Menes, Pandeglang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Menes
—  Kecamatan  —
Negara  Indonesia
Provinsi Banten
Kabupaten Pandeglang
Pemerintahan
 • Camat Drs. Atmaja suhara.M,M.Pd
Luas 25,362 km²
Jumlah penduduk 37.652 jiwa
Kepadatan 1.484
Desa/kelurahan 12[1]

Menes adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Indonesia.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Masyarakat menes merupakan masyarakat yang heterogen, berbagai kultur telah bercampur baur menjadi satu. Menjadikan keunikan tersendiri. Sebagian besar Penduduk Menes memiliki mata pencaharian sebagai Petani, pegawai negeri sipil struktural dan fungsional yang mencapai ribuan, Pedagang, Peternak dan wiraswasta. Menurut data statistik pandeglang di Pandeglang terdapat ratusan LSM, sebagian besarnya berasal dari Menes. Bahkan DPC Parpol pun terbanyak di Menes.

Produk unggulan[sunting | sunting sumber]

  • Emping melinjo yang dibuat dari buah tangkil (Gnetum gnemon). Di kecamatan ini terdapat APE (Asosiasi Pengrajin Emping). Menes ditetapkan sebagai kawasan Agropolitan oleh pemerintah daerah dengan penghasilan utama emping melinjo. Di sini, diproduksi beragam emping dengan rupa-rupa rasa secara tradisional oleh penduduk setempat.
  • Kue Balok Menes, terbuat dari singkong yang memiliki rasa yang sangat khas, singkong banyak ditanam di Menes
  • Singkong, ubi-umbian, ketela, lahan pertanian dengan produksi lebih dari 2.283 Ton per tahun yang ditanam di atas lahan 233 Hektare.
  • Peternakan domba dengan produksi rata-rata 5.743 ekor per tahun.

Pasar Menes[sunting | sunting sumber]

Pasar ini sudah ada sejak zaman sebelum kesultanan islam, yang dilanjutkan oleh masa kolonial yang dibuat dari beton dan biasa dikenal pasar beton atau blok menes. Kemudian pasar ini menjadi pasar kebanggaan masyarakat dari kewedanaan Menes hingga kini. Luas pasar menes mencapai 1 hektare setengah. Terletak di sebelah barat Alun-alun Menes. ditempat ini dijual berbagai aneka ragam kebutuhan masyarakat. Hari Pasar Menes jatuh pada hari Selasa dan Sabtu, setiap hari ini akan terjadi kepadatan dari bada shubuh hingga sore hari.

Panjagalan[sunting | sunting sumber]

Panjagalan adalah sebutan untuk sebuah bangunan tempat pemotongan hewan ternak bersekala besar, ditempat ini dipotong kerbau, kambing dan sapi. Hanya orang-orang yang memiliki keahlian memotong yang diberikan izin untuk menjadi pemotong dikawasaan ini. Karena selain baligh, islam juga mesti memiliki kecepatan dalam menguliti daging potong. Keahlian ini menjadi keunikan tersendiri, selain menjadikan dagingnya lunak alias tidak liat juga tidak berbau.

Pasar Kambing[sunting | sunting sumber]

Pasar kambing berada di kp. kadu logak, selain kambing dijual juga Ayam kampung, Kerbau, Sapi dan hewan ternak lainnya. Ribuan kambing dijual ditempat ini setiap hari pasar.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menes berasal dari kata KAMONESAN, kata dasar mones, yang memiliki makna, kepandaian, kecerdikan, keanehan, kemulyaan dan kemasuran.

Menes mempunyai banyak sejarah, hal ini dapat dilihat dari banyak peninggalan-peninggalan yang terdapat di Menes dari Zaman Megalitikum, Zaman Purba, Zaman Hindu- Budha, Zaman Kesultanan Islam hingga Zaman Penjajahan.

Zaman Megalitikum, Purba, Hindu-Budha[sunting | sunting sumber]

Di Menes terdapat situs peninggalan zaman Megalitikum yang disebut situs saghiank dengdek di lereng gunung pulosari, yang diprediksi berumur 4500 SM (sebelum masehi), Prasasti Batu Go'ong Citaman peninggalan kerajaan Hindu-Budha, yang sampai sekarang belum ada yang dapat memperkirakan usia batu tersebut. Prasasti Batu Tulis Muruy, masyarakat mempercayai bahwa batu tersebut bertuliskan arab pada zaman keislaman, situs Alaswangi dan situs talaga yang berada di tegal baros merupakan benda sejarah megalitikum. Susunan batu datar berbentuk memanjang dengan sebuah singgasana batu. Sandaran singgasana batu berbentuk segilima, saat ini dalam keadaan miring. Penduduk setempat menyebut altar itu leluhur Menes.

Zaman Kesultanan[sunting | sunting sumber]

Sedangkan pada zaman kesultanan banyak terdapat masjid-masjid yang dibuat pada zaman itu sekitar abad 14 Masehi, yang usianya ratusan tahun. Selain itu di Menes banyak pondok pesantren salafiah yang masih mengakar, hingga tahun 1990-an hampir di tiap kampung diberbagai desa terdapat pondok pesantren salafiah yang usianya telah turun temurun, namun kini pesantren itu telah banyak ditinggalkan, dan ada pula yang beralih fungsi. Selain itu terdapat pula batu nisan yang usianya ratusan tahun. Diantaranya makam:

  1. Syech Holil
  2. Syech Kibuyut Tanding di Kadu Semar Desa Sukamanah
  3. Syech Abdul Ghani Bima Menes
  4. Tumenggung Muhammad Menes
  5. Nyi Parung Kujang di Cisaat Desa Alaswangi
  6. Ki Kabayan di Citangkil Desa Cigandeng

Zaman Kolonial[sunting | sunting sumber]

Bentuk peninggalan zaman Belanda adalah berupa Kewadanan yang berdiri di pusat kecamatan yang sekarang dijadikan sebagai kantor kecamatan. Dibangun pada Abad ke 18, tahun 1848an setelah gunung Krakatau Meletus.

  • Gedung Panjang sebagai markas para prajurit kolonial,
  • Gedung Pendopo Kecamatan Menes yang dibangun tahun 1848
  • Alun-alun Menes berada dititik pusat kota,
  • Eks Gedung Sipir Belanda
  • Eks Rumah Dinas Komisaris Kepolisian Kolonial,
  • Stasiun kereta api di Kampung Benteng, dan rel yang panjang. Rumah-rumah peninggalan zaman belanda yang masih ada disekitarnya,
  • Sebuah Tower Ringgo yang terletak di depan kantor telkom dan polsek menes, dan masih banyak peninggalan lainnya.
  • Dulu pada tahun 90-an masih ada sebuah meriam didepan kwadanaan Menes yang menghadap ke Alun-alun

Berdasarkan Staatsblad 1874 No. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874, mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 Distrik atau Kewedanaan sebagai berikut :

  • Kewedanaan Pandeglang;
  • Kewedanaan Baros;
  • Kewedanaan Ciomas;
  • Kewedanaan Kolelet;
  • Kewedanaan Cimanuk;
  • Kewedanaan Caringin;
  • Kewedanaan Panimbang;
  • Kewedanaan Cibaliung.
  • Kewedanaan Menes;

- Kewedanaan Menes membawahi beberapa Kecamatan, diantaranya Saketi, Jiput, Picung, Bojong, Munjul, Pagelaraan

Zaman Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Zaman Reformasi[sunting | sunting sumber]

Desa-desa di Menes[sunting | sunting sumber]

Desa di Kecamatan Menes terpecah menjadi beberapa desa, ketika pemekaran kecamatan beberapa desa telah terambil oleh kecamatan lain, seperti kecamatan Pulosari terdiri dari desa Banjarwangi, desa Koranji, desa Karyasari. Kecamatan Cikedal terdiri dari desa Tegal, desa Karyautama, Kecamatan Cisata.

Desa Yang ada di Menes terdiri dari 12 desa

  • Desa Menes
  • Desa Purwaraja
  • Desa Alaswangi
  • Desa Tegalwangi
  • Desa Kananga
  • Desa Cilabanbulan
  • Desa Sindangkarya
  • Desa Cigandeng
  • Desa Sukamanah
  • Desa Kadu Payung
  • Desa Muruy
  • Desa Ramaya

Kesenian dan Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Seni dan Kebudayaan turun-temurun[sunting | sunting sumber]

  • Pencak Silat
  • Kuda Lumping
  • Terbang
  • Pantun Beton
  • Debus
  • Rampak Bedug
  • Wayang Golek
  • Arak-arakan Tahun Baru Hijriah

Permainan tradisonal[sunting | sunting sumber]

Permainan anak-anak Menes pada waktu kecil, banyak sekali macam ragamnya, diantaranya adalah:

  • Bebeledogan
  • Gatrik
  • Pepeletokan
  • Kukudaan
  • Ucing Bacak
  • Aaroan (Aro-aroan)
  • Gobag
  • Maen Yeye
  • Beklas (bekel)
  • Susumputan
  • Adu Bentar
  • Babadean Manggu
  • Maen Gundu
  • Maen Karet
  • Lalayangan/Peteng
  • Jajangkungan
  • Ngaloco Haseum

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Kecamatan Jiput dan Kecamatan Pulosari
Selatan Kecamatan Cisata dan Kecamatan Cikedal
Barat Kecamatan Cikedal
Timur Kecamatan Cisata

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Rata-rata penduduk Menes berpendidikan sampai SMA dan perguruan tinggi, bahkan banyak lulusan S2 dan S3. Sekalipun demikian tidak semua masyarakat dapat mengenyam pendidikan sampai SMA, dikarenakan berbagai kultur terutama para pendatang. Di Menes sendiri terdapat berbagai lembaga pendidikan yang didirikan dari Zaman penjajahan, salah satunya sekolah dasar tertua di Menes adalah SDN Menes 1 yang didirikan pada tahun 1926 M, SDN Purwaraja 3, yang dahulunya dikenal dengan sebutan SR.

Lembaga Pendidikan Formal yang ada dimulai dari kelompok bermain {Kober}, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai perguruan tinggi, dan Non Formal seperti pondok pesantren salafiah sampai moderen, PKBM Berkah. Di antaranya:

Pendidikan Formal[sunting | sunting sumber]

  • Taman bermain dan Kanak-kanak = 45 lembaga
  • Sekolah Dasar Negeri = 27 SD, dua sekolah bersetatus SSN
  • Madrasah Ibtidaiyah = 5 MI
  • Sekolah Menengah Pertama/MTs = 12
  • Sekolah Menengah Atas/Aliyah/SMK = 13 satu sekolah berstatus LSBI

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

  • MA, Mathla'ul Anwar Pusat Menes yang terletak di perempatan Cimanying, Desa Menes
  • MALNU, Mathlaul Anwar Li Nahdlatil Ulama Pusat Menes yang terletak di Alun-alun timur, Desa Purwaraja
  • Nurul Amal Pusat Menes yang terletak di samping Masjid Kadu Bangkong, Desa Purwaraja
  • YAHIDA, Anwarul Hidayah Pusat Menes yang terletak di Kampung Ciputri, Desa Alaswangi
  • AHLUS, Ahlussunah Waljama'ah Pusat Menes yang terletak di Cimanying, Desa Menes
  • Muhammadiyah = di Kampung Kadu Logak, Desa Purwaraja
  • Staibanna di Kampung Cimedang dan denggung, Desa Menes

Pendidikan Non Formal[sunting | sunting sumber]

  • PKBM Berkah, Penyelenggara kursus-kursus, Paket A, B dan C
  • SC Inggris
  • Logos, dll

Pondok Pesantren

  • Pondok Pesantren Hidayatul Mubin di Cimedang
  • Pondok Pesantren Cibadak
  • Pondok Pesantren Al-Mu'awanah, di Jl. Alun-alun Timur Menes
  • Pondok Pesantren Tahfizhul Quran, di Kebon Jeruk, Menes
  • Pondok Pesantren Fathul Ma'ani, di Kananga
  • Pondok Pesantren Karang Mulya
  • Pondok Pesantren Tahfizhul Quran, di Kadu Tanggay
  • Pondok Pesantren Al-Islah, di Kananga

dan masih banyak yang lainnya

Situ / waduk[sunting | sunting sumber]

Menes yang berada dikaki gunung pulaosari menjadi tempat penadah atau penyangga air pegunungan, beberapa situ yang ada di Menes

  • Situ Menes
  • Situ Cikempong
  • Situ Kadu Payung
  • Situ Alaswangi
  • Situ Cisaat

Situ-situ ini berfungsi untuk mengaliri daerah pertanian dan perkebunan.

Referensi[sunting | sunting sumber]