Wikipedia:Artikel pilihan/Usulan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bantuan · Komunitas · Portal · Isi pilihan · ProyekWiki · Permintaan artikel · Pengusulan
Bintang ini, yang sedang diteliti dengan lup, menandakan calon artikel pilihan yang sedang didiskusikan di Wikipedia.

Di sini komunitas menentukan artikel apa yang menjadi artikel pilihan. Artikel pilihan adalah karya terbaik komunitas Wikipedia yang memenuhi kriteria artikel pilihan.

Pengusul calon diharapkan untuk memperbaiki artikel berdasarkan masukan yang diterima di sini. Suatu artikel tidak boleh diusulkan menjadi artikel pilihan bersamaan waktu dengan diusulkan jadi artikel bagus.

Untuk mendapatkan status artikel pilihan, artikel tersebut harus mencapai konsensus yang menyetujui bahwa artikel yang diusulkan sudah memenuhi kriteria. Konsensus ditetapkan setelah komunitas menyetujuinya. Apabila setelah waktu yang lama masukan terhadap artikel belum diperbaiki atau konsensus tidak dapat dicapai, usulan akan ditolak. Pengusulan yang disetujui maupun ditolak nantinya diarsipkan di halaman terpisah setiap bulannya, lihat arsip pengusulan disetujui dan ditolak bulan ini.

Daftar Isi

Artikel pilihan:

Prosedur pengusulan

  1. Sebelum mengusulkan calon, pastikan bahwa artikel tersebut sudah memenuhi semua kriteria artikel pilihan.
  2. Berikan {{StatusAP nominasi}} pada halaman pembicaraan artikel yang diusulkan.
  3. Buat halaman pengusulan:
  4. Salin tulisan ini: {{/nama artikel}}, kemudian sunting bagian Usulan pada halaman yang sedang anda baca saat ini, dan tempelkan yang telah Anda salin di paling atas daftar calon. Ganti "nama artikel" dengan judul artikel yang Anda usulkan.

Peninjauan artikel

Untuk pengusul

  • Pengusul haruslah bertanggung jawab atas usulannya. Artinya, ia harus siap untuk membaca dan menerapkan isi saran-saran dari pengguna lain, atau memberikan penjelasan yang mendalam apabila ia tidak setuju dengan sarannya
  • Tujuan dari sistem ini adalah untuk meningkatkan mutu artikel yang diusulkan. Tidak perlu merasa tersinggung atas saran-saran yang diberikan, karena tujuannya baik, yaitu untuk menyempurnakan artikel

Untuk pembaca

  • Untuk menanggapi pengusulan, klik "Sunting sumber" pada kanan judul artikel (Bukan "Sunting sumber" pada paling atas halaman ini)
  • Dimohon untuk tidak sekadar memberikan suara setuju ataupun tidak setuju, tetapi berikanlah peninjauan terhadap isi artikel yang telah diusulkan. Komentar-komentar singkat yang tidak membangun seperti "bagus sekali" tidak akan digubris atau bahkan dapat dihapus sewaktu-waktu. Walau demikian, suara tersebut tidak berpengaruh terhadap pengusulan karena sistem ini tidak mewajibkan adanya pemberian suara. Suara tersebut lebih menekankan kepada pengguna lainnya bahwa Anda sudah selesai dan tidak sedang meninjau atau menunggu jawaban.
  • Jangan malu atau segan memberi saran. Walaupun artikel sudah bagus dan menurut Anda sang penulis lebih "pintar" dibanding Anda, pasti tetap ada celah-celah yang bisa diperbaiki
  • Untuk menekankan perkataan atau kalimat yang hendak dikomentari, dapat digunakan {{xt}}, {{font color}}, atau templat warna yang tersedia di sini
  • Bila sebuah komentar telah terselesaikan, beri {{sudah}} di bawah komentar. Bila sebuah komentar tidak terselesaikan, beri {{belum}} di bawah komentar

Penerimaan artikel

  • Untuk menerima usulan AP, semua prasyarat berikut harus terpenuhi:
  1. Sudah ada konsensus kalau isi artikel sudah sesuai kriteria AP
  2. Peninjauan sudah dilakukan secara komprehensif, artinya peninjau terlihat sudah membaca dan menimbang artikel tersebut dengan mendalam
  • Untuk menjaga kenetralan, pengusul maupun penulis utama artikel tidak boleh menjadi orang yang menutup diskusi dengan status "diterima"
  • Kalau sudah ada peninjauan menyeluruh, dan isi peninjauan itu sudah ditanggapi atau dikerjakan, maka boleh ditutup setelah 14 hari
  • Pengusulan bisa tetap dibiarkan terbuka selama maksimal 3 bulan kalau belum ada yang meninjau
  • Usulan AP dapat ditutup tanpa penerimaan, apabila salah satu prasyarat berikut telah dipenuhi:
  1. Pengusul menarik usulannya
  2. Mutu artikel terlampau jauh dari kriteria artikel pilihan
  3. Jika terlalu banyak peninjau yang menyatakan kualitas artikel terlampau jauh dari kriteria artikel pilihan (dengan menjelaskan alasannya), usulan dapat ditutup
  4. Saran-saran yang masuk akal dan wajar sudah diberikan, tetapi tidak ditanggapi atau dikerjakan
  5. Peninjauan sudah berjalan 3 bulan, tetapi kriteria penerimaan di atas belum terpenuhi

Setelah disetujui

Suatu artikel yang sudah disetujui menjadi artikel pilihan akan dihapus dari halaman ini lalu didaftarkan terlebih dahulu ke halaman arsip, halaman artikel pilihan menurut topik, dan halaman jadwal usulan.

Usulan

Ketopong Benty Grange

Pengusul: Mimihitam (b • k • l) · Status:    Dalam diskusi

Artikel ini diterjemahkan oleh Japra Jayapati yang mutu uraiannya sangat luar biasa. Versi Inggris sudah mendapatkan status AP dan isinya didukung dengan sumber2 akademis. Oleh sebab itu artikelnya sudah layak untuk menjadi AP dan semoga bisa menjadi contoh bagi yang mau mengembangkan artikel tentang artefak sejarah di Indonesia.  Mimihitam  13 Januari 2020 03.35 (UTC)

Komentar dari Syahramadan

Menurut saya, artikel ini sendiri sudah bagus. Akan tetapi, ada beberapa hal yang mungkin bisa di perbaiki supaya tidak terlalu mirip dengan sekadar artikel terjemahan. Selain itu, ada beberapa kelemahan di dalam berbagai aspek bahasa.

  • Dalam bab Ikonografi, terdapat kalimat : "Raja Æthelberht sendiri menerima agama Kristen menjelang wafat pada tahun 616, dan dalam kurun waktu seabad, sebagian besar kaum ningrat berikut para kawula mereka menjadi pemeluk agama Kristen." Saya berharap frasa "kaum ningrat berikut para kawula" lebih baik diganti dengan istilah yang lebih familiar, karena frasa tersebut lebih dekat ke arah bahasa Jawa.
    Kata "ningrat" dan "kawula" ada di KBBI, jadi menurutku tidak masalah.  Mimihitam  15 Januari 2020 17.02 (UTC)
  • Terdapat pula dalam bab Deskripsi : "Delapan pelat tanduk, yang diduga berasal dari satwa bos longifrons," Mungkin penggunaan istilah binomial nomenclature seperti Bos longifrons bisa diterangkan maksud dari nama itu atau diberi salah satu contoh hewan di masa kini yang memiliki bentuk atau kekerabatan yang dekat dengan binatang tersebut.
    Terima kasih, sudah aku ganti jadi "sapi" karena Bos longifrons sudah tidak dipakai lagi oleh ilmuwan.  Mimihitam  15 Januari 2020 17.02 (UTC)
  • Dalam bagian Tipologi, saya rasa masih cukup sederhana karena hanya membandingkan dengan ketopong Sutton Hoo. Mungkin agak lebih baik bila bagian tersebut dikembangkan dengan perbandingan ketopong-ketopong lain di luar Eropa.
    Kalau dibandingkan dengan di luar Eropa rasanya nggak nyambung sama sekali karena budayanya beda jauh. Bagian tipologi ini sendiri juga ditulis berdasarkan tipologi yang dirumuskan oleh para akademisi.  Mimihitam  15 Januari 2020 20.40 (UTC)
  • Di bagian "Jambul Celeng dalam wiracarita Beowulf", penggunaan istilah wiracarita dapat membingungkan orang awam. Akankah lebih baik istilah ini diganti dengan "epos" mungkin, atau menghubungkannya dengan artikel pranala Wiracarita.
    Sudah aku pranalakan.  Mimihitam  15 Januari 2020 17.02 (UTC)
  • Selain itu, di bagian Ikonografi mengalami ketidakfokusan karena menjelaskan perkembangan agama Kristen di Britania Raya, bukan fokus menggambarkan Ketopong Benty Grange yang ada di masa peralihan dari agama leluhur ke agama Kristen Katolik.
    Penjelasan sudah dipersingkat supaya tetap fokus ke ketopongnya.  Mimihitam  15 Januari 2020 20.50 (UTC)

Komentar dari AMA

  • Pemakaian kata azimat, apakah tidak lebih cocok kata jimat saja? Saya pikir kata kedua, lebih umum.
    Selesai Selesai  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • Di muka artikel, maktub padanya "dan berkisah tentang besarnya tenaga pria "manakala dengan pedang terhunus, yang tajam matanya oleh tempaan, lagi berkilat-kilat bilahnya berlumur darah, menetak lepas jambul celeng yang begitu keras dari puncak ketopong."" Kenapa tidak pakai ketika atau tatkala saja?
    Sepertinya sama saja.  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • Maktub pada bahagian "Deskripsi": "Pentol-pentol ini agaknya dituang ke permukaan badan patung, dikikir, disaluti emas, dan mungkin dibuat demikian agar tampak seperti bulu-bulu yang keemas-emasan." Mungkin sebagian org langsung paham, apalagi prnh sy liat iklan di TV "kue salut keju", tapi sy pikir kata dilapis lebih umum.
    Selesai Selesai  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • Bahagian yg sama: "Pelat ini mungkin sekali dipasang langsung pada rangka ketopong, sementara kaki-kaki patung diloloskan melalui lubang-lubang pada pelat tanduk." Diloloskan di situ, maksudnya ditembuskan?
    Selesai Selesai  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • "Fungsi": "kelangkaannya yang luar biasa menunjukkan bahwa ketopong-ketopong Anglo-Saxon tidak pernah dicadangkan dalam jumlah besar." Maksudnya tdk prnh diproduksi dlm jumlah banyak?
    Sudah diganti jadi "disimpan", karena naskah aslinya adalah "never deposited in great numbers."  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • "Penemuan": saya usulkan saja dipakai kata "lebih kurang" yg sama makna dengan "kira-kira".
    @AMA Ptk maaf sebelumnya, tapi yang mana yang mau diganti?  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • Bagian yg sama: "Kenyataan bahwa barang-barang temuan didapati dalam dua kumpulan yang terpisah sejauh enam kaki, dan kenyataan bahwa barang-barang yang lazimnya menyertai ketopong tidak turut ditemukan, yakni barang-barang seperti pedang dan perisai, menimbulkan dugaan bahwa makam ini sudah pernah dijarah." Kenapa tdk ditambahkan kata, jadinya menimbulkan dugaan bahwa mungkin saja makam ini sudah pernah dijarah? Kenapa "mungkin saja", karena ada dugaan yg menjelaskan tanda² ke arah sana.
    Sepertinya agak redundan karena sudah pakai kata "dugaan"  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • Bagian yg sama: di sana dijelaskan tanah yg korosif membikin jenazah terurai. Tidak dijelaslan pula akibat/jejak² korosifnya tanah itu pada itu ketopong?
    Sudah dijelaskan "Ia menduga bahwa keadaan tanah semacam ini adalah hasil dari tindakan "mengaduk atau mencampur tanah dengan semacam cairan korosif, yang memunculkan urat-urat jingga tipis pada tanah, dan membuat hampir seluruh bagian jenazah habis terurai."  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • "Ikonografi": saya memandang bahagian ini lebih bagaikan menjelaskan sejarah dan latar belakang sejarah Kekristenan di Inggris. Jika maksudnya begitu, kenapa tidak diletakkan di bawah pembuka artikel, jadikan "Latar belakang kesejarahan" ama hubungan aja dengan sejarah ketopong itu?
    Ide bagus, sudah aku jadikan bagian sendiri. Versi yang lebih panjang juga sudah aku kembalikan karena sudah jadi bagian sendiri.  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • Subbagian "Jambul celeng dan wiracarita Beowulf": dipakai kata tetirah? Ada di KBBI kah? Saya sudah lama sekali tak dengar ini kata, gasalah ada di puisi thn 60an(?) Syukur ada yg membawa kata ini lagi. Lalu kata "srikandi amazon", maksudnya "amazon" itu kata sifat kah?
    @AMA Ptk menurutku ini jeniusnya hasil penerjemahan mas @Japra Jayapati, karena teks aslinya berupa puisi kuno, terjemahannya juga pakai kata dari puisi lama. Ngomong2 Amazon mengacu kepada Suku Amazon, yaitu suku yang 100% wanita dalam mitologi Yunani. Sudah aku pranalakan.  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)
  • Di bagian yg sama, kenapakah kata² bahasa Anglo-Saxon itu gak dimasukkan saja sebagai catatan kaki di atas referensi? Sy ingat, artikel film Indonesia d Wiki English, kadang ditulis saja translitnya ke English, kutipan asli, letak di catatan kaki.
    Sepertinya nggak masalah biar pembaca bisa langsung melihat naskah aslinya.  Mimihitam  23 Januari 2020 13.24 (UTC)

Sudah, itu saja. Terima kasih. Arigatou gozaimasu. --AMA Ptk (bicara) 23 Januari 2020 01.23 (UTC)

Terima kasih sudah meninjau kalau ada lagi silakan loh.  Mimihitam  23 Januari 2020 13.26 (UTC)

Kiblat

Pengusul: HaEr48 (b • k • l) · Status:    Dalam diskusi

Salah satu aspek ibadah umat Islam. Sudah aku lengkapi tidak hanya dari segi agama, tetapi dari segi aspek ilmiah yang digunakan dan dari segi sejarah. Menggunakan berbagai sumber akademis. Dimohon masukannya untuk meningkatkan kualitas artikel. HaEr48 (bicara) 12 Januari 2020 20.34 (UTC)

Komentar dari Mimihitam

Keren sekali artikelnya dikembangkan sendiri dan isinya juga mencakup sudut pandang ilmiah. Sangat jarang ada artikel tentang agama dalam bahasa Indonesia yang diulas sedalam ini. Artikel ini patut menjadi contoh bagi pengguna-pengguna lain yang mau mengembangkan artikel tentang agama.

Saya sendiri sangat yakin artikel ini akan bisa lolos sebagai Artikel Pilihan. Walaupun begitu, berikut adalah beberapa masukanku untuk meningkatkan mutu artikel yang sudah bagus ini.

  • "Selain untuk salat, kiblat juga merupakan arah yang dianjurkan untuk berdoa, arah berihram dalam haji, arah wajah hewan saat disembelih, arah jenazah seorang Muslim saat dimakamkan, serta arah yang dihindari untuk buang air serta membuang dahak" ==> pembaca yang awam akan bertanya, karena kalimat diawali dengan "dianjurkan", apakah itu berarti arah berihram dll itu juga anjuran? Harus berhati2 dengan struktur kalimatnya supaya isinya tepat.
    • Sudah diperjelas. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • Isu kontemporer: kenapa ada pembahasan khusus "Kiblat dari Amerika Utara". Apa yang membuat Amerika Utara sangat spesial?
    • Ada penjelasannya di dua kalimat pertama bagian tersebut. Apa perlu ditambah penjelasannya? Dari bagian pembuka aku hapus aja karena paragraf ketiga perlu dipendekkan dan menjelaskan ini justru malah bikin tambah panjang. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
      @HaEr48 maksudku bukan cuma di paragraf pembuka, tapi juga di subbagian Kiblat di Amerika Utara. Kenapa harus ada pembahasan khusus untuk wilayah tsb? Knp nggak Australia atau Brasil?  Mimihitam  18 Januari 2020 06.45 (UTC)
      • Mimihitam Bilici sebenarnya menyebut Australia dan Selandia Baru juga kondisinya sama karena baru akhir-akhir ini banyak Muslimnya, tetapi tidak menyebutkan tentang permasalahan kiblat di sana karena bukunya fokus ke Amerika Utara. Selain itu, tidak ketemu lagi sumber akademik yang menyebutkan perselisihan kiblat terbaru di luar Amerika Utara. Kalau Amerika Utara banyak disebutkan, termasuk di Bilici dan Almakky/Snyder yang dikutip di artikel. HaEr48 (bicara) 19 Januari 2020 19.58 (UTC)
        @HaEr48 menurutku malah jadi nggak berimbang porsinya dan bias ke Amerika Utara. Menurutku ada dua solusi: 1) Dihapus saja, atau 2) Gabung dgn bagian keragaman arah kiblat untuk perdebatan yg lebih kontemporer dan Amerika Utara jd contoh. Bagaimana?  Mimihitam  20 Januari 2020 07.24 (UTC)
        • @Mimihitam: Kalau menurutku sih bukan bias tetapi memang mencerminkan porsi yang dibahas sumber-sumber yang ada. Perbedaan pendapat yang ada di AmUt cukup dibahas di sumber-sumber akademik sebagai isu kontemporer (vs perbedaan arah-arah kiblat di Kairo yang dianggap sebagai isu sejarah), jadi aku pikir cocok dimasukkan isu kontemporer bersama kiblat luar angkasa. Kalau mau digabung ke keragaman seperti saran bung Mimihitam mungkin jadi begini sih strukturnya:
  • Keragaman
    • Dalam sejarah
    • Di Nusantara
    • Di Amerika Utara
  • Dari luar angkasa (tidak bisa jadi sub-bagian "kontemporer" lagi karena tinggal cuma satu)
Not bad, tapi menurutku dibanding seperti ini, struktur artikel sekarang malah lebih pas. Bagaimana? Masjawad99 juga silakan kalau ada pendapat mengenai ini. HaEr48 (bicara) 20 Januari 2020 18.47 (UTC)
Menurutku sih digabung saja dgn bagian keragaman, pembahasan di Indonesia dan Amerika Utara cukup jd semacam contoh supaya bisa dijustifikasi knp nggak bahas wilayah lain kyk Tiongkok atau pesisir Afrika Timur. Terus tidak usah pakai subbagian isu kontemporer nggak masalah (dalam kata lain, kiblat dari luar angkasa jadi berdiri sendiri). tapi sebelum memutuskan memang lebih baik tanyakan pendapat orang ketiga. Coba aku panggil juga @Ardzun dan @AMA Ptk  Mimihitam  20 Januari 2020 18.56 (UTC)
@Mimihitam dan HaEr48: Bagian "keragaman" memang bagusnya jadi bagian tersendiri karena rasanya kurang pas kalau masuk di dalam "Perkembangan penentuan arah kiblat". Tapi kalau dibagi jadi "dalam sejarah" vs pembagian "di Amerika Utara" dan "di Nusantara" kok kayaknya juga gak pas ya. Kalau langsung paragraf saja tanpa subjudul bagaimana? Masjawad99💬 20 Januari 2020 21.56 (UTC)
@Mimihitam dan HaEr48: Aku setuju dengan pendapat @Masjawad99, "keragaman" dipisah saja menjadi bagian tersendiri tanpa subjudul lagi, cukup langsung paragraf yang kronologis dari sejarah hingga kondisi saat ini di beberapa tempat. Bahkan menurutku, luar angkasa masuk dalam bagian "keragaman", bisa digabung menjadi paragraf atau menjadi subjudulnya. Ardzun (bicara) 21 Januari 2020 04.35 (UTC)
Terima kasih atas tanggapannya. Aku setuju dengan masukan untuk memisahkan bagian "keragaman", dan bagian luar angkasa bisa jadi subbagian di situ. Cuma sebagai masukan tambahan untuk @HaEr48, kalau jadi bagian sendiri, mungkin bisa ditambah juga keterangan dari beberapa wilayah lain kalau memang ada, tapi ini opsional aja karena sudah ada ilustrasi Indonesia dan Amerika Utara.  Mimihitam  22 Januari 2020 19.45 (UTC)
@Mimihitam, Masjawad99, dan Ardzun: Terima kasih atas tangggapan semuanya. Aku coba mengompromikan pendapatku sendiri dengan pendapat-pendapat di atas. "Keragaman" jadi bagian tingkat atas, terus di bawahnya ada subbagian "Dunia Islam awal", "Nusantara", "Amerika Utara", "Luar angkasa". "Amerika Utara" aku rasa tidak terlihat janggal sendiri lagi karena menjadi satu dari 4 subbagian. Sub-bagian aku pertahankan karena rasanya cukup berguna agar sistematis dan pembaca bisa mengerti garis besar cakupannya. Silakan kalau ada ide/tambahan lain. Sekali lagi terima kasih saran-sarannya. HaEr48 (bicara) 23 Januari 2020 03.56 (UTC)
  • Tambahkan dalam kurung apa itu tawaf
  • Tahun hijriyah agar dikasih padanan Masehinya (contoh: "tahun ke-2 Hijriyah")
  • "Sebelum turunnya ayat ini, diketahui selama di Madinah umat Islam berkiblat ke arah Yerusalem, sama seperti umat Yahudi Madinah ketika itu."
    • Apakah alasannya hanya karena ada wahyu atau karena ada alasan lain? Dari yang aku baca sih di wahyunya pun juga disebutkan alasannya, dan ini masih belum disebutkan di artikelnya.
    • Apakah benar umat Yahudi Madinah benar-benar berdoa menghadap kiblat? Soalnya setahuku kiblat konsep yang unik dalam agama Islam. Kalau misalkan nggak pasti mungkin bisa diganti perumusan kalimatnya jadi "yang diyakini merupakan arah berdoa umat Yahudi Madinah ketika itu"
      • Wensinck menyebutkan begitu, dan sampai sekarang pun sepertinya begitu menurut en:Mizrah. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • Sebelum agama Islam diturunkan, apa fungsinya Kabah? Menurutku ini yang kurang di bagian latar belakangnya.
    • Sudah ditambahkan sedikit: "Pada generasi sebelum Muhammad, Ka'bah digunakan sebagai pusat peribadatan agama Arab pra-Islam, tetapi tidak terdapat banyak catatan sejarah tentang Ka'bah sebelum munculnya Islam". Sayangnya sepertinya catatan sejarah agak kurang di Arab pra-Islam jadi tidak banyak rincian. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • Apakah penganut Ahmadiyah juga berdoa menghadap ke kiblat? Kalau iya mungkin bisa ditambahkan
    • Sepertinya ya (misal ini, atau di buku ini yang merupakan tulisan Ahmadiyah). Tapi dicari-cari tidak ketemu di sumber sekunder, kalau ketemu silakan. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 06.35 (UTC)
  • "Satu-satunya pengecualian besar dalam sejarah adalah kaum Qaramithah, sebuah aliran sempalan Syiah pada abad ke-10 M yang tidak mengakui Ka'bah sebagai kiblat" --> alasannya apa? Mungkin akan menarik untuk pembaca
    • Tidak disebutkan alasannya, tetapi disebutkan kalau mereka sempat menyerang Ka'bah dan memindahkan Hajar Aswad untuk menandai dimulainya era baru dalam Islam.. aku sebutkan ini saja. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 06.35 (UTC)
  • Aku baca kaum Alevi juga tidak wajib menghadap kabah sewaktu berdoa, mungkin bisa ditambahkan di artikelnya beserta alasannya
    • Barusan cek sumber-sumber yang ada, sepertinya malah kebanyakan tidak salat (menurut ini) (dan kalau salatpun mengikuti prosedur Sunni), jadi malah kurang relevan untuk disebutkan. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 06.35 (UTC)
  • " Menurut sebagian penafsiran, (...)" ==> oleh siapa?
    • Tidak disebutkan oleh siapa. Sepertinya ditambahkan di sumber itu sebagai ilustrasi kalau jihatul ka'bah itu jauh lebih "lebar". HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 06.35 (UTC)
  • Apakah ada keterangan soal pandangan masing2 mazhab Sunni dan Syiah terhadap ainul kabah dan jihatul kabah? Karena kelihatannya terdapat ikhtilaf soal ini.
    • Yang dijelaskan di bagian itu sekarang aku rasa sudah mencakup garis besar pendapat-pendapat dari Sunni. Kalau Syiah malah tidak ketemu. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 06.35 (UTC)
  • "pada 28 Mei sekitar pukul 12:18 Waktu Arab Saudi (WAS) atau 9:18 UTC dan 16 Juli pukul 12:27 WAS (9:27 UTC)" --> daripada UTC mending dijadikan WIB, karena pembaca kita kebanyakan orang Indonesia
  • "Peristiwa ini terjadi pada 14 Januari 00:30 WAS (21:30 UTC di hari sebelumnya) dan 29 November 00:09 WAS (28 November 21:09 UTC)." ==> idem.
    • Sudah jadi WIB. Apa sebaiknya kalau yang ini WIT saja ya? Karena matahari belum terbit di Indonesia Barat jadi prosedur ini tidak bisa dipakai. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
      @HaEr48 boleh juga. Bisa ditambahkan catatan penjelas juga kalau mau.  Mimihitam  18 Januari 2020 06.46 (UTC)
      @HaEr48 masih belum diganti jadi WIT nih... sama di kalimat sebelumnya juga masih ada yg pake UTC, mungkin bisa diganti WIB sesuai dgn konteks mataharinya sudah terbenam atau belum.  Mimihitam  25 Januari 2020 13.43 (UTC)
      • @Mimihitam: Oh iya, maaf luput. Sudah aku ganti WIB/WIT, dan aku tambahkan penjelasan efn. HaEr48 (bicara) 25 Januari 2020 14.34 (UTC)
  • "Kebanyakan umat Muslim mengikuti arah ortodrom (sesuai hasil kalkulasi) dan hanya sebagian kecil yang mengikuti arah loksodrom (garis lurus peta bumi datar)." ==> sebagian kecil ini siapa?
    • Yang aku temukan disebutkan spesifik hanya kelompok yang dijelaskan di bagian #Kiblat dari Amerika Utara. Aku tambahkan efn saja merujuk ke bagian tersebut. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • Apakah ada pendapat keagamaan soal metode-metode yang sekarang sudah terbukti salah? Misalnya dari Al-Andalus mengarah ke selatan, berarti kalau salatnya dari Granada ke arah Maroko tetap dianggap tidak sah dong walaupun itu metode tradisional?
    • Maksudnya retrospeksi dari sekarang begitu ya? Aku enggak nemu yang menggali dan menghakimi masa lalu begitu. Tetapi menurut sumber King, pada zaman itu dianggap masih dalam batasan jihatul ka'bah (disebutkan di kalimat terakhir "Keragaman arah kiblat"). HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • Bagian "Alat bantu" mungkin bisa dikembangkan lagi dengan memulai paragraf dengan alat-alat tradisional seperti kompas kiblat, dan kemudian baru masuk ke alat bantu modern seperti aplikasi telepon pintar
    • Urutan kalimatnya diubah agar yang tradisional seperti kompas disebutkan lebih dahulu. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • "tetapi astronomi India tetap memiliki pengaruh berarti." ==> pengaruh seperti apa?
    • Menurut sumbernya terutama dalam penyusunan tabel-tabel astronomi. Sudah aku tambahkan. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • "Berdasarkan metode-metode hisab tersebut, membuat tabel yang menunjukkan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia, yang disusun menurut selisih bujur (ΔB) dan lintang (ΔL) dari Mekkah." ==> fragment sentence
    • sudah dilengkapi kalimatnya. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • Ketidakkonsistenan penulisan: "Dunia Islam" atau "dunia Islam"?
    • Sudah jadi konsisten. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.06 (UTC)
  • Keragaman arah kiblat: bagaimana dengan penentuan arah kiblat di Nusantara? Aku pernah baca kalau masjid2 lama cukup mengarah ke barat karena mereka tahunya Mekkah itu di barat. Mungkin bisa disebutkan secara sepintas karena akan menarik untuk pembaca.
    • Aku tambahkan satu paragraf tentang Nusantara, harap diperiksa apakah sudah cukup atau malah perlu dipangkas karena terlalu detail. HaEr48 (bicara) 19 Januari 2020 19.58 (UTC)
      • Numpang komentar, kayaknya bagian mengenai perselisihan pendapat (mulai dari "Para ahli falak Indonesia..." sampai "... seperti metode pengamatan bayangan") bisa dipangkas atau malah dibuang sekalian; sepertinya intinya kurang lebih sama dengan perdebatan mengenai ainul ka'bah dan jihatul ka'bah yang sudah dibahas sebelumnya (?). Masjawad99💬 20 Januari 2020 00.05 (UTC)
        Kalau menurutku malah sudah bagus dan cukup informatif untuk ada di bagian keragaman arah kiblat.  Mimihitam  20 Januari 2020 07.24 (UTC)
        • Oke, kalau begitu aku pertahankan saja. HaEr48 (bicara) 20 Januari 2020 18.47 (UTC)

Semoga masukanku bisa membantu.  Mimihitam  13 Januari 2020 14.53 (UTC)

Komentar dari Masjawad99

Menarik sekali artikelnya, porsi pembahasan aspek-aspek keagamaan, sejarah, dan saintifiknya juga pas dan mudah diikuti, disertai dengan ilustrasi memadai. Sebagian besar tanggapan yang ingin saya berikan sudah terwakilkan oleh komentar Bung Mimi di atas. Saya hanya ada beberapa tambahan:

  • Paragraf ketiga di bagian pembuka mungkin bisa diringkas sedikit lagi.
  • Istilah "celah" untuk merujuk pada mihrab sepertinya lebih pas diganti "ceruk" atau "relung".
  • Kalau bisa, ilustrasi arah-arah kiblat Kairo abad ke-15 di-overlay di atas peta yang menunjukkan lokasi Kairo dan Mekkah. Soalnya kalau cuma diagram yang menunjukkan arah tanpa konteks, kayaknya ilustrasi satunya (yang menggambarkan masjid-masjid dengan kiblat beragam) sudah cukup. Masjawad99💬 14 Januari 2020 03.53 (UTC)
  • Untuk dioverlay kayaknya lumayan susah karena efek akibat proyeksi peta harus dipertimbangkan juga, jadi tidak bisa asal tempel saja. Aku rasa tetap berguna karena panah-panahnya jauh lebih banyak dibanding masjid-masjid yang ada di peta satunya. HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 06.44 (UTC)

Tambahan lagi:

  • "Berdasarkan metode-metode hisab tersebut, membuat tabel yang menunjukkan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia, yang disusun menurut selisih bujur (ΔB) dan lintang (ΔL) dari Mekkah" ==> kalimatnya janggal. Mungkin ada kata yang hilang sebelum "membuat"?
    @Masjawad99 ini memang fragment sentence yang perlu diperbaiki oleh @HaEr48  Mimihitam  15 Januari 2020 16.52 (UTC)
    Wahaha, gak sadar kalo udah disebut di atas. Masjawad99💬 16 Januari 2020 04.05 (UTC)
  • Transliterasi istilah Arab (yang belum diserap) apa perlu diseragamkan? Saya lihat masih ada yang tidak konsisten, misalnya alih aksara ح (iniraf vs masjidi l-haram), pemisahan/penggabungan alif lam ke kata sebelumnya (rasyd al-qiblat vs 'ainul ka'bah), atau penggunaan digraf vokal dalam Suhail (vs Suhayl). Masjawad99💬 15 Januari 2020 11.31 (UTC)
  • Kalau menurut WP:ARABLATIN, semua yang disebutkan di atas dua-duanya boleh (ḥ vs h, -ul vs al-, dan ay vs ai). Untuk h dan ai aku konsistenkan saja, tetapi kalau -ul dan al- aku biarkan saja karena buku-buku pun tidak konsisten dan kadang memang ada tempat yang lebih natural (dalam bahasa Indonesia) untuk -ul (misal ainul) dan dengan al- (misal inhiraf al-). HaEr48 (bicara) 18 Januari 2020 05.17 (UTC)