Kabupaten Tangerang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Tangerang

Peta lokasi Kabupaten Tangerang
Koordinat: 106°20’-106°43’ BT
6°00’-6°00-6°20’ LS
Provinsi Banten
Hari jadi 27 Desember 1943 (umur 70)
Ibu kota Tigaraksa
Pemerintahan
 - Bupati Ahmed Zaki Iskandar
 - DAU Rp. 1.115.364.627.000.-(2013)[1]
Luas 956,9
Populasi
 - Total 1.798.601 jiwa (2010)
 - Kepadatan 3.129
Demografi
 - Bahasa Indonesia
 - Kode area telepon 021
Pembagian administratif
 - Kecamatan 29
 - Kelurahan 28
 - Desa 320
 - Flora resmi -
 - Fauna resmi Ayam Wareng
 - Situs web www.tangerangkab.go.id

Kabupaten Tangerang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten. Ibukotanya adalah Tigaraksa. Kabupaten ini terletak tepat di sebelah barat Jakarta; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Provinsi DKI Jakarta di timur, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Lebak di selatan, serta Kabupaten Serang di barat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dalam riwayat diceritakan, bahwa saat Kesultanan Banten terdesak oleh Agresi Militer Belanda pada pertengahan abad ke-16, diutuslah tiga maulana yang berpangkat Tumenggung untuk mem­buat perkampungan pertahanan di wilayah yang berbatasan dengan Batavia. Ketiga Tumenggung itu adalah, Tumenggung Aria Yudhanegara, Aria Wangsakara, dan Aria Jaya Santika. Mereka segera mem­bangun basis pertahanan dan pemerintahan di wilayah yang kini dikenal sebagai kawasan Tigaraksa. Jika merunut kepada legenda rakyat dapat disimpulkan bahwa cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksa. Nama Tigaraksa itu sendiri berarti Tiang Tiga atau Tilu Tanglu, sebuah pemberian nama sebagai wujud penghormatan kepada tiga Tumenggung yang menjadi tiga pimpinan ketika itu. Seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian Barat Sungai Cisadane, saat ini diyakini berada di Kampung Gerendeng. Waktu itu, tugu yang dibangun Pangeran Soegri dinamakan sebagai Tangerang, yang dalam bahasa Sunda berarti tanda. Prasasti yang tertera di tugu tersebut ditulis dalam huruf Arab ”gundul” berbahasa Jawa kuno yang berbunyi ”Bismillah pget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/Rengsena perang netek Nangaran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”. Yang berarti ”Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa/Dari Kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/untuk mempertahankan batas Timur Cipamungas (Cisadane) dan Barat Cidurian/Semua menjaga tanah kaum Parahyang. Sebutan ”Tangeran” yang berarti ”tanda” itu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang sebagaimana yang dikenal sekarang ini. Dikisahkan, bahwa kemudian pemerintahan ”Tiga Maulana”, ”Tiga Pimpinan” atau ”Tilu Tanglu” tersebut tumbang pada tahun 1684, seiring dengan dibuatnya perjanjian antara Pasukan Belanda dengan Kesultanan Banten pada 17 April 1684. Perjanjian tersebut memaksa seluruh wilayah Tangerang masuk ke kekuasaan Penjajah Belanda. Kemudian, Belanda membentuk pemerintahan kabupaten yang lepas dari Kesultanan Banten di bawah pimpinan seorang bupati. Para bupati yang pernah memimpin Kabupaten Tangerang di era pemerintahan Belanda pada periode tahun 1682-1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tidak mampu lagi memerintah Kabupaten Tangerang, Belanda menghapus pemerintahan ini dan memindahkannya ke Batavia. Kemudian Belanda membuat kebijakan, sebagian tanah di Tangerang dijual kepada orang-orang kaya di Batavia, yang merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk membantu usaha pertahanannya, terutama sejak kekalahan armadanya di dekat Kepulauan Midway dan Kepulauan Solomon. Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi militer, diantaranya yang terpenting ialah Keibodan (barisan bantu polisi) dan Seinendan (barisan pemuda). Disusul pemindahan kedudukan Pemerintahan Jakarta ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M. Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera. Seiring dengan status daerah Tangerang ditingkatkan menjadi Daerah Kabupaten, maka daerah Kabupaten Jakarta menjadi Daerah Khusus Ibu Kota. Di wilayah Pulau Jawa pengelolaan pemerintahan didasarkan pada Undang-undang nomor 1 tahun 1942 yang dikeluarkan setelah Jepang berkuasa. Undang-undang ini menjadi landasan pelaksanaan tata Negara yang azas pemerintahannya militer. Panglima Tentara Jepang, Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, diserahi tugas untuk mem­bentuk pemerintahan militer di Jawa, yang kemudian diangkat sebagai gunseibu. Seiring dengan hal itu, pada bulan Agustus 1942 dikeluarkan Undang-undang nomor 27 dan 28 yang mengakhiri keberadaan gunseibu. Berdasarkan Undang-undang nomor 27, struktur pemerintahan militer di Jawa dan Ma­dura terdiri atas Gunsyreikan (pemerintahan pusat) yang membawahi Syucokan (residen) dan dua Kotico (kepala daerah istimewa). Syucokan membawahi Syico (walikota) dan Kenco (bupati). Secara hirarkis, pejabat di bawah Kenco adalah Gunco (wedana), Sonco (camat) dan Kuco (kepala desa). Pada tanggal 8 Desember 1942 bertepatan dengan peringatan Hari Pembangunan Asia Raya, pemerintah Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta. Pada akhir 1943, jumlah kabupaten di Jawa Barat mengalami perubahan, dari 18 menjadi 19 kabupaten. Hal ini disebabkan, pemerintah Jepang telah mengubah status Tangerang dari kewedanaan menjadi kabupaten. Perubahan status ini didasarkan pada dua hal; pertama, kota Jakarta ditetapkan sebagai Tokubetsusi (kotapraja), dan kedua, pemerintah Kabupaten Jakarta dinilai tidak efektif membawahi Tangerang yang wilayahnya luas. Atas dasar hal tersebut, Gunseikanbu mengeluarkan keputusan tanggal 9 November 1943 yang isinya: "Menoeroet kepoetoesan Gunseikan tanggal 9 boelan 11 hoen syoowa 18 (2603) Osamu Sienaishi 1834 tentang pemindahan Djakarta Ken Yakusyo ke Tangerang, maka diper­makloemkan seperti di bawah ini: Pasal 1: Tangerang Ken Yakusyo bertempat di Kota Tangerang, Tangerang Son, Tangerang Gun, Tangerang Ken. Pasal 2: Nama Djakarta Ken diganti menjadi Tangerang Ken. Atoeran tambahan Oendang-Oendang ini dimulai diberlakukan tanggal 27 boelan 12 tahoen Syouwa 18 (2603). Djakarta, tanggal 27 boelan 12 tahoen Syouwa 18 (2603). Djakarta Syuutyookan." Sejalan dengan keluarnya surat keputusan tersebut, Atik Soeardi yang menjabat sebagai pembantu Wakil Kepala Gunseibu Jawa Barat, Raden Pandu Suradiningrat, diangkat menjadi Bupati Tangerang (1943-1944). Semasa Bupati Kabupaten Tangerang dijabat, H. Tadjus Sobirin (1983-1988 dan 1988-1993) bersama DPRD Kabupaten Tangerang pada masa itu, menetapkan hari jadi Kabupaten Tangerang tanggal 27 Desember 1943 (Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1984 tanggal 25 Oktober 1984). Seiring dengan pemekaran wilayah dengan terbentuknya pemerintah Kota Tangerang tanggal 28 Februari 1993 berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1993, maka pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pindah ke Tigaraksa. Pemindahan ibu kota ke Tigaraksa dinilai strategis, karena menggugah kembali cita-cita dan semangat para pendiri untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang bebas dari belenggu penjajahan (kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan) menuju masyarakat yang mandiri, maju dan sejahtera.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Peta Kabupaten Tangerang

Sebagian besar wilayah Tangerang merupakan dataran rendah. Sungai Cisadane, sungai terpanjang di Tangerang, mengalir dari selatan dan bermuara di Laut Jawa.

Tangerang merupakan wilayah perkembangan Jakarta. Secara umum, Kabupaten Tangerang dapat dikelompokkan menjadi 2 wilayah pertumbuhan, yakni:

  • Pusat Pertumbuhan Balaraja dan Tigaraksa, berada di bagian barat, difokuskan sebagai daerah sentra industri, permukiman, dan pusat pemerintahan.
  • Pusat Pertumbuhan Teluk Naga, berada di wilayah pesisir, mengedepankan industri pariwisata alam dan bahari, industri maritim, perikanan, pertambakan, dan pelabuhan.
  • Pusat Pertumbuhan Curug, Kelapa Dua, Legok dan Pagedangan, berada di bagian timur dekat perbatasan dengan kota Tangerang Selatan, difokuskan sebagai pusat pemukiman, dan kawasan bisnis.

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Tangerang terdiri atas 29 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 246 desa dan 28 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Tigaraksa.

Arti lambang daerah[sunting | sunting sumber]

1. Lambang daerah berbentuk perisai dengan perincian sbb:

a. Bagian atas: Terdiri dari susunan bata merah dengan lima buah puncak, b. Bagian tengah: Dengan warna hijau, terdiri dari empat batang bambu berbentuk persegi panjang berjumlah empat puluh tiga ruas dengan warna kuning emas. Didalam persegi panjang tersebut terdapat gambar sebuah topi bambu berwarna kuning emas, seuntai buah padi dengan jumlah butir dua puluh tujuh juga berwarna kuning emas dan seuntai bunga kapas berjumlah dua belas dengan warna putih dan tangkai warna hijau. c. Bagian bawah: Terdiri dari tiga buah garis putih berombak dan empat buah garis biru berombak.

2. Motto Satya Karya Kerta Raharja warna putih ditulis pada pita warna coklat, kedua ujungnya dilipat terletak di bawah perisai. ARTI LAMBANG DAERAH: Warna merah mempunyai arti semangat dan keberanian, Warna hijau mempunyai arti kemakmuran dan kesuburan, Warna kuning mempunyai arti keadilan, wibawa dan keagungan, Warna putih mempunyai arti kesucian dan kebersihan, Warna biru mempunyai arti kesetiaan dan kebijaksanaan, Warna coklat mempunyai arti kedewasaan, Warna hitam mempunyai arti keteguhan dan ketabahan. a. Bagian atas: Puncak perisai lima buah berlambang Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia, Susunan bata merupakan lambang benteng pertahanan yang mengingatkan kita kepada kepahlawanan rakyat Kabupaten Tangerang, Jumlah bata melambangkan tanggal, bulan dan tahun proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia yaitu tujuh belas, bulan delapan, tahun empat puluh lima. b. Bagian tengah: Jumlah butir padi, bunga kapas dan ruas bambu melambangkan tanggal, bulan dan tahun jadi Pemerintah Kabupaten Tangerang, yaitu: a) Dua puluh tujuh butir padi melambangkan tanggal dua puluh tujuh, b) Dua belas bunga kapas melambangkan bulan dua belas, c) Empat puluh tiga ruas bambu melambangkan tahun empat puluh tiga. Sedangkan, Topi bambu melambangkan hasil kerajinan dan industri Kabupaten Tangerang. Bagian bawah: 1). Garis putih berombak melambangkan bahwa Kabupaten Tangerang dilintasi oleh sungai-sungai besar, 2) Garis biru berombak melambangkan laut dimana Kabupaten Tangerang merupakan daerah pantai.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Tangerang mempunyai pemerintahan yang sama dengan kabupaten lainnya. Unit pemerintahan di bawah kabupaten adalah kecamatan, masing-masing kecamatan terdiri atas beberapa kelurahan dan desa. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, terhitung sejak Kota Tangerang Selatan memisahkan diri dari Kabupaten Tangerang, jumlah kecamatan, kelurahan maupun desa di Kabupaten Tangerang tetap yaitu 29 kecamatan, 28 kelurahan, dan 246 desa. Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Tangerang selama periode tahun 2009-2011 cukup berfluktuasi. Meningkat pada tahun 2010 dan menurun cukup signifikan pada tahun 2011. Bila diperhatikan komposisi pegawai menurut jenis kelamin, jumlah pegawai laki-laki lebih banyak dibandingkan pegawai perempuan. Terakhir pada tahun 2011 proporsi pegawai laki-laki mencapai 53,53 persen. Komposisi Anggota DPRD Kabupaten Tangerang sedikit mengalami perubahan dibanding tahun sebelumnya, yaitu terdiri dari 9 fraksi dengan anggota sebanyak 50 orang (45 orang laki-laki dan 5 orang perempuan) yang sebagian besar berumur antara 40-49 tahun sebanyak 30 orang (60 persen) dan mayoritas berpendidikan S-1 sebanyak 30 orang (60 persen). Jumlah anggaran yang dibelanjakan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk membiayai pembangunan di wilayahnya pada tahun 2011 mencapai 2,027 triliun rupiah, terdiri dari belanja pegawai 915 miliar rupiah, belanja barang dan jasa 499 miliar rupiah, belanja modal 480 miliar rupiah dan sisanya 136 miliar rupiah digunakan untuk belanja lain-lain. Total realisasi pendapatan daerah Kabupaten Tangerang pada tahun 2011 mencapai 2,224 triliun rupiah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) menyumbang 29,9 persen atau tepatnya 665 miliar rupiah. Sedangkan, dana perimbangan mencapai 1,288 triliun rupiah atau sekitar 57,93 persen yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar 720,5 miliar rupiah, Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 51,52 miliar rupiah, dana bagi hasil pajak/bukan pajak yang mencapai 217 miliar rupiah serta transfer pemerintah pusat lainnya sebesar 299 miliar rupiah. Dan yang ketiga adalah lain-lain pendapatan daerah yang sah yang menyumbang sebesar 270,6 miliar rupiah atau sekitar 12,17 persen terhadap pendapatan daerah wilayah ini. Sementara itu, belanja daerah dalam APBD Kabupaten Tangerang tahun 2012, direncanakan mencapai 2,4 triliun rupiah atau lebih besar dibandingkan dengan realisasi tahun 2011. Sedangkan pendapatan daerah tahun 2012 oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang ditargetkan hanya sebesar 2,2 triliun rupiah.

Daftar kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Tangerang terbagi menjadi 29 kecamatan, yaitu:[sunting | sunting sumber]

  1. Balaraja
  2. Cikupa
  3. Cisauk
  4. Cisoka
  5. Curug
  6. Gunungkaler
  7. Jambe
  8. Jayanti
  9. Kelapa Dua
  10. Kemiri
  11. Kosambi
  12. Kresek
  13. Kronjo
  14. Legok
  15. Mauk
  16. Mekarbaru
  17. Pagedangan
  18. Pakuhaji
  19. Panongan
  20. Pasarkemis
  21. Rajeg
  22. Sepatan
  23. Sepatan Timur
  24. Sindang Jaya
  25. Solear
  26. Sukadiri
  27. Sukamulya
  28. Teluknaga
  29. Tigaraksa

Pemekaran kecamatan[sunting | sunting sumber]

Sampai tahun 2012, Kabupaten Tangerang mempunyai 29 kecamatan yang sebagian besarnya merupakan kecamatan yang dimekarkan dari kecamatan induk.

Tahun 2005 (sebelum dimekarkan)[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2005 kabupaten ini hanya terdiri dari 19 kecamatan, yaitu:

  1. Kecamatan Curug
  2. Kecamatan Cikupa
  3. Kecamatan Legok
  4. Kecamatan Tigaraksa
  5. Kecamatan Cisoka
  6. Kecamatan Sepatan
  7. Kecamatan Pakuhaji
  8. Kecamatan Kosambi
  9. Kecamatan Teluknaga
  10. Kecamatan Mauk
  11. Kecamatan Pasar Kemis
  12. Kecamatan Rajeg
  13. Kecamatan Serpong
  14. Kecamatan Ciputat
  15. Kecamatan Pamulang
  16. Kecamatan Pondok Aren
  17. Kecamatan Balaraja
  18. Kecamatan Kresek
  19. Kecamatan Kronjo

Tahun 2008 (setelah dimekarkan)[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2008, 7 kecamatan dipisahkan dari Kabupaten Tangerang membentuk kota otonom Kota Tangerang Selatan, sehingga kecamatan di Kabupaten Tangerang hanya tersisa 15 kecamatan. Selain itu dilakukan pula pemekaran kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Tangerang. Adapun kecamatan baru yang dimekarkan dari kecamatan induk adalah sebagai berikut:

  1. Kecamatan Panongan (dimekarkan dari Kecamatan Cikupa)
  2. Kecamatan Kelapa Dua (merupakan penyesuaian dari sebagian wilayah Kecamatan Curug, Legok, dan Pagedangan yang dipisah menjadi suatu kecamatan)
  3. Kecamatan Solear (dimekarkan dari Kecamatan Cisoka)
  4. Kecamatan Jambe (dimekarkan dari Kecamatan Tigaraksa)
  5. Kecamatan Sepatan Timur (dimekarkan dari Kecamatan Sepatan)
  6. Kecamatan Kemiri (dimekarkan dari Kecamatan Mauk)
  7. Kecamatan Sukadiri (dimekarkan dari Kecamatan Mauk)
  8. Kecamatan Sindang Jaya (dimekarkan dari Kecamatan Pasar Kemis)
  9. Kecamatan Cisauk (dimekarkan dari Kecamatan Serpong)
  10. Kecamatan Mekarbaru (dimekarkan dari Kecamatan Kronjo)
  11. Kecamatan Gunung Kaler (dimekarkan dari Kecamatan Kresek)
  12. Kecamatan Sukamulya (dimekarkan dari Kecamatan Balaraja)
  13. Kecamatan Jayanti (merupakan penyesuaian dari sebagian wilayah Kecamatan Cisoka, Balaraja, dan Kresek yang dipisah menjadi suatu kecamatan)
  14. Kecamatan Pagedangan (merupakan penyesuaian dari sebagian wilayah Kecamatan Legok dan Serpong yang dipisah menjadi suatu kecamatan)

Kecamatan di Kabupaten Tangerang dari tahun 2008 hingga sekarang ada 15 kecamatan ditambah 14 kecamatan yang dimekarkan. Jumlahnya ada 29 kecamatan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]