Candi Sipamutung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Candi Sipamutung
Informasi umum
Alamat Desa Siparau Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padanglawas, Provinsi Sumatera Utara

Candi Sipamutung (Biaro Sipamutung) adalah salah satu candi bercorak Buddha peninggalan Kerajaan Pannai di Kompleks Percandian Padanglawas. Secara administratif, candi ini terletak di Desa Siparau Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padanglawas, Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 40 kilometer dari ibukota Kabupaten Padanglawas, Sibuhuan atau sekitar 70 kilometer dari Kota Padangsidimpuan dan 400 kilometer dari Medan, Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis, Candi Sipamutung terletak di tepi Sungai Barumun yang membelah dataran rendah Padanglawas. Bangunan ini diperkirakan berdiri pada abad 11.[1][2]

Deskripsi bangunan[sunting | sunting sumber]

Candi Sipamutung merupakan candi terbesar di Kompleks Percandian Padanglawas. Candi Sipamutung secara umum terbuat dari bata dan mempunyai luas lahan 6000 meter persegi dan luas candi 74 x 74 meter yang dikelilingi tembok bata. Komplek Candi Sipamutung terdiri dari 1 bangunan utama dan 6 candi perwara dan 16 stupa. Bangunan utamanya memiliki luas 11 x 11 meter dan tinggi 13 meter yang terdiri dari bagian kaki, badan, dan atap. Candi-candi perwara di sekitar candi induk berbentuk mandapa berdenah segi empat berukuran luas 10,25 X 9,9 meter dan tinggi 1,15 meter.[3]

Penelitian[sunting | sunting sumber]

Candi Sipamutung dan candi lainnya di Kompleks Percandian Padanglawas mulai diteliti oleh para ilmuwan Belanda di akhir abad ke 19 Masehi dan abad ke 20 Masehi seperti Schnitger, Van Den Bosch, Franz Junghun, von Rosenberg, Kerkhoff dan van Stein Callenfels. Sebagian besar hasil penelitian mereka dipublikasikan oleh Oudheidkundig Verslag. Publikasi paling lengkap diperoleh dari hasil penelitian Schnitger tahun 1936. Salah satu tulisannya yang menarik untuk diketahui bahwa di halaman candi Sipamutung ditemukan arca yang merupakan indikator Vajrayana. Ini berkenaan dengan arca buaya yang digambarkan dengan wajah menyeramkan, dan dua buah arca raksasi dalam sikap anjalimudra (sikap telapak tangan beserta jari-jari yang menyembah). Menurut Schnitger, candi-candi di Padanglawas dibangun bersamaan dengan stupa-stupa di Muara Takus, yaitu pada sekitar abad ke-12 Masehi. Sebelumnya, von Rosenberg pada tahun 1854 menemukan beberapa fragmen arca salah satunya arca budha yang kini disimpan di Museum Nasional Indonesia. Tahun 1930, Bosch menulis tentang Padanglawas dan mengajukan suatu teori bahwa masyarakat pendukung candi-candi di Padanglawas pada masa Kerajaan Pannai adalah pemeluk agama Buddha aliran Wajrayāna. Teori ini tentu mendukung pendapat Schnitger.[4]

Setelah Indonesia merdeka, penelitian dilanjutkan oleh Dinas Purbakala di bawah pimpinan Satyawati Suleiman tahun 1953. Penelitian berikutnya dilakukan tahun 1973 dan 1975 oleh tim dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN, kini berubah nama menjadi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) bekerjasama dengan the University of Pennsylvania Museum.Penelitian selanjutnya pada tahun 1993 dan 1994 lebih menekankan pada aspek lingkungan, latar belakang pemilihan lokasi pembangunan komplek candi dan pendataan benda cagar budaya yang non insitu. Hingga saat ini penelitian terus digencarkan oleh lembaga yang berwenang seperti Balai Arkeologi Medan (Balar Medan) dengan berbagai kajian yang lebih lengkap dan interpretasi yang lebih dalam.[5][6][7]

Upaya pelestarian[sunting | sunting sumber]

Sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya di Indonesia, Candi Sipamutung perlu mendapatkan perhatian pelestarian. Upaya pelestarian pertama dilaksanakan oleh dee Han tahun 1926. Upaya ini dilatarbelakangi karena banyaknya kerusakan candi akibat digunakan sebagai lahan peternakan. Setelah Indonesia merdeka, upaya pemugaran dilakukan di Kompleks Percandian Padanglawas. Terakhir, upaya pelestarian dilaksanakan tahun 2013 yaitu pembuatan cor beton pada atap pintu masuk Candi Sipamutung untuk mencegah runtuhnya bagian tersebut.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Candi Sipamutung | Kabupaten Padang Lawas". padanglawaskab.go.id. Diakses tanggal 2017-10-11. 
  2. ^ Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia / National Library of. "Sumatra - Kepustakaan Candi". candi.perpusnas.go.id. Diakses tanggal 2017-10-11. 
  3. ^ "Candi Sipamutung | Kabupaten Padang Lawas". padanglawaskab.go.id. Diakses tanggal 2017-10-08. 
  4. ^ http://kemenpar.go.id/userfiles/file/790_1261-03Padanglawas1.pdf
  5. ^ ISSN : 1416-7708
  6. ^ Tim Penelitian, 1995/1996, Laporan Penelitian Arsitektur Candi Sipamutung, Padang Lawas, Kabupaten Tapanuli Selatan . Medan : Balai Arkeologi Medan
  7. ^ Susilowati, Nenggih, Ketut Wiradnyana & Lucas Partanda Koestoro, 1999 . Laporan Penelitian Arkeologi Dan Pemetaan Situs Candi Sipamutung Dan Sekitarnya, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara . Medan : Balai Arkeologi Medan
  8. ^ http://bankdata.konservasiborobudur.org/wp-content/uploads/2013/02/5.BEBERAPA-UPAYA-KONSERVASI-PENCEGAHAN-DI-SUMATERA.pdf