Abdul Hamid Hakim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tuanku Mudo
Abdul Hamid Hakim.jpg
NamaAbdul Hamid Hakim
KebangsaanIndonesia Indonesia

Syekh Haji Abdul Hamid Hakim, bergelar Tuanku Mudo (lahir di Sumpu, Tanah Datar, tahun 1893 - meninggal di Padang Panjang, 13 Juli 1959 pada umur 66 tahun) adalah seorang ulama terkemuka Indonesia asal Minangkabau (Sumatra Barat).[butuh rujukan]

Riwayat[sunting | sunting sumber]

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Abdul Hamid Hakim yang lahir di Sumpu, di tepian danau Singkarak pada tahun 1311 Hijriah bertepatan dengan 1893 Masehi merupakan putra dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pedagang. Sewaktu kecil ia ikut ke kota Padang mengikuti ayahnya yang berdagang di kota tersebut.[butuh rujukan]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Di kota Padang ia masuk Sekolah Dasar (SD), lalu setelah tamat ia kembali ke kampung halamannya, Sumpu, dan belajar tulis-baca Al Quran. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Sungayang dan belajar pada Syekh Muhammad Thaib Umar selama dua tahun.[butuh rujukan]

Pada tahun 1910, setelah berusia 16 tahun, Abdul Hamid belajar ke Maninjau pada Syekh Karim Amrullah.[butuh rujukan] Ia pun ikut ketika gurunya tersebut pindah ke Padang, ke kota tempat orangtuanya berdagang. Ketika Syekh Amrullah pindah lagi ke Padangpanjang, Abdul Hamid tetap mengikutinya.[butuh rujukan]

Karier[sunting | sunting sumber]

Surau Jembatan Besi atau kini bernama Masjid Zu'ama Jembatan Besi, 2020

Abdul Hamid Hakim kemudian diangkat jadi guru bantu di masjid Jembatan Besi, Padangpanjang. Sejak itulah ia populer dengan nama Angku Mudo Hamid. Selanjutnya ia kemudian diangkat jadi Guru Kepala dengan keahlian di bidang fiqih (hukum Islam). Ia menggantikan Syekh Abdul Karim Amrullah yang pindah ke Jakarta.[butuh rujukan]

Ketika mengajar di Masjid Jembatan Besi, Abdul Hamid Hakim mendidik beberapa orang yang dikemudian hari menjadi orang besar dan terkenal, seperti Ahmad Rasyid Sutan Mansur, yang pernah memimpin Muhammadiyah, Zainal Abidin Ahmad, mantan Wakil Ketua DPR RI, Buya Mansoer Daoed Dt. Palimo Kayo, yang pernah jadi duta besar Indonesia, Hamka, ulama dan sastrawan besar, Mukhtar Yahya, rektor IAIN Yogyakarta, Ali Hasymi, mantan gubernur Aceh, serta tokoh politik singa betina Rasuna Said.[butuh rujukan]

Wafat[sunting | sunting sumber]

Abdul Hamid Hakim meninggal dunia di Padang Panjang, Senin, 13 Mei 1959 atau 7 Muharram 1379 H.[1][2][3][4]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ https://books.google.co.id/books?id=wjdPAQAAMAAJ&q=abdul+hamid+hakim+padang+panjang+13+juli+1959&dq=abdul+hamid+hakim+padang+panjang+13+juli+1959&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiVupXAzcTxAhXjxjgGHfGyDe0Q6AEwAHoECAkQAw
  2. ^ https://books.google.co.id/books?id=pLgvEAAAQBAJ&pg=PR15&dq=abdul+hamid+13+juli+1959&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiij8jfzcTxAhX6xzgGHaj3ArcQ6AEwAnoECAYQAw#v=onepage&q=abdul%20hamid%2013%20juli%201959&f=false
  3. ^ https://media.neliti.com/media/publications/240183-sejarah-ushul-fiqh-masuk-di-indonesia-3f63ffd1.pdf
  4. ^ https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/43285/1/FAUZHAN-FDK.pdf