muda"), cucu Hillel, pemimpin "Sekolah Hillel", dan pada suatu waktu menjadi presiden Sanhedrin, salah satu Doktor Yahudi yang paling terkenal (sebagaimana ditunjukkan oleh gelar "Rabban", yang hanya diberikan kepada enam orang selain dia).[9] Deskripsi sebagai Doktor Hukum (Taurat), penghormatan orang banyak dan penggambarannya sebagai seorang guru yang besar, terpelajar dalam kesempurnaan hukum-hukum para leluhur, dan kemasyhurannya menjadi perisai bagi para muridnya (seperti dalam Kisah Para Rasul 22:3; kesesuaian kronologi dan pengaruhnya di Sanhedrin, yang dikuasai oleh kelompok Saduki, kesesuaian karakternya maupun perkataannya sebagaimana ditulis dalam Talmud, membuat identitasnya sudah dipastikan tanpa keraguan.[9]

Ayat 37[sunting | sunting sumber]

[Gamaliel berkata:] "Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya." (TB)[10]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
  2. ^ John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 979-415-905-0.
  3. ^ (Indonesia)Darmawijaya., "Kisah Para Rasul", Yogyakarta: Kanisius, 2006
  4. ^ Kisah Para Rasul 5:15 - Sabda.org
  5. ^ Kisah Para Rasul 5:16 - Sabda.org
  6. ^ a b c The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  7. ^ Kisah Para Rasul 5:29 - Sabda.org
  8. ^ Kisah Para Rasul 5:34 - Sabda.org
  9. ^ a b c Joseph S. Exell; Henry Donald Maurice Spence-Jones (Editors). On "Acts 5". In: The Pulpit Commentary. 23 volumes. First publication: 1890. Diakses 24 April 2018. Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  10. ^ Kisah Para Rasul 5:37 - Sabda.org
  11. ^ Kinman, Brent, Jesus' Entry Into Jerusalem: In the Context of Lukan Theology and the Politics of His Days, BRILL, 1995, p. 18 [1]
  12. ^ Yosefus. Antiq. Vol. 18, Bab 1, §1, 6. Kutipan: Namun ada seorang Yudas, orang Gaulonitis, dari satu kota bernama Gamala, yang membawa bersamanya Sadduc, seorang Farisi, menjadi giat mendorong mereka untuk memberontak, di mana keduanya berkata pemungutan pajak ini tidak lebih baik dari pemaksaan perbudakan, dan menghasut bangsa itu untuk memperjuangkan kemerdekaan mereka... Tetapi sekte filsafat Yahudi keempat, Yudas dari Galilea adalah penggagasnya.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]