Ghibah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Ghibah (bahasa Arab: غِيبَة, translit. ḡība, har. 'gunjing'‎) adalah pembicaraan jahat tentang seseorang yang tidak hadir. Pembicaraan itu benar atau tidak tidak penting. Prinsip utamanya adalah kata-kata akan menyakiti hati orang yang dibicarakan. Menurut agama Islam ghibah adalah sebuah dosa. Istilah ghibah mirip dengan gosip, fitnah, dan buhtan.[1] Jika pembicaraan jahat tentang seseorang tidak benar, maka dosanya disebut buhtan, yaitu dosa yang lebih besar daripada ghibah.[2]

Dalam agama Islam, ghibah adalah dosa besar jika dilakukan terhadap seorang muslim yang saleh. Namun, jika ghibah dilakukan terhadap muslim berdosa, itu tidak selalu merupakan dosa besar.[3]

Dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammadﷺ, konsep ghibah disamakan dengan memakan bangkai saudaranya sendiri:[4]

[5]

Contoh-contoh ghibah[sunting | sunting sumber]

Ghibah dapat berbentuk apa saja yang tidak disukai oleh orang yang dibicarakan. Contoh yang dapat dianggap sebagai ghibah adalah frasa-frasa berikut:

  • Dia pendek
  • Dia juling
  • Dia kasar
  • Dia terlalu suka tidur
  • Rumahnya selalu berantakan
  • Anaknya kurang ajar
  • Dia dikendalikan oleh istrinya
  • Dia terlalu gemuk
  • Dia tidak memiliki selera yang baik
  • Mobilnya jelek[6]

Kasus-kasus ketika ghibah diizinkan[sunting | sunting sumber]

Para ulama menyatakan bahwa ghibah diizinkan dalam situasi tertentu:

  1. Seseorang yang dizalimi diperbolehkan mengeluh kepada penguasa atau hakim atau orang lain yang berwenang atau mampu menyelesaikan masalah dengan orang yang menganiayanya.
  2. Mencari bantuan untuk mengubah kejahatan dan membawa orang berdosa kembali ke jalan yang benar.
  3. Meminta nasehat atau fatwa, dengan mengatakan kepada mufti (ulama), “Orang ini menganiaya saya dengan melakukan ini dan itu, apakah dia berhak melakukan itu? Bagaimanakah saya bisa menyelesaikan masalah ini dan menghindari kerugiannya dari saya?”
  4. Memperingatkan kaum muslimin tentang tingkah laku jahat. Ini juga termasuk memperingatkan seseorang yang membeli barang cacat, atau seseorang yang menemani pencuri atau pezina dan sejenisnya. Orang harus diberi tahu tentang perkara berbahaya dengan nasihat yang tulus, tanpa tujuan menyebabkan kerugian.
  5. Jika seseorang secara terang-terangan melakukan kejahatan atau mengikuti bidah, seperti minum alkohol dan merampas kekayaan orang.
  6. Sebagai tanda pengenal, jika seseorang dikenal dengan nama panggilan seperti si rabun, atau si buta atau si bermata satu atau si lumpuh, maka dibolehkan untuk mengidentifikasi orang tersebut dengan sebutan itu. Tetapi adalah haram untuk menyebutkannya dengan cara meremehkan, dan jika mungkin untuk mengenalinya dengan cara lain, itu lebih baik.[7]

Ghibah dalam agama lain[sunting | sunting sumber]

Meskipun kata ghibah pada mulanya adalah istilah Islam, namun kata ini mempunyai padanan dalam bahasa lain dan dapat termasuk dalam kategori gunjing. Perkara ini telah dianalisis oleh ulama agama lain.

Agama Buddha[sunting | sunting sumber]

Dalam agama Buddha, ghibah bertentangan dengan ideal Ucapan Benar (sammä-väcä).

Salah satu cara untuk menghindari menyakiti diri sendiri dan orang lain dalam agama Buddha adalah mengunakan Ucapan Benar – komponen ketiga dari Jalan Utama Berunsur Delapan. Sang Buddha mengajarkan untuk menghindari ucapan palsu, ucapan fitnah, ucapan kasar, dan ucapan kosong – yang terakhir termasuk gunjing. Sang Buddha menyuruh untuk menahan diri dari obrolan kosong atau gosip.[8]

Agama Hindu[sunting | sunting sumber]

Menurut agama Hindu kebiasaan buruk ini hanya menciptakan banyak konflik dan kesalahpahaman. Gunjing merupakan Karma yang sangat buruk menurut kitab suci Hindu.[9]

Gunjing dan gosip yang menyakitkan adalah pemborosan atau disipasi kekuatan spiritual kreatif. Pembuangan energi itu buruk, tetapi orang-orang melakukannya ketika mereka bergosip.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Gossip (Ghibah), Slander (Buhtan), and Talebearing (Namimah)". www.islam.ms (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-08-13. 
  2. ^ Islam-Risalyat.ru (2017-04-13). "Злословие и сплетни". МЕСТНАЯ РЕЛИГИОЗНАЯ ОРГАНИЗАЦИЯ «Община мусульман «Рисалят» (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 2021-08-13. 
  3. ^ "Gossip (Ghibah), Slander (Buhtan), and Talebearing (Namimah)". www.islam.ms (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-08-13. 
  4. ^ Gıybet (dedikodu) - [Arap Reklamı], diakses tanggal 2021-08-13 
  5. ^ "Surah Al Hujurat ayat 12 [QS. 49:12] » Tafsir Alquran (Surah nomor 49 ayat 12)". Diakses tanggal 2021-08-13. 
  6. ^ "Gossip (Ghibah) and Tale-Bearing (Namimah)". Darulfatwa Australia (dalam bahasa Inggris). 2021-02-27. Diakses tanggal 2021-08-13. 
  7. ^ "Situations in Which Gheebah ("Backbiting") is Permitted - Islam Question & Answer". islamqa.info (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-08-13. 
  8. ^ "The Importance of Right Speech in Buddhism and its Relevance" (PDF). Journal of Religion and Theology. 
  9. ^ "Ideals and Values/Gossiping, Backbiting - Hindupedia, the Hindu Encyclopedia". www.hindupedia.com. Diakses tanggal 2021-08-13. 
  10. ^ "Swearing and Backbiting and Gossip". Hinduism Today (dalam bahasa Inggris). 2001-01-01. Diakses tanggal 2021-08-13.