Isoniazid

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Isoniazid
Nama sistematis (IUPAC)
Piridin-4-karbohidrazida
Data klinis
Nama dagang Hydra, Hyzyd, Isovit, lainnya
AHFS/Drugs.com monograph
MedlinePlus a682401
Kat. kehamilan C(US)
Status hukum ? (US)
Rute mulut, intramuskular, intravena
Data farmakokinetik
Ikatan protein 0–10%
Metabolisme hati; CYP450: inhibitor 2C19, 3A4
Waktu paruh 0,5–1,6 jam (asetilator cepat), 2-5 jam (asetilator lambat)
Ekskresi urin (utama), feses
Pengenal
Nomor CAS 54-85-3 YaY
Kode ATC J04AC01
PubChem CID 3767
DrugBank DB00951
ChemSpider 3635 YaY
UNII V83O1VOZ8L YaY
KEGG D00346 YaY
ChEBI CHEBI:6030 YaY
ChEMBL CHEMBL64 YaY
NIAID ChemDB AIDSNO:007657
Sinonim asam isonikotinat hidrazida, isonikotinil hidrazin, INH
Data kimia
Rumus C6H7N3O 
Massa mol. 137,139 g/mol
SMILES eMolecules & PubChem

Isoniazid, atau isonikotinilhidrazida (INH), merupakan antibiotik yang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis.[1] Obat ini digunakan dalam bentuk kombinasi dosis tetap dengan beberapa obat lain antara lain rifampisin, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin.[2] Untuk tuberkulosis yang bersifat laten, isoniazid digunakan sebagai agen tunggal.[1] Isoniazid juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi Mycobacterium lainnya seperti M. avium, M. kansasii, dan M. xenopi.[1] Isoniazid diberikan dalam bentuk tablet dan diminum.[1]

Efek samping yang sering terjadi antara lain peningkatan kadar enzim hati dan mati rasa di tangan dan kaki.[1] Sementara efek samping berat yang mungkin terjadi adalah hepatitis.[1] Keamanan penggunaan isoniazid selama kehamilan masih belum dikehatui.[3] Penggunaan isoniazid selama menyusui dapat dikatakan aman.[3] Piridoksin dapat diberikan untuk mengurangi risiko efek samping mati rasa pada tangan dan kaki.[4] Mekanisme kerja isoniazid adalah mengganggu pembentukan dinding sel bakteri yang mengakibatkan kematian sel.[1]

Isoniazid pertama kali ditemukan pada tahun 1952.[5] Isoniazid masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[6] Isoniazid tersedia dalam bentuk generik.[1] Biaya pengobatan dengan isoniazid di negara berkembang adalah sekitar US$ 0,60-4,75 per bulan.[7] Di Amerika Serikat biaya pengobatan selama sebulan kurang dari $25.[8] Di Indonesia, pengobatan untuk tuberkulosis ditanggung oleh pemerintah sepenuhnya dan pasien dapat berobat secara gratis.[9][10]

Indikasi[sunting | sunting sumber]

Tuberkulosis[sunting | sunting sumber]

Isoniazid umunya digunakan untuk mengobati tuberkulosis baik yang bersifat aktif maupun laten. Pada pasien yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis yang masih peka terhadap isoniazid, isoniazid efektif untuk mengobati tuberkulosis selama pasien patuh dengan pengobatan yang ditentukan. Namun, pada pasien yang resisten terhadap isoniazid, isoniazid tidak dapat digunakan karena tingkat kegagalan pengobatan yang tinggi.[11]

Mycobacterium non-TB[sunting | sunting sumber]

Isoniazid juga digunakan untuk pengobatan Mycobacterium avium dan digunakan bersamaan dengan rifampisin dan etambutol.[12] Isoniazid dapat mencegah sintesis asam mikolat pada M. avium sama seperti pada M. tuberculosis.[13] Walau tidak dapat membunuh bakteri M. avium, isoniazid dapat meningkatkan efektivitas pengobatan rifampisin. Hanya saja, setelah dikembangkan antibiotik golongan makrolida membuat penggunaan kombinasi obat tersebut menurun.[14]

Pasien tertentu[sunting | sunting sumber]

Isoniazid direkomendasikan untuk pasien TB aktif yang sedang hamil atau menyusui.[15] INH terdapat dalam ASI dengan kadar yang rendah dan tidak menimbulkan efek toksisitas, sehingga kemungkinan terjadinya efek samping pada bayi relatif rendah. Baik wanita hamil dan bayi yang disusui oleh ibu yang memakai INH harus mengonsumsi vitamin B6 dalam bentuk piridoksin untuk meminimalkan risiko kerusakan saraf perifer.[16] Vitamin B6 digunakan untuk mencegah defisiensi B6 yang disebabkan isoniazid dan neuropati pada pasien yang memiliki faktor risiko, seperti hamil, menyusui, infeksi HIV, alkoholisme, diabetes, gagal ginjal, atau kekurangan gizi.[17]

Pasien dengan gangguan hati berisiko lebih tinggi untuk mengalami hepatitis yang disebabkan oleh INH, sehingga memerlukan penyesuaian dosis.[15]

Kadar enzim hati dalam aliran darah harus sering diperiksa pada peminum alkohol, wanita hamil, pengguna narkoba suntik, pasien berusia di atas 35, dan pasien dengan penyakit hati kronis, gangguan ginjal berat, neuropati perifer, atau infeksi HIV karena mereka lebih berisiko mengalami hepatitis akibat penggunaan INH.[15][18]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h "Isoniazid". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016. 
  2. ^ WHO Model Formulary 2008 (PDF). World Health Organization. 2009. hlm. 136. ISBN 9789241547659. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016. 
  3. ^ a b "Isoniazid (Nydrazid) Use During Pregnancy". www.drugs.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 10 December 2016. 
  4. ^ Hamilton, Richart (2015). Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. hlm. 49. ISBN 9781284057560. 
  5. ^ Walker, S. R. (2012). Trends and Changes in Drug Research and Development (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. hlm. 109. ISBN 9789400926592. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-09-10. 
  6. ^ "WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016. 
  7. ^ "Isoniazid". International Drug Price Indicator Guide. Diakses tanggal 8 December 2016. 
  8. ^ Hamilton, Richart (2015). Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. hlm. 49. ISBN 9781284057560. 
  9. ^ "Kementerian Kesehatan Republik Indonesia". www.depkes.go.id. Diakses tanggal 2019-07-01. 
  10. ^ "Berobat, Pasien TB tak Dikenakan Biaya". Republika Online. 2017-03-25. Diakses tanggal 2019-07-01. 
  11. ^ "Treatment of isoniazid-resistant tuberculosis with first-line drugs: a systematic review and meta-analysis". Lancet Infect Dis. 17 (2): 223–234. February 2017. doi:10.1016/S1473-3099(16)30407-8. PMID 27865891. 
  12. ^ Research Committee of the British Thoracic Society (2001). "First randomised trial of treatments for pulmonary disease caused by M avium intracellulare, M malmoense, and M xenopi in HIV negative patients: Rifampicin, ethambutol and isoniazid versus rifampicin and ethambutol". Thorax. 56 (3): 167–72. doi:10.1136/thorax.56.3.167. PMC 1758783alt=Dapat diakses gratis. PMID 11182006. 
  13. ^ Mdluli, K; Swanson, J; Fischer, E; Lee, R. E; Barry Ce, 3rd (1998). "Mechanisms involved in the intrinsic isoniazid resistance of Mycobacterium avium". Molecular Microbiology. 27 (6): 1223–33. doi:10.1046/j.1365-2958.1998.00774.x. PMID 9570407. 
  14. ^ Van Ingen, J; Egelund, E. F; Levin, A; Totten, S. E; Boeree, M. J; Mouton, J. W; Aarnoutse, R. E; Heifets, L. B; Peloquin, C. A (2012). "The pharmacokinetics and pharmacodynamics of pulmonary Mycobacterium avium complex disease treatment". American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 186 (6): 559–65. doi:10.1164/rccm.201204-0682OC. PMID 22744719. 
  15. ^ a b c "DailyMed - ISONIAZID- isoniazid tablet". 
  16. ^ Bothamley, G. (2001). "Drug treatment for tuberculosis during pregnancy: safety considerations". Drug Safety. 24 (7): 553–565. doi:10.2165/00002018-200124070-00006. PMID 11444726. 
  17. ^ Steichen, O.; Martinez-Almoyna, L.; De Broucker, T. (April 2006). "Isoniazid induced neuropathy: consider prevention" (PDF). Revue des Maladies Respiratoires. 23 (2 Pt 1): 157–160. doi:10.1016/S0761-8425(06)71480-2. PMID 16788441. 
  18. ^ Saukkonen, J.J.; Cohn, D.L.; Jasmer, R.M. (October 15, 2006). "An official ATS statement: hepatotoxicity of antituberculosis therapy". American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 174 (8): 935–952. doi:10.1164/rccm.200510-1666ST. PMID 17021358.