Hubungan Jepang dengan Taiwan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hubungan Taiwan-Jepang
Peta memperlihatkan lokasiJepang and Taiwan

Jepang

Taiwan
Misi diplomatik
Asosiasi Pertukaran Jepang–Taiwan Kantor Perwakilan Ekonomi dan Kebudayaan Taipei di Jepang
Para anggota prefektur Iwate berterima kasih kepada Taiwan setelah gempa bumi tahun 2011

Setelah Komunike Bersama Jepang-RRT pada 1972, Jepang mencabut pengakuan terhadap Republik Tiongkok (Taiwan) sebagai pemerintahan resmi tunggal dari China. Namun, Jepang memiliki hubungan tingkat pekerjaan non-pemerintahan dengan Taiwan.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada 1600an, terdapat perdagangan antara Jepang dan Taiwan. Belanda mengkolonisasi Taiwan sebagai basis dagang dengan Jepang pada 1924. Pada era Kerajaan Tungning (1662–83), Jepang membawa kulit rusa, gula dan sutra dari Taiwan dan menjual metal presius, porselen, senjata dan pakaian kapas. Uang Jepang dipakai di taiwan pada masa itu dan para pedagang Jepang diijinkan tinggal di Keelung.[2][3][4]

Pada 1874, pasukan Jepang menginvasi selatan Taiwan untuk menyerang suku-suku penduduk asli, dalam membalas pembunuhan 54 perajurit Ryukyu pada 1871.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www.mofa.go.jp/region/asia-paci/taiwan/pdfs/japan-taiwan_relations.pdf
  2. ^ 《台灣史101問》,頁109
  3. ^ 《臺灣政治史》,頁62-63
  4. ^ 鄭氏時期總論

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Cohen, J 1973 The Dynamics of China's Foreign Relations, p. 50-56, Harvard University Press, Cambridge
  • Iriye, A. Cohen, W 1989 The United States and Japan in the Postwar World, p. 21-34, The University Press of Kentucky, Lexington
  • Hu, S. ‘Japan and the Cross-Taiwan Strait Conflict,’ Journal of Chinese Political Science, Vol. 11, No. 2 (Fall 2006): pp. 83–103.
  • Schonberger, H 1989 Aftermath of War - Americans and the Remaking of Japan, 1945–1952, p. 275-285, The Kent State University Press, Kent
  • Wilkins, Thomas, ‘Taiwan-Japan Relations in an Era of Uncertainty’ Asia Policy, Vol. 13, (January 2012), pp. 113–132.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]