Gereja Kalvari, Lubang Buaya
| Gereja Kalvari | |
|---|---|
| Gereja Kalvari, Paroki Lubang Buaya | |
Gereja Kalvari, Paroki Lubang Buaya | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Jalan Masjid Al Umar, Lubang Buaya, Jakarta Timur 13810 |
| Negara | Indonesia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Situs web | kalvari |
| Sejarah | |
| Dedikasi | Kalvari |
| Arsitektur | |
| Status | Paroki |
| Status fungsional | Aktif |
| Administrasi | |
| Paroki | Lubang Buaya |
| Dekenat | Bekasi |
| Keuskupan Agung | Jakarta |
| Provinsi | Jakarta |
| Klerus | |
| Uskup Agung | Ignatius Kardinal Suharyo |
| Imam kepala | R.D. Johan Ferdinand Wijshijer |
| Imam rekan | R.D. Gregorius Wilson |
Gereja Kalvari adalah sebuah gereja paroki Katolik yang berlokasi di Jakarta Timur, Indonesia. Gereja ini berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan menjadi pusat Paroki Lubang Buaya. Gereja Kalvari dinamai menurut Kalvari atau yang dikenal sebagai Golgota, yakni lokasi penyaliban Yesus. Gereja ini berada dalam reksa pastoral para imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Wilayah Lubang Buaya pada awalnya merupakan bagian dari Gereja Santo Robertus Bellarminus, Cililitan. Uskup Agung Jakarta Leo Soekoto, S.J. menyatakan dukungan atas rencana Paroki Cililitan. Pada Agustus 1981, Dewan Paroki Cililitan membeli sebidang tanah di kawasan Pondok Gede yang akan digunakan untuk membangun sekolah. Pada Oktober 1986, Panitia Sementara Pembangunan Gereja Pondok Gede mulai dibentuk, dan setelah itu Perayaan Ekaristi mulai diselenggarakan di Aula Kologad dan di Kapel Santa Catharina. Pada 5 Februari 1987, Uskup Agung Soekoto menetapkan lokasi tersebut sebagai lahan pembangunan gereja.
Pada 9 Agustus 1987, misa pertama diadakan di Aula Kologad dan kemudian dipindahkan ke Sekolah Santo Markus II.[1] Pada 17 Agustus 1987, Pastor Kepala Paroki Cililitan, R.P. Justinus Muji Santara, S.J., menamai umat di wilayah ini sebagai "Umat Kalvari". Pada 25 Maret 1991, Mgr. Leo mengeluarkan surat pembatalan pembentukan Paroki Kalvari karena koefisien dasar bangunan (KDB) telah digunakan seluruhnya untuk pembangunan gedung Sekolah Santo Markus II, sementara sertifikat tanah tersebut masih atas nama Yayasan Santo Markus.
Pada 14 September 1991, Uskup Soekoto kembali mempertimbangkan perjuangan umat untuk membentuk paroki dengan syarat adanya penambahan KDB. Keputusan ini disambut dengan sukacita oleh umat Kalvari dan tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai saat pengakuan eksistensi calon Paroki Kalvari serta peringatan Pesta Nama Kalvari yang bersamaan dengan Pesta Salib Suci. Mulai dari tanggal ini, umat Kalvari memulai pembangunan gedung gereja. Pada 8 Oktober 1991, umat berhasil memperjuangkan peningkatan KDB hingga menjadi 40%, dengan keterlibatan kuat sejumlah tokoh awam Kalvari.
Pembangunan gedung gereja awal ditandai dengan peletakan batu pertama pada 7 Februari 1993 oleh R.P. Franciscus Xaverius Arko Sudiono, S.J.[2] Gedung gereja ini disebut sebagai bedeng dan diberkati oleh Uskup Agung Leo Soekoto pada 4 April 1993. Pada 25 Maret 1995, Pastor Suryo Suryatmo, S.J., yang menjabat sebagai Pastor Paroki Cililitan, mengirimkan surat kepada Keuskupan Agung Jakarta bahwa umat Kalvari telah siap menjadi paroki.
Paroki Lubang Buaya resmi berdiri pada 1 Juli 1995 berdasarkan surat keputusan Uskup Agung Jakarta dan dikelola oleh Kongregasi Oblat Maria Imakulata (O.M.I.). Pastor paroki pertama yang bertugas adalah R.P. Petrus McLaughlin, O.M.I. Selain itu, R.P. Peter Kurniawan Subagyo, O.M.I., juga pernah melayani umat di paroki ini. Pada tahun 2006, para imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta mulai bertugas di Gereja Kalvari Lubang Buaya. Selama masa penggunaan bedeng, gereja ini beberapa kali mengalami banjir akibat luapan Kali Sunter.[3]
- Aula Kologad
- Lapangan Santo Markus 2
- Peletakan batu pertama gereja bedeng
- Tampak depan gereja bedeng
- Gereja bedeng saat mengalami banjir
- Altar gereja lama
- Tampak dalam gereja lama
Pembangunan gedung
[sunting | sunting sumber]
Sejak awal masa tugasnya di Paroki Lubang Buaya, Pastor Johan Ferdinand Wijshijer (Romo Fe) terus memperjuangkan terbitnya izin mendirikan bangunan (IMB) untuk gereja. Upaya tersebut dimulai dengan penyelesaian pemisahan sertifikat tanah antara Gereja dan Sekolah Santo Markus yang rampung pada 13 September 2017. Pada 10 November 2020, Romo Fe secara mendadak mengundang tim PPG, dan menginisiasi penyebaran formulir permohonan dukungan atau pernyataan tidak keberatan dari warga non-Katolik. Sementara itu, proses pendekatan lintas tokoh agama juga dilakukan. Pada 25 Maret 2021, K.H. Ibnu Mulkan seorang tokoh Nahdlatul Ulama Jakarta Timur yang juga merupakan anak dari K.H. Mohammad Syakrim, berkunjung untuk pertama kalinya ke Gereja Bedeng Kalvari. Kunjungan tersebut difasilitasi oleh sejumlah tokoh umat. Selanjutnya, pada 24 September 2021, pihak Gereja berkunjung ke kediaman K.H. Mohammad Syakrim. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting karena membantah rumor negatif yang sempat beredar di masyarakat, bahwa pembangunan gereja adalah hal yang tidak dibenarkan. Dalam pertemuan itu, Kyai Syakrim menyambut rombongan Kalvari dengan ramah, termasuk memotong seekor kambing, dan menyatakan dukungannya terhadap kehadiran gereja. Syakrim menyebut Romo Fe sebagai imam katolik pertama yang berkunjung ke kediamannya.

Upaya memperoleh IMB berlanjut ke tingkat pemerintah daerah. Pada 19 Oktober 2021, berlangsung pertemuan dengan Wali Kota Jakarta Timur, M. Anwar. Dalam pertemuan itu, diperdengarkan rekaman provokatif dari salah satu ketua RW yang menolak pembangunan gereja. Wali Kota kemudian menegaskan agar pihak kelurahan dan kecamatan memproses verifikasi berkas IMB tanpa menunggu tanda tangan RW. Proses administrasi tersebut dikawal intensif oleh sejumlah tokoh umat.
Pada 23 November 2021, tim Paroki Lubang Buaya bertemu dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pusat dan memperdengarkan kembali rekaman provokatif tersebut. Pertemuan ini membawa kelancaran proses penerbitan IMB, bahkan FKUB mendorong GPIB, yang berlokasi juga di sekitar Gereja Kalvari, untuk segera mengajukan IMB agar pengurusan izin berjalan paralel. Pada 21 Desember 2021, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyerahkan izin mendirikan bangunan (IMB), dalam sebuah seremoni yang dihadiri oleh Gubernur Baswedan dan Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo.[4] IMB ini menandai sinergi antara pihak paroki dan tokoh masyarakat. Dalam seremoni tersebut juga dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gereja permanen. Satu hari sebelumnya, izin mendirikan bangunan juga diberikan kepada Gereja Damai Kristus, Kampung Duri.[5] Proses pengajuan IMB mengalami masalah karena Koefisien Dasar Bangunan (KDB) tidak lagi cukup untuk dapat membangun gereja, karena adanya bangunan sekolah yang sudah lebih dulu dibangun.[6] Melalui sejumlah usaha, KDB dapat ditingkatkan menjadi 40 persen, sehingga izin kemudian diurus kembali.[6]

Pembangunan gereja berjalan bertahap. Gedung gereja yang baru direncanakan membawa konsep ramah lingkungan. Hal ini dimaksudkan agar Gereja turut memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Gereja awal yang dibangun di tepian sungai, sebelumnya kerap terendam banjir apabila air sungai meluap. Untuk mengatasi hal tersebut, gereja ini mengadopsi sistem drainase vertikal yang berfungsi menampung genangan air pada musim hujan dan menjadi cadangan air pada musim kemarau. Dengan demikian, desain gereja juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan dan keseimbangan ekosistem kawasan sekitarnya.
Pada 25 Maret 2024 dilaksanakan penutupan atap bangunan (topping off). Pada 19 Mei 2024, bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta, diselenggarakan misa terakhir di gedung bedeng sebelum beralih ke ruang bawah tanah (basement) gedung gereja baru.[7]
Pada tanggal 14 September 2024, yang merupakan Pesta Salib Suci, berlangsung upacara pentahbisan (dedikasi) atas gedung Gereja Kalvari oleh Kardinal Ignatius Suharyo. Hal ini menjadi jawaban bagi umat yang telah menunggu selama 33 tahun terakhir.[8] Pemberkatan diawali dengan marching band dan pertunjukkan kesenian Betawi, palang pintu.[6] Selain itu, juga ditampilkan kesenian ondel-ondel.[9] Sebelum pintu utama gereja dibuka, diadakan serah terima kunci Gereja dan pemberkatan patung Ecce Homo.[10][11] Peresmian ini juga dihadiri oleh Wali kota Jakarta Timur, M. Anwar.[12] Keesokan harinya pada 15 September 2024, berlangsung Misa Perdana di Gereja Kalvari. Pada 14 September 2025, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Gereja Kalvari.[13]
Imam
[sunting | sunting sumber]
Adapun sejumlah imam yang pernah menjadi pastor kepala paroki, antara lain:
- R.P. Petrus McLaughlin, O.M.I. (1995–1996)
- R.P. Peter Kurniawan Subagyo, O.M.I. (1996–2006)
- R.D. Aloysius Hadi Nugroho (2006–2011)
- R.D. Martinus Hadiwijoyo (2012–2013)
- R.D. Yustinus Ardianto (2013–2016)
- R.D. Johan Ferdinand Wijshijer (sejak 2017)
Bangunan gereja
[sunting | sunting sumber]Kompleks Gereja Kalvari menempati lahan seluas kurang lebih 10.342 m². Luas lahan tersebut mencakup bangunan gereja dan area Taman Doa Kalvari. Lokasi gereja berada di atas bukit dengan elevasi sekitar 7 meter dari permukaan jalan utama. Hal ini merujuk kepada riwayat kawasan sekitar gereja yang kerap terdampak banjir akibat luapan Kali Sunter, yang berpotensi mengganggu kegiatan.[14]
Tepat di belakang panti imam gereja utama, terdapat Kapel Santo Martinus. Pemilihan nama Santo Martinus merujuk kepada nama baptis R.D. Martinus Hadiwijoyo yang pernah bertugas di Gereja Kalvari.
Di kawasan ini juga terdapat Taman Doa Kalvari yang dirancang sebagai ruang terbuka dengan lingkungan yang hijau, tenang, dan mendukung suasana doa serta permenungan.
Stasi
[sunting | sunting sumber]
Dalam naungan Paroki Lubang Buaya, terdapat sebuah gereja stasi yang terletak dalam kawasan Taman Mini Indonesia Indah, yaitu Gereja Santa Catharina. Peribadatan di Gereja Santa Catharina berlangsung pada setiap hari Minggu.
Terdapat total lima tempat ibadah lainnya di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, yakni Masjid Pangeran Diponegoro, Gereja Kristen Haleluya, Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa, Wihara Arya Dwipa Arama, Pura Hindu Dharma Penataran Agung Kertabhumi, dan Kelenteng Kong Miao. Hal ini merepresentasikan salah satu karakteristik masyarakat di Indonesia, yakni adanya keberagaman agama.
Galeri
[sunting | sunting sumber]- Eksterior
- Tampak depan gedung gereja
- Tampak samping depan gereja baru
- Tampak samping belakang gereja baru
- Menara gereja
- Patung Ecce Homo di depan pintu masuk
- Patung Ecce Homo dengan mantol merah
- Pintu utama gereja
- Interior
- Tampak dalam gereja baru
- Panti imam gereja baru
- Panti imam
- Panti umat gereja baru dilihat dari sudut interior
- Umat berdoa jelang Misa
- Patung Bunda Maria
- Patung Bunda Maria
- Patung Santo Yosef
- Patung Santo Yosef
- Fasilitas lainnya
- Kapel Martinus
- Taman Doa Kalvari
- Taman Doa Kalvari
- Bagian dalam Taman Doa Kalvari
- Pieta dalam Taman Doa Kalvari
- Tampak luar replika makam Yesus di Taman Doa Kalvari
- Tampak dalam replika makam Yesus di Taman Doa Kalvari
- Patung Bunda Maria di Gua Maria Assumpta
- Porta Sancta (Pintu Suci) dalam rangka Yubileum 2025
- Porta Sancta dalam rangka Yubileum 2025
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Setyanti, Christina Andhika (13 September 2022). "Sejarah Paroki Kalvari: Perjalanan Panjang menuju Kalvari Baru". Diakses tanggal 20 Mei 2024.
- ↑ "Sejarah Gereja Katolik Kalvari Lubang Buaya: Sempat Ada Pembatalan Rencana Menjadi Paroki". Pena Katolik. 15 September 2025. Diakses tanggal 21 Oktober 202.
- ↑ Rudianto, Anastasia Angelica; Kusumawardhani, Ratu Arum; Sari, Indah Yulia (1 Oktober 2022). "RE-DESIGN GEREJA KATOLIK PAROKI KALVARI LUBANG BUAYA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NARATIF". Lakar: Jurnal Arsitektur. 5 (2): 106–114. Diakses tanggal 20 Mei 2024 – via journal.lppmunindra.ac.id.
- ↑ Felicia Permata Hanggu; Karina Chrisyantia (12 Januari 2022). "Paroki Lubang Buaya, Kalvari, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ): Perjuangan Tanpa Henti". Diakses tanggal 20 Mei 2024.
- ↑ "Serahkan IMB Gereja di Duri Selatan, Gubernur Anies Pastikan Kesetaraan dan Keadilan Tumbuh di Jakarta". www.beritajakarta.id. Diakses tanggal 23 Mei 2024.
- 1 2 3 Dinda Aulia Ramadhanty; Fabian Januarius Kuwado (14 September 2024). "Gereja Kalvari Lubang Buaya Diresmikan Usai 33 Tahun Menanti Izin". Kompas.com. Diakses tanggal 20 Oktober 2024.
- ↑ Komsos Kalvari (22 Mei 2024). "Progres Update Pembangunan Gereja Kalvari - 19 Mei 2024". Diakses tanggal 23 Mei 2024 – via YouTube.
- ↑ Benedikta Miranti T.V (15 September 2024). "Usai Penantian 33 Tahun, Gereja Katolik Kalvari di Lubang Buaya Jaktim Akhirnya Diresmikan". Diakses tanggal 20 Oktober 2024.
- ↑ Yustinus Wuarmanuk (19 September 2024). "Pentahbisan Gereja Kalvari, Umat Islam Senang Dilibatkan". Diakses tanggal 20 Oktober 2024.
- ↑ "33 Tahun Jalan Panjang Paroki Lubang Buaya, Kardinal: Kita Bersyukur atas Selesainya Gereja Dibangun dan Diresmikan". 14 September 2024. Diakses tanggal 20 Oktober 2024.
- ↑ "Pentahbisan Gereja Katolik Kalvari Lubang Buaya Jakarta Usai 33 Tahun Berjuang Mendapat Izin". Pena Katolik. 18 September 2024. Diakses tanggal 20 Oktober 2024.
- ↑ "Walikota Jakarta Timur Bersama Tokoh Agama Resmikan Pembangunan Gereja Katolik Paroki Kalvari Lubang Buaya". 14 September 2024. Diakses tanggal 20 Oktober 2024.
- ↑ Puspitasari, Devi (14 September 2025). "Pramono Resmikan Gereja Katolik Paroki Kalvari di Jaktim". detikCom.
- ↑ "Pramono Inaugurated the Calvary Parish Church in Lubang Buaya". Berita Jakarta. 14 September 2025. Diakses tanggal 13 Desember 2025.
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Situs web resmi
- Gereja Kalvari, Lubang Buaya di Instagram
- "THE ART OF CHURCH - Gereja Katolik Kalvari, Paroki Lubang Buaya". 4 Mei 2025 – via Youtube.

