Kabupaten Pandeglang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Pandeglang

Peta lokasi Kabupaten Pandeglang
Koordinat: 60 21' - 70 10' LS
1040 48'- 1060 11' BT
Provinsi Banten
Tanggal 11 April
Ibu kota Pandeglang
Pemerintahan
 - Bupati Erwan Kurtubi
 - DAU Rp. 988.536.476.000.-(2013)[1]
Luas 2.746,90 km2
Populasi
 - Total 1.130.514 jiwa (2007)[2]
 - Kepadatan 411,56 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0253
Pembagian administratif
 - Kecamatan 35
 - Kelurahan 335
 - Flora resmi -
 - Fauna resmi Kancil
 - Situs web http://www.pandeglangkab.go.id/
Kediaman bupati Pandeglang R. A. A. Wiriaatmadja di sekitar tahun 1925

Kabupaten Pandeglang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten, Indonesia. Ibukotanya adalah Pandeglang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang di utara, Kabupaten Lebak di Timur, serta Samudra Indonesia di barat dan selatan. Wilayahnya juga mencakup Pulau Panaitan (di sebelah barat, dipisahkan dengan Selat Panaitan), serta sejumlah pulau-pulau kecil di Samudra Hindia, termasuk Pulau Deli dan Pulau Tinjil. Semenanjung Ujung Kulon merupakan ujung paling barat Pulau Jawa, dimana terdapat suaka margasatwa tempat perlindungan hewan badak bercula satu yang kini hampir punah.

Pusat perekonomian Kabupaten Pandeglang terletak di dua kota yakni Kota Pandeglang dan Labuan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Pandeglang merupakan dataran rendah dan dataran bergelombang. Kawasan selatan terdapat rangkaian pegunungan. Sungai yang mengalir diantaranya Sungai Ciliman yang mengalir ke arah barat, dan Sungai Cibaliung yang mengalir ke arah selatan.

SEJARAH[sunting | sunting sumber]

Nama Pandeglang yang sekarang digunakan ini baik sebagai Ibu Kota Kabupaten maupun sebagai nama Kabupaten hal ini ada beberapa pendapat antara lain :

  • Pandeglang yang berasal dari kata “Pandai Gelang” yang artinya orang tukang atau tempat menempa gelang. Pendapat ini terutama dikaitkan dengan legenda Si AMUK yang konon kabarnya pada Zaman Kesultanan Banten, di Desa Kadupandak ada seorang tukang Pandai (tukang besi) yang termasyur pandai.

Meriam Ki Amuk (samping)

  • Sultan Banten yang memerintah pada waktu itu menyuruh tukang pandai besa di desa tersebut untuk membuat gelang meriam yang bernama si AMUK, karena di daerah lain tukang pandai besi tidak ada yang sanggup untuk membuatnya. Oleh karena pandai besi tersebut berhasil membuatnya maka daerah Kadupandak dan sekitarnya disebut orang Pandeglang yang selanjutnya berkembang menjadi salah satu distrik di Kabupaten Serang;

Meriam Ki Amuk (depan)

  • Pandeglang berasal dari kata “Paneglaan” yang artinya tempat melihat ke daerah lain dengan jelas. Hal ini seperti dikemukakan dalam salah satu Buku “Pandeglang itu asal dari kata Paneglaan, tempat melihat ke mana-mana”. Sedikit kita nanjak ke pasir, maka terdapat sebuah kampung namanya “Sanghiyang Herang” patilasan orang dahulu, awas (negla) melihat kemana-mana yaitu “Pandeglang sekarang”.
  • Pandeglang berasal dari kata “Pani-Gelang” yang artinya “tepung gelang”. Pada Tahun 1527 Banten jatuh seluruhnya ke tangan Syarif Hidayatullah yang kemudian diperkuat untuk kepentingan perdagangan.

Sunda Kelapa yang diganti namanya menjadi Jayakarta sebagian dimasukan ke dalam Wilayah Banten. Cirebon kekuasaannya diserahkan kepada anaknya bernama Pangeran Pasarean yang wafat pada tahun 1552. Sedangkan Banten kekuasaannya diserahkan pada puteranya yang bernama Sultan Hasanudin (Tahun 1552-1570).

Pelabuhan Sunda Kelapa Pada tahun 1568 Banten memutuskan hubungan kerajaan dengan Demak. Pengganti Hasanudin ialah Maulana Yusuf dari tahun 1570-1580. Penggantinya Maulana Muhammad (Ratu Banten) sebagai Sultan Banten III Tahun 1580-1596. Pada Tahun 1596 muncul orang-orang Belanda di Daerah yang kemudian mendirikan VOC pada tahun 1602. Tahun 1618 Belanda berselisih dengan Banten 1612 berdiri Batavia oleh Jan Viter Zeun Coen. Sultan Banten ke IV ialah Sultan Tirtayasa pada tahun 1651-1682. Pada tahun 1680 Sultan Ageng Tirtayasa berselisih dengan Sultan Haji yang minta bantuan pada Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjarakan di Batavia pada tahun 1692. Pada tahun 1750 timbul perebutan kekuasaan pada waktu Sultan Arifin (Sultan ke VI) Alim Ulama pada waktu itu mengangkat Ratu Bagus Buang. Keadaan ini oleh Belanda dianggap berbahaya, maka diangkatlah Pangeran Gusti sebagai penggantinya. Kenyataannya bukan mereda tetapi Kiyai Tapa dan Ratu Buang mengadakan perlawanan dan pengacauan di Daerah Bogor dan Priangan. Ketika zaman Deandels nasib Banten sama dengan nasib kerajaan lainnya di Pulau Jawa. Tahun 1809 Sultan Banten yang baru yaitu Sultan Muhamad harus menyerahkan Daerah Lampung kepada Batavia. Oleh karena itu Sultan Muhamad memindahkan Ibu Kota Kesultanan Banten ke Pandeglang. Menurut Staatsblad Nederlands Indie No. 81 Tahun 1828 Keresidenan Banten di bagi menjadi 3 Kabupaten yaitu :

  • Kabupaten Utara yaitu Kabupaten Serang;
  • Kabupaten Selatan yaitu Kabupaten Lebak;
  • Kabupaten Barat yaitu Kabupaten Caringin.
  • Kabupaten Serang dibagi atas 11 Kewedanaan :

1. Kewedanaan Serang dibagi dalam Kecamatan Kalodian dan Cibening; 2. Kewedanaan Banten dibagi dalam Kecamatan Banten, Serang, Nejawang; 3. Kewedanaan Ciruas dibagi dalam Kecamatan Cilegon, Bojonegoro; 4. Kewedanaan Cilegon dibagi dalam Kecamatan Terate, Cilegon, Bojonegoro; 5. Kewedanaan Tanara dibagi dalam Kecamatan Tanara dan Pontang; 6. Kewedanaan Baros dibagi dalam Kecamatan Regas, Ander, Cicandi; 7. Kewedanaan Kolelet dibagi dalam Kecamatan Pandeglang dan Cadasari; 8. Kewedanaan Pandeglang dibagi dalam Kecamatan Pandeglang dan Cadasari; 9. Kewedanaan Ciomas dibagi dalam Kecamatan Ciomas Barat dan Ciomas Utara; 10. Kewedanaan Anyer tidak dibagi dalam Kecamatan-kecamatan; Selanjutnya memperhatikan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 24 Nopember 1887 Np. 1/c tentang Batas Kota Serang dan Bagian Kota Pandeglang, Caringin dan Lebak Pasal 29, 31, 33, 67c dan 131 Reglement (STBL Van Nederlanch India Tahun 1925 No. 380 LN. 1924 No. 74 Pasal 1) maka ditunjuk Kewedanaan Pandeglang, Menes, Caringin dan Cibaliung.

Kemudian berdasarkan Surat Menteri Jajahan tanggal 13 dan 20 Nopember 1873 No. LAA.AZ.No. 34/209 dan 28/2165 menetapkan bahwa : Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer dan Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan; Bupati mempunyai pembantu yaitu Mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden; Kepala Distrik mempunyai gelar Jabatan Wedana dan Onder Distrik mempunyai Gelar Jabatan Asisten Wedana; Berdasarkan Staatsblad 1874 No. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874, mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 Distrik atau Kewedanaan sebagai berikut : 1. Kewedanaan Pandeglang; 2. Kewedanaan Baros; 3. Kewedanaan Ciomas; 4. Kewedanaan Kolelet; 5. Kewedanaan Cimanuk; 6. Kewedanaan Caringin; 7. Kewedanaan Panimbang; 8. Kewedanaan Menes; 9. Kewedanaan Cibaliung. Kesimpulan • Di Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada Pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak dibawah penguasaan Keresidenan Banten. • Atas dasar dan fakta-fakta tersebut dapat diambil beberapa alternatif : 1. Pada tahun 1828 : Pandeglang sudah merupakan Pusat Pemerintahan Distrik; 2. Pada tahun 1874 : Pandeglang merupakan Kabupaten; 3. Pada tahun 1882 : Pandeglang merupakan Kabupaten dan Distrik Kewedanaan; 4. Pada tahun 1925 : Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri. Dari keempat kesimpulan itu atas kesepakatan bersama kita telah menentukan 1 April 1874 sebagai Hari Jadi Kota Kabupaten Pandeglang.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Wilayah (km²) Populasi Kepadatan (/km²)
Sumur 258,54 21.813 84
Cimanggu 259,73 37.121 143
Cibaliung 221,88 26.033 177
Cibitung 180,72 19.903 110
Cikeusik 322,76 49.647 154
Cigeulis 176,21 27.724 189
Panimbang 132,84 46.686 351
Sobang 138,88 37.735 272
Munjul 75,25 22.836 303
Angsana 64,84 27.124 418
Sindangresmi 65,20 21.527 330
Picung 56,74 34.023 600
Bojong 50,72 33.804 666
Saketi 54,13 40.465 748
Cisata 32,65 22.150 678
Pagelaran 42,76 33.882 792
Patia 45,48 27.612 607
Sukaresmi 57,30 33.674 588
Labuan 15,66 51.903 3.314
Carita 41,87 32.086 766
Jiput 53,04 29.795 562
Cikedal 26,00 30.721 1.182
Menes 22,41 35.692 1.593
Pulosari 31,33 26.599 849
Mandalawangi 80,19 44.910 560
Cimanuk 23,64 37.745 1.597
Cipeucang 21,16 28.107 1.328
Banjar 30,50 30.463 999
Kaduhejo 33,57 33.880 1.009
Mekarjaya 31,34 20.769 663
Pandeglang 16,85 38.590 2.290
Majasari 19,57 42.153 2.154
Cadasari 26,20 30.936 1.181
Karang Tanjung 19,07 29.799 1.563
Koroncong 17,86 17.069 956
Kabupaten Pandeglang 2.746,89 1.130.514 412

Berdasarkan Sensus Penduduk Di Bulan Mei 2010 Jumlah Penduduk Pandeglang : 1.145.792 Orang.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan formal TK atau RA SD atau MI SMP atau MTs SMA atau MA SMK Perguruan tinggi Lainnya
Negeri 1 886 123 22 10 0 1
Swasta 29 150 136 67 40 5 6
Total 30 1.036 259 89 48 5 7
Data sekolah di kabupaten Pandeglang
Sumber:[3]

Stasiun Radio[sunting | sunting sumber]

Radio URBANRKM FM 99.5 MHz (pandeglang)

Radio Angkasa FM 98.9 MHz
Radio Paranti FM 105.6 Mhz
Radio Berkah FM 97.3 Mhz
Radio Akarsari FM 92.20 Mhz
Radio Krakatau FM 93.7 Mhz
Radio Labuan FM 93.3 Mhz
Radio Nadafa FM 91.0 Mhz
Radio Arjuna FM 100.0 Mhz
Radio Adhiswara FM 90.6 Mhz
Radio Uqi fm 107,8 MHz

Kaka Teteh Pandeglang[sunting | sunting sumber]

Kaka dan Teteh Pandeglang adalah sebutan untuk Duta Wisata, Pemuda Dan Pembangunan Kabupaten Pandeglang. Dilaksanakan pertama kali pada tahun 2011 oleh DPD KNPI Pandeglang. Kaka dan Teteh Pandeglang ini, bernaung pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang.

Kaka dan Teteh Pandeglang bertugas sebagai Duta atau icon daerah (Kabupaten Pandeglang) dalam membantu pemerintah daerah membangun dan mempromosikan potensi-potensi daerah. Baik itu dalam bidang Kebudayaan, Pariwisata, dan lainnya.

Pemilihan Kaka dan Teteh Pandeglang kedepannya akan berlangsung rutin setiap satu tahun sekali, dimana pemenang Kaka Teteh Pandeglang akan diikutsertakan di Pemilihan serupa di tingkat Provinsi Banten, yakni Kang Nong Banten.

Dan tujuan dari Pemilihan Kaka Teteh Pandeglang yaitu mencetak Generasi Muda Kabupaten Pandeglang yang ideal, yakni Generasi Muda yang berlandaskan Iman dan Taqwa, menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), dan mempunyai daya saing, terampil, serta menguasai Kebudayaan dan Pariwisata baik Nasional, Provinsi Banten, maupun Kabupaten Pandeglang.

Pemenang Kaka Teteh Pandeglang[sunting | sunting sumber]

Tahun 2011,

  • Kaka Pandeglang: Abda Yuafi (Kec. Cisata)
  • Teteh Pandeglang: Astri Lestari (Kec. Pandeglang)
  • Wakil I Kaka Pandeglang: Muhamad Aghi Gumelar (Kec. Majasari)
  • Wakil I Teteh Pandeglang: Astri Oktawati (Kec. Pandeglang)
  • wakil II Kaka Pandeglang: Adhisajana Parahita Ananto (Kec. Pandeglang)
  • Wakil II Teteh Pandeglang: Fathya Rizkiati Sundani (Kec. Majasari)
  • Kaka Favorit Pandeglang: Muhamad Fahrizal (Kec. Cimanuk)
  • Teteh Favorit Pandeglang: Nurzahara Amalia (Kec. Menes)
  • Kaka Persahabatan Pandeglang: Endang Hidayatullah (Kec. Cadasari)
  • Teteh Persahabatan Pandeglang: Marsih (Kec. Cikeusik)

Tahun 2012,

  • Kaka Pandeglang: Asep Budianto (Kec. Koroncong)
  • Teteh Pandeglang: Dhini Gharat Fannai (Kec. Cisata)
  • Wakil I Kaka Pandeglang: Rendy Lazuardi Dengah (Kec. Pandeglang)
  • Wakil I Teteh Pandeglang: Anisa Septiani (Kec. Pandeglang)
  • wakil II Kaka Pandeglang: Asep Mulyadi (Kec. Cimanggu)
  • Wakil II Teteh Pandeglang: St. Roifatul Roihah (Kec. Majasari)
  • Kaka Harapan Pandeglang: Muiz Abdul Aziz (Kec. Saketi)
  • Teteh Harapan Pandeglang: Tria Utari Handayani (Kec. Karang Tanjung)
  • Kaka Favorit Pandeglang: Tb. Dian Kurniawan (Kec. Mandalawangi)
  • Teteh Favorit Pandeglang: Ainus Santy Pandita (Kec. Majasari)

Tahun 2013,

  • Kaka Pandeglang: Hasanudin (Kec. Menes)
  • Teteh Pandeglang: Jihan Amalia (Kec. Pandeglang)
  • Wakil I Kaka Pandeglang: Nurul Hadi (Kec. Cikeudal)
  • Wakil I Teteh Pandeglang: Dhea Linta (Kec. Majasari)
  • Wakil II Kaka Pandeglang: Aldi Septiadi (Kec. Karang Tanjung)
  • Wakil II Teteh Pandeglang: Fitri Marsela (Kec. Sumur)
  • Kaka Kader Anti Narkoba Terpilih: Rizki Iskandar (Kec. Saketi)
  • Teteh Kader Anti Narkoba Terpilih: Maya Shintya (Kec. Cadasari)
  • Kaka Persahabatan Pandeglang: Uhan Burhan (Kec. Carita)
  • Teteh Persahabatan Pandeglang: Meity Ayu Nursanty (Kec. Karang Tanjung)
  • Kaka Favorit Pandeglang: M. Maman Sumaludin (Kec. Menes)
  • Teteh Favorit Pandeglang: Sheila Monica (Kec. Labuan)
  • Kaka Kulit Sehat Pandeglang: Aldi Septiadi (Kec. Karang Tanjung)
  • Teteh Kulit Cantik Pandeglang: Ratih Chandraningsih (Kec. Pandeglang)

Julukan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Pandeglang memiliki beberapa julukan, yaitu:

  • Kota Badak
  • The Sunset of Java
  • Kota Berkah
  • Kota Santri

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Pandeglang memiliki beberapa tempat wisata, yaitu:

  • Pantai Carita
  • Pantai Bama
  • Pantai Ciputih
  • Pantai Tanjung Lesung
  • Curug Gendang
  • Pemandian Cisolong
  • Pemandian Cikoromoy
  • Pemandian Citaman
  • Taman Nasional Ujung Kulon
  • Situs Salakanagara di Mandalawangi (Petilasan Pangeran Angling Darma)
  • Kramat Syech Asnawi Caringin
  • Dataran tinggi Pulosari-Hasepan-Gunung Karang
  • Alun-alun Pandeglang
  • Kramat Syech Daud Cikaduen
  • Rama Banten RB

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 
  2. ^ http://banten.bps.go.id/pandeglang.htm Jumlah Penduduk Kabupaten Pandeglang tahun 2007 versi BPS Provinsi Banten
  3. ^ Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) Wilayah Kab. Pandeglang

Website mengenai Pandeglang[sunting | sunting sumber]