Candi Palgading

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Situs Purbakala Kompleks Candi Palgading
Lua error in Modul:Location_map at line 502: Unable to find the specified location map definition. Neither "Module:Location map/data/Topografi Jawa ontol" nor "Template:Location map Topografi Jawa ontol" exists.
Lokasi di Pulau Lua error in Modul:Location_map at line 59: Unable to find the specified location map definition. Neither "Module:Location map/data/Topografi Jawa ontol" nor "Template:Location map Topografi Jawa ontol" exists.
Informasi umum
Gaya arsitekturcandi Buddha
KotaDusun Palgading, Sinduharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta
Negara Indonesia
Koordinat7°43′34″S 110°24′40″E / 7.726103°S 110.410975°E / -7.726103; 110.410975
Awal konstruksiabad 9
Selesaiabad 10

Candi Palgading adalah sebuah situs Purbakala yang berada di Dusun Palgading, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, D.I. Yogyakarta[1]. Situs tersebut adalah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Candi tersebut berada di pemukiman warga yang ditemukan pada tahun 2006. Luas situs tersebut adalah 1 hektare.

Letak Candi[sunting | sunting sumber]

Salah satu candi di Situs Palgading

Tepatnya di depan Kantor Kecamatan Ngaglik, selepas lampu lalu lintas di Jl. Kaliurang km 9 ada sebuah pertigaan kecil di sisi timur jalan. Ikuti jalan di pertigaan itu untuk menuju Dusun Palgading. Untuk mudahnya arahkan kendaraan ke pemakaman desa yang terletak tak jauh dari masjid. Candi Palgading terletak tak jauh dari sana.

Sejarah Candi[sunting | sunting sumber]

Situs ini berasal dari masa kejayaan agama Hindu dan Buddha di Nusantara, tepatnya abad ke 9-10 Masehi. Hal itu tampak dari struktur bebatuan yang membentuk stupa berukuran kecil. Juga, diperkuat oleh keberadaan arca Awalokiteshwara yang merupakan simbol penyembahan Boddhisatwa dalam agama Buddha, dan dikenal pula sebagai dewa kasih sayang, dewa asih serta dewa penjaga dalam pantheon Buddha Mahayana.

Pada bagian sisi utara candi, tim menemukan stupa berukuran besar, sedangkan di bagian timur terdapat pagar batu. Adapun prasasti yang bisa menjadi petunjuk informasi candi, sampai sekarang belum ditemukan. Termasuk, informasi stupa yang dijelaskan dalam sebuah laporan Belanda tahun 1925. Catatan Belanda itu menyebut ada stupa terletak dalam candi. Hingga kini belum bisa kami temukan, dan tampaknya berbeda dengan catatan Belanda karena ukurannya sangat besar.

Ekskavasi Candi Palgading dilakukan bertahap. Tahap pertama dimulai pada bulan Juni 2011 dan dilanjutkan tahun 2012 oleh tim BP3 DIY[2]. Kendala utama yang dihadapi pada proses ekskavasi adalah keterbatasan dana untuk membeli atau menyewa lahan karena beberapa areal candi merupakan bagian dari pekarangan warga. Beberapa warga menyatakan kekhawatirannya kehilangan aset kepemilikan lahan karena proses ekskavasi. Proses ekskavasi tahap pertama ini telah mengungkap sebagian besar bangunan Candi Palgading. Kesimpulan sementara yang diambil pada tahap awal ini adalah candi Palgading merupakan paduan tempat ibadah dan pendopo pada zaman Mataram Hindu[3].

Pada akhir September 2011, tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) telah selesai melakukan ekskavasi di situs Candi Palgading. Tersingkaplah bentuk candi yang terdiri dari tiga buah candi. Candi di bagian utara berukuran 8,85 meter x 8,85 meter, candi di bagian tengah berukuran 8,6 meter x 6,35 meter, dan di bagian selatan berukuran 13,23 meter x 17 meter. Selain menemukan bangunan candi, tim ekskavasi juga menemukan gerabah namun dalam kondisi tak utuh.

Referensi[sunting | sunting sumber]