Kabupaten Bungo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Bungo
Lambang Kabupaten Bungo
Lambang Kabupaten Bungo
Moto: "Langkah Serentak Limbai Seayun"


Lokasi Jambi Kabupaten Bungo.svg
Peta lokasi Kabupaten Bungo
Koordinat: 1° 08' - 1° 55' Lintang Selatan dan 101° 27' - 102° 30' Bujur Timur.
Provinsi Jambi
Hari jadi 19 Oktober 1965
Dasar hukum Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999
Ibu kota Muara Bungo
Pemerintahan
 - Bupati H. Sudirman Zaini, S.H., M.H[1]
 - Wakil Bupati H.Mashuri, SP.,ME
 - DAU Rp. 523.680.270.000.-(2013)[2]
Luas 4.659 km2 [3]
Populasi
 - Total 303.135 jiwa (2010)
 - Kepadatan 65,06 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0747
Pembagian administratif
 - Kecamatan 17 kecamatan
 - Kelurahan 141 Desa dan 12 kelurahan [4]
 - Fauna resmi Pelanduk napu
 - Situs web www.bungokab.go.id

Kabupaten Bungo adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kabupaten ini berasal dari hasil pemekaran Kabupaten Bungo Tebo pada tanggal 12 Oktober 1999. Luas wilayahnya 4.659 km² (9,80% dari luas Provinsi Jambi) dengan populasi 303.135 jiwa (Sensus Penduduk Tahun 2010).[5]

Kabupaten ini beribukota di Muara Bungo. Sebelumnya merupakan pemekaran dari Kabupaten Bungo Tebo. Kabupaten ini terdiri dari 17 kecamatan. Kabupaten ini memiliki kekayaan alam yang melimpah diantaranya sektor perkebunan yang ditopang oleh karet dan kelapa sawit dan sektor pertambangan ditopang oleh batubara. Selain itu Kabupaten Bungo juga kaya akan emas yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bungo.[6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bungo sebagai salah satu daerah Kabupaten/kota dalam Provinsi Jambi, semula merupakan bagian dari Kabupaten Merangin, sebagai salah satu kabupaten dari keresidenan Jambi yang tergabung dalam Provinsi Sumatera Tengah berdasarkan Undang-Undang nomor 10 tahun 1948. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956, Kabupaten Merangin yang semula Ibukotanya berkedudukan di Bangko di pindahkan ke Muara Bungo. Pada tahun 1958 rakyat Kabupaten Merangin melalui DPRD peralihan dan DPRDGR bertempat di Muara Bungo dan Bangko mengusulkan kepada Pemerintah Pusat agar: Kewedanaan Muara Bungo dan Tebo menjadi Kabupaten Muara Bungo Tebo dengan Ibukota Muara Bungo. Kewedanaan Sarolangun dan Bangko menjadi kabupaten Bangko dengan Ibukotanya Bangko. Sebagai perwujudan dari tuntutan rakyat tersebut, maka keluarlah Undang-undang Nomor 7 Tahun 1965 tentang pembentukan Daerah Kabupaten Sarolangun Bangko berkedudukan di Bangko dan kabupaten Muara Bungo Tebo berkedudukan di Muara bungo Yang mengubah Undang Undang Nomor 12 tahun 1956.

Seiring dengan pelantikan M.Saidi sebagai Bupati diadakan penurunan papan nama Kantor Bupati Merangin dan di ganti dengan papan nama Kantor Bupati Muara Bungo Tebo, maka sejak tanggal 19 Oktober 1965 dinyatakan sebagai, Hari Jadi kabupaten Muara Bungo Tebo. Untuk memudahkan sebutannya dengan keputusan DPRGR kabupaten daerah Tingkat II Muara Bungo Tebo, ditetapkan dengan sebutan Kabupaten Bungo Tebo. Seiring dengan berjalannya waktu melalui Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999 Kabupaten Bungo Tebo dimekarkan menjadi 2 wilayah yaitu Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo.

Maskot[sunting | sunting sumber]

Fauna Identitas[sunting | sunting sumber]

Pelanduk napu ditetapkan sebagai fauna identitas Kabupaten Bungo. Pelanduk napu, atau lebih populer dengan sebutan napuatau napuh (Tragulus napu) adalah sejenis mamalia kecil yang tergolong ungulata berteracak genap. Termasuk ke dalam suku Tragulidae, hewan ini berkerabat dekat dengan pelanduk jawa dan pelanduk kancil. Napuh atau napo adalah nama umumnya di Sumatera, sedangkan di Kalimantan disebut dengan nama pelanduk napuh, pelanduk nampuh, pelanduk bangkat, dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Greater mouse-deer.[7][8]

Potensi Wisata di Kabupaten Bungo[sunting | sunting sumber]

Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bungo kaya akan obyek obyek wisata yang dapat dikembangkan dimasa mendatang. Obyek obyek wisata yang ada di Kabupaten Bungo antara lain :

  • Air Terjun Tegan Kiri

Terdapat di Desa Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan berjarak kurang lebih 31 km dari Ibukota Kabupaten

  • Gua Alam

Terletak di Desa Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan, dan di Desa Sungai Beringin, Kecamatan Pelepat, berjarak kurang lebih 31 km dan kurang lebih 40 km dari Ibukota Kabupaten

  • Sumber Air Panas

Terdapat di Kecamatan Tanah Tumbuh, berjarak sekitar 41 km dari ibukota Kabupaten

  • Wisata Alam

Berupa Dam Semagi di Kecamatan Tanah Tumbuh, berjarak sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Bungo

  • Air Terjun Punjung Empat

Penamaan Air Terjun ini karena airnya berasal dari bukit Punjung dengan puncak tinggi bertingkat, terletak di Rantau Keloyang Kecamatan Pelepat.

  • Bunga Bangkai

Bunga bangkai ini umumnya mempunyai tinggi 1-3 m dari permukaan tanah. pada waktu mengembang menyebarkan aroma amis bau bangkai

  • Gua Alam

Terletak di Dusun Lubuk Mayan kurang lebih 20 km dari muara Bungo dan juga goa alam ini terdapat di Dusun Apung Mudik yang tidak jauh dari Dusun Lubuk Mayan Kecamatan Rantau Pandan.

  • Sungai

Kabupaten Bungo dilewati oleh sungai besar antara lain Batang Bungo, Batang Tebo, Sungai Mengkuang, Sungai baru Pelepat, Sungai Kuamang dan Sungai Batang Jujuhan yang berpotensi sebagai wisata dan trasportasi namun hingga 2013 belum ada upaya untuk diberdayakan dengan lebih baik.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Secara geografis Geografi Kabupaten Bungo terletak di bagian Barat Provinsi Jambi. Dengan batas-batas sebagai berikut: dengan batas wilayah sebagai berikut:

Utara Provinsi Sumatera Barat
Selatan Kabupaten Merangin
Barat Kabupaten Tebo
Timur Kabupaten Kerinci dan Provinsi Sumatera Barat

Sarana dan Prasarana[sunting | sunting sumber]

Air Bersih[sunting | sunting sumber]

Upaya penyediaan air bersih merupakan hal yang serius yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Kabupaten Bungo melalui PDAM terus meningkatkan upaya pemenuhan air bersih secara bertahap. Jumlah pelanggan PDAM Bungo pada tahun 2005 adalah sebanyak 4.105 dengan Kapasitas Produksi Air sebesar 1.491.264 M³ dan jumlah air terjual sebanyak 897.454 M³.[9]

Telepon[sunting | sunting sumber]

Pada Tahun 2001 jumlah Saluran Telepon Terpasang (STT) di Kabupaten Bungo berjumlah 2.301 sambungan, dan hingga Tahun 2005 menjadi 3.338 sambungan, atau mengalami peningkatan sebesar 45 % atau rata-rata sebesar 9 % per tahun, ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bungo terutama Muara Bungo termasuk daerah dengan aksesesibilitas tinggi.

Listrik[sunting | sunting sumber]

Kinerja penyediaan listrik dan tingkat elektrifikasi di Jambi umumnya dan di Kabupaten Bungo tidak lepas dari kinerja dan pengelolaan Interkoneksi antarsumatera. Sebagaimana diketahui bahwa dengan telah terwujudnya Sumatera yang terkoneksi maka daerah yang kekurangan listrik akan dapat dipasok oleh wilayah yang kelebihan listrik. Untuk Jambi misalnya telah di dapat empat tempat yang dapat digunakan sebagai sarana Sumatera Interkoneksi yaitu Bungo, Bangko, Aurduri dan Payo Sillincah. Dengan adanya fasilitas ini maka sesungguhnya pasokan listrik akan dijamin oleh daerah pembangkit yaitu Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara yang masing-masing berpusat di Palembang dan Medan. Khusus untuk Bungo daya terpakai belum mencapai 40 persen, artinya bahwa permasalahan pasokan listrik dengan adanya Sumatera Interkoneksi dapat dipasok

Perhubungan Udara[sunting | sunting sumber]

Pembangunan perhubungan udara ditujukan untuk menyediakan prasarana bandar udara sebagai prasarana penerbangan guna menunjang aktivitas suatu wilayah, hal ini perlu ditata secara terpadu untuk mewujudkan penyediaan jasa kebandarudaraan sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Hal ini diatur dalam UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. UU No. 15 Tahun 1992 tentang penerbangan, dan yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2001 tentang kebandarudaraan serta Keputusan Menteri Perhubungan KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara Umum, serta Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 83 Tahun 1998 tentang Pedoman Proses Perencanaan dilingkungan Departemen Perhubungan. Terkait dengan letak geografis Kabupaten Bungo yang sangat strategis dan sejumlah potensi serta sumber daya alam yang belum dikembangkan secara optimal. Maka dirasa perlu untuk meningkatkan sarana dan prasarana untuk meningkatkan aksesibilitas Kabupaten Bungo dengan daerah-daerah lain. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Bungo berencana untuk membangun Bandar Udara. Setelah melalui study pemilihan lokasi dengan mempertimbangkan berbagai aspek teknis, aspek operasional penerbangan, aspek lingkungan dan aspek ekonomi finansial, ditetapkanlah lokasi Bandara di Desa Sungai Buluh Kecamatan Muara Bungo dan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. KM. 52 Tahun 2005 tanggal 19 September 2005 tentang Penetapan Lokasi Bandar Udara di Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Pembangunan Bandar Udara ini direncanakan akan selesai pada Tahun 2009. Sampai saat ini dana yang telah disalurkan sebesar Rp. 1,050 M yang dipergunakan untuk pembebasan tanah, tanam tumbuh seluas 25,5 Ha dan pemukiman sebanyak 17 unit.

Jalan dan Jembatan[sunting | sunting sumber]

Jembatan Tanjung Menanti Kota Muara Bungo

Panjang jalan di Kabupaten Bungo adalah sepanjang 957,67 Km yang terdiri dari : jalan aspal 328,84 Km, jalan kerikil 199,01 Km dan jalan tanah 307,37 Km.

Perumahan dan Pemukiman[sunting | sunting sumber]

Perumahan dan pemukiman merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting dalam pembangunan. Hal ini dikarenakan perumahan dan pemukiman merupakan kebutuhan manusia, oleh karena itu dibidang perumahan dan pemukiman perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius dari Pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

Pasar[sunting | sunting sumber]

Pasar dalam arti lokasi pertemuan antara pembeli dan penjual memegang peranan penting dalam pengembangan satu wilayah. Ketersediaan pasar khususnya di tingkat kecamatan menjadi penting, karena akan mendukung terjadinya proses pertukaran dan sekaligus mendukung penyediaan informasi bagi masyarakat. Di Kabupaten Bungo terdapat banyak pasar, umumnya di setiap kecamatan dan desa mempunyai pasar sendiri, hanya saja sifatnya yang berbeda. Ada pasar yang ramainya pada hari-hari tertentu saja, seperti hari Senin di Candi, hari Kamis di Tanah Tumbuh, dan hari Sabtu di Lubuk Landai. Ada juga pasar yang ramainya pada sore hari seperti di Sungai Ipuh Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang. Ada juga pasar yang buka dari sore hingga malam hari seperti di Tanjung Agung. Dan tentu saja yang menjadi pusat ekonomi masyarakat Kabupaten Bungo ada di Pasar Muara Bungo.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Aspek pendidikan merupakan aspek utama dalam upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia, yang dimulai dari pendidikan prasekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Untuk menggambarkan kondisi pendidikan penduduk di Kabupaten Bungo, dapat dilihat dari angka melek huruh, rata-rata lama sekolah, angka partisipasi murni dan angka partisipasi kasar. Angka melek huruf Tahun 2002 sebesar 94,6 % dan meningkat menjadi 95,6 % Tahun 2004. Bila dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Provinsi Jambi, maka pada Tahun 2002 menempati rangking 5 dan Tahun 2004 rangking 6. Rata-rata lama sekolah Tahun 2002 adalah 6,9 tahun dan meningkat menjadi 7,4 tahun pada Tahun 2004.

Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten Bungo menurut data BPS tahun 2008 dari Kantor Statistik sebagian tidak tamat SD 28,36 % tamat SD 34,08 % tamat sekolah lanjutan SMP 18,24 % dan SMA 16,08 % dan 1,6 % yang berpendidikan Akademi atau DIII keatas.

Agama[sunting | sunting sumber]

Data BPS Provinsi Jambi Tahun 2008. Sebagian besar penduduk beragama Islam yaitu 259.535 (98,6%) dan selebihnya beragama Kristen Protestan (1.842) , Katolik (1.000), Hindu (121) dan Budha (658).

Suku[sunting | sunting sumber]

Suku Melayu adalah penduduk asli Kabupaten Bungo, mereka menetap di sepanjang aliran sungai yang ada di Kabupaten Bungo seperti di sepanjang aliran Batang Tebo, Batang Bungo, Batang Jujuhan dan Batang Pelepat. Selain itu di Kabupaten Bungo juga terdapat suku-suku pendatang seperti dari Minang, Jawa, Batak, Tionghoa, Arab, India, dll.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Salah satu sudut Ibukota Kabupaten Bungo
Komposisi agama di Kabupaten Bungo
Agama Jumlah (%)
Islam 97,01
Kristen 1,61
Buddha 0,37
Katolik 0,34
Hindu 0,01
Tidak Ditanyakan 0,66
[10]

Kabupaten Bungo memiliki luas wilayah sekitar 4.659 km². Wilayah ini secara geografis terletak pada posisi 101º 27’ sampai dengan 102º 30’ Bujur Timur dan di antara 1º 08’ hingga 1º 55’ Lintang Selatan. Berdasarkan letak geografisnya Kabupaten Bungo berbatasan dengan Kabupaten Tebo dan Kabupaten Dharmasraya di sebelah Utara, Kabupaten Tebo di sebelah Timur, Kabupaten Merangin di sebelah Selatan, dan Kabupaten Kerinci di sebelah Barat. Wilayah Kabupaten Bungo secara umum adalah berupa daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 70 hingga 1300 M dpl, di mana sekitar 87,70% di antaranya berada pada rentang ketinggian 70 hingga 499 M dpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Bungo berada pada Sub Daerah Aliran Sungai (Sub-Das) Sungai Batang Tebo. Secara geomorfologis wilayah Kabupaten Bungo merupakan daerah aliran yang memiliki kemiringan berkisar antara 0 – 8 persen (92,28%). Sebagaimana umumnya wilayah lainnya di Indonesia, wilayah Kabupaten Bungo tergolong beriklim tropis dengan temperatur udara berkisar antara 25,8° - 26,7° C.Curah hujan di Kabupaten Bungo selama tahun 2004 berada di atas rata-rata lima tahun terakhir yakni sejumlah 2398,3 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 176 hari atau rata rata 15 hari per bulan dan rata rata curah hujan mendekati 200 mm per bulan

Secara administratif, Kabupaten Bungo yang berpenduduk 303.135 jiwa (hasil sensus tahun 2010), yang tersebar di 17 kecamatan yang meliputi 12 kelurahan dan 141 desa. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Pasar Muara Bungo, Rimbo Tengah, Bungo Dani, Bathin III, Tanah Tumbuh, Rantau Pandan, Jujuhan, Tanah Sepenggal, Limbur Lubuk Mengkuang, Pelepat Ilir, Muko-Muko Bathin VII, Pelepat, Bathin II Babeko, Tanah Sepenggal Lintas, Jujuhan Ilir, Bathin III Ulu dan Bathin II Pelayang. Dari hasil Sensus Penduduk 2010, Kecamatan Pelepat Ilir, Pelepat, dan Rimo Tengah merupakan 3 kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu masing-masing berjumlah 43.908 jiwa, 27.559 jiwa, dan 23.715 jiwa. Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil adalah kecamatan Bathin III Ulu dengan jumlah penduduk 7.798 jiwa.

sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2007 maka Penyebutan Kepala Desa menjadi Rio, Desa menjadi Dusun dan Dusun menjadi Kampung dan pelantikan seorang kepala desa selain sebagai kepala pemerintahan di desa sekaligus dibarengi dengan pelantikan selaku pemangku adat oleh Ketua Lembaga Adat Kecamatan

Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Jumlah penduduk Green Arrow Up.svg 217.172 Green Arrow Up.svg 223.622 Green Arrow Up.svg 222.238 Green Arrow Up.svg 237.455 Green Arrow Up.svg 241.392 Green Arrow Up.svg 245.226 Green Arrow Up.svg 250.934 Green Arrow Up.svg 257.087 Green Arrow Up.svg 264.389 Green Arrow Up.svg 271.625 Green Arrow Up.svg 303.135
Sejarah kependudukan Kabupaten Bungo
Sumber:[11]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Terdapat 4 Rumah Sakit yang beroperasi di wilayah Kabupaten Bungo :

  • RSUD H Hanafie
  • RS Bungo Medika
  • RS Bersaudara
  • RS Central Medika
Rumah Sakit Umum Daerah H. Hanafie, Muara Bungo

Selain itu terdapat pula 18 Puskesmas dan 61 Puskesmas pembantu yang tersebar di wilayah Kabupaten Bungo.

Komunikasi dan Media Massa[sunting | sunting sumber]

Televisi Lokal :

  • Bungo TV

Radio di Kabupaten Bungo :

  • Radio Siaran Pemerintah Daerah Gema Bungo FM (RSPD GB FM)
  • Radio Jaya FM
  • Radio Irmanada FM
  • PANDAWA radio(94,5fm)

Koran lokal yang beredar di Kabupaten Bungo :

  • Bungo Pos
  • Radar Bute

Media sosial :

  • @infoBUNGO

Perbankan[sunting | sunting sumber]

Untuk mendukung sektor perekonomian, terdapat 15 Bank yang beroperasi di Kabupaten Bungo, yaitu:

Pasar dan Pusat Perbelanjaan[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa pasar tradisional dan satu supermarket di wilayah Kabupaten Bungo, yaitu:

  • Pasar Bungur (Pasar Atas)
  • Pasar Bawah
  • Pasar Kuamang Kuning
  • Hypermart Permata Bungo Plaza
  • Plaza Serunai
  • Pasar Lubuk Landai

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bungo telah memiliki satu buah Universitas yang bernama Universitas Muara Bungo. Terletak di dua lokasi, yaitu di Jalan Diponegoro dan Jalan Lintas Sumater Km 6 Sungai Binjai. Terdapat 11 Program Studi di Universitas Muara Bungo, diantaranya adalah Teknik Elektro, Teknik Pertambangan, Teknik Sipil, Ilmu Pemerintahan, dan Sastra Inggris.

Pendidikan formal SD atau MI negeri dan swasta SMP atau MTs negeri dan swasta SMA negeri dan swasta MA negeri dan swasta SMK negeri dan swasta Perseroan terbatas
Jumlah satuan 248 89 18 18 15 8
Data sekolah di Kabupaten Bungo
Sumber:[12]

Selain itu di Kabupaten Bungo terdapat pula beberapa Sekolah Tinggi dan juga Akademi, yaitu:

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Darat[sunting | sunting sumber]

Untuk jalur darat terdapat beberapa travel yang melayani rute Muara Bungo ke kota-kota seperti:

Sedangkan untuk menggunakan bus dapat ditempuh dengan menggunakan jasa bus di Terminal Type A Kota Lintas di Jalan Lintas Sumatera, SKB Muara Bungo.

Udara[sunting | sunting sumber]

Untuk jalur udara Kabupaten Bungo telah memiliki sebuah Bandar Udara yaitu Bandar Udara Muara Bungo yang diresmikan pada 9 Juni 2012 [13]. Bandar Udara ini berlokasi di Desa Sungai Buluh, Rimbo Tengah. Maskapai yang beroperasi adalah Susi Air dan Aviastar Mandiri [14] .

Maskapai Tujuan
Aviastar Mandiri Jakarta
Susi Air Jambi
Susi Air Bengkulu

Pemekaran Daerah[sunting | sunting sumber]

Kota Muara Bungo[sunting | sunting sumber]

Pemekaran Kabupaten Bungo menjadi Kota Bungo masih dalam proses, Kecamatan yang mungkin bergabung ke dalam kota ini meliputi [15][16] :

Media televisi lokal[sunting | sunting sumber]

Kota Muara Bungo memiliki membangun stasiun televisi, di antaranya:

  • Nusa TV (LPP TVRI Stasiun Jambi Barat) (akan dilaksanakan 2015)
  • Favorit TV (akan dilaksanakan 2015) jaringan Bekasi TV E25
  • Kapal Channel (akan dilaksanakan 2015)
  • Rantau TV jaringan Top TV Network (akan dilaksanakan 2015)
  • TVUi Jambi Barat (TVUi Stasiun Jambi Barat) (akan dilaksanakan 2015) iklan : First Travel, Klinik Tumbuj Kembang & Water Kindom

Radio[sunting | sunting sumber]

Kota Muara Bungo memiliki membangum stasiun televisi, di antaranya:

  • Radio Nusantara FM jaringan Cemerlang Radio (akan dilaksanakan 2015)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ www.infobungo.com Profil Singkat Bupati dan Wakil Bupati Bungo
  2. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 
  3. ^ Profil Kabupaten Bungo
  4. ^ Luas Wilayah & Pembagian Administrasi Provinsi Jambi BPS Jambi
  5. ^ www.jambiprov.go.id Letak dan Luas Wilayah Provinsi Jambi
  6. ^ Sensus Penduduk Tahun 2010 Provinsi Jambi
  7. ^ Payne, J., C.M. Francis, K. Phillipps, S.N. Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak & Brunei Darussalam. The Sabah Society, Wildlife Conservation Society dan World Wildlife Fund Malaysia. Hal. 335-36
  8. ^ Grubb, P. (2005). "Tragulus napu". In Wilson, D. E.; Reeder, D. M. Mammal Species of the World [Spesies Mamalia di Dunia] (ed. 3). Percetakan Unoversitas Johns Hopkins. hlm. 650 Extra |pages= or |at= (help). ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494. 
  9. ^ scriptintermedia.com Profil Kabupaten Bungo
  10. ^ Sensus Penduduk 2010
  11. ^ "Penduduk Jambi 2000-2010". BPS Provinsi Jambi. Diakses 10 Juni 2010. 
  12. ^ Data Sekolah di Kabupaten Bungo
  13. ^ Bappeda Pemprov Jambi
  14. ^ www.antarajambi.com Bandara Muara Bungo Mulai Dioperasikan
  15. ^ Polemik Pemekaran Kabupaten Bungo fakta-indonesia.com
  16. ^ Pro Kontra Pemekaran Kabupaten Bungo infobungo.com