Azitromisin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Azitromisin
Nama sistematis (IUPAC)
(2R,3S,4R,5R,8R,10R,11R,12S,13S,14R)-2-etil-3,4,10-trihidroksi-3,5,6,8,10,12,14-heptametil-15-okso- 11-{[3,4,6-trideoksi-3-(dimetilamino)-β-D-xylo-heksopiranosil]oksi}-1-oksa-6-azasiklopentadek-13-il 2,6-dideoksi-3C-metil-3-O-metil-α-L-ribo-heksopiranosida
Data klinis
Nama dagang Zithromax, Azithrocin, lainnya[1]
AHFS/Drugs.com monograph
MedlinePlus a697037
Data lisensi US FDA:link
Kat. kehamilan B1(AU) B(US)
Status hukum -only (US)
Rute Oral (kapsul, tablet, suspensi), intravena, tetes mata
Data farmakokinetik
Bioavailabilitas 38% untuk kapsul 250 mg
Metabolisme Hati
Waktu paruh 11–14 jam (dosis tunggal)

68 jam (dosis ganda)

Ekskresi Saluran empedu, ginjal (4,5%)
Pengenal
Nomor CAS 83905-01-5 YaY
Kode ATC J01FA10 S01AA26
PubChem CID 55185
Ligan IUPHAR 6510
DrugBank DB00207
ChemSpider 10482163 YaY
UNII J2KLZ20U1M YaY
KEGG D07486 YaY
ChEBI CHEBI:2955 YaY
ChEMBL CHEMBL529 YaY
NIAID ChemDB AIDSNO:007311
Sinonim 9-deoxy-9α-aza-9α-methyl-9α-homoerythromycin A
Data kimia
Rumus C38H72N2O12 
Massa mol. 748.984 g·mol−1

Azitromisin adalah antibiotik yang digunakan untuk pengobatan sejumlah infeksi seperti infeksi telinga tengah, radang tenggorokan, radang paru-paru, diare pelancong, dan infeksi usus tertentu.[2] Azitromisin juga dapat digunakan untuk sejumlah infeksi menular seksual, seperti infeksi klamidia dan gonore.[2] Azitromisin juga dapat digunakan untuk mengobati malaria jika dikombinasikan dengan obat lainnya.[2] Obat ini dapat diminum atau diberikan secara intravena dengan pemberian sekali sehari.[2]

Efek samping yang umum terjadi antara lain mual, muntah, diare, dan nyeri perut.[2] Reaksi alergi seperti anafilaksis atau diare akibat Clostridium difficile mungkin akan terjadi.[2] Tidak ditemukan adanya bahaya pada penggunaan selama kehamilan.[2] Keamanan penggunaan azitromisin selama menyusui belum dapat dipastikan, tetapi kemungkinan aman untuk digunakan.[3] Azitromisin merupakan azalida, salah satu jenis antibiotik golongan makrolida.[2] Azitromisin bekerja dengan mengurangi sintesis protein, sehingga dapat menghentikan pertumbuhan bakteri.[2]

Azitromisin ditemukan pada tahun 1980 dan disetujui untuk dipasarkan pada tahun 1988.[4][5] Azitromisin terdapat dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[6] Azitromisin tersedia dalam bentuk generik [7] dan dijual dengan beberapa nama dagang di seluruh dunia.[1] Harga azitromisin di negara berkembang adalah sekitar US$ 0,18 hingga US$ 2,98 per dosis.[8] Di Amerika Serikat, biaya pengobatan dengan azitromisin sekitar US$ 4 per tahun 2018.[9]

Indikasi[sunting | sunting sumber]

Azitromisin diindikasikan untuk:

  • Pencegahan dan pengobatan eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronis yang disebabkan H. influenzae, M. catarrhalis, atau S. pneumoniae . Penggunaan profilaksis dalam jangka panjang harus mempertimbangkan risiko kardiovaskular dan efek samping lainnya.[10]
  • Pneumonia dapatan masyarakat yang disebabkan C. pneumoniae, H. influenzae, M. pneumoniae, atau S. pneumoniae [11]
  • Trakoma yang disebabkan C. trachomatis [12]
  • Sinusitis bakteri akut yang disebabkan H. influenzae, M. catarrhalis, atau S. pneumoniae. Namun obat lain, seperti amoksisilin/klavulanat lebih dipilih.[13][14]
  • Otitis media akut yang disebabkan oleh H. influenzae, M. catarrhalis atau S. pneumoniae. Namun, azitromisin tidak menjadi lini pertama. Amoksisilin atau antibiotik beta laktam lainnya lebih dipilih.[15]
  • Faringitis atau tonsilitis yang disebabkan S. pyogenes. Digunakan sebagai alternatif jika terapi lini pertama tidak dapat digunakan.[16]

Kehamilan dan menyusui[sunting | sunting sumber]

Tidak ditemukan adanya bahaya pada penggunaan selama kehamilan.[2] Namun, tidak terdapat uji klinis terkontrol yang memadai pada wanita hamil.[17]

Keamanan penggunaan azitromisin selama menyusui belum dapat dipastikan. Terdapat beberapa laporan bahwa azitromisin ditemukan dalam kadar yang rendah pada ASI. Azitromisin juga telah digunakan pada anak-anak, sehingga kecil kemungkinan bagi bayi mengalami efek samping.[3] Namun, pasien harus berhati-hati menggunakan obat ini selama menyusui.[2]

Efek samping[sunting | sunting sumber]

Tablet Zithromax (azitromisin) 250 mg (Kanada)

Efek samping yang umum terjadi antara lain diare (5%), mual (3%), nyeri pada perut (3%), dan muntah. Kurang dari 1% pasien menghentikan pengobatannya karena efek samping. Beberapa efek samping lain seperti gelisah, reaksi kulit, dan anafilaksis dilaporkan pernah terjadi.[18] Penggunaan azitromisin juga dilaporkan dapat menyebabkan Infeksi Clostridium difficile.[2] Azitromisin tidak mempengaruhi efektivitas kontrasepsi. Gangguan pendengaran juga dilaporkan pernah terjadi.[19]

Terkadang, pasien dapat mengalami hepatitis kolestatik atau delirium. Overdosis pada penggunaan intravena secara tidak disengaja pada bayi menyebabkan blok jantung berat, mengakibatkan ensefalopati residual.[20][21]

Pada tahun 2013, FDA mengeluarkan peringatan bahwa azitromisin "dapat menyebabkan perubahan abnormal pada aktivitas jantung sehingga mengakibatkan gangguan irama jantung yang berpotensi mengancam jiwa."[22][23][24]

Mekanisme kerja[sunting | sunting sumber]

Azitromisin mencegah pertumbuhan bakteri dengan mengganggu sintesis protein bakteri. Azitromisin berikatan dengan subunit 50Sribosom bakteri, sehingga menghambat translasi mRNA. Azitromisin tidak mempengaruhi sintesis asam nukleat.[25]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Azithromycin International Brands". Drugs.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 February 2017. Diakses tanggal 27 February 2017. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l "Azithromycin". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-09-05. Diakses tanggal Aug 1, 2015. 
  3. ^ a b "Azithromycin use while Breastfeeding". Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 September 2015. Diakses tanggal 4 September 2015. 
  4. ^ Greenwood, David (2008). Antimicrobial drugs : chronicle of a twentieth century medical triumph (edisi ke-1. publ.). Oxford: Oxford University Press. hlm. 239. ISBN 9780199534845. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-05. 
  5. ^ Fischer, Jnos; Ganellin, C. Robin (2006). Analogue-based Drug Discovery (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 498. ISBN 9783527607495. 
  6. ^ "WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016. 
  7. ^ Hamilton, Richart (2015). Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. ISBN 9781284057560. 
  8. ^ "Azithromycin". International Drug Price Indicator Guide. Diakses tanggal 4 September 2015. 
  9. ^ "NADAC as of 2018-05-23". Centers for Medicare and Medicaid Services (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 May 2018. 
  10. ^ "Azithromycin for the Prevention of COPD Exacerbations: The Good, Bad, and Ugly". Am. J. Med. 128: 1362.e1–6. 2015. doi:10.1016/j.amjmed.2015.07.032. PMID 26291905. 
  11. ^ "Infectious Diseases Society of America/American Thoracic Society consensus guidelines on the management of community-acquired pneumonia in adults". Clin. Infect. Dis. 44 Suppl 2: S27–72. 2007. doi:10.1086/511159. PMID 17278083. 
  12. ^ "Interventions for trachoma trichiasis". Cochrane Database Syst Rev. 11: CD004008. 2015. doi:10.1002/14651858.CD004008.pub3. PMC 4661324alt=Dapat diakses gratis. PMID 26568232. 
  13. ^ "Clinical practice guideline (update): adult sinusitis". Otolaryngol Head Neck Surg. 152 (2 Suppl): S1–S39. 2015. doi:10.1177/0194599815572097. PMID 25832968. 
  14. ^ "AAP releases guideline on diagnosis and management of acute bacterial sinusitis in children one to 18 years of age". Am Fam Physician. 89 (8): 676–81. 2014. PMID 24784128. 
  15. ^ "AAP, AAFP release guideline on diagnosis and management of acute otitis media". Am Fam Physician. 69 (11): 2713–5. 2004. PMID 15202704. 
  16. ^ "IDSA Updates Guideline for Managing Group A Streptococcal Pharyngitis". Am Fam Physician. 88 (5): 338–40. 2013. PMID 24010402. 
  17. ^ "US azithromycin label" (PDF). FDA. February 2016. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2016-11-23. 
  18. ^ "Azithromycin anaphylaxis in children". Int J Immunopathol Pharmacol. 27 (1): 121–6. 2014. doi:10.1177/039463201402700116. PMID 24674687. Diakses tanggal 19 February 2016. 
  19. ^ Dart, Richard C. (2004). Medical Toxology. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 23. 
  20. ^ Tilelli, John A.; Smith, Kathleen M.; Pettignano, Robert (2006). "Life-Threatening Bradyarrhythmia After Massive Azithromycin Overdose". Pharmacotherapy. 26 (1): 147–50. doi:10.1592/phco.2006.26.1.147. PMID 16506357. 
  21. ^ Baselt, R. (2008). Disposition of Toxic Drugs and Chemicals in Man (edisi ke-8th). Foster City, CA: Biomedical Publications. hlm. 132–133. 
  22. ^ Denise Grady (May 16, 2012). "Popular Antibiotic May Raise Risk of Sudden Death". The New York Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal May 17, 2012. Diakses tanggal May 18, 2012. 
  23. ^ Ray, Wayne A.; Murray, Katherine T.; Hall, Kathi; Arbogast, Patrick G.; Stein, C. Michael (2012). "Azithromycin and the Risk of Cardiovascular Death". New England Journal of Medicine. 366 (20): 1881–90. doi:10.1056/NEJMoa1003833. PMC 3374857alt=Dapat diakses gratis. PMID 22591294. 
  24. ^ "FDA Drug Safety Communication: Azithromycin (Zithromax or Zmax) and the risk of potentially fatal heart rhythms" (dalam bahasa Inggris). FDA. March 12, 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal October 27, 2016. 
  25. ^ "US azithromycin label" (PDF). FDA. February 2016. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2016-11-23.