Hubungan Jepang dengan Jerman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hubungan Jerman–Jepang
Peta memperlihatkan lokasiGermany and Japan

Jerman

Jepang
Dibangun kembali pada 1990an, kedutaan besar Jepang di Jalan Hiroshima di Berlin aslinya dibangun dari 1938 sampai 1942, dan menjadi sebuah lambang hubungan Jepang-Jerman sejak saat itu.
Kedutaan Besar Jerman di Jepang

Hubungan Jepang dan Jerman didirikan pada 1860 dengan kunjungan kedutaan besar pertama ke Jepang dari Prusia (sebelum pembentukan Kekaisaran Jerman pada 1871). Jepang yang melakukan modernisasi setelah Restorasi Meiji pada 1867, sering menggunakan model-model Jerman dalam pertukaran kebudayaan dan pengetahuan. Setelah 1900, Jepang bersekutu dengan Inggris, dan Jerman dan Jepang menjadi bermusuhan pada Perang Dunia I. Jepang mendeklarasikan perang kepada Jerman pada 1914

Perbandingan negara[sunting | sunting sumber]

Bendera Jerman Jerman Bendera Jepang Jepang
Jumlah Penduduk 82,029,000 130, 053,000
Luas Wilayah 357,021 km2 (137,847 sq mi) 377,944 km2 (145,925 sq mi )
Kepadatan Penduduk 229/km2 (593/sq mi) 344/km2 (891/sq mi)
Ibu kota Berlin Tokyo
Kota Terbesar Berlin – 3,513,026 (6,000,000 Metro) Tokyo – 13,185,502 (35,682,460 Metro)
Pemerintahan Republik konstitusional parlementer federal Monarki konstitusional parlementer unitari
Bahasa resmi Jerman (de facto dan de jure) Jepang (de facto)
Agama utama 67.07% Kristen, 29.6% non-agamis, 5% Islam,
0.25% Buddha, 0.25% Yudaisme, 0.1% Hindu, 0.11% Sikhism
83.9% Shinto, 71.4% Buddha, 2% Kristen, 7.8% Lain-lain
Kelompok etnis 80.0% Jerman,[1][2][3][4] 5% Turki, 15% lain-lain 98.5% Jepang, 0.5% Korea, 0.4% Tionghoa, 0.6% lain-lain
GDP (nominal) $3.577 triliun, (per kapita $43,741) $5.869 triliun, (per kapita $45,920)
Jumlah ekspatriat 5,971 orang kelahiran Jerman yang tinggal di Jepang 35,725 orang kelahiran Jepang yang tinggal di Jerman
Ekspeditur militer $46.7 miliar[5] $59.3 miliar[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Inggris[sunting | sunting sumber]

  • Akira, Kudo. (1998) Japanese-German Business Relations: Co-operation and Rivalry in the Interwar Period (Nissan Institute/Routledge Japanese Studies) (1998)
  • Baskett, Michael (2009). "All Beautiful Fascists?: Axis Film Culture in Imperial Japan" in The Culture of Japanese Fascism, ed. Alan Tansman. Durham: Duke University Press. pp. 212–234. ISBN 0-8223-4452-1
  • Martin, Bernd (2005). Japan and Germany in the Modern World. Berghahn Books. 
  • Hübner, Stefan (2012), "National Socialist Foreign Policy and Press Instructions, 1933-1939: Aims and Ways of Coverage Manipulation based on the Example of East Asia," International History Review 34#2 pp 271–291. online
  • Katada, Saori N., Hanns Maull and Takashi Inoguchi, eds. Global Governance: Germany and Japan in the International System (2004)
  • Presseisen, Ernst L. (1958) Germany and Japan – A Study in Totalitarian Diplomacy 1933–1941. The Hague: Martinus Nijhoff.
  • Spang, Christian W. and Rolf-Harald Wippich (eds.). (2006) Japanese–German Relations, 1895–1945. War, Diplomacy and Public Opinion (ISBN 0-415-34248-1). London: Routledge. excerpt and text search
  • Warner, Geoffrey. "From Pearl Harbour to Stalingrad: Germany and its Allies in 1942," International Affairs, April 1978, Vol. 54 Issue 2, pp 282–92
  • Weinberg, Gerhard L. A World at Arms (2nd ed 2013) global history of WW2 by leading expert on German diplomacy excerpt and text search

Bahasa lain[sunting | sunting sumber]

  • Hübner, Stefan (2009) Hitler und Ostasien, 1904 bis 1933. Die Entwicklung von Hitlers Japan- und Chinabild vom Russisch-Japanischen Krieg bis zur "Machtergreifung" [Hitler and East Asia, 1904 to 1933. The Development of Hitler’s Image of Japan and China from the Russo-Japanese War to the "Coming to Power"], in OAG-Notizen 9/2009, 22–41.
  • Ishii, Shiro et al. (ed.): Fast wie mein eigen Vaterland: Briefe aus Japan 1886–1889. [Almost as my own Motherland: Letters from Japan]. München: Iudicium 1995.
  • Kreiner, Josef (ed.). (1984) Deutschland – Japan. Historische Kontakte [Germany – Japan. Historical Contacts]. Bonn: Bouvier.
  • Kreiner, Josef (ed.). (1986) Japan und die Mittelmächte im Ersten Weltkrieg und in den zwanziger Jahren [Japan and the Central Powers in World War I and the 1920s]. Bonn: Bouvier.
  • Kreiner, Josef and Regine Mathias (ed.). (1990) Deutschland–Japan in der Zwischenkriegszeit [Germany – Japan in the inter-war period]. Bonn: Bouvier.
  • Pantzer, Peter und Saaler, Sven: Japanische Impressionen eines Kaiserlichen Gesandten. Karl von Eisendecher im Japan der Meiji-Zeit/明治初期の日本 - ドイツ外交官アイゼンデッヒャー公使の写真帖より (A German Diplomat in Meiji Japan: Karl von Eisendecher. German/Japanese). München: Iudicium, 2007.
  • Martin, Bernd and Gerhard Krebs (eds.). (1994) Formierung und Fall der Achse Berlin–Tôkyô [Construction and Fall of the Berlin–Tôkyô Axis]. Munich: iudicium.
  • Martin, Bernd. (2001) Deutschland und Japan im Zweiten Weltkrieg 1940–1945, Vom Angriff auf Pearl Harbor bis zu deutschen Kapitulation Nikol Verlagsgesellschaft mdH & Co. KG,Hamburg.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]