Daftar khalifah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Berikut ini adalah daftar khalifah. Seluruh tahun sesuai dengan tahun Masehi.

Khulafaur Rasyidin (632–661)[sunting | sunting sumber]

Khulafaur Rasyidin (hijau tua) pada puncaknya pada tahun 654, termasuk negara-negara bawahan (hijau muda).

Lima khalifah pertama diterima oleh Muslim Sunni sebagai khalifah yang mendapatkan petunjuk.[1][2]

Kekhalifahan Umayyah (661–750/1031)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Umayyah di Damaskus (661–750)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Umayyah (hijau) pada puncaknya pada tahun 750

[1][3]

Keamiran di Kordoba (756–929)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Kordoba (929–1031)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Kordoba (hijau) pada tahun 1000.

(Tidak diterima secara universal, kewenangan yang sesungguhnya hanya sebatas Spanyol dan sebagian Maghrib)[4][5]

Abdullah bin Zubair (684-692)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Abbasiyah (750–1258/1517)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad (750–1258)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Abbasiyah (hijau) pada puncaknya pada tahun 850

(Tidak diterima oleh umat muslim yang berada di Semenanjung Iberia dan sebagian Afrika Utara).[6][7]

(Selama periode kedua pemerintahan Abbasiyah, penguasa Muslim mulai menggunakan gelar lain, seperti Sultan).

Kekhalifahan di Kairo (1261–1517)[sunting | sunting sumber]

(Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo merupakan khalifah seremonial di bawah naungan Kesultanan Mamluk yang ada setelah pengambilalihan Kekhalifahan Abbasiyah[8][9]

Kekhalifahan-kekhalifahan lainnya (909–1269)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Fatimiyah (909–1171)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Fatimiyah (hijau) pada puncaknya, tahun 969.

(Fatimiyah berasal dari Ismaili yang merupakan cabang dari Syi'ah, oleh karena itu kekhalifahan ini tidak diakui oleh sebagian besar Sunni, baik dalam wilayah kekuasaan mereka maupun negara tetangga).[10][11]

Kekhalifahan Muwahhidun (1145–1269)[sunting | sunting sumber]

Dinasti Muwahhidun (hijau) pada tahun 1200.

(Tidak diterima secara luas, kekuasaan yang sebenarnya adalah bagian dari Afrika Utara dan Semenanjung Iberia)[12][13]

Kesultanan Utsmaniyah (1517–1922)[sunting | sunting sumber]

Kekhalifahan Utsmaniyah pada tahun 1683.

Awalnya sekuler, penguasa dinasti hanya bergelar Sultan, tak lama kemudian mulai mengumpulkan gelar yang diasumsikan dari rakyat.[14][15]

Sejak tahun 1908 dan seterusnya Khalifah Utsmaniyah dianggap setara dengan pemimpin monarki konstitusional tanpa kekuatan eksekutif, dengan parlemen yang terdiri dari perwakilan yang dipilih.

Khalifah dibawah Republik Turki (1922–1924)[sunting | sunting sumber]

Kantor kekhalifahan dipindahkan ke Majelis Nasional Turki yang telah bubar pada tanggal 3 Maret 1924, sesuai dengan kebijakan sekularisme yang diadopsi pada awal tahun di Republik Turki.Setelah pembubaran kantor kekhalifahan (Majelis Nasional Turki), pemerintah Republik Turki mendirikan Presidensi Agama sebagai lembaga islam tertinggi dalam otoritas keagamaan di negara itu.

Kekhalifahan Syarif (1924)[sunting | sunting sumber]

Peta dengan wilayah kekhalifahan berwarna hijau dan wilayah hijaz saat ini berwarna merah.

Upaya terakhir untuk mengembalikan kekhalifahan dengan pengakuan ekumenis dilakukan oleh Syarif Husain, RajaHijaz dan Syarif Makkah, yang memimpin pada 11 Maret 1924 sampai 3 Oktober 1924, ketika ia meninggal dan tahta tersebut turun kepada anaknya Ali bin Husain, namun anaknya tidak ingin menerapkan kekhalifahan.[16]

Kekhalifahan Ahmadiyah (1908–sekarang)[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bibliografi[sunting | sunting sumber]