Lompat ke isi

Sumpur, Batipuh Selatan, Tanah Datar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sumpur
Kampung Minang Nagari Sumpur
Negara Indonesia
ProvinsiSumatera Barat
KabupatenTanah Datar
KecamatanBatipuh Selatan
Kode Kemendagri13.04.14.2002 Suntingan nilai di Wikidata
Luas7,34 km²
Jumlah penduduk2.246 jiwa
Peta
PetaKoordinat: 0°32′27.600″S 100°28′37.200″E / 0.54100000°S 100.47700000°E / -0.54100000; 100.47700000

Sumpur merupakan salah satu nagari yang termasuk ke dalam wilayah kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini terletak di arah utara tepian danau Singkarak dan di dekat Batusangkar, ibu kota dari kabupaten Tanah Datar. Pada tahun 2021, nagari atau desa ini merupakan salah satu desa wisata andalan di Indonesia setelah mengikuti Anugerah Desa Wisata (ADWI) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dengan branding Desa Wisata Kampung Minang Nagari Sumpur.[1][2] Sebagai kampung wisata, pengembangan wisata di nagari Sumpu berfokus pada eksistensi rumah gadang sebagai pusat kehidupan masyarakat Minangkabau tradisional dan kekayaan alam di nagari Sumpur.[3]

Pada akhir November 2025, nagari Sumpur adalah salah satu nagari di kabupaten Tanah Datar yang mengalami dampak cukup parah dari bencana banjir dan longsor Sumatera 2025 yang juga menimpa tidak hanya Sumatera Barat, tetapi juga Sumatera Utara dan Aceh akibat dari Siklon Senyar 2025.[4][5]

Wilayah Administratif

[sunting | sunting sumber]

Nagari Sumpur memiliki luas wilayah 7,87 Km2 atau 10% dari luas wilayah kecamatan Batipuh Selatan. Nagari ini terletak pada koordinat 0,57304 Lintang Selatan - 100,48812 Bujur Timur. Nagari Sumpur memiliki jarak 20 Km dari Kota Batusangkar, ibu kota kabupaten Tanah Datar dan 86 Km dari kota Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat.[3]

Nagari Sumpur dibagi ke dalam 5 jorong yaitu:

  1. Jorong Sudut
  2. Jorong Nagari
  3. Jorong Kubu Gadang
  4. Jorong Seberang Air Taman
  5. Jorong Batu Baragung

Batas Wilayah

[sunting | sunting sumber]
UtaraNagari Bungo Tanjuang
TimurNagari Tanjung Barulak
SelatanNagari Padang Laweh Malalo, Nagari Guguak Malalo
BaratNagari Batipuh Baruah

Rumah Gadang

[sunting | sunting sumber]

Saat Perang Paderi terjadi di Minangkabau (1821-1837), banyak rumah gadang di nagari Sumpur yang berkurang oleh karena kondisi sosial politik masa perang akibat hancur dibakar.[6] Pada tahun 2025, terdapat 70 unit rumah gadang di Nagari Sumpur yang masih eksis dan terus digunakan oleh para pemiliknya (kaum dan perseorangan).[3] Sebanyak 3 unit rumah gadang telah dijadikan sebagai tempat penginapan atau homestay dalam rangka mendukung program Kampung Wisata Minang di nagari Sumpur.[3] Berdasarkan jumlah ruangnya, rumah gadang di Nagari Sumpur dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi, yaitu rumah gadang baanjuang kecil, rumah gadang bagonjong, rumah gadang baanjuang besar.[7]

Suku (klan)

[sunting | sunting sumber]

Nagari Sumpu dihuni oleh empat suku (klan atau marga). Menurut adat dan sistem kekerabatan Minangkabau yang telah dikembangkan oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan yang dipakai di seluruh alam Minangkabau, tiap-tiap suku dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok lebih kecil yaitu paruik yang dikepalai oleh seorang datuk/penghulu paruik.

1. Suku Panyalai. Suku Panyalai di nagari Sumpur mempunyai beberapa buah paruik, yaitu :

  • Jingkaro dengan penghulunya Datuk Basa,
  • Sabarang Hilia dengan penghulunya Datuk Panghulu Basa,
  • Pauh dengan penghulunya Datuk Marajo Basa, dan
  • Sabarang Hulu dengan penghulunya Datuk Saparido Majolelo.

2. Suku Koto, terbagi ke dalam beberapa buah paruik, yaitu:

  • Arek hilia dengan penghulunya Datuk Tan Mudo,
  • Arek Mudiak dengan penghulunya Datuk Majo Basa,
  • Arek Bukik dengan penghulunya Datuk Kayo,
  • Arek Baruah dengan penghulunya Datuk Bongsu,
  • Pusaro dengan penghulunya Datuk Marajo,
  • Kuciang Jalang dengan penghulunya Datuk Tambijo, dan
  • Singkuang dengan penghulunya Datuk Tan Pahlawan.

3. Suku Sumagek, dibagi ke dalam beberapa paruik:

  • Sumagek dengan penghulunya Datuk Mangkuto Sati,
  • Sumagek Mandaliko dengan penghulunya Datuk Rangkayo Basa,
  • Sumagek Batu Hampa dengan penghulunya Datuk Panghulu Basa,
  • Sumagek Baruah dengan penghulunya Datuk Sati.

4. Suku Jambak, terdiri dari beberapa paruik, yaitu:

  • Jambak dengan penghulunya Datuk Rajo Hitam,
  • Kampai dengan penghulunya Datuk Mulie, dan
  • Singkuang dengan penghulunya Datuk Tanaro.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Desa Wisata Kampuang Minang Nagari Sumpu". jadesta.kemenparekraf.go.id. Diakses tanggal 2025-12-02.
  2. Datar, Kominfo Tanah. "Menteri Sandiago Uno Resmikan Kampung Minang Nagari Sumpur 50 Desa Wisata Terbaik di Indonesia". tanahdatar.go.id. Diakses tanggal 2025-12-02.
  3. 1 2 3 4 Lianto, M. Rafii (2025-04-24). "Profil dan Praktek Wisata Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Kampuang Minang (Studi Kasus pada Desa Wisata Kampuang Minang Nagari Sumpu, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar)". Universitas Andalas.
  4. Zahrul, Ririyanti; Pemkab Tanah Datar (2025-11-30). "Bupati Tinjau Tanah Amblas dan Pengungsi Nagari Sumpur". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-02.
  5. Sugiarto, Heri. "Akses Jalan Nagari Sumpu Tanahdatar Masih Terputus, 14 Rumah Hanyut dan Listrik Padam - Padek Jawapos". Akses Jalan Nagari Sumpu Tanahdatar Masih Terputus, 14 Rumah Hanyut dan Listrik Padam - Padek Jawapos. Diakses tanggal 2025-12-02.
  6. Sri, Wahyu Ningsih (2023-09-07). "KOMUNIKASI PENANGANAN KONFLIK TANAH ULAYAT (STUDI KASUS PADA TIM TANAH ULAYAT NAGARI SUMPUR KECAMATAN BATIPUH SELATAN KABUPATEN TANAH DATAR)". Universitas Andalas.
  7. https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/