Sriwijaya Air

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sriwijaya Air
Logo Sriwijaya Air.png
IATA ICAO Kode panggil
SJ SJY Sriwijaya
Didirikan 2003
Mulai beroperasi 10 November 2003
Hub Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta
Bandar Udara Internasional Juanda
Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin
Bandar Udara Internasional Kuala Namu
Bandar Udara Internasional Ngurah Rai
Kota fokus Pangkal Pinang
Palembang
Pontianak
Anak perusahaan
Ukuran armada 38
Kota tujuan 43
Slogan perusahaan Your Flying Partner
Kantor pusat Jakarta, Indonesia
Orang penting Chandra Lie, Direktur Utama
Situs web www.sriwijayaair.co.id

Sriwijaya Air adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Sriwijaya Air didirikan oleh keluarga Lie (Hendry Lie dan Chandra Lie) dengan Johannes Bundjamin dan Andy Halim. Saat ini Sriwijaya Air adalah Maskapai Penerbangan terbesar ketiga di Indonesia,dan sejak tahun 2007 hingga saat ini tercatat sebagai salah satu Maskapai Penerbangan Nasional yang memiliki standar keamanan kategori 1 di Indonesia.[1]

Bersamaan dengan sebagian besar maskapai penerbangan Indonesia lainnya, Sriwijaya Air (termasuk anak perusahan Sriwijaya Air, NAM Air) berada dalam daftar maskapai penerbangan yang dilarang di Uni Eropa karena alasan keamanan pada April 2014.

Sejarah Sriwijaya Air[sunting | sunting sumber]

PT Sriwijaya Air lahir sebagai perusahaan swasta murni yang didirikan oleh Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim. Beberapa tenaga ahli yang turut menjadi pionir berdirinya Sriwijaya Air diantaranya adalah Supardi, Capt. Kusnadi, Capt. Adil W, Capt. Harwick L, Gabriella, Suwarsono dan Joko Widodo.

Sriwijaya Air didirikan dengan tujuan untuk menyatukan seluruh kawasan Nusantara seperti keinginan raja kerajaan Sriwijaya dahulu yang berasal dari kota Palembang. Keinginan tersebut kemudian diwujudkan melalui pengembangan transportasi udara.

Pada tahun 2003, tepat pada hari Pahlawan, 10 November, Sriwijaya Air memulai penerbangan perdananya dengan menerbangi rute Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP.

Pada mulanya Sriwijaya Air hanya mengoperasikan 1 armada Boeing 737-200 yang kemudian seiring waktu terus ditambah hingga memiliki 15 armada Boeing 737-200. Sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pemenuhan pelayanan publik yang lebih baik, Sriwijaya Air kemudian menambah dan memperluas jangkauan penerbangannya dari Barat ke Timur sekaligus menambah pesawat dengan seri yang lebih baru,yaitu Boeing 737-300,Boeing 737-400, Boeing 737-500W,dan Boeing 737-800NG.

Maskapai ini sempat memesan 20 unit Embraer 175 dan Embraer 195 pada Paris Airshow 2011,namun kemudian pesanan ini dibatalkan dikarenakan alasan operasional, dan kemudian digantikan oleh Boeing 737-500W. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa Sriwijaya Air akan memesan Embraer kembali,yang akan dialokasikan ke anak perusahaannya, yaitu NAM Air.

Pada 1 Agustus 2011, Sriwijaya Air meluncurkan buku panduan berbahasa braille dan program khusu untuk penanganan terhadap para Tuna Netra yang terbang dengan maskapai tersebut. Para awak kabin telah dilatih secara khusus untuk menangani penumpang yang memiliki kelemahan tersebut,diantaranya dengan cara pendekatan personal dan dengan sentuhan fisik.[2]

Arti Logo dan Livery Sriwijaya Air[sunting | sunting sumber]

Logo

  • berupa RU-YI (Cina), yang berarti bahwa apa yang kita inginkan atau usahakan harus yakin tercapai

Warna Putih

  • Melambangkan semua karyawan Sriwijaya Air harus memiliki hati yang bersih, sebersih warna dasar armada Sriwijaya Air

Warna Biru

  • Melambangkan Sriwijaya Air berkeinginan melanglang buana ke seluruh pelosok Nusantara tercinta

Warna Merah

  • Melambangkan bahwa para pimpinan dan karyawan Sriwijaya Air harus berani dan bijak dalam menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan

Tulisan Sriwijaya Air

  • Melambangkan bahwa Sriwijaya Air harus menjadi perusahaan yang besar dan terkenal seperti Kerajaan Sriwijaya yang namanya terukir dalam sejarah nasional dan regional

Lekukan Hati diatap Pesawat

  • Melambangkan bahwa para pimpinan dan karyawan harus mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa cinta terhadap perusahaan

Daftar tujuan[sunting | sunting sumber]

Armada[sunting | sunting sumber]

Armada terhitung Oktober 2014, antara lain:

Jenis Pesawat Beroperasi Dalam Pesanan Kelas Penumpang Catatan
B E Total
Boeing 737-300 11 - - 154 154 Beberapa pesawat telah menggunakan livery terbaru
Boeing 737-400 5 - - 168 168 Beberapa pesawat telah menggunakan livery baru
Boeing 737-500 17 8 112 120 2 Pesawat dioperasikan oleh NAM Air
Boeing 737-800 4 1 8 168 176
!Total 37 1

Mantan armada[sunting | sunting sumber]

Pesawat Total Keterangan
Boeing 737-200 15 Dipensiunkan pada 23 Agustus 2013
Boeing 737-300 2 PK-CKM tergelincir di Yogyakarta pada tahun 2011. PK-CJY telah di-scrap di GMF pada Oktober 2014 pasca purna tugas di Sriwijaya Air,namun terjadi insiden yang menyebabkan dua pekerja tewas ketika hendak melakukan scrapping terhadap pesawat eks Sriwijaya Air.[3]
Boeing 737-400 2 PK-CJV tergelincir di Pontianak pada tahun 2012. PK-CJU telah dikembalikan ke lessor.
Boeing 737-800 1 PK-CLR dikembalikan ke lessor pada 2013.

Insiden[sunting | sunting sumber]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]