Pelanduk kancil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Pelanduk kancil
Pelanduk kancil di sebuah kebun binatang di Spanyol.
Pelanduk kancil di sebuah kebun binatang di Spanyol.
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Tragulidae
Genus: Tragulus
Spesies: T. kanchil
Nama binomial
Tragulus kanchil
(Raffles, 1821)
Sinonim
  • Moschus kanchil Raffles, 1821[2]
  • Tragulus kanchil Kloss, 1916

Pelanduk kancil[3] (nama ilmiah: Tragulus kanchil) adalah sejenis ungulata berteracak genap bertubuh kecil anggota suku Tragulidae. Persebarannya di Asia Tenggara hingga ke Sumatera dan Kalimantan, ini merupakan salah satu jenis pelanduk terkecil di dunia. Di beberapa daerah Sumatera hewan ini dikenal sebagai pelanduk (atau kadang-kadang kancil), dan di Kalimantan disebut pelanduk kancil, pelanduk renggas, pelanduk kecil, dan lain-lain. Sementara dalam bahasa Inggris disebut sebagai Lesser mouse-deer atau Lesser Malay chevrotain.

Pelanduk ini dikenal dengan nama yun (Burma), kancil, dan pelandok (Melayu).[4]

Pengenalan[sunting | sunting sumber]

Pelanduk bertubuh kecil, tinggi bahu sekitar 200 mm; panjang kepala dan tubuh 400-480 mm; ekor 65-80 mm; dan beratnya 0,7-2 kg[5]. Data dari Kalimantan sedikit berbeda; dengan panjang kepala dan tubuh 425-485 mm, ekor 60-93 mm, dan berat 2,0-2,5 kg[3].

Tubuh bagian atas berwarna tengguli polos, dengan tengkuk lebih gelap dari bagian tubuh lainnya. Sisi bawah tubuh berwarna putih berulas kecokelatan pucat dengan dada yang bebercak cokelat tua khas.[3] Perbedaannya dengan pelanduk napu (T. napu) yang memiliki lima garis putih, sedangkan pelanduk ini memiliki tiga garis putih di sekitar dada dan tenggorokan.[6]

Kebiasaan[sunting | sunting sumber]

Pelanduk aktif baik pada malam maupun siang hari. Hewan ini memakan aneka buah-buahan yang jatuh di tanah, pucuk dedaunan, dan juga jamur.[3] Pelanduk kancil bersifat soliter, biasanya terlihat berjalan sendirian; atau berpasangan bila musim kawin tiba. Bersarang di celah batu-batuan atau di lubang kayu, namun jika tempat semacam itu tak ada, ia bersembunyi di bawah vegetasi yang lebat dan teduh. Setelah hamil selama 140-177 hari, pelanduk biasanya melahirkan satu anak, jarang-jarang dua.[5][4]

Pelanduk hidup di hutan-hutan tinggi dan hutan sekunder, kadang-kadang juga memasuki kebun[3]. Binatang ini diketahui menghuni tepi hutan lebat di dataran rendah, sampai pada ketinggian 600 m. Ia juga mendiami belukar lebat. Ia juga bisa didapati di hutan mangrove sepanjang pesisir Tenasserim hingga Semenanjung Malaya.[4] Tersebar di hutan-hutan Asia Tenggara, di Indonesia hewan ini didapati di Sumatera, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.[7] Bahkan, W.T. Blanford mengabarkan pula ia dapat ditemui di Tenasserim dan Kamboja.[4]

Persebaran dan subspesies[sunting | sunting sumber]

Pelanduk kancil menyebar luas di Asia Tenggara, mulai dari Cina selatan (Yunnan bagian selatan), Indocina, Burma, Thailand, Semenanjung Malaya, Singapura, Sumatera, dan Kalimantan. Beberapa subspesies Tragulus kanchil, di antaranya[8]:

  • Tragulus kanchil kanchil – Sumatera, P. Mendol, P. Berhala
  • T. k. abruptus – Subi
  • T. k. affinisVietnam, Kamboja, Laos, Thailand timur dan tenggara
  • T. k. anambensis – Mata
  • T. k. angustiae – Burma, Thailand barat daya, di barat Sungai Chao Phraya
  • T. k. everettiP. Bunguran, Kepulauan Natuna.
  • T. k. fulviventer – Semenanjung Malaya bagian selatan
  • T. k. hoseiSarawak, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah
  • T. k. klossiSabah
  • T. k. luteicollisBangka
  • T. k. pidonis – Koh Pipidon
  • T. k. ravulus – Adang, Rawi
  • T. k. ravus – Semenanjung Malaya bagian utara (termasuk wilayah Thailand), P. Langkawi
  • T. k. rubeus – P. Bintang
  • T. k. siantanicus – Siantan
  • T. k. subrufusSingkep

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Timmins, R.J., Duckworth, J.W. & Semiadi, G. (2008). Tragulus kanchil. Daftar Merah Spesies Terancam IUCN 2008. IUCN 2008. Diakses pada 6 November 2009. Database entry includes a brief justification of why this species is of least concern.
  2. ^ Raffles, T.S. 1821. Descriptive Catalogue of a Zoological Collection, made on ..., in the Island of Sumatra and it's vicinity, ... Transactions of the Linnean Society of London, 13: 262.
  3. ^ a b c d e Payne, J., C.M. Francis, K. Phillipps, S.N. Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak & Brunei Darussalam. The Sabah Society, Wildlife Conservation Society dan World Wildlife Fund Malaysia. Hal. 335
  4. ^ a b c d Blanford, W.T. (1888). Fauna of British India, Including Ceylon and Burma:Mammalia hal.556 – 557. London : Taylor and Francis. OCLC 1113420
  5. ^ a b Lekagul, B. & J. McNeely. 1988. Mammals of Thailand: 669-71. Association for the Conservation of Wildlife, Bangkok.
  6. ^ Chua, M., N. Sivasothi & R. Teo. 2009. Rediscovery of Greater Mouse Deer, Tragulus napu (Mammalia: Artiodactyla: Tragulidae) in Pulau Ubin, Singapore. Nature in Singapore, 2009 2: 373–378.
  7. ^ Sastrapradja, S., S. Adisoemarto, W. Anggraitoningsih, B. Mussadarini, Y. Rahayuningsih, & A. Suyanto. 1980. Sumber Protein Hewani. 2: 48 – 49. Jakarta : Balai Pustaka.
  8. ^ Meijaard, E., and C.P. Groves. 2004. A taxonomic revision of the Tragulus mouse-deer. Zoological Journal of the Linnean Society 140: 63-102.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]