Sabtu Berdarah (foto)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Foto terkenal dari seorang bayi menangis di tengah reruntuhan yang telah dibom dari Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan, Sabtu, 28 Agustus 1937

Sabtu Berdarah (血腥的星期六) adalah nama dari sebuah foto hitam-putih yang banyak diterbitkan pada September–Oktober 1937 dan kurang dari sebulan telah dilihat oleh lebih dari 136 juta penonton.[1] Menggambarkan seorang bayi Tiongkok menangis di reruntuhan yang telah dibom dari Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan, foto tersebut menjadi dikenal sebagai sebuah ikon kebudayaan yang mendemonstrasikan kebiadaban Jepang pada masa Perang di Tiongkok. Diambil beberapa menit setelah serangan udara Jepang terhadap warga sipil saat Pertempuran Shanghai,fotografer Hearst Corporation H. S. "Newsreel" Wong, yang juga dikenal sebagai Wong Hai-Sheng atau Wang Xiaoting, tidak menemukan identitas atau bahkan jenis kelamin dari anak yang terluka tersebut, yang ibunya terbaring tewas didekatnya. Sebagai salah satu foto perang paling dikenang yang pernah diterbitkan, dan mungkin adegan newsreel paling terkenal pada 1930an,[2] gambar tersebut menimbulkan kemurkaan barat terhadap kekerasan Jepang di Tiongkok.[3] Jurnalis Harold Isaacs menyebut gambar ikonik tersebut sebagai "salah satu karya 'propaganda' paling sukses sepanjang masa".[4]

Wong mengambil rekaman dari Stasiun Selatan yang telah dibom dengan kamera newsreel Eyemo-nya, dan ia mengambil beberapa foto dengan Kamera Leica-nya. Gambar cuplikan terkenal tersebut, yang diambil dari kameran Leica, seringkali tak disebutkan namanya, selain unsur-unsur visual yang menjelaskannya. Foto tersebut juga disebut Bayi Tiongkok Tak Beribu,[5] Bayi Tiongkok, dan Bayi di Stasiun Kereta Api Shanghai.[6] Foto tersebut disangkal oleh kaum nasionalis Jepang yang menyatakan bahwa foto tersebut dilebih-lebihkan.[7]

Pengambilan gambar[sunting | sunting sumber]

Saat Pertempuran Shanghai, bagian dari Perang Tiongkok-Jepang Kedua, pasukan militer Jepang maju dan menyerang Shanghai, kota paling padat di Tiongkok. Wong dan anggota-anggota newsreel lainnya, seperti Harrison Forman dan George Krainukov, menangkap beberapa gambar pertarungan tersebut, termasuk keadaan setelah serangan bom udara yang dilakukan oleh tiga pesawat Jepang terhadap dua hotel penting di Jalan Nanking pada Sabtu, 14 Agustus 1937, atau "Sabtu Berdarah".[8] Wong adalah seorang pria Tionghoa yang memiliki sebuah toko kamera di Shanghai.[8][9] Tentara Revolusioner Nasional mulai mundur dari kota tersebut, meinggalkan blokade sepanjang Sungai Huangpu. Sekelompok jurnalis internasional mengetahui bahwa pesawat dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (bahasa Inggris: Imperial Japanese Navy, IJN) akan mengebom blokade tersebut pada pukul 14:00 pada Sabtu, 28 Agustus 1937, sehingga beberapa wartawan berkumpul di atas gedung Butterfield & Swire agar bisa mengambil foto-foto serangan bom tersebut. Pada pukul 15.00, tak ada pesawat yang tampak, dan para wartawan akhirnya bubar; semuanya kecuali H. S. "Newsreel" Wong, seorang juru kamera yang bekerja di Hearst Metrotone News, sebuah produsen newsreel. Pada pukul 16.00, 16 pesawat IJN akhirnya muncul, terbang berputar, dan mengebom tempat-tempat pengungsian perang di Stasiun Selatan Shanghai, menewaskan dan melukai para warga sipil yang sedang menunggu kereta untuk menuju ke Hangzhou di arah selatan.[10]

Kusadari bahwa sepatuku berlumuran darah.

H. S. Wong[6]

Wong turun dari atas gedung ke jalanan, lalu mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju stasiun kereta api yang runtuh. Saat tiba, ia menyaksikan pembantaian dan kekacauan: "Ini adalah pemandangan mengerikan. Orang-orang masih berusaha untuk bangun. Mayat dan orang yang terluka bergelimpangan di sepanjang rel dan peron. Potongan-potongan tubuh berserakan di tempat tersebut. Kesibukanku telah membuatku lupa akan apa yang sedang kusaksikan. Aku berhenti sejenak untuk mengisi ulang film gulungku. Kusadari bahwa sepatuku berlumuran darah. Aku berjalan di sepanjang rel kereta api, dan mengabadikan beberapa pemandangan dengan jembatan terbakar di latar belakang. Kemudian aku menyaksikan seorang pria menggendong bayi dari rel dan membawanya ke peron. Lalu ia kembali menyelamatkan anak lainnya yang terluka berat. Jenazah ibunya teronggok di atas rel. Saat aku mengabadikan tragedi tersebut, aku mendengar suara pesawat datang kembali. Dengan cepat, kupakai beberapa sentimeter yang tersisa [dari film-ku] untuk memfoto bayi tersebut. Lalu ia kudekati, dengan maksud membawanya ke tempat aman, namun ayahnya datang. Pesawat pengebom lewat begitu saja. Tak ada bom yang dijatuhkan."[11]

Wong tak pernah mengetahui nama dari bayi yang terbakar dan menangis tersebut, apakah ia laki-laki atau perempuan, atau apakah ia selamat.[5] Pada pagi berikutnya, ia membawa film dari kamera Leica-nya ke kantor China Press. Ia menampilkan cetakan besar kepada Malcolm Rosholt, sambil berkata, "Lihat yang satu ini!"[5] Kemudian Wong menulis bahwa surat kabar di hari berikutnya memberitakan sekitar 1.800 orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, sedang menunggu di stasiun, tapi para penerbang IJN tampaknya telah salah mengira mereka sebagai prajurit perang.[11] Surat-surat kabar Shanghai menyatakan bahwa kurang dari 300 orang selamat dari serangan tersebut.[11] Pada bulan Oktober, majalah Life mengabarkan bahwa sekitar 200 orang tewas.[10]

Penerbitan[sunting | sunting sumber]

Wong mengirim rekaman newsreel tersebut ke sebuah kapal Angkatan Laut AS di Manila dan dari sana, film tersebut diterbangkan ke New York City memakai maskapai penerbangan Pan American World Airways.[11] Bermula pada pertengahan September 1937, newsreel tersebut ditampilkan kepada para audien teater film, sekitar sebulan kemudian mencapai 50 juta orang di AS dan 30 juta orang di luar AS.[10] dan gambar cuplikan dari bayi menangis tersebut dicetak di surat-surat kabar Hearst Corporation dan afiliasi-afiliasinya, dalam jumlah sekitar 25 juta salinan.[11] 1.75 juta salinan surat kabar non-Hearst menampilkan gambar tersebut di AS, dan lebih dari 4 juta orang melihatkan sebagai sebuah reproduksi matte dalam surat-surat kabar lainnya.[10] Sekitar 25 juta orang melihatnya di seluruh dunia.[10] Gambar tersebut pertama kali muncul dalam majalah Life pada 4 Oktober 1937, dimana sekitar 136 juta orang melihatnya.[10][11] Pada halaman depan dalam majalah Life, foto lainnya menampilkan bayi di atas tandu sedang diberi perawatan medikal.[10]

Tanggapan[sunting | sunting sumber]

Gambar "tak terlupakan"[12] tersebut menjadi salah satu foto paling berpengaruh yang menimbulkan perasaan anti-Jepang di Amerika Serikat. "Arus besar simpati" bermunculan dari Amerika sampai Tiongkok,[13] dan gambar tersebut banyak dibuat ulang untuk mengumpulkan sumbangan dalam upaya pemulihan Tiongkok.[14] Terpengaruh oleh gambar tersebut, AS, Britania Raya dan Perancis menentang serangan bom Jepang terhadap warga sipil Tiongkok di kota-kota terbuka.[11][15] Senator George W. Norris yang terpengaruh oleh gambar tersebut, memutuskan untuk menyudahi pendirian jangka panjangnya terhadap isolasionisme dan non-intervensionisme—ia menyebut Jepang dengan sebutan "tak berahmat, menghiraukan, barbar, kejam, bahkan melebihi kekuatan bahasa yang disebutkan."[16] Orang-orang Amerika menggunakan istilah seperti "penjagal" dan "pembunuh" terhadap Jepang. Saat menyerah di Shanghai, Laksamana IJN Kōichi Shiozawa berkata kepada seorang wartawan dari The New York Times di sebuah pesta cocktail: "Ku lihat surat-surat Amerika-mu menjulukiku Pembunuh bayi."[17]

Gambar tersebut dipilih oleh para pembaca Life sebagai salah satu dari sepuluh "Gambar Tahun Ini" untuk tahun 1937.[4] Pada 1944, cuplikan newsreel Wong dipakai dalam film Frank Capra The Battle of China.

Warisan[sunting | sunting sumber]

Saat di sekolah seni pada akhir 1940an, Andy Warhol melukis sebuah versi dari foto tersebut, terawal dari beberapa lukisannya yang berdasarkan pada foto-foto; karya seni aslinya tidak disimpan dan hilang.[18] Serial Bencana Warhol pada 1960an kembali memakai format tersebut, untuk menafsirkan karya-karya paling terlihat yang dibuat oleh para fotojurnalis.[18] Pada 1977, Lowell Thomas, jurnalis dan narator untuk saingan Hearst Movietone News, menyatakan bahwa pengaruh dari foto tersebut di Amerika setara dengan dua gambar Perang Dunia II paling ikonik: seorang pria Perancis yang meneteskan eir mata saat para prajurit negaranya meninggalkan Perancis pada Juni 1940 dan Pengibaran Bendera di Iwo Jima karya Joe Rosenthal, yang diambil pada Februari 1945.[19]

Wong pensiun di Taipei pada 1970an dan wafat akibat diabetes di rumahnya di usia 81 tahun pada 9 Maret 1981.[20] Pada 2010, Wong dihargai sebagai pelopor jurnalis Asia-Amerika oleh Asian American Journalists Association.[21]

Pada 2000, artis dan jurnalis Miao Xiaochun memproyeksikan gambar terkenal tersebut melawan sebuah tirai putih, memakai proyeksi untuk mensignifikasikan diminusi terhadap dampaknya sepanjang masa.[22] Foto tersebut muncul dalam buku Time–Life 100 Photographs that Changed the World, yang diterbitkan pada 2003. National Geographic mencantumkan foto tersebut dalam Concise History of the World: An Illustrated Timeline buatan mereka pada 2006.[23] "Gambar membakar"[24] tersebut disebut oleh pengarang National Geographic Michael S. Sweeney menjadi "pelabuh dari militerisme Timur".[25]

Tuduhan pemalsuan[sunting | sunting sumber]

Foto bayi Shanghai karya Wong lainnya yang diterbitkan oleh majalah Look pada Desember 1937.

Pada waktu itu, para nasionalis Jepang menyebut foto tersebut palsu, dan pemerintah Jepang memberikan tebusan senilai $50,000 untuk kepala Wong: sebuah jumlah yang setara dengan $850.000 pada tahun 2018.[26] Wong dikenal menentang invasi Jepang terhadap Tiongkok dan bersimpati terhadap politik sayap kiri, dan ia bekerja untuk William Randolph Hearst yang dikenal karena berkata kepada anggota pemberitaannya, "Kau memoles gambar-gambar tersebut dan aku memoles perang" dalam kaitannya dengan Perang Spanyol-Amerika.[26] Foto Wong lainnya yang muncul dalam majalah Look pada 21 Desember 1937, menampilkan seorang pria bersama dengan seorang anak yang mungkin berusia lima tahun, berada di dekat bayi yang menangis tersebut.[26] Pria tersebut dituduh adalah asisten Wong, Taguchi, yang merias anak tersebut untuk efek fotografi terbaik.[26] Sebuah artikel dalam The Japan Times and Mail berkata bahwa pria tersebut adalah seorang pekerja penyelamat yang menempatkan bayi dan bocah tersebut untuk fotografernya.[27] Wong menyatakan bahwa pria tersebut adalah ayah dari bayi tersebut, yang datang untuk menyelamatkan anaknya saat pesawat Jepang kembali usai pengeboman tersebut.[11] Para propagandis Jepang mengaitkan hubungan antara apa yang mereka klaim gambar yang dipalsukan dan catatan berita umum dari sumber-sumber AS dan Tiongkok yang mengabarkan soal pertikaian di Shanghai, dengan tujuan mendiskreditkan seluruh laporan kearoganan Jepang.[28]

Pada 1956, Arthur Rothstein dari majalah Look mendukung opini sebelumnya bahwa Wong meminjam bayi tersebut dan melebih-lebihkan foto tersebut.[28] Pada 1975, majalah Life menampilkan foto terkenal tersebut dalam sebuah buku gambar, dan menyatakan dalam kutipan, "Foto tersebut dikatakan dilebih-lebihkan, namun itu adalah bukti dari berbagai titik bahwa ini tak lebih dari rumor yang digembar-gemborkan."[28]

Bayi di atas tandu, sedang diberi pertolongan pertama

Pada 1999, kelompok nasionalis Asosiasi bagi Kemajuan Pandangan Sejarah Tak Berbias, yang didirikan oleh Profesor Fujioka Nobukatsu dari Universitas Tokyo, menerbitkan sebuah artikel berjudul "Manipulasi Foto-foto Dokumenter di Tiongkok: Polesan-polesan yang Menimbulkan Kebencian di AS" dimana Nobukatsu dan Shūdō Higashinakano berpendapat bahwa foto tersebut menampilkan seorang pria yang mula-mula menyeting satu kemudian dua anak pada peron kereta api untuk keperluan membuat "sorotan menyedihkan" bagi para penonton Amerika, untuk membuat warga negara Amerika berperang melawan Jepang.[7] Para profesor Jepang berpendapat bahwa Wong menambahkan asap untuk membuat gambar tersebut menjadi lebih dramatis,[28] namun Rosholt menyatakan bahwa stasiun kereta tersebut masih berasap saat Wong datang.[5] Para nasionalis Jepang tidak menyatakan bahwa serangan bom tersebut tidak terjadi, maupun bahwa warga sipil Tiongkok tidak tewas dan luka-luka, namun penyajian foto tersebut sebagai sebuah pemalsuan membolehkan tafsiran mudah bahwa terdapat pemalsuan lebih lanjut dalam catatan sejarah.[28] Dalam artikel tersebut, Nobukatsu dan Higashinakano tak menyebut foto Wong tambahan yang diterbitkan dalam majalah Life yang menampilkan bayi menangis di atas sebuah tandu saat diberi pertolongan pertama oleh para anggota Pramuka Tiongkok.[10][28]

Wong memfilmkan lebih banyak newsreel lain yang menyoroti serangan Jepang di Tiongkok, yang meliputi Pertempuran Xuzhou pada Mei 1938 dan serangan bom udara di Guangzhou pada Juni.[29] Ia beroperasi di bawah perlindungan Inggris, namun ancaman-ancaman kematian dari para nasionalis Jepang masih mendorongnya meninggalkan Shanghai dengan keluarganya dan pindah ke Hong Kong.[11]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Van der Veen, Maurits (2003). Uriel's Legacy. Trafford Publishing. hlm. 262. ISBN 1-55395-462-9. 
  2. ^ Doherty, Thomas (1999). Projections of war: Hollywood, American culture, and World War II (edisi ke-2). Columbia University Press. hlm. 105. ISBN 0-231-11635-7. 
  3. ^ Tuchman, Barbara W. (1972). Stilwell and the American experience in China, 1911–45. Bantam Books. hlm. 214. ISBN 0-553-14579-7. 
  4. ^ a b Dower, John W. (2010). Cultures of War: Pearl Harbor / Hiroshima / 9-11 / Iraq. W. W. Norton & Company. hlm. 158–159. ISBN 0-393-06150-7. 
  5. ^ a b c d Cameron, Mrs. Richard; Malcolm Rosholt (January 21, 1972). "Letters to the Editors: The Child". Life. Time, Inc. 72 (2): 27. ISSN 0024-3019. 
  6. ^ a b Faber, John (1978). Great news photos and the stories behind them (edisi ke-2). Courier Dover Publications. hlm. 74–75. ISBN 0-486-23667-6. 
  7. ^ a b Nobukatsu, Fujioka; Higashinakano, Shūdō (1999). "Manipulation of Documentary Photos in China: Fanning Flames of Hate in the USA". Exploding the Myth:The Problem of Photographic "Evidence" (Photos from The Rape of Nanking). Association for Advancement of Unbiased View of History. Diakses tanggal January 18, 2011. 
  8. ^ a b "Cinema: Shanghai, Shambl". Time. Time, Inc. September 13, 1937. 
  9. ^ Camhi, Leslie. "Film: A Dragon Lady and a Quiet Cultural Warrior". The New York Times, January 11, 2004. Retrieved on July 3, 2011.
  10. ^ a b c d e f g h "The Camera Overseas: 136,000,000 People See This Picture of Shanghai's South Station". Life. Time, Inc. 3 (14): 102–103. October 4, 1937. ISSN 0024-3019. 
  11. ^ a b c d e f g h i Faber, John (1960). Great moments in news photography: from the historical files of the National Press Photographers Association. T. Nelson. hlm. 74. 
  12. ^ Roth, Mitchel P. (1997). Historical dictionary of war journalism. Greenwood Publishing Group. hlm. 219. ISBN 0-313-29171-3. 
  13. ^ Winchester, Simon (2008). Bomb, book and compass: Joseph Needham and the great secrets of China. Viking. hlm. 49. ISBN 0-670-91378-2. 
  14. ^ Klein, Christina (2003). Cold War orientalism: Asia in the middlebrow imagination, 1945–1961. University of California Press. hlm. 177. ISBN 0-520-22469-8. 
  15. ^ Goldberg, Vicki (1991). The power of photography: how photographs changed our lives. Abbeville Press. hlm. 243. ISBN 1-55859-039-0. 
  16. ^ Paterson, Thomas G.; Clifford, John Garry; Hagan, Kenneth J. (1999). American Foreign Relations: A history since 1895. American Foreign Relations. 2 (edisi ke-5). Houghton Mifflin. hlm. 151. ISBN 0-395-93887-2. 
  17. ^ Dong, Stella (2001). Shanghai: The Rise and Fall of a Decadent City. HarperCollins. hlm. 216–217. ISBN 0-06-093481-6. 
  18. ^ a b Smith, Patrick S. (1986). Andy Warhol's art and films. Studies in the fine arts. 54 (edisi ke-2). UMI Research Press. hlm. 40, 125. ISBN 0-8357-1733-X. 
  19. ^ Thomas, Lowell (1977). So long until tomorrow: from Quaker Hill to Kathmandu. Morrow. hlm. 83–86. ISBN 0-688-03236-2. 
  20. ^ "'Newsreel' Wang succumbs at 81". Taiwan Today. Government Information Office, Republic of China (Taiwan). May 1, 1981. Diakses tanggal January 18, 2011. 
  21. ^ "Honor Roll List: Pioneers, past and present". Asian American Journalists Association. December 24, 2010. Diakses tanggal January 18, 2011. 
  22. ^ Hung, Wu (2008). Making history: Wu Hung on contemporary art. Timezone 8 Limited. hlm. 142. ISBN 988-99617-0-9. 
  23. ^ Kagan, Neil (2006). National Geographic concise history of the world: an illustrated timeline. National Geographic Traveler. National Geographic Books. hlm. 325. ISBN 0-7922-8364-3. 
  24. ^ Hamilton, John Maxwell (1988). "Red Star Over China". Edgar Snow, a biography. Indiana University Press. hlm. 83. ISBN 0-253-31909-9. 
  25. ^ Sweeney, Michael S. (2002). From the front: the story of war featuring correspondents' chronicles. National Geographic. hlm. 148. ISBN 0-7922-6919-5. 
  26. ^ a b c d French, Paul (2009). Through the looking glass: China's foreign journalists from opium wars to Mao. Hong Kong University Press. hlm. 192. ISBN 962-209-982-3. 
  27. ^ Low, Morris (2003). "The Japanese Colonial Eye: Science, Exploration, and Empire". Dalam Christopher Pinney, Nicolas Peterson. Photography's other histories. Duke University Press. hlm. 117. ISBN 0-8223-3113-6. 
  28. ^ a b c d e f Morris-Suzuki, Tessa (2005). The past within us: media, memory, history. Nissan Institute-Routledge Japanese studies. Verso. hlm. 72–75. ISBN 1-85984-513-4. 
  29. ^ "Library Contents Listed Year-by-Year: 1938". The 1930s: Prelude to War Video Library. UCLA Film and Television Archive. Diakses tanggal January 18, 2011.