Sinduharjo, Ngaglik, Sleman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sinduharjo
Negara Indonesia
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
KabupatenSleman
KecamatanNgaglik
Kode Kemendagri34.04.12.2003 Edit the value on Wikidata

Sinduharjo (bahasa Jawa: Sinduharja) adalah desa di kecamatan Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Desa Sinduharjo Di  Jalur Peradaban Mataram Kuno

Merunut jalur peradaban dari kerajaan kerajaan diatas, beberapa ahli sejarah sepakat bahwa sejarah peradaban di Pulau Jawa, dimulai dari ujung Pulau Jawa bagian barat, yaitu Kerajaan Salakanegara. Kerajaan ini berdiri pada abad 1 Masehi di Cihunjuran, Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.  Setelah jaman keemasan Salakanegara surut, peradaban kemudian bergeser  yaitu Kerajaan Tarumanegara pada abad 5 Masehi – 7 Masehi di Banten.   Setelah keruntuhan Tarumanegara, muncul Kerajaan Sunda Galuh di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian utara Pulau Jawa. Sebelum  Sunda Galuh runtuh, di Jawa Tengah bagian utara telah berdiri dan mencapai masa keemasannya saat kepemimpinan Ratu Sima, yaitu Kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga inilah induk atau asal muasal dari Kerajaan Medang atau Matarm Kuno.  Diawali dengan putri Ratu Sima yaitu Parwati yangmenikah dengan Raja Galuh yang bernama Mandiminyak, dan mempunyai putri bernama Sanaha. Raja ketuga dari kerajaan ini yang bernama Sena, lalu menikah dengan Sanaha. Dari perkawinan ini lahirlah Sanjaya. Tahun 732, Sanjaya pergi meninggalkan Jawa Barat dan menetap di Jawa tengah untuk memimpin Kerajaan Kalingga. Setelah kerajaan ini terbagi dua, Sanjaya mendirikan kerajaan baru di Jawa Tengah yang dikenal dengan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno.

Mataram Kuno atau Kerajaan Medang adalah salah satu kerajaan Hindu terbesar di Jawa.  Rentang waktu kerajaan ini diperkirakan dimulai pada abad 7 Masehi dengan Sri Sanjaya sebagai raja pertama, hingga abad 9 dengan Rakai Watukura Dyah Balitung sebagai raja terakhir untuk periode  Jawa Tengah. Abad 10 Masehi, dinasti kerajaan ini berpindah ke Jawa Timur karena amukan Gunung Merapi  oleh Mpu Sindok, raja yang menjabat saat itu.  Akhir dari Kerajaan Medang ini pada saat berakhirnya kekuasaan Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh pada abad 10 di Jawa Timur. Dan berlanjut ke era Kerajaan Singosari, dilanjutkan dengan Majapahit. Para ahli menggolongkannya sebagai Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur. Keruntuhan Kerajaan Majapahit dan berdirinya Demak, adalah tonggak berakhirnya Kerajaan Mataram Kuno, dan bangkitnya era Kerajaan Mataram Islam. Dari Demak lanjut ke  Pajang, Mataram Islam, lalu terpecah menjadi dua  oleh Perjanjaian Giyanti tahun 1755, yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta, hingga saat ini.

Jaman kekuasaan Kerajaan Medang  terbilang cukup panjang. Para ahli mengelompokkannya menjadi era Kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu    yaitu dalam rentang dari abad 7 hingga abad 16 bertepatan dengan surutnya Kerajaan majapahit dan munculnya Kerajaan Demak dengan nafas agaman Islam. Bukti peninggalan Kerajaan Mataram kuno terbilang  relatif banyak.  Jika ditarik garis titik lokasi Candi Borobudur ke lokasi peninggalan sejarah dalam rentang waktu yang sama, garis itu melintang serong melintasi Kabupaten Magelang, Sleman, lalu Klaten dan terus ke timur melalui bagian utara Pulau Jawa hingga sampai ke Tumapel (Singosari) Malang, Jawa Timur.

Nah, dimanakah Desa Sinduharjo pada jaman itu? Sinduharjo berada tepat di tengah jalur peradaban antara Borobudur hingga ke Prambanan. Dimulai dari bukti peninggalan Candi Borobudur di Magelang, Candi Ngawen di Muntilan, Candi Canggal di Ngluwar, Candi Miring di Medari  Sleman, Candi Kimpulan di Ngemplak Sleman, Candi Palgading di Sinduharjo Ngaglik  Sleman, Candi Gebang,  Candi Kadisoka, Candi Sambisari, Candi Kedulan, Candi Kalasan, Candi Sari  dan Candi Prambanan.

Candi Palgading berada  di Padukuhan Palgading. Letaknya tak jauh dari Sungai Klanduan. Sungai ini merupakan sungai kuno yang ditengarai sudah ada sejak sebelum dibangun Candi Palgading. Sungai ini pula yang mengalir di dekat Candi Kimpulan, kurang lebih 4 kilometer di barat laut Candi Palgading. Dalam khasanah bangunan candi, salah satu syarat dalam pemilihan lokasi adalah berdekatan dengan sungai.  Sungai sebagai sumber kehidupan, tentu saja akan sangat mendukung dalam proses pembangunan candi baik untuk campuran material, proses pemahatan, dan sebagai air minum untuk para pekerja. Setelah proses pembangunan candi selesai, air sungai berubah fungsi menjadi media untuk membersihkan diri, bersuci, sebelum mereka masuk ke kawasan candi untuk beraktivitas maupun melakukan ritual peribadatan.

Candi Palgading adalah candi dengan latar belakang agama Budha. Dinamai demikian karena terletak di wilayah Pedukuhan Palgading, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Palgading ini sudah dikenal sejak jaman pemerintahan Belanda. Dari keterangan Kepala Padukuhan Palgading, tedapat  dokumen mengenai Candi Palgading yang diperoleh dari data Pemerintah  Belanda. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa di Padukuhan Palgading sudah pernah dilakukan rekonstruksi percobaan berupa fragmen stupa lengkap dengan  foto  dokumentasi pada saat itu. Foto tersebut dibuat oleh FDK Bosch pada tahun 1925. Menurut data tersebut,  nama pemilik tanah Candi Palgading ini adalah Sodimejo. Data koresponden Belanda sebenarnya mengambil dari laporan OV tahun 1925. Dari uraian keterangan diatas, maka penemuan akan candi ini sebenarnya jauh sebelum tahun 1925.

Pada tahun 2006, dilakukan penggalian lagi atas situs ini. Dari penggalian ini, terungkap kembali fakta baru setelah ada temuan Arca Avalokitesvara dan beberapa batu komponen bangunan lainnya. Arca ini ditemukan pada 21 Mei 2006 oleh Slamet Sugiarto. Selain arca Avalokitesvara,  juga ada temuan berupa Arca Akshobya, arca singa, arca kera serta beruang di pekarangan milik Dakim Dawami Oyakahono, yang terletak  di sisi barat lahan kawasan candi. Meskipun beberapa temuan tersebut bukan merupakan temuan insitu, tetapi hal ini menunjukkan kekuatan potensi arkeologis di Dusun Palgading.  

Adanya penemuan Arca Avalokitevara ini menjadi titik terang untuk mengungkap fungsi dari candi ini. Avalokitesvara atau dikenal dengan Dewi Kwan Im adalah dewa pujaan umat Budha sebagai dewa perwujudan dewa penolong dan dewi welas asih yang serba bisa, menolong umat yang sedang dilanda kesusahan. Perwujudan dari welas asih itu sendiri tidak hanya pada semangat tolong menolong antar sesama, namun juga semangat gotong royong yang hingga kini menjadi kekuatan yang telah membudaya dan mendarah daging di masyarakat Desa Sinduharjo. Dengan demikian, Candi Palgading besar kemungkinan merupakan tempat pemujaan terhadap Sang Budha dalam wujudnya sebagai dewa penolong yang welas asih, yang dideskripisikan dengan Arca Avalokitesvara tersebut.

Jejak arkeologis dari Candin Palgading, dapat ditemui di padukuhan sekitar, dimana  banyak ditemukan artefak berupa batuan penuyusun  candi, yang menurut keterangan dari para pemilik, batuan candi itu ditengarai berasal dari Candi Palgading. Padukuhan sekitar Palgading yang ditemukan artefak batuan candi antara lain di Padukuhan Ngemplak berupa arca unfinish, Caran berupa fragmen kemuncak, Taraman berupa batuan dengan relief sulur dan fauna, Pedak dengan batuan bertakik yang  telah dimanfaatkan menjadi pondasi rumah , Dawung berupa batuan bertakik juga menjadi pondasi rumah, Karang berupa antefik dan batuan bermotif sulur, Gentan berupa watu gilang, Nglaban berupa batuan candi yang ada di komplek pemakaman umum , dan Padukuhan Krapyak berupa batuan bertakik.

Kawasan Candi Palgading menempati lahan seluas 28 meter x 40 meter. Kawasan ini adalah daerah yang telah dilakukan penggalian. Sedangkan yang masih berada di bawah tanah, diperkirakan lebih luas dari itu. Hal ini sesuai dengan penuturan Mbok Samirah. Menurut Mbok Samirah, pemilik lahan terdekat dengan kawasan candi di sebelah utara, lokasi candi ini pada jaman dahulu merupakan kebun bambu yang sangat rapat. Tidak hanya pohon bambu, akan tetapi semak belukarnyapun sangat lebat. Bahkan, setiap ada pencuri atau orang jahat yang memasuki Padukuhan Palgading, saat dikejar dan mereka masuk ke semak semak ini, seolah hilang tak berbekas. Lokasi candi menjadi tempat yang sangat angker dan ditakuti, bahkan oleh warga Padukuhan Palgading sendiri.

Pada tahun 2006 saat penggalian dilakukan oleh BPCB DIY, lahan Mbok Samirah yang berada di luar pagar kawasan candi juga dilakukan penggalian. Setelah mencapai kurang lebih kedalaman 4 meter, ditemukan batuan candi yang membujur ke utara dan ke barat membentuk semacam pondasi atau struktur, di dua lokasi yang berdekatan. Dari temuan ini patut diduga adanya dua buah bangunan candi di sebelah utara kawasan candi, selain dari yang sudah terlihat sekarang ini.

Dari seluruh penggalian yang dilakukan selama ini, ditemukan batuan batuan semacam umpak dengan lubang bekas tiang yang diperkirakan terbuat dari material kayu. Temuan ini sangat unik dan dapat menjadi bahan identifikasi fungsi dari bangunan candi. Menurut pihak BPCB DIY, adanya temuan batuan umpak tersebut menguatkan dugaan bahwa Candi Palgading merupakan perpaduan antara tempat ibadah atau pemujaan dan pendapa pada jaman  Kerajaan Mataram Kuno. Adanya batuan umpak itu merupakan dasar dari sebuah bangunan pendopo dengan tiang yang terbuat dari kayu, sebagai tempat tinggal pendeta. Dari penggalian dan data temuan yang telah dilakukan selama ini, diperkirakan luas kawasan dari Candi Palgading mencapai sekitar 1 Hektar yaitu dari posisi candi saat ini, ke selatan dan ke utara, serta ke barat hingga area persawahan. Proses ekskavasi  hingga kini terhenti karena terkendala lahan yang telah menjadi pemukiman warga serta are pemakaman warga.

Dari pengumpulan data temuan temuan yang ada tersebut, mengerucut pada kata kunci yaitu sebuah tempat  dimana  merupakan tempat tinggal pendeta dan terdapat bangunan pendapa, patut diduga bahwa tempat itu merupakan tempat aktivititas baik keagamaan maupun pendidikan. Adapun jejak dari aktivitas keagamaan dan pendidikan itu yang dilestarikan hingga saat ini, antara lain tentang budaya gotong royong, saling tolong menolong dan ritual sembahyang, memuja dan memuji Tuhannya. Semua itu merupakan sumbangsih yang sangat besar bagi peradaban, sebagai manifestasi  terhadap Avalokitesvara sebagai dewa penolong yang welas asih.

Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa  Desa Sinduharjo yang berada pada garis antara Candi Borobudur hingga ke Candi Prambanan, dilintasi sungai kuno Klandhuan yang mengalir  di dekat Candi Kimpulan dan Candi Palgading,  merupakan salah satu jalur dari peradaban kuno era Kerajaan Medang di abad 9 – 10 Masehi, dengan bukti sejarah peninggalan yang berujud Candi Palgading, sebagai tempat pemujaan, peribadatan, pendidikan dan tempat tinggal para pendeta.

Kesimpulan diatas ditarik dari data data dan keterangan yang diperoleh selama ini. Studi pustaka dan wawancara baik dengan pihak BPCB DIY maupun warga sekitar dilakukan untuk menjawab tentang misteri Candi Palgading.  Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya identifikasi dikarenakan  prasasti atas Candi Palgading ini belum diketemukan hingga saat ini.