Peria

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Peria
Peria
Peria
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Violales
Famili: Cucurbitaceae
Genus: Momordica
Spesies: M. charantia
Nama binomial
Momordica charantia
Descourt.
Sinonim

Sumber:[1]

  • Cucumis africanus Lindl.
  • M. balsamina Blanco.
  • M. balsamina Descourt.
  • M. cylndrica Blanco.
  • M. jagorana C. Koch.
  • M. opergulata Vell.


Peria atau pare adalah tumbuhan merambat yang berasal dari wilayah Asia Tropis, terutama daerah India bagian barat, yaitu Assam dan Burma.[2] Aanggota suku labu-labuan atau Cucurbitaceae ini biasa dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai sayuran maupun bahan pengobatan.[3] Nama Momordica yang melekat pada nama binomialnya berarti "gigitan" yang menunjukkan pemerian tepi daunnya yang bergerigi menyerupai bekas gigitan.[4]

Nama-nama lokal[sunting | sunting sumber]

Peria memiliki banyak nama lokal, di daerah Jawa di sebut sebagai paria, pare, pare pahit, pepareh [5]. Di Sumatera, peria dikenal dengan nama prieu, fori, pepare, kambeh, paria.[5] Orang Nusa Tenggara menyebutnya paya, truwuk, paitap, paliak, pariak, pania, dan pepule, sedangkan di Sulawesi, orang menyebutnya dengan poya, pudu, pentu, paria belenggede, serta palia.[5]

Pemerian dan ekologi[sunting | sunting sumber]

Peria tumbuh merambat dengan membentuk sulur spiral

Peria adalah sejenis tumbuhan merambat dengan buah yang panjang dan runcing pada ujungnya serta permukaan bergerigi. [6] Peria tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan, dibudidayakan, atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar. [7] Tanaman ini tumbuh merambat atau memanjat dengan sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak serta batangnya berusuk isma. [8] Daun tunggal, bertangkai dan letaknya berseling, berbentuk bulat panjang, dengan panjang 3,5 - 8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjari 5-7, pangkalnya berbentuk jantung, serta warnanya hijau tua.[5] Bunga merupakan bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, mahkotanya berwarna kuning.[5] Buahnya bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan, panjangnya 8-30 cm, rasanya pahit, warna buah hijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan tiga daun buah.[5]

Persebaran, habitat, & perawatan[sunting | sunting sumber]

Pare banyak di daerah tropis. Tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemui di tanah terlantar, tegalan, atau dibudidayakan dan ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar untuk diambil buahnya. Tanaman ini tidak perlu cahaya matahari yang terlalu banyak sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung.[1] Benih peria diambil dari buah yang sudah cukup matang. Sesudahnya, semai dalam polypot dengan ukuran 8-12 cm, isi dengan tanah yang baik. Sesudahnya, semai sebanyak 2-3 biji. Tanah harus selalu lembab, hingga tumbuh tunas. Jika daun sudah muncul sebanyak 2-4 lembar, sisakan satu dan cabut yang lainnya. Pidahkan ke tanah, dan siram dengan air yang cukup, dan tutup dengan sekam.[9] Akan tetapi, peria yang berjenis peria gajih lebih baik ditanam di dataran rendah dengan tanah yang gembur. Biasanya ditanam di pekarangan, dan harus ada sedikit naungan agar buahnya dapat berwarna putih.[10]

Peria gajih ditanam lewat bijinya. Saat menugal biji, sebaiknya diberi abu dapur dahulu. Sebab, menanam peria gajih tidak boleh sembarangan.[10] Sulurnya harus dibantu merambat ke tiang rambatan. Adapun, jika sulur induk sudah berdaun lebih dari 10 lembar, gunting ujungnya agar bunga betina tidak muncul dari sulur induk. Setelah sulur dipotong, kelak akan ada muncul sulur yang baru. Jika hujan tidak juga turun, siram peria dengan teratur. Setelah bunga betina muncul, baru dilakukan pemupukan. Jangan berlebihan, sebab akan mengakibatkan sementara daun menjadi lebab, akan tetapi buahnya tetap kecil saja. Pemupukan dilakukan dua minggu sekali, dengan pupuk kimia atau organik.[9] Kalau buahnya sudah terbentuk, harus dilapis kertas 2 rangkap untuk menghindarkan dari serangan lalat buah. Setelah 3 bulan, sudah bisa dipanen.[10] Buah barulah bisa dipane apanila permukaan buah sudah menggembung dan berair. Tekan bagian tengah buah, apabila masih keras, tunggu hingga sudah agak kenyal.[9] Segerakanlah memetik buah sebelum menjadi kuning, karena itu pertanda buah sudah menua. Buah yang menguning, sudah boleh diambil bijinya sebagai bibit. Apabila daun sudah menguning, cabutlah pohon peria tersebut, karena pertanda sudah tak produktif.[9]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Buah peria disajikan sebagai masakan khas Asia dengan kombinasi rempah-rempah.
Kandungan Peria
Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
Energi 79 kJ (19 kcal)
Karbohidrat 4,32 g
- Gula 1,95 g
- Serat pangan 2,0 g
Lemak 0,18 g
- tak jenuh 0,014 g
- tak jenuh tunggal 0,033 g
- tak jenuh majemuk 0,078 g
Protein 0,84 g
Air 93.95 g
Vitamin A equiv. 6 μg (1%)
Thiamine (Vit. B1) 0.051 mg (4%)
Riboflavin (Vit. B2) 0.053 mg (4%)
Niacin (Vit. B3) 0.280 mg (2%)
Vitamin B6 0.041 mg (3%)
Folat (Vit. B9) 51 μg (13%)
Vitamin B12 0 μg (0%)
Vitamin C 33.0 mg (55%)
Vitamin E 0.14 mg (1%)
Vitamin K 4.8 μg (5%)
Kalsium 9 mg (1%)
Besi 0.38 mg (3%)
Magnesium 16 mg (4%)
Fosfor 36 mg (5%)
Kalium 319 mg (7%)
Natrium 6 mg (0%)
Seng 0.77 mg (8%)
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
Sumber: Data Nutrisi USDA

Di negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Korea, dan Cina, peria dimanfaatkan untuk pengobatan, antara lain sebagai obat gangguan pencernaan, minuman penambah semangat, obat pencahar dan perangsang muntah, bahkan telah diekstrak dan dikemas dalam kapsul sebagai obat herbal/jamu.[11] Buahnya mengandung albuminoid, karbohidrat, dan pigmen. Daunnya mengandung momordisina, momordina, carantina, resin, dan minyak. Sementara itu, akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat, sedangkan bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid, dan asam momordial.[12] Peria juga dapat merangsang nafsu makan,menyembuhkan penyakit kuning,memperlancar pencernaan, dan sebagai obat malaria. [13] Selain itu, peria juga mengandung beta-karotena dua kali lebih besar daripada brokoli sehingga berpotensi mampu mencegah timbulnya penyakit kanker dan mengurangi risiko terkena serangan jantung ataupun infeksi virus.[11] Daun peria juga bermanfaat untuk menyembuhkan mencret pada bayi, membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan, menurunkan demam, mengeluarkan cacing kremi, serta dapat menyembuhkan batuk.[13]

Buahnya yang berasa pahit biasa diolah sebagai sayur, misalnya pada gado-gado, pecel, rendang, atau gulai.[6] Di Cina peria diolah dengan tausi, tauco, daging sapi, dan cabai sehingga rasanya makin enak atau diisi dengan adonan daging dan tofu, sedangkan di Jepang peria jadi primadona makanan sehat karena diolah menjadi sup, tempura, atau asinan sayuran.[11]

Ekstrak biji peria selain digunakan sebagai bahan obat, ternyata juga dapat digunakan sebagai pembasmi larva alami yang merugikan seperti larva Aedes aegypti yang menyebarkan penyakit demam berdarah dengue atau DBD.[14]

Peria dan diabetes[sunting | sunting sumber]

Ekstrak peria dikemas dalam bentuk kapsul sebagai obat herba

Sejak zaman purba peria digunakan untuk merawat penderita kencing manis karena terbukti berkhasiat hipoglikemik melalui insulin nabati yang mengurangi kandungan gula dalam darah dan air kencing. [15] Penelitian mengenai khasiat hipoglikemik ini dilakukan oleh William D.Torres pada tahun 2004 baik secara in vitro maupun in vivo.[16] Efek peria dalam menurunkan gula darah pada hewan percobaan bekerja dengan mencegah usus menyerap gula yang dimakan[12]. Selain itu diduga peria memiliki komponen yang menyerupai sulfonylurea, yakni obat antidiabetes paling tua [12]. Obat jenis ini menstimulasi sel beta kelenjar pankreas tubuh memproduksi insulin lebih banyak, selain meningkatkan deposit cadangan gula glikogen di hati[12]. Momordisin, sejenis glukosida yang terkandung dalam peria juga mampu menurunkan kadar gula dalam darah dan membantu pankreas menghasilkan insulin.[11] Efek peria dalam menurunkan gula darah pada kelinci diperkirakan juga serupa dengan mekanisme insulin.[12]

Penemuan peria sebagai antidiabetes ini diperkuat oleh hasil penelitian ahli obat berkebangsaan Inggris, A.Raman dan C.lau pada tahun 1996 yang menyatakan bahwa sari dan serbuk kering buah peria menyebabkan pengurangan kadar glukosa dalam darahdan meningkatkan toleransi glukosa.[16] Dalam ramuan tradisional, buah peria ditumbuk hingga menghasilkan cairan pahit atau merebus daun serta buahnya sehingga menghasilkan air yang dapat diminum secara langsung.[16] Sebagai obat diabetes, buah peria dapat disajikan sebagai teh karena terbukti tidak memiliki efek samping terhadap sistem pencernaan sehingga tepat dikonsumsi oleh penderita yang mengalami konstipasi.[17]

Keanekaragaman[sunting | sunting sumber]

Peria hijau (kiri) dan peria putih.
Peria ular.

Keanekaragaman peria ada tiga, peria gajih, peria hijau, dan peria ular. Kedua peria tersebut tidak dimakan, kecuali peria gajih karena rasanya pahit. Namun, peria gajih memiliki rasa yang masih lumayan, sehingga masih disukai.[10]

  • Peria gajih adalah jenis peria yang paling banyak dibudidayakan dan paling disukai.[6] Jenis ini biasa disebut juga pare putih atau pare mentega yang berasal dari India dan Afrika dengan bentuk buah panjang berukuran 30 - 50 cm, diameter 3 - 7 cm, berat rata-rata antara 200-500 gram/ buah.[2]
  • Peria hijau berbentuk lonjong, kecil dan berwarna hijau dengan bintil-bintil agak

halus. [6] Buah peria ini mempunyai panjang 15 - 20 cm, rasanya pahit dan daging buahnya tipis. [6] Peria hijau ini mudah sekali pemeliharaannya, tanpa lanjaran atau para-para tanaman ini dapat tumbuh dengan baik.[6]

  • Peria ular atau peria belut dapat dikenali dengan buahnya yang berbentuk bulat panjang, agak melengkung dan panjangnaya mencapai 60 cm.[2] Permukaan kulit buahnya berwarna belang-belang, yaitu hijau keputih-putihan mirip kulit ular dan rasa dagingnya tidak begitu pahit.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Dalimartha, Setiawan (2008). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. 5. hal.121 & 131-136. Jakarta: Puspa Swara. ISBN 978-979-1480-18-5.
  2. ^ a b c d Rospita (2002), Peri Kehidupan Tanaman Lobak(Rapharus sativus), Tasikmalaya: Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi, hlm. 1 
  3. ^ Sriutami, Sinta (2008), Efek Pemberian Tepung Buah Pare (Momordica charantia l.) Terhadap Profil Lemak Serum Darah Tikus (Rattus norvegicus), Bogor: Program Studi Ilmu Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, hlm. iii 
  4. ^ (en)Sathish Kumar, D.; Vamshi Shrathnath (Maret-April). "A Medicinal Potency ff Momordica Charantia". International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research 1 (2): 95–100. ISSN 0976 – 044X. Diakses 15 Juni 2010. 
  5. ^ a b c d e f Situs Sentra Informasi Iptek: Pare diakses 15 Juni 2010
  6. ^ a b c d e f Situs Pustaka Departemen Pertanian: Usaha Tani Tanaman Pare
  7. ^ Sudarsono, D. Gunawan, S. Wahyono, I.A. Donatus, dan Purnomo. 2002.’’Tumbuhan Obat II’’. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional UGM.
  8. ^ Dwi Hastuti Qodari.2009. Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Daun Pare ’’(Momordica charantia L.)’’ Menggunakan ’’gummi arabicum’’ Sebagai Bahan Pengikat Secara Granulasi Basah. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal. 3
  9. ^ a b c d Iritani, Galuh (2012). Vegetable Gardening:Menanam Sayuran di Rumah. hal.77 – 78. Yogyakarta:Indonesia Tera. ISBN 979-775-159-7.
  10. ^ a b c d Soeseno, Slamet (1985). Sayur-Mayur untuk Karang Gizi. hal.48-49. Jakarta:Penebar Swadaya.
  11. ^ a b c d Situs Suara Media, 1 Mei 2010:Pare Putih, Ramuan Ampuh Untuk Diabetes diakses 15 Juni 2010
  12. ^ a b c d e Situs Davit Herbal: Manfaat Tanaman Pare diakses 18 Mei 2010
  13. ^ a b Tati S.S. Subahar, Shuhaidawati Idayu.2007.’’Khasiat dan Manfaat Peria’’. Synergy Media Books.
  14. ^ Bahatiyanusa, Rudy. Pengaruh ekstrak biji pare (Momordica charantia L.) terhadap mortalitas larva Aedes aegypti L.diakses 15 Juni 2010
  15. ^ Situs Bicara Tentang Tumbuhan: Khasiat Peria
  16. ^ a b c (en) Situs Charantia: About Ampalaya - Bitter Melon (Momordica charantia Linn) diakses 15 Juni 2010
  17. ^ (en)Rosales, MD, R.; R.Fernando (Juli 2001). "An inquiry into the Hypoglycemic Action of Momordica Charantia among type-2 diabetic patients". Philippine Journal of Internal Medicine 39: 214. 

Galeri foto[sunting | sunting sumber]