Festival Nasional Reog Ponorogo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Festival Nasional Reog Ponorogo
GREBEG SURO PONOROGO 1.jpg
Salah satu penampilan peserta festival.
StatusAktif
JenisFestival budaya
FrekuensiTahunan
LokasiPonorogo
Acara pertama2004
Terakhir diadakan2019
Acara sebelumnyaFestival Nasional Reog Ponorogo XXVI
Acara berikutnyaFestival Nasional Reog Ponorogo XXVII
Peserta± 30–40 grup

Festival Nasional Reog Ponorogo atau biasa dipersingkat FNRP adalah salah satu festival tahunan yang merupakan salah satu rangkaian acara pesta rakyat Ponorogo di bulan Muharram yaitu Grebeg Suro. Festival Nasional Reog Ponorogo telah dilaksanakan sejak tahun 2004, masih terus dilaksanakan hingga sekarang setiap tahunnya bersamaan dengan perayaan Grebeg Suro.[1] Hal ini juga bersamaan dengan hari jadi Kota Ponorogo, yang telah menjadi salah satu acara yang masuk dalam kalender wisata Jawa Timur.

Pada acara Grebeg Suro, di tiap tahunnya terdiri atas acara-acara yang sarat akan nilai seni dan tradisi, yaitu: Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel, serta Festival Nasional Reog Ponorogo. Festival Nasional Reog Ponorogo dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu dengan masa final dilaksanakan pada malam puncak rangkaian acara Grebeg Suro. Pada rangkaian acara Grebeg Suro, final Festival Nasional Reog Ponorogo dilaksanakan pada pada malam 1 Muharram yang biasa disebut dengan 1 Suro pada kalender Jawa. Peserta Festival Nasional Reog Ponorogo berasal dari daerah-daerah seluruh Indonesia seperti Madiun, Malang, Ponorogo, Yogyakarta, Jakarta, dan Kalimantan. Bahkan belakangan ini Festival Nasional Reog Ponorogo sudah mulai merambah ke kancah internasional dengan diikuti oleh peserta dari luar negeri.

Alun-alun Ponorogo selalu menjadi tempat dilaksanakannya pertunjukan Festival Nasional Reog Ponorogo. Tempat ini juga didominasi dengan berbagai monumen dan patung yang melambangkan tradisi Reog dan berbagai legendanya. Keberadaan Reog memang tidak bisa dilepaskan dari terbentuknya Ponorogo. Hal ini berkaitan erat dengan legenda Dewi Songgolangit dan Prabu Klono Sewandono.[2]

Reog Ponorogo[sunting | sunting sumber]

Reog Ponorogo, dari kiri: Bujang Ganong, Klono Sewandono, Warok, Singo Barong, dan Jathil.

Ponorogo merupakan Kota Reog, karena berdasarkan pada sejarah Reog memang lahir dari kota ini. Ponorogo merupakan salah satu ikon wisata Jawa Timur.[3] Reog sering diidentikkan dengan dunia hitam yang dalam artian berkaitan erat dengan sifat jagoan, dan juga dunia misti supranatural.[4] Satu grup Reog biasanya terdiri atas seorang Warok tua, beberapa Warok muda, Pembarong, penari Bujang Ganong, dan Prabu Klono Sewandono. Di seluruh daerah Ponorogo memiliki banyak grup Reog, bahkan bisa dikatakan minimal satu desa memiliki 1 kelompok kesenian Reog. Sehingga kurang lebih 300-an grup Reog dimiliki oleh Kabupaten Ponorogo.[1]

Para pembarong mempertontonkan keperkasaan dalam mengangkat dadak merak, yaitu topeng raksasa yang memiliki berat hingga 50 kilogram dengan disangga menggunakan kekuatan gigi saja. Alat-alat musik yang dimainkan dalam pertunjukan Reog mampu menghadirkan suasana mistis dan eksotis, namun membangkitkan semangat orang yang melihat maupun para pemainnya.[1] Banyak anggapan dalam pertunjukan Reog kekuatan gaib selalu menyertai, utamanya bagi pembarong untuk bisa menambah kekuatan dalam menyangga topeng dadak merak dengan gigi saja. Para pembarong pun beranggapan bahwa seorang pembarong membutuhkan wahyu untuk bisa kuat menjadi seorang pembarong, karena tubuh dan gigi yang kuat saja tidaklah cukup. Tanpa diberkati wahyu, tarian yang ditampilkan seorang pembarong tidak akan tampak luwes dan enak untuk ditonton. Namun demikian, persepsi mistis pembarong kini digeser dan lebih banyak dilakukan dengan pendekatan rasional. Seorang sesepuh Reog, Mbah Wo Kucing mengatakan bahwa: “Reog itu nggak perlu ndadi. Kalau ndadi itu ya namanya bukan Reog, itu Jathilan. Dalam Reog, yang diperlukan keindahannya”.

Reog merupakan hasil kreasi manusia dengan adanya aliran kepercayaan yang dilestarikan secara baik secara turun temurun.

Juara Festival Nasional Reog Ponorogo[sunting | sunting sumber]

Sebuah piala Festival Nasional Reog Ponorogo.
  • FNRP XXVI tahun 2019[5]
  1. Grup Reog Universitas Brawijaya Malang
  2. Grup Reog SMAN 1 Ponorogo
  3. Grup Reog Universitas Jember
  • FNRP XXV tahun 2018[6]
  1. Grup Reog Universitas Brawijaya Malang
  2. Grup Reog SMAN 1 Ponorogo
  3. Grup Reog SMAN 1 Babadan Ponorogo
  • FNRP XXIV tahun 2017[7]
  1. Grup Reog Universitas Brawijaya Malang
  2. Grup Reog Taruno Suryo SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo
  3. Grup Reog Taruno Adi Luhung SMA Babadan Ponorogo
  • FNRP XXIII tahun 2016[8]
  1. Grup Reog Gajah Manggolo, SMAN 1 Ponorogo
  2. Grup Reog Universitas Brawijaya Malang
  3. Grup Reog Singo Manggolo Mudo, SMKN 2 Wonogiri
  • FNRP XXII tahun 2015[9]
  1. Grup Reog Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah
  2. Grup Reog Universitas Brawijaya Malang
  3. Grup Reog Singo Manggolo Mudho dari SMKN 2 Wonogori
  • FNRP XXI tahun 2014[10]
  1. Grup Reog Gajah Manggolo dari SMAN 1 Ponorogo
  2. Grup Reog Singo Manggolo Mudho dari SMKN 2 Wonogiri
  3. Grup Reog Bantarangin dari Jakarta Timur
  • FNRP XX tahun 2013[11]
  1. Grup Reog Singo Manggolo dari Kabupaten Wonogiri
  2. Grup Reog Gajah Manggolo SMAN 1 Ponorogo
  3. Grup Reog Taruno Suryo SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo
  • FNRP XIX tahun 2012[12]
  1. Grup Reog Bantarangin dari DKI Jakarta
  2. Grup Reog Kridho Taruno SMAN 2 Ponorogo
  3. Grup Reog Gajah Manggolo SMAN 1 Ponorogo
  • FNRP XVIII tahun 2011[13]
  1. Grup Reog Bantarangin dari DKI Jakarta
  2. Grup Reog Gajah Manggolo SMAN 1 Ponorogo
  3. Grup Reog Singo Taruno Joyo dari Kecamatan Ponorogo

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Susanto, Budi (2007). Sisi senyap politik bising. Yogyakarta: Kanisius. ISBN 9789792116588. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-12-12. Diakses tanggal 2017-12-12. 
  2. ^ Rahimsyah, M. B.; Tasrif, Mahmudi; Hidayat, Kidh (1990). Asal-usul Reog Ponorogo. Surabaya: Karya Anda. OCLC 464303655. 
  3. ^ Andriansyah (2012). FESTIVAL WAUW!: Aneh, Unik, Fantastik, dan Kontroversial. Pacu Minat Baca. ISBN 9789790142008. 
  4. ^ "Tradisi Festival Reog tahunan yang di adakan di Kabupaten Ponorogo | Blog.ugm.ac.id". blog.ugm.ac.id. 4 November 2010. Diakses tanggal 12 Desember 2017. 
  5. ^ Sandhi Nurhartanto, ed. (1 September 2019). "Grebek Suro Sukses, Bupati Ipong: Luar Biasa Masyarakat Ponorogo". jatimnow.com. Jatimnow. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  6. ^ Nanang Diyanto (13 September 2018). "Berturut- turut Reyog Universitas Brawijaya Juarai FNRP". kompasiana.com. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  7. ^ "Grup Reyog Universitas Brawijaya Juarai FNRP, Singo Taruno Budoyo SMPN 1 Ponorogo Terbaik Festival Reyog Mini". ponorogo.go.id. Pemerintahan Kabupaten Ponorogo. 21 September 2017. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  8. ^ "HASIL FNRP KE XXIII". ponorogo.go.id. Pemerintahan Kabupaten Ponorogo. 1 Oktober 2016. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  9. ^ Destyan Handri Sujarwoko (14 Oktober 2015). "Lamandau Raih Juara Festival Reog Nasional". kalteng.antaranews.com. ANTARA News. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  10. ^ Sudarmawan (25 Oktober 2014). Heru Pramono, ed. "Geser Juara Bertahan, Grup Reog Ponorogo Sabet Juara I FRN XXI". surabaya.tribunnews.com. Tribunnews. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  11. ^ "Festival Reog Ponorogo 2013, Singo Manggolo Juara Nasional". pacitanku.com. Lingkar Nusantara Intermedia. 6 November 2013. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  12. ^ Riana Afifah (22 Juni 2012). A. Wisnubrata, ed. "Grup Reog Ponorogo Beri Kado Untuk Jakarta". nasional.kompas.com. Kompas.com. Diakses tanggal 26 Februari 2020. 
  13. ^ Danang Setiaji Prabowo (17 Juni 2012). Yaspen Martinus, ed. "Kontingen DKI Juara Festival Reog Nasional". tribunnews.com. Tribunnews.com. Diakses tanggal 26 Februari 2020.