Kabupaten Kerinci

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Kerinci
Kab.Kerinci.svg
Lambang Kabupaten Kerinci
Moto: Sakti Alam Kerinci


Lokasi Jambi Kabupaten Kerinci.svg
Peta lokasi Kabupaten Kerinci
Koordinat:
Provinsi Jambi
Dasar hukum UU No. 58 Tahun 1958
Ibu kota Siulak
Pemerintahan
 - Bupati DR. H. Adi Rozal, M.Si.
 - Wakil Bupati Zainal Abidin, SH, MM.
 - DAU Rp. 501.185.353.000.-(2013)[1]
Luas 3.355,27 km2 [2]
Populasi
 - Total 229.495 jiwa (2010)
 - Kepadatan 68,4 jiwa/km2
Demografi
 - Suku bangsa Kerinci, Minang, Jawa, Batak, Tionghoa
 - Kode area telepon 0748
Pembagian administratif
 - Kecamatan 12
 - Flora resmi -
 - Fauna resmi Kelinci sumatra
 - Situs web http://www.kerincikab.go.id/

Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kerinci ditetapkan sebagai Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun 2011, pusat pemerintahan berpindah ke Siulak.[3] Kabupaten Kerinci memiliki luas 3.355,27 km² terdiri atas 12 kecamatan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Rumah controleur (pegawai kolonial di Hindia Belanda) Kerinci pada tahun 1931-1938

Menurut Tambo Minangkabau, Tanah Kerinci merupakan bagian dari rantau Minangkabau.[4] Dalam tambo tersebut dikatakan bahwa rantau pesisir Alam Minangkabau meliputi wilayah-wilayah sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah, mulai dari Sikilang Air Bangis, Tiku, Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Muko-muko, dan Kerinci.[5]

Pada abad ke-14 hingga ke-18, Kerinci merupakan bagian dari Kerajaan Inderapura, yang berpusat di Inderapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Setelah runtuhnya Kerajaan Inderapura, Kerinci merupakan kawasan yang memiliki kekuasaan politik tersendiri.

Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, Kerinci masuk ke dalam Karesidenan Jambi (1904-1921), kemudian berganti di bawah Karesidenan Sumatra's Westkust (1921-1942). Pada masa itu, Kerinci dijadikan wilayah setingkat onderafdeeling yang dinamakan Onderafdeeling Kerinci-Indrapura. Setelah kemerdekaan, status administratifnya dijadikan luhak dan dinamakan Luhak Kerinci-Indrapura. Sedangkan Kerinci sendiri, diberi status daerah administratif setingkat kewedanaan.[6]

Pada tahun 1957, Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi 3 provinsi:

  1. Sumatera Barat, meliputi daerah darek Minangkabau dan Rantau Pesisir
  2. Riau, meliputi wilayah Kesultanan Siak, Pelalawan, Rokan, Indragiri, Riau-Lingga, ditambah Rantau Hilir Minangkabau : Kampar dan Kuantan.
  3. Jambi, meliputi bekas wilayah Kesultanan Jambi ditambah Rantau Pesisir Minangkabau : Kerinci.

Pemekaran[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kerinci terdiri dari 16 Kecamatan, yang terdiri dari : 1. Gunung Tujuh 2. Kayu Aro 3. Kayu Aro barat 4. Gunung Kerinci 5. Siulak 6. Siulak Mukai 7. Air Hangat 8. Air Hangat Barat 9. Depati VII 10. Air Hangat Timur 11. Sitinjau Laut 12. Danau Kerinci 13. Keliling Danau 14. Gunung Raya 15. Bukit Kerman 16. Batang Merangin

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008, beberapa bekas kecamatan di Kabupaten Kerinci ditetapkan untuk menjadi bagian dari Kota Sungaipenuh.

Kecamatan-kecamatan yang dimaksud adalah:

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kerinci berada di ujung barat Provinsi Jambi dengan batas wilayah sebagai berikut:

Utara Provinsi Sumatera Barat
Selatan Provinsi Bengkulu
Barat Provinsi Sumatera Barat
Timur Kabupaten Bungo dan Kabupaten Merangin

Demografi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, populasi Kabupaten Kerinci berjumlah 229.495 jiwa.[7]. Masyarakat yang mendiami kawasan ini adalah Suku Kerinci. Dan bahasa pengantar yang dipergunakan adalah Bahasa Kerinci.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Seperti masyarakat Minangkabau lainnya, orang Kerinci juga menganut sistem adat matrilineal. Rumah suku Kerinci disebut "Larik", yang terdiri dari beberapa deretan rumah petak yang bersambung-sambung.
Suku Kerinci juga memiliki tarian tradisional yang bernama Rantak Kudo. Rantak Kudo adalah tarian yang biasa ditampilkan pada acara-acara bersifat adat atau pada acara khusus yang bersifat sakral.


Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kerinci termasuk salah satu anak cabang Bahasa Austronesia, yang dekat dengan Bahasa Minangkabau. Beberapa ahli bahkan menyebut Bahasa Kerinci sebagai bagian dari Bahasa Minangkabau.[8] Ada lebih dari 30 dialek bahasa yang berbeda di tiap-tiap desa di daerah Kerinci.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 
  2. ^ http://www.jambiprov.go.id/index.php?letluaswil
  3. ^ Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2011 Tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Kerinci Dari Wilayah Kota Sungaipenuh ke Wilayah Kecamatan Siulak
  4. ^ Gusti Asnan, Memikir ulang regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an, Yayasan Obor Indonesia
  5. ^ Edwar Djamaris, Tambo Minangkabau, Jakarta: Balai Pustaka, 1991
  6. ^ Gusti Asnan, Memikir ulang regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an, Yayasan Obor Indonesia
  7. ^ http://www.bps.go.id/hasilSP2010/jambi/1501.pdf /Biro Pusat Statistik
  8. ^ Narendra S. Bisht, T. S. Bankoti, Encyclopaedia of the South East Asian Ethnography, Global Vision Publishing House, 2004

Pranala luar[sunting | sunting sumber]